
Faizah menghembuskan napas lega karena bisa keluar dari rumah sakit setelah dua hari dirawat. "Ah... rasanya itu kayak baru keluar dari sangkar tahu gak sih, Mas?"
Juna tersenyum kecil saat melihat keceriaan istrinya lagi. Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Kalau begitu kamu bisa terbang."
Faizah tertawa. "Kalau punya sayap, aku udah terbang dari dulu-dulu. Aku bakal hinggap di beberapa negara yang pengen aku datangin." Ocehnya.
"Memangnya kamu mau jalan-jalan ke mana?"
Faizah tersenyum lebar. "Paris negara yang paling aku impikan. Sebenarnya bisa saja aku pergi ke sana, tapi Daddy tidak pernah mengizinkanku pergi. Daddy takut aku tersangkut dengan bule di sana."
"Tapi kamu pernah pergi ke Amerika."
"Itu karena mendesak." Sahut Faizah menghela napas berat. "Kamu sih pake tahan nilaiku, akhirnya uangku habis dan kuliahku akhirnya kandas juga." Faizah cemberut.
Juna terdiam saat mengingat hal itu. Tentu saja Faizah sadar akan hal itu, lalu ia menoleh dan tersenyum. "Tapi aku tidak menyesal. Karena nilai itu aku misa mendapatkan kamu, Mas. Kamu itu termasuk dalam kategori lelaki yang ingin aku nikahi. Yah... walaupun kamu sudah tua. Tapi wajahmu masih lumayan lah."
Juna mendengus sebal. "Awalnya kamu membawaku melayang, lalu menghempasnya dengan keras."
Faizah tertawa renyah. Ditatapnya wajah sang suami lamat-lamat. Juna yang merasa diperhatikan pun menoleh sekilas. "Ada apa?"
"Mas, yuk jalan-jalan sebentar."
Juna mengerutkan dahi. "Apa kamu lupa? Belum setengah jam kamu keluar dari rumah sakit, Izah."
Faizah menyebik. "Sebentar aja, ke mana kek. Pengen banget, Mas. Kita kan gak pernah kencan."
"Nope, kita jalan-jalan setelah kamu benar-benar sembuh."
"Mas." Rengek Faizah seraya menggoyangkan lengan Juna. "Mau ya?"
Juna menghela napas berat. "Terserah kamu mau merajuk atau apa lah itu. Yang jelas saya gak akan bawa kamu ke mana-mana sampi kamu sembuh total. Jangan cuma mikirin diri sendiri, Izah. Ingat anak dalam perut kamu."
Faizah menghela napas berat. "Ya sudah. Tapi janji ya kalau aku udah sembuh, kamu bakal bawa aku jalan-jalan?"
"Hm."
Seketika senyuman Faizah mengembang. "Makasih, sayang."
Juna hanya melirik Faizah sekilas.
Hah, sepertinya aku memang harus membiasakan diri hidup dipenuhi ocehannya.
Sesampainya di rumah, Juna memapah istrinya ke kamar. Lalu meminta sang istri berbaring. Setelah itu ia pun bergegas ke ruang ganti.
"Mas, mau ke kantor ya?" Tanya Faizah saat melihat Juna keluar dengan stelan kantor. Lalu Faizah pun merubah posisinya menjadi duduk.
"Iya, cuma sebentar. Nanti siang Zain pulang. Jadi aku harus melihat kondisi kantor dulu." Jelas Juna.
"Mas, nanti pulangnya beli rujak ya? Level lima, terus banyakin mangga mudanya." Pinta Faizah.
"Hm, kalau ingat." Sahut Juna sambil merapikan pakainnya di depan cermin.
"Ish... tega banget kalau lupa, Mas. Istri lagi ngidam loh. Tar kalau anak kita ileran gimana, terus...."
"Iya, nanti saya beli. Habis sakit kamu makin berisik, Izah."
Bukanya tersinggung, Faizah justru tertawa. "Habis kamunya sih kayak gak ada niat manjain istri. Padahal mah istri kayak aku langkah, Mas."
__ADS_1
Juna tersenyum miring. "Langka ya? Kalau saya lelang kira-kira laku berapa ya?"
Seketika senyuman Faizah memudar. "Mas! Kok dilelang sih?"
"Kan langka." Juna tersenyum kecil.
"Ih... ngeselin." Faizah manyun.
"Aku pergi." Pamit Juna meraih tas kantornya.
"Gak mau cium kening dulu?" Tanya Faizah penuh harap. "Biasaya suami istri itu cium kening sama tangan dulu."
"Gak perlu, saya cuma sebentar. Jangan kemana-mana, diam saja di kamar. Mungkin nanti aku pulang bersama asisten rumah tangga."
"Gak cantik kan? Cantik siapa sama aku, Mas?"
"Cantik dia."
"Ish." Kesal Faizah.
"Umurnya udah setengah abad, Izah. Gak usah cemburu. Aku pergi." Setelah mengatakan itu Juna pun beranjak pergi. Meninggalkan Faizah sendirian.
Speninggalan Juna, Faizah bangun dari tempat tidur dan beranjak ke luar. "Masak aku disuruh duduk aja di kamar. Bukan aku banget. Duh... enaknya makan apa ya? Kok laper lagi sih?"
Faizah membuka kulkas, lalu menutup hidungnya. "Buat omelet kornet kayaknya enak deh."
Faizah mengelurakan beberapa bahan masakan dan meletakkannya di pantry. "Hah, mana bisa aku diam aja kalau lagi di rumah. Setidaknya mulut ngunyah, hehe."
Hampir setengah jam Faizah berkutat di dapur, dan akhirnya omelet lezat itu siap untuk disantap. Tidak lupa juga Faizah membuat jus jeruk super segar. Karena ingin menikmatinya dengan khidmat, Faizah pun duduk di depan televisi sambil menghidupkan drakor kesukaannya.
"Hah, ini baru betul. Makan omelet ditemani drakor sama jus jeruk. Mantap." Faizah pun melahap hasil masakannya dengan lahap. Namun, kesenangannya itu harus terganggu oleh suara bel pintu.
"Sabar." Ketusnya saat bel terus berbunyi lebih kencang. Lalu ia pun membukakan pintu. Seketika tubuhnya tersentak saat melihat keluarga Juna lah yang datang. Lebih tepatnya sang Bunda dan ketiga putrinya. Juga seseorang yang berpenampilan aneh menurutnya.
"Ah... kalian rupanya. Masuk dulu." Faizah berusaha untuk ramah.
"Ini dia Mbah orangnya, saya yakin dia pake sihir." Ketus Tara menunjuk Faizah. Kemudian mata Faizah memicing saat melihat seorang laki-laki berpenampilan aneh itu.
Dih... orang gila dari mana ini? Pake kalung segede gaban.
"Maaf, saya itu Faizah. Bukan nenek sihir, kalau mau nuduh itu pake otak. Zaman sekarang masih percaya sihir. Mana bawa orang gila lagi." Sinis Faizah yang berhasil membuat mereka kaget.
"Seperitnya kalian memang benar, wanita ini punya ilmu sihir." Kata si Mbah jadi-jadian itu. Sontak Faizah pun tertawa kencang sampai perutnya sakit. Keempat orang di depannya itu saling melempar pandangan.
"Aduh... ngakak akuh." Faizah menyentuh perutnya. "Yuk masuk dulu, kita liat jin siapa yang paling kuat."
"Wah, nantang dia Mbah." Kesal Siska menatap Faizah sengit.
"Yuk, masuk. Dipersilakan dengan rasa hormat." Faizah memberikan jalan untuk mereka. Lalu dengan angkuh mereka pun masuk. Dan memilih ruang tamu sebagai tempat bertarung.
Faizah tidak kalah angkuh, ia duduk di sofa dengan kaki tersilang. "Maaf gak bisa kasih minum, belum ada pembantu soalnya. Kalau mau, ambil sendiri aja ya?"
"Sombong." Sinis Bunda Juna.
Faizah tidak peduli, saat ini ia fokus menatap sang Mbah dukun yang terus mengelilingi ruang tamu dengan mulut komat-kamit. Bukanya ngeri, Faizah justru tertawa geli. Tentu saja hal itu membuat keempatnya bingung sendiri.
"Mah, kayaknya dia beneran gila deh." Bisik Nayla, anak bungsunya.
__ADS_1
"Mbah, baca apa sih?" Tanya Faizah dengan santai. Seketika mata si Mbah pun melotot seperti orang ketakutan.
"Ada sihir jahat." Serunya yang berhasil membuat Faizah kaget karena lelaki itu menabur bunga ke arahnya.
"Ih... ngagetin aja si Mbah." Kesel Faizah menepis bunga yang menempel dibajunya.
"Siapa kamu? Dari mana asal kamu?" Tanya Si Mbah memelototi Faizah.
Faizah memutar bola matanya malas. "Saya Faizah, asal saya asli Jakarta. Apa lagi?"
"Bukan kamu? Tapi sosok yang ada di belakang kamu. Kamu pakai susuk? Dibelakang kamu ada sosok hitam berbulu."
Mendengar itu Faizah langsung lompat dan menghampiri si Mbah dukun. Bahkan menempel ketakutan, ia memang paling pantang kalau mendengar makhluk astral. "Aaaa... beneran Mbah? Item berbulu? Genderewo dong."
"Heh, kenapa kamu malah nempel sama saya?" Kesa si Mbah.
"Tadi Mbah bilang dibelakang saya ada hantu. Usir dong, Mbah. Saya tuh paling takut sama yang namanya hantu. Tar kalau dia makan saya gimana? Mana saya lagi hamil lagi, nikah aja belum sebulan. Mbah... bilangin dong sama dia, jangan ganggu Faifai yang imut ini." Rengek Faizah sambil melihat kesekeliling rumah.
Si Mbah melongo.
"Bener-bener gatel kamu ya? Mbah dukun aja kamu goda." Sembur Siska.
"Aaa... dibelakang dia Mbah. Itu liat, gede banget. Aaa!" Teriak Faizah yang berhasil membuat keempat wanita itu ikut ketakutan.
Rasain. Emang enak aku kerjain. Faifai dilawan.
"Kamu bisa liat hantu?" Tanya Si Mbah dengan polosnya.
"Iya, saya tuh dari kecil bisa liat makanya takut." Bohong Faizah.
Duh... amit-amit deh. Aku kan paling takut sama hantu.
"Bagus, sekarang di mana posisinya?"
Lah, kok malah nanya sama aku sih? Dukun abal-abal ini mah. Kalau gini sih keberuntungan dipihakku. Faizah tersenyum miring.
"Aaaa... itu dia ada di belakang kamu." Faizah menunjuk Tara. "Ih... dia jilat leher kamu, matanya merah. Lidahnya gede banget."
Wanita bernama Tara itu langsung ketakutan dan mendekati si Mbah. "Mbah, kenapa saya yang diserang? Ini pasti kerjaan kamu kan Faizem."
"Loh, kok aku sih? Pake manggil Faizem lagi." Kesal Faizah.
Si Mbah mulai mengeluarkan jurus dan mantranya. Faizah pun agak mundur karena takut kena sikut.
Hah, orang kaya tapi bodoh. Masak percaya sama dukun sableng kayak gini sih? Faizah memutar bola matanya malas. Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Hah, ganggu kesenangan orang aja." Gumamnya kesal sendiri.
"Semuanya udah aman. Semua jinnya sudah saya musnahkan, termasuk susuk yang ada dalam tubuh wanita ini." Kata si Mbah mantap.
"Serius, Mbah? Itu artinya Juna gak akan tergila-gila lagi sama dia?" Seru Bunda menatap Faizah remeh.
"Tentu saja, keponakan Anda akan sadar jika dia sudah diguna-guna." Kata si Mbah lagi.
"Ya ampun, itu artinya saya mau dicerein ya sama Mas Arjunaku? Mammy, Daddy, anakmu ini akan menjadi janda." Histeris Faizah memulai drama.
"Siapa yang mau jadi janda?"
__ADS_1
Tbc....