
Resepsi pernikahan pun digelar besar-besaran di sebuah ballroom hotel berbintang. Tentu saja tamu undangan yang datang bukan sembarangan tamu. Mereka semua kebanyakan para konglomerat dan rekan kerja Zain dan Juna tentunya. Bahkan semua anak kantor pun turut hadir karena King memang mengundang mereka.
Mercia terlihat begitu menawan dengan balutan wedding gown super mewahnya. Begitu pun King, yang terlihat rupawan dengan stelan tuxedo yang membungkus tubuh atletisnya. Kedua mempelai itu tampak serasi, bahkan begitu bahagia saat menyambut para tamu yang datang.
Mercia memekik kegirangan saat teman-teman sekolahnya datang. Terutama Jihan, sahabat karibnya.
"Omg! Akhirnya pecah telor kelas kita." Pekik Jihan memeluk Mercia. "Selamat ya, Sayang. Akhirnya bisa juga dapetin Om-om tajir." Bisiknya seraya melirik King. Tentu saja King mengerutkan kening.
Mercia terkekeh lucu lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Sssttt. Jangan sampe dia denger."
"Ekhem." Deham King merasa sedang digibahin.
Spontan kedua wanita itu tertawa bersamaan.
Dengan sisa tawanya Jihan menatap King. "Selamat ya, Om. Tolong dijagain bestie saya ini. Dia emang bandel, tapi dijamin muasin kan di ranjang?" Godanya.
Sontak Mercia pun memukul gadis itu karena malu pada teman-temannya yang lain. "Mulut lo ih, minta disambelin."
Jihan tergelak lucu, kemudian kembali memeluknya. "Gue seneng akhirnya elo juga masuk kedokteran. Itu artinya kita bakal bareng terus."
Mercia tersenyum sembari membalas pelukan sahabatnya itu. Ya, ia memang berhasil masuk ke universitas berkat kegigihannya dalam mempersiapkan diri mengikuti ujian. Bisa saja ia menggunakan kekuasaan suaminya, hanya saja ia tak ingin dipandang rendah oleh orang lain. Karena itu ia memilih untuk berusaha sesuai kemampuannya sendiri. Lagipula Mercia sebenarnya anak yang pintar, hanya saja semasa sekolah ia anak yang terbilang bandel dan sering cabut. Karena itu ia tidak pernah mendapat juara akibat kenakalannya itu.
"Gue juga seneng karena bisa bareng lo lagi, Ji. Ada temen gosip."
Jihan tertawa sembari melerai pelukan mereka.
"Udah-udah, gantian oi." Seru yang lain yang sejak tadi sudah mengantri.
"Sabar kali, gak tahu apa lagi temu kangen?" Kesal Jihan yang berhasil membuat Mercia dan King tersenyum. Kemudian ia pun mengalah dan membiarkan teman-temannya yang lain memberikan ucapan selamat. Tentu saja pelaminan itu mendadak heboh oleh kerusuhan mereka. Tidak lupa mereka pun mengabadikan momen itu lewat mas fotografer.
Ditengah-tengah kebahagiaan itu, Mercia sedikit sedih karena Jef tidak hadir. Padahal semua orang hadir di sana kecuali Jef tentunya. Dan itu membuatnya sedih karena semakin yakin Jef sangat membencinya.
King yang sadar akan hal itu pun langsung merengkuhnya mesra. "Tidak apa, dia punya alasan sendiri tidak datang." Tentu saja King tahu dengan jelas alasan pasti kenapa Jef tidak hadir. Sejak awal King tahu lelaki itu juga mencintai istrinya.
Mercia memeluknya erat dan mulai menangis. "Aku gak tahu kenapa dia benci banget sama aku, Mas? Bahkan dia gak mau datang dihari bahagia kamu. Harusnya gak perlu hirauin aku. Kamu Pamannya."
King menghela napas berat seraya mengusap punggung Mercia lembut. "Udah, Sayang. Jef juga udah minta maaf kan sebelumnya? Jadi jangan nangis lagi ya?"
"Tetep aja aku sedih, Mas. Setidaknya jangan nunjukin kebenciannya itu di depan keluarga kita." Keluh Mercia lagi.
"Dia gak benci sama kamu, Sayang." Tapi justru dia cinta sama kamu karena itu dia gak datang. Lanjut King dalam hati. Namun tak mungkin ia mengungkapkan itu, karena hanya akan membuat Mercia semakin terluka. Alhasil ia pun membawa Mercia meninggalkan pelaminan.
