
"Cari dia, aku ingin Queen sekarang." Histeris Rea.
"Ya, kita pasti menemukannya."
Tidak lama dari itu terdengar suara tawa khas milik Queen. Rea dan Zain pun kaget.
"Sayang, itu suara putri kita." Seru Rea. Sontak keduanya pun bangkit. Dan suara tawa Queen terus terdengar. Asal suara itu tidak jauh dari sana.
Zain sedikit berlari menghampiri gudang yang diikuti oleh Rea. Keduanya membuka pintu gudang yang sudah terbuka sedikit. Tawa milik Queen pun semakin terdengar jelas.
"Queen." Panggil Rea seraya menyusuri setiap penjuru gudang.
"Princess, kau dimana?"
"Mommy, Daddy." Sahut Queen yang suaranya entah di mana. Gadis itu membuat kedua orang tuanya cemas setengah mati.
"Kamu di mana, baby? Cepat katakan." Tanya Zain seraya membuka semua kain penutup.
"Aku sedang belmain, Daddy." Sahut Queen. Zain yang sudah tahu di mana posisi putrinya pun menghela napas lega. Seketika senyuman Zain pun mengembang saat melihat penampilan putrinya. Bagaimana Zain tidak tersenyum, saat ini Queen berada di dalam lemari bekas bersama beberapa anak kucing. Rambut dan wajah gadis kecil itu sudah di nodai debu dan sarang laba-laba. Bahkan pakaian putihnya sudah berubah coklat di beberapa bagian.
"Oh God!" Seru Rea saat melihat itu. Ia manutup mulutnya tak percaya.
"Daddy, Mommy." Sapa anak itu dengan senyuman polosnya.
Zain tertawa renyah. Rea yang mendengar itu langsung memukul suaminya karena kesal. "Bawa keluar putrimu, kau malah tertawa."
Zain tidak bisa berhenti mengulum senyuman lucunya. Bagaimana tidak, putrinya berhasil membuat panik semua orang. Dan ternyata ia malah sibuk bermain dengan anak kucing yang entah milik siapa.
"Kemari," titah Zain mengulurkan tanganya pada sang putri.
"Daddy, boleh aku bawa baby catnya?"
"Tidak, sayang. Itu kucing liar, jika mau Daddy akan membelikan kucing bagus untukmu."
Queen menyebikkan bibirnya. "Tapi aku mau yang ini. Lihat, meleka sangat menggemaskan, Daddy."
"Queen, keluar dari sana atau Mommy akan marah padamu." Tegas Rea mulai kesal dengan sikap konyol putrinya. Entahlah, rasanya ia ingin sekali memarahi anak nakalnya itu. Emosinya seolah tak bisa terkontrol kali ini.
Queen yang merasa terintimidasi pun bergegas keluar dari sana. Kemudian memeluk sang Daddy dengan erat. "Daddy." Anak itu merasa takut dengan tatapan sang Mommy.
"Sebaiknya kita kembali ke rumah dan bersihkan dirimu. Dasar anak nakal. Daddy dan Mommy mencemaskanmu." Ujar Zain memukul pelan punggung putrinya itu.
Queen masih setia memandang ke arah Rea. Terlihat jelas kemarahan di wajah wanita itu.
"Solly, Mommy." Ucap Queen membenamkan setengah wajahnya di pundak Zain karena merasa takut dengan tatapan sang Mommy.
"Sekali lagi melakukan hal nakal seperti ini, Mommy tidak akan segan menghukummu." Rea masih saja mengeluarkan kekesalannya. Dan itu membuat Queen semakin ketakutan karena sebelumnya Rea tidak pernah memarahinya.
"Daddy." Queen yang merasa terancam pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Sudah cukup, dia masih anak-anak." Zain mengusap punggung putrinya dengan lembut.
"Dia hampir membuatku gila, Kak." Teriak Rea. Zain terkejut mendapat sikap aneh istrinya yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Re." Zain memperingati sang istri.
"Urus saja putrimu itu. Kepalaku hampir pecah dibuatnya." Setelah mengatakan itu Rea pun bergegas pergi. Zain hanya bisa menghela napas berat. Mungkin Rea lelah, karena itu ia bersikap aneh.
"Daddy, apa Mommy malah?"
"Tidak, sayang."
"Solly, Daddy."
"It's okay, princess." Zain pun membawa putrinya kembali ke rumah. Ia juga membantu Queen mandi dan berganti pakaian.
"Sekarang putri Daddy sudah cantik dan wangi."
Queen menatapnya lekat. "Daddy, apa Mommy masih malah?"
Zain menyentuh pipi menggemaskan putrinya, tidak lupa memberikan senyuman manis. "Mommy tidak marah. Setelah ini kita temui Mommy okay?"
Queen mengangguk antusias.
"Ayo, Daddy akan membawamu ke kamar Mommy."
"Ya, Daddy."
Zain menggendong dan langsung membawa putrinya itu ke kamar utama. Di sana Rea tampak duduk di sofa sambil memijat keningnya sambil termenung. Zain pun menurunkan Queen. Gadis kecil itu langsung berlari menghampiri sang Mommy. Ia juga naik ke atas pangkuan Rea.
Rea menantap wajah putrinya lamat-lamat. Kemudian memeluknya dengan erat. "I am so sorry, baby. Mommy tidak bermaksud memarahimu. Mommy hanya mencemaskanmu."
"Mommy jangan malah lagi ya? Aku takut."
"Kalau begitu jangan nakal dan membuat Mommy cemas lagi. Bagaimana jika kamu benar-benar hilang tadi? Mungkin Mommy bisa gila."
"Aku sayang Mommy."
"Mommy juga menyayangimu." Rea terus mengecupi pucuk kepala putrinya.
"Mommy nangis?" Queen mengusap jejak air mata di pipi Rea. Kemudian Rea pun menggeleng.
"Mommy cuma takut kehilangan kamu tahu. Jangan buat Mommy khawatir lagi. Janji?"
Queen mengangguk kencang. Ia pun kembali memeluk sang Mommy. Untuk yang kesekian kalinya Rea mengecupi pucuk kepala putrinya. Keduanya pun terdiam cukup lama sambil berpelukan mesra. Sampai Queen pun tertidur.
Rea tersenyum geli. "Dasar anak nakal. Mommy mencintaimu." Ucapnya seraya mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
****
Rea terbangun dari tidurnya saat merasakan kram perut. "Sayang."
Ia membangunkan Zain dengan cara menggoyangkannya. Sontak Zain pun langsung terbangun. "Ada apa, sayang?"
"Perutku kram lagi."
"Kita ke rumah sakit saja ya? Hari ini bukan sekali dua kali perutmu kram." Zain memberikan tatapan cemas.
__ADS_1
Rea menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, mungkin ini terjadi karena siang tadi aku terlalu emosi."
Zain menghela napas berat, kemudian mengusap lembut perut sang istri. "Kedepannya tahan emosimu. Tadi siang kau berhasil membuat Queen ketakutan."
"Maafkan aku, aku tidak sadar dengan apa yang aku ucapkan. Itu keluar begitu saja. Rasanya aku ingin marah dan...."
"Aku tahu. Aku juga mengerti kondisimu saat ini. Tapi Queen masih sangat kecil. Kontrol emosimu, okay?" Sela zain.
Rea mengangguk patuh.
"Apa masih sakit?"
"Tidak seberapa lagi. Tapi aku sangat lapar. Bisakah kau membuatkanku sesuatu yang pedas? Rasanya makanan pedas sangat enak."
"Malam-malam kau ingin makanan pedas? Kau memang ibu hamil yang aneh."
Rea tertawa renyah mendengar ledekan suaminya. "Cepatlah, aku benar-benar lapar."
"Selain pemarah, kau juga begitu tidak sabaran."
"Sayang, aku benar-benar lapar." Rengek Rea.
"Iya... iya... aku akan membuatkan sesuatu untukmu. Tunggu di sini."
"Ikut, aku juga ingin melihatmu memasak. Sudah lama aku tidak melihatmu bermain di dapur."
"Ya sudah, ayok."
"Aku ingin digendong di belakang." Rengeknya lagi seperti anak kecil. Zain merasa gemas melihatnya, sudah lama Rea tidak bersikap manja seperti ini lagi.
Zain bangkit dan sedikit membungkuk. "Cepat naik."
Rea tersenyum senang dan langsung menempel di punggung sang suami.
"Oh... kau sangat berat."
Rea memukul pundak suaminya. "Timbanganku hanya naik dua kilo."
"Tetap saja kau bertambah berat."
"Ck, berhenti meledekku. Percepat langkahmu, aku sudah tidak sabar untuk menyantap hidangan spesial darimu." Zain pun mempercepat langkahnya. Rea menghirup aroma mint dari rambut suaminya begitu dalam.
"Dadamu sangat empuk. Aku jadi merindukannya."
"Ck, kau sangat mesum. Aku rasa otakmu sudah dipenuhi hal-hal kotor."
"Aku hanya membayangkanmu saja. Saat matamu terpejam dengan mulut sedikit terbuka, kau terlihat sangat seksi. Apa lagi saat kau menggigit bibirmu sendiri, itu jauh lebih seksi. Aku jadi ingin melakukannya di ruang makan."
Rea melotot mendengar itu dan memukul keras pundak suaminya. "Berhenti memikirkan hal mesum. Kau lupa aku sudah kelaparan sejak tadi."
"Aku rasa perutmu memang tidak pernah penuh. Setiap saat kau lapar." Ledek Zain yang disambut tawa oleh Rea. Merasa gemas dengan sang suami, Rea mencium pipi suaminya. "Aku mencintaimu, suamiku."
"Aku juga mencintaimu, istriku."
__ADS_1