
Queen terlihat tak tenang selama dalam penerbangan, untuk yang kesekian kalinya ia membuang napas dan menghirupnya dengan kasar.
Ella meraih tangan Queen dengan lembut. "Tenanglah, Sean baik-baik saja."
Queen mengangguk, meski begitu tetap saja hatinya gelisah dan terus memikirkan kondisi sang suami.
Sesampainya di Milan, Queen dan Ella langsung menuju rumah sakit tujuan. Karena Sean sudah memberi tahu ruangan dirinya di rawat, Queen dan Ella pun bergegas ke sana tanpa bertanya lagi.
"Sean." Lirih Queen saat memasuki ruang VIP di mana suaminya di rawat. Seketika air mata Queen jatuh saat melihat Sean terbaring di atas brankar.
"Queen," sapa Sarah bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Queen.
"Apa yang terjadi, Aunty?" Queen duduk di sebelah Sean. Lelaki itu membuka matanya saat tangan halus Queen mengusap pipinya.
"Hai." Sean tersenyum seraya menggenggam tangan istrinya. Queen mengecup kening Sean dengan lembut.
"Apa yang terjadi, Sean?" Tanya Queen menyatukan keningnya dengan kening Sean.
Sarah menarik napas panjang. "Sean menyelamatkan Aunty, Queen. Dia tertembak dua kali di bagian pinggulnya. Sudah seminggu Sean berbaring di sini. Dokter mengatakan Sean akan mengalami kelumpuhan. Maafkan Aunty, Queen."
Deg!
Jantung Queen bagaikan di serbu ribuan peluru mendengarnya. Sean lumpuh?
"Maafkan aku, Queen. Aku tidak bisa melindungimu lagi. Aku tidak akan memaksamu untuk terus di sisiku."
Hati Queen berdenyut sakit saat mendengar suara lirih suaminya, sontak ia pun langsung memeluknya. "Kenapa kau katakaan itu, Sean? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Ujarnya seraya memberikan kecupan di bibir sang suami. "Aku mencintaimu, Sean."
Sean menyelusupkan jemarinya di rambut harum Queen sambil terpejam. "Maafkan aku."
Queen menggeleng. "Kau melakukan hal benar, Sean. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku tidak peduli kau cacat sekali pun. Kau masih hidup saja aku sudah bersyukur, Sean. Sepanjang hari aku terus memikirkanmu."
Sean mengecup pundak Queen dengan mesra. "Terima kasih, sayang. Tapi kau harus katakan jika bosan hidup denganku."
Ella dan Sarah yang menyaksikan itu ikut menangis, lalu keduanya pun beranjak keluar. Memberikan ruang dan waktu pada pasutri itu.
Queen menarik diri dari pelukan Sean. "Kau ini bicara apa? Aku tidak akan bosan hidup bersamamu." Lalu ia ikut berbaring di brankar dan kembali memeluknya. "Apa dokter mengatakan kau bisa sembuh?"
Sean mengangguk. "Tapi waktunya tidak sebentar, Queen."
"Tidak masalah, kita lewati semuanya sama-sama ya?" Queen mengecupi pipi suaminya. "Aku merindukanmu, Sean. Sangat merindukanmu."
"Kau pikir aku tidak merindukanmu huh?"
Queen tertawa renyah. "Aku tahu, mana mungkin kau bisa berjauhan denganku. Kau kan mencintaiku."
Sean tersenyum. Ditatapnya wajah sang istri dalam-dalam seakan mengobati rasa rindunya. Dan begitu pun sebaliknya.
Queen tertawa kecil saat melihat lingkar hitam di mata suaminya. "Apa kau juga tidak bisa tidur?"
__ADS_1
Sean mengangguk. "Aku merindukanmu."
"Aku juga tidak bisa tidur karena terus memikirkanmu. Pasti wajahku jelek kan?"
Sean tersenyum. "Kau akan selalu cantik di mataku. Jika aku tidak sakit, mungkin aku tidak akan melepaskanmu malam ini."
Lagi-lagi Queen tertawa. "Sepertinya mulai sekarang hanya aku yang bisa menyerangmu. Tuhan itu adil, kemarin kau yang selalu memonopoliku, sekarang gantian aku yang akan menghabisimu."
Sean tersenyum lebar. "Aku tidak pernah takut."
"Cepat sembuh, agar aku bisa langsung menyerangmu." Bisik Queen yang disambut tawa oleh Sean. Hati Queen menghangat saat melihat tawa lepas suaminya. Karena itu yang saat ini sedang ia lakukan, membuat Sean sebahagia mungkin. Queen tidak ingin membuat Sean merasa terbebani dengan kondisinya saat ini.
Queen terdenyum saat melihat wajah berseri suaminya.
Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu meski kau cacat seumur hidup pun. Kau adalah hidupku, Sean. Batin Queen.
"Kau tidak malu punya suami cacat?"
"Buat apa malu? Kau masih punya wajah tampan. Terutama uangmu banyak, selagi kau kaya aku tidak akan malu." Canda Queen. Dan lagi-lagi Sean tertawa mendengarnya.
"Jadi kau akan meninggalkanku saat aku miskin nanti huh?"
Queen memeluk Sean dengan erat. "Aku rasa kau tidak akan miskin begitu saja. Asetmu ada di mana-mana, bahkan menguasi hampir seluruh dunia. Tenang saja, kedepannya biarkan anak-anak kita yang meneruskan posisimu. Dan kita menua bersama. Atau aku akan menggantikan posisimu. Aku akan menjadi CEO baru mulai sekarang."
"Hm." Sean mengangguk seraya menggengham tangan istrinya.
Cukup lama mereka terdiam.
"Ada apa huh?"
Queen menarik tangan Sean dan menemepelkan diperutnya. "Aku hamil, Sean."
Deg!
Jantung Sean berdegup tak karaun saat mendengar kabar bahagia itu.
"Hamil?"
Queen mengangguk. "Awalnya aku juga tidak percaya. Tapi sebelum aku terbang ke sini, aku mual terus. Lalu Ella memintaku untuk mengeceknya. Dan hasilnya positif. Kita akan menjadi orang tua, Sean."
Tanpa sadar air mata Sean menitik. "Apa aku mimpi, Queen?"
Queen tersenyum. Lalu dicubitnya pipi Sean dengan kencang.
"Aduh... sakit, sayang." Keluh Sean.
"Itu artinya kau sedang tidak mimpi, Sean. Ini nyata. Selamat, kau akan menjadi seorang Ayah." Queen tidak ada puasnya dan terus mengecup pipi Sean.
"Terima kasih, Queen. Kau selalu memberikan kebahagian dalam hidupku. Aku mencintaimu."
__ADS_1
Queen mengangguk. "Aku akan memastikannya ke dokter, supaya semuanya lebih meyakinkan. Aku juga mencintaimu, Daddy."
Sean menatap Queen lamat-lamat. "Maaf karena aku tidak bisa menemanimu, sayang."
Queen tersenyum tulus. "Aku ini istri mandiri, jadi jangan khawatir. Tapi kedepannya kau harus ikut."
Sean mengangguk pasti. "Biarkan Aunty menemanimu."
"Ya, ada Ella juga. Oh iya, bagaimana kondisi Paman? Lalu di mana Ben? Dari tadi aku tidak melihatnya."
"Uncle dan Ben juga sedang di rawat, mereka juga terluka."
Queen terkejut mendengarnya. "Ini yang aku takutkan, Sean. Sampai aku tidak bisa tidur karena takut kau mati."
Sean tersenyum. "Aku sudah berjanji padamu akan kembali."
"Hm... biarkan aku memelukmu seperti ini. Hah, rasa rinduku terobati sudah. Aku rindu aromamu, Sean."
"Jadi hanya aromaku yang kau rindukan huh?"
Queen tertawa kecil. "Semuanya sih. Tapi kau sedang sakit, jadi aku tidak bisa bebuat bebas."
"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku sembuh huh?"
Queen mendekatkan bibirnya di telinga Sean. "Aku akan menyerangmu seperti yang sering kau lakukan padaku."
Sean tertawa renyah. "Seperti ini?"
Sean menarik tengkuk Queen dan langsung menyambar bibir istrinya itu dengan rakus. Seolah tengah menyalurkan rasa rindunya selama ini. Namun, detik berikutnya Sean meringis kesakitan. Sontak Queen pun terkejut.
"Ck, sudah aku katakan kau masih sakit, Sean. Kau sangat nakal. Sekarang kau sendiri yang kesakitan, biar aku panggilkan dokter." Queen hendak bangkit, tetapi Sean langsung menahannya.
"Biarkan saja, sakitnya akan hilang sebentar lagi. Peluk aku lagi, aku kedinginan selama dua minggu lebih." Sean menarik istrinya kembali dalam pelukan. Queen tersenyun dan membalas pelukan Sean.
"Ah... aku jadi ngantuk sekarang. Kau sangat hangat, Sean. Bagaimana aku bisa jauh darimu?"
Sean tersenyum. "Kalau begitu tidurlah."
"Tapi aku harus ke poli obgyn, sayang. Aku harus memastikan benihmu tumbuh dengan baik atau tidak di perutku."
"Besok saja, lagian jika belum tumbuh pun kita bisa menanamnya kembali. Meski aku lumpuh, bukan berarti aku tidak bisa melahapmu."
"Ck, kau memang mesum, Sean. Dikepalamu hanya ada itu."
"Hm, karena itu sangat nikmat."
"Sean!" Queen memukil lengan suaminya karena kesal. Lalu keduanya tertawa bersama dan saling memadu kasih.
"I love you, my little wife." Ucap Sean dengan tulus.
__ADS_1
"I love you too, my old husband." Balas Queen yang kemudian memberikan kecupan di bibir Sean. Sebelum dirinya benar-benar terlelap dalam dekapan Sean.
Tbc....