Sekarang mereka sudah di kamar hotel, sejak tadi Mercia masih memeluknya sambil menangis tersedu. Dan masih berpikir Jef membencinya.
King yang merasa iba pun berinisiatif menghubungi Jef dan meminta keponakannya itu untuk menghubunginya sekarang juga. Dan mengatakka jika Mercia terus menangis karena ketidak hadirannya.
__ADS_1
Tidak lama ponsel King pun berdering karena Jef melakukan panggilan video. Sepertinya pemuda itu tidak mau Mercia sedih di hari besarnya.
"Lihat, dia video call." Kata King yang berhasil membuat Mercia berhenti menangis. Cepat-cepat ia merebut ponsel suaminya itu dan menerima panggilan. Seketika wajah Jef pun terlihat di layar.
"Dasar brengsek!" Umpat Mercia memarahinya. Sambil sesegukan ia memaki pemuda itu. "Aku tahu kau membenciku, Jef. Tapi jangan tunjukkan itu di depan keluarga besar dan semua orang. Sekarang aku juga membecimu." Semburnya kembali menangis.
Jef masih diam sambil menatapnya. "Maaf." Ucapnya kemudian. King yang melihat itu memilih diam dan tak berkomentar.
"Aku benar-benar tidak bisa datang, sungguh. Besok aku harus berangkat ke London, mengurus kepindahanku." Imbuh Jef mencoba menjelaskan supaya Mercia berhenti menangis.
Benar saja, istri Pamannya itu pun berhenti menangis setelah mendengar penjelasannya. "Kau ingin pindah ke London?"
Jef mengangguk. "Aku ingin mencari suasana baru."
Mercia mengerutkan dahi, kemudian menatap suaminya bingung. King mengedikkan bahunya karena tidak tahu soal itu.
Mercia menghapus jejak air matanya, tidak peduli Jef melihat wajahnya yang jelek karena riasannya mulai luntur. Bahkan matanya menghitam sekarang.
"Katakan apa alasanmu pindah?" Tanya Mercia mengusap jejak air matanya.
Jef menghela napas berat. "Apa perlu alasan jika aku ingin kuliah di luar?"
Mercia bedecak sebal. "Jawab pertanyaanku dengan benar, Jef. Aku ini Bibimu sekarang."
"Aku hanya ingin mencari suasana baru, tidak ada alasan lain." Jawab Jef berbohong pada akhirnya.
"Lalu bagaimana dengan Jessy? Kau meninggalkannya?" Mercia memicingkan matanya.
"Bisakah tidak membahas orang lain?" Kesal Jef karena Mercia malah melibatkan orang lain dalam obrolan mereka.
Mercia pun pada akhirnya tersenyum. "Kau tidak ingin memberikan selamat untukku dan pamanmu?"
"Selamat untuk kalian berdua." Ucap Jef tanpa minat.
"Ck, kau tidak tulus." Ketus Mercia.
Jef pun tidak menyahut sambil terus memandangnya.
"Jef." Panggil Mercia pada akhirnya. "Katakan padaku sekarang, di mana salahku sampai kau membenciku? Bisakah kita memperbaiki semuanya? Aku tidak ingin kita bermusuhan."
Jef tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. Justru ia merasa lebih baik jika Mercia menggapnya seperti itu. Jadi ia tak perlu membuat alasan apa pun.
"Karena kau selalu menggangguku, aku benci wanita pengganggu. Aku juga tidak suka caramu berpenampilan yang terlalu berlebihan. Membuat mataku sakit." Jawabnya asal.
"Hanya karena itu kau membenciku?"
__ADS_1
"Bukan hanya itu, kau juga selalu membuat hidupku tak tenang." Dan siapa sangka perkataannya kali ini mengenai hati Mercia. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Brengsek kau, Jef." Kesal Mercia langsung menutup panggilan. Dan kembali menangis tersedu.
King pun menariknya dalam dekapan dan berusaha menenangkannya. Tentu saja ia paham maksud dan tujuan Jef melakukan itu semua. Sepertinya Jef juga tak ingin membuat Mercia merasa bersalah. Dan memilih untuk dibeci meski harus menyakiti hati wanita yang dicintainya.
Jef menghela napas seraya menatap layar ponselnya. "Kau memang selalu membuat hidupku tak tenang, Cia. Karena hampir setiap saat aku memikirkanmu." Tanpa sadar ia menitikan air mata, hatinya lebih sakit karena harus menerima kenyataan pahit itu. Di mana ia harus segera menghapus perasaannya untuk Mercia. Karena pada kenyataannya saat ini dia sudah menjadi Bibinya. Wanita yang harus ia hormati sebagai istri dari Pamannya.
"Kuharap kau bahagia selalu, Cia. Aku percaya Uncle bisa membuatmu lebih bahagia ketimbang bersamaku. Aku tak punya apa-apa jika dibandingkan dengannya, yang punya segalanya." Setelah mengatakan itu Jef menaruh ponselnya di dalan laci. Lalu memilih lanjut tidur karena di sana jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari.
Pesta berlanjut sampai malam, jika tadi siang tamu yang datang kebanyakan kolega orang tua mereka. Malam ini tamu yang datang kebanyakan teman Mercia dan King yang ingin merayakan wedding party. Semua orang kompak berpakaian cocktail seusai tema undangan. Suasana pun sangat meriah karena diisi dengan acar-acara menarik seperti bernyanyi bersama, menari dan bermain beberapa game. Acara malam ini memang sengaja dibuat untuk bersenang-senang.
Saat ini alunan musik romansa memenuhi seiisi ballroom karena setiap pasangan tengah berdansa. Tak terkecuali kedua mempelai pengantin. Mereka terlihat begitu mesra sambil bergerak kecil.
"Kamu cantik banget, Sayang." Puji King begitu tulus karena Mercia memang sangat cantik malam ini.
Gown berwarna gading dengan potongan dada rendah, juga belahan dibagian pahanya membuat Mercia semakin seksi dan anggun. Rambut curly kecoklatan miliknya dibiarkan tergerai dengan sebuah mahkota kecil diatasnya. Membuatnya terlihat lebih dewasa.
"Cantikan siapa aku sama mantan kamu yang itu?" Mercia mengerlingkan matanya ke arah meja tamu di mana seorang wanita seksi terus menatap ke arah mereka.
King menoleh sekilas, kemudian kembali fokus pada sang istri. "Dia memang cantik, tapi aku lebih suka daun muda di depan mata. Jauh lebih seksi dan menggoda."
Mercia mendengus sebal. Ia benar-benar cemburu karena King mengundang mantan pacarnya saat kuliah dulu. "Kayaknya dia masih cinta deh sama kamu, Mas. Tuh lihat cara dia natap kamu, kayak kucing lihat ikan."
King terkekeh kecil. "Kamu cemburu sama mantan?"
Mercia berdecih sebal.
"Ngapain cemburu, Sayang? Dia cuma masa lalu. Sekarang kamu masa depan Mas. Yang namanya mantan itu udah gak penting."
Mercia menghela napas, kemudian melirik wanita itu lagi. "Tapi dia seksi banget ya? Pantes kamu suka, body gitar spanyol."
King tersenyum, lalu membisikkan sesuatu ditelinga istrinya itu. "Dia memang seksi, tapi Mas lebih suka kamu karena jauh lebih seksi pas di atas ranjang. Teriakan kamu buat Mas gak bisa nahan, Yang."
Mendengar itu mata Mercia pun melotot. "Ihhh, dasar mesum." Kesalnya yang disusul senyuman malu.
King tertawa kecil. "Gak perlu cemburu sama orang, karena udah jelas kamu pemenangnya, Sayang."
Mercia tersenyum lebar. "Siapa yang gak cemburu coba? Mantan kamu semuanya cantik-cantik."
"Gak bisa dibilang mantan, kita cuma deket tanpa ikatan. Pacar Mas satu-satunya ya cuma kamu, coba aja tanya sama Mommy."
"Ck, iya iya aku percaya. Makasih ya Mas, udah jadiin aku bidadari dihati kamu. Love you." Ucap Mercia yang kemudian berjinjit untuk mencium bibir suaminya. Dengan sigap King menahan pinggang ramping istrinya itu untuk mempermudah. Dan ciuman mesra pun tak bisa dihindarkan. Keduanya seolah lupa jika saat ini masih ramai orang di sana.
Suara riuh tepukan tangan dan cuitan pun berhasil membuat keduanya tersadar dan langsung menghentikan aksi mereka. Namun detik berikutnya King dan Mercia pun saling melempar pandangan dan tertawa bahagia.
__ADS_1