Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Godaan kecil


__ADS_3

Bayi mungil itu kini sudah berusia genap satu bulan. Sejak dirinya hadir, rumah terasa lebih hidup dan berwarna. Suara tangisannya yang khas sudah seperti alarm bagi kedua orang tuanya.


Seperti pagi ini, Queen menangis kencang sampai membangunkan kedua orang tuanya. Rea yang baru tidur satu jam pun membuka matanya yang terasa sangat berat. Setelah melahirkan waktu istirahatnya benar-benar tersita penuh. Ditambah Queen selalu rewel dan tidak ingin digendong orang lain selain dirinya dan Zain. Dan itu benar-benar membuat Rea harus mengurus Queen sepenuhnya meski kadang Zain ikut membantunya diwaktu kosong.


"Biar aku yang mengurusnya, lanjutkan saja tidurmu." Titah Zain. Rea yang pada dasarnya masih mengantuk pun mengangguk dan kembali tidur.


Zain mengangkat baby Queen dari box ke atas pembaringan. Tangisan bayi kecil itu pun meredam. "Pampesnya sudah penuh. Pantas saja kau menangis begitu kencang." Zain menoel hidung mancung bayi mungil itu. Seolah senang dengan sentuhan sang Daddy, bayi menggemaskan itu pun tersenyum.


"Berhenti membuat Mommymu kesulitan okay? Kasihan dia tidak bisa tidur nyenyak. Daddy rasa kau akan tumbuh menjadi gadis cerewet." Mendengar ocehan sang Daddy, baby Queen semakin terhibur dan terus mengembangkan senyuman yang lucu.


"Sudah beres. Sekarang Daddy akan membawamu keluar. Matahari pagi bagus untukmu. Biarkan Mommy tidur sebentar." Zain pun menggendong baby dan membawanya keluar. Sesekali ia mengecup pipi gembul putrinya karena gemas.


"Wah, pagi-pagi sudah bangun ya? Suaranya sampai kedengar ke kamar bibik loh." Sapa Bik Ade saat berpasan dengan Zain.


"Maaf menganggu, Bik. Baby mau berjemur dulu. Tolong siapkan sarapan untuk Rea ya, Bik. Bawakan saja ke kamar. Sepertinya dia kelelahan karena semalaman penuh Queen rewel." Pinta Zain.


"Baik, Tuan. Semuanya akan Bibik laksanakan. Gemes banget sih baby Queen."


"Ya sudah, aku ke depan dulu."


"Iya, Tuan."


Zain pun membawa putrinya ke halaman depan. Hangatnya mentari pagi menyapa keduanya. Bayi kecil itu sedikit menggeliat dengan mata terpejam dan terbuka karena merasa silau.


"Silau ya? Kita mundur sedikit." Zain pun memilih tempat yang sedikit teduh. Kemudian duduk di sebuah kursi panjang yang ada di sana.


Cukup lama Zain mengajak putrinya bersantai di halaman rumah. Bahkan ia juga terus mengajak bayinya itu bicara. Semua itu seolah sudah menjadi rutinitas paginya sebelum berangkat ke kantor.


Baby Queen pun mulai merengek seraya menjulurkan lidahnya. Sepertinya bayi itu mulai haus. Zain yang sudah paham pun bergegas membawa putrinya masuk.


Di kamar, Rea baru selesai menghabiskan sarapan paginya.


"Dia haus." Kata Zain memberikan baby Queen pada istrinya.


"Baby haus ya?" Rea mencium kedua pipi putrinya gemas. Setelah itu ia pun langsung menyusui baby Queen.


"Kau ke kantor hari ini? " tanya Rea yang langsung dijawab anggukan oleh Zain. Rea juga memandangi Zain yang tengah menyiapkan pakaian kantor. Terkadang Rea merasa bersalah karena sejak kehadiran Queen ia tidak sempat menyiapkan keperluan suaminya. "Maaf aku tidak bisa membantumu bersiap."


Zain terseyum begitu manis. "It's okay. Aku masih bisa melakukannya sendiri."


"Jangan lupa sarapan."

__ADS_1


"Iya bawel." Sahut Zain yang langsung berlalu menuju kamar mandi.


Rea tersenyum tipis. Kemudian perhatiannya pun tersita kembali pada sang anak. "Kau sangat rakus, sayang? Lihat, pipimu sudah seperti bakpau. Menggemaskan. Mommy ingin menggigit jari kecilmu boleh?"


Rea mengangkat tangan kecil putrinya dan menggerakkannya pelan. Bahkan Rea memberikan kecupan lembut di sana. Baby Queen pun menatap Rea lekat. Kemudian berhenti menyusu dan mengeluarkan suara kecil yang begitu menggemaskan.


"Sudah kenyang huh?" Rea mengambil tisue dan mengusap lembut bibir mungil putri kecilnya itu.


"Tadi ngapain aja sama Daddy? Diajak jalan-jalan ya?"


Bayi itu tersenyum kecil. Sepertinya baby Queen lebih banyak mewarisi sifat Rea meski wajahnya lebih mirip dengan Zain. Buktinya bayi itu selalu tersenyum saat seseorang mengajaknya bicara.


Zain yang baru selesai mandi pun menghampiri keduanya. "Re, kau melihat dasiku?"


"Yang mana?" Tanya Rea seraya bangun dari posisinya.


"Yang berwarna navy."


Rea menidurkan baby ke dalam box bayi. "Tunggu sebentar, sayang. Mommy bantu Daddy bersiap dulu ya?"


Belum juga Rea melangkah, bayi kecil itu langsung menangis kencang. "Owh... cup... cup... maafkan Mommy sayang." Rea pun menggendongnya kembali.


"Ya sudah, aku pakai dasi yang lain saja. Lain kali tolong susun susuai urutan warna. Jadi aku tidak bingung." Pinta Zain dengan senyuman manisnya.


"Mungkin hanya setengah hari aku sudah pulang. Hari ini jadwalku tidak banyak."


"Ya, kami akan menunggu di rumah. Kebetulan hari ini Mommy dan Mami juga akan berkunjung."


"Hm. Kau tidak menginginkan sesuatu?"


Rea menggeleng pelan sambil memperhatikan Zain yang tengah memakai kemeja. "Sayang, aku sudah memutuskan untuk berhenti bekerja."


Zain mengerut bingung. "Kenapa?"


"Aku khawatir melepaskan Queen pada baby sitter. Kau tahu sendiri dia rewel dan pemilih. Bahkan Mommy dan Mami saja tidak bisa bebas menggendongnya."


Zain menghela napas pendek. "Kau sudah memikirkan semuanya matang-matang?"


Rea mengangguk pelan. Ditatapnya Queen yang sudah tertidur. "Aku juga tidak ingin melewatkan tumbuh kembangnya."


Zain tersenyum tipis. "Jika itu keputusanmu, aku akan mengurus semuanya."

__ADS_1


"Terima kasih, sayang."


"Sama-sama."


Setelah Queen pulas tertidur, Rea menidurkan putrinya ke dalam box bayi dengan penuh hati-hati. Setelah itu ia pun membantu Zain memakai dasi.


Zain menatap wajah istrinya yang tak terawat. Lingkar hitam di mata Rea terlihat begitu jelas, bahkan pipinya mulai tirus. Bagaimana tidak, hampir setiap malam Rea tidak tidur.


"Kau lelah?" Tanya Zain mengusap wajah istrinya dengan lembut. "Wajahmu menunjukkan semuanya."


Rea tersenyum. "Aku hanya kurang tidur. Apa aku terlihat jelek?"


"Tidak, kau masih tetap cantik di mataku."


Rea tersenyum senang. "Aku akan mandi dan sedikit memoles diri, tidak mungkin aku bepenampilan seperti ini saat Mommy dan Mami datang."


Zain mengangguk kecil. "Sana mandi selagi Queen tidur. Aku akan menjaganya selama kau mandi."


Rea mengecup bibir suaminya. "Pagi ini aku belum mendapat kecupan. Sejak Queen hadir perhatianmu padaku mulai berkurang, itu tidak adil."


Zain tertawa renyah. "Aku tidak pernah membagi perhatianku. Kalian dua wanita yang harus aku prioritaskan. Hanya saja Queen masih membutuhkan perhatian lebih."


"Itu sama saja. Aku juga butuh perhatianmu tahu. Cepat cium aku." Titanya seraya menunjuk birbirnya.


"Tadi sudah."


"Sayang... aku sedang tidak bercanda." Rengeknya seperti anak kecil. "Cepat cium atau aku akan marah padamu."


"Kenapa tidak kau saja yang menciumku? Semuanya bebas kau sentuh." Goda Zain.


Karena geram, Rea langsung menarik tengkuk suaminya dan menyambar bibir Zain dengan rakus. Tentu saja Zain kaget dengan keagresifan istrinya itu. Namun itu tidak berlangsung lama karena Zain membalas ciuman sang istri. Rea pun merapatkan tubuhnya. Menyentuh dada bidang sang suami yang terhalang kemeja.


Kini ciuman Rea pun turun ke leher suaminya. Dengan senyuman licik Rea membuat sebuah tanda kepemilikan di sana. "Kau milikku."


Tidak mau kalah, Zain pun ikut memberi tanda kepemilikan di pundak sang istri. Bahkan ia menciptakannya bukan hanya satu, melainkan lima sekaligus. "Kau juga milikku. Semuanya milikku."


Rea kembali mengulum senyuman nakal. Tangan lentiknya dengan jahil menyentuh barang limited edition sang suami, membuat sang empu mengerang kecil.


"Sayang, kau harus bertanggung jawab setelah ini." Lirih Zain yang mulai terpancing.


"Aku hanya ingin mengodanya. Rupanya dia langsung tergoda. Aku harus mandi, tolong jaga Queen untukku." Bisik Rea yang langsung berlari menuju kamar mandi. Meningalkan Zain yang masih mematung.

__ADS_1


Zain yang merasa di permainkan pun menggeram kesal. Rea benar-benar membuatnya harus menghapus semua angan-angan yang sudah lama ia simpan. Argh... ingin sekali rasanya ia menghukum wanitanya itu sampai puas.


"Aku tidak akan melepaskanmu setelah ini. Tunggu saja pembalasanku, istri licikku." Zain tersenyum penuh arti.


__ADS_2