
Tidak butuh waktu lama King pun sampai di tempat istrinya terjatuh. "Sayang." Panggilnya dengan nada panik. Lalu memeriksa tubuh istrinya memastikan tak ada luka serius.
Sedangkan Mercia justru tersenyum seolah tak terjadi apa-apa, padahal bagian lutut dan siku kirinya terluka dan masih mengeluarkan darah. "Cuma lecet dikit, Mas."
"Lecet apanya? Ini luka parah, Sayang." Kesal King yang kemudian melayangkan tatapan membunuh pada kedua ajudannya. "Kalian gimana sih? Saya kan minta kalian buat jagain istri saya, terus kenapa dia bisa luka kayak gini? Kalian pikir saya kasih gaji buat nonton doang?" Semburnya tanpa ampun.
"Maaf, Tuan." Ucap keduanya dengan wajah pucat pasi.
"Kenapa gak bawa istri saya ke rumah sakit? Kalian dari tadi cuma nonton doang?" Sembur King lagi.
"Maaf, Tuan. Tadi...."
"Apa?" Sergah King yang berhasil membuat keduanya bungkam.
Mercia tersenyum melihat wajah panik suaminya itu. "Mas, jangan marahin mereka dong, kasian tahu mereka tadi panik setengah mati. Yang salah itu aku karena gak hati-hati. Mereka juga tadi ngajak aku ke rumah sakit kok, tapi akunya gak mau. Gendong, aku mau pulang." Katanya seraya merentangkan kedua tangan seperti anak kecil.
King menatap Mercia, lalu menghela napas. "Kamu juga dibilangin sama suami bandel, disuruh naik mobil malah ngeyel. Sekarang kalau udah kayak gini siapa yang tanggung jawab?"
Mercia tersenyum mesem. "Maaf, Mas. Lagian kan deket, masak pake mobil. Udah ah, malu diliatin orang. Mau pulang." Rengeknya manja.
Alhasil King pun mengalah dan langsung menggendongnya. "Kalian urus motornya." Titahnya pada sang ajudan dengan nada kesal. Kedua orang itu pun mengangguk patuh.
"Mas, jajanannya." Seru Mercia baru ingat jika jajanannya masih di motor. Untung saja jajanannya itu tidak beraratan dan masih untuh di dalam plastiknya. Dengan sigap salah satu ajudannya mengambilkan benda itu.
"Ck, udah kayak gini aja masih mikirin jajanan." Kesal King seraya mendudukan istrinya ke dalam mobil.
"Sayang Mas, tadi aku juga beli buat orang rumah."
King mendengus kecil, lalu menutup pintu mobil dan kembali mengitari mobilnya. Sebelum masuk ia mengambil jajanan yang Mercia maksud dari tangan ajudannya, setelah itu bergegas masuk ke mobil. Meninggalkan tempat itu.
Mercia membersihkan darah disikunya dengan tisu.
"Gimana ceritanya bisa jatuh?" Tanya King meliriknya sekilas.
"Tadi ada anak sekolah yang ugal-ugalan, aku kaget jadi ngerem dadakan, Mas." Jawabnya dengan santai sambil fokus pada luka-lukanya.
King terdiam sejenak. "Kamu inget ciri-cirinya?"
Mendengar itu sontak Mercia pun menoleh. "Ih, mau ngapain? Udah jangan diperpanjang, lagian aku gak papa juga." Protesnya tahu maksud dari pertanyaan suaminya.
"Gak bisa dibiarin, sekarang kamu yang jatuh. Gimana kalau besok ada orang lain lagi yang jatuh?" Kesal King.
"Ck, emang akunya aja yang lagi sial, Mas. Udah ah, jangan diperpanjang pokoknya. Aku gak mau kamu nyari masalah sama orang." Sahut Mercia kembali membersihkan lukanya.
King menoleh lagi, sebenarnya ia merasa heran karena Mercia sama sekali tidak menangis. Padahal ia tahu gadis itu sangat manja, tapi saat seperti ini ia justru bersikap seperti orang lain. "Tumben kamu gak nangis?"
Mercia menoleh lagi. "Lah, ngapain nangis, Mas? Aku kan udah dewasa, masak cuma luka kayak gini nangis. Malu lah sama umur, mana udah punya suami lagi."
__ADS_1
King tersenyum mendengar jawaban istrinya yang seolah memang sudah dewasa. Sertinya gadis itu tidak sadar jika dirinya hampir setiap hari merengek seperti anak kecil. "Alhamdulillah kalau kamu sadar udah dewasa."
Mercia mengangguk. "Tapi motor Mbak Sri kayaknya lecet, Mas."
"Gak papa, nanti kita ganti yang baru." Jawab King dengan entengnya.
"Baik banget kamu, Yang. Pasti Mbak Sri seneng deh dapat motor baru." Sahut Mercia tersenyum senang.
King melirik luka di lutut istrinya, sepertinya luka dilutut lebih parah karena sejak tadi masih mengeluarkan darah. "Kita ke rumah sakit dulu." Katanya seraya membelokan mobilnya ke jalanan besar.
Mercia pun cuma bisa pasrah, karena percuma ia menolak pun. Pada akhirnya King akan tetap menang.
Setibanya di rumah sakit, King menggendong istrinya ke IGD. "Tangani istriku segera." Titahnya dengan otoriter.
Dokter tampan dan seorang suster yang berjaga di sana pun dengan sigap menangani luka Mercia. Namun King lebih dulu menahan sang dokter yang hendak menyentuh istrinya.
"Jangan kamu, biarin suster itu aja yang tanganin istri saya. Kamu jangan pegang-pegang dia." Titahnya yang berhasil membuat dokter tampan itu bingung dan akhirnya mundur.
King menarik tirai agar dokter itu tidak bisa melihatnya. Tentu saja dokter itu cuma bisa mengelus dada dan beranjak dari sana.
Mercia terkikik lucu, bisa-bisanya King cemburu dalam kondisi seperti ini. Bahkan sang suster pun ikut tersenyum geli.
"Jatuh di mana, Mbak?" Tanya suster cantik itu mengajak Mercia ngobrol supaya tidak canggung.
"Itu di dekat rumah, Mbak. Tadi ada yang ugal-ugalan, aku kaget jadinya jatoh deh." Jawab Mercia apa adanya. Lalu melirik King yang terlihat serius melihat cara kerja suster itu.
"Duh, sering banget orang jatuh karena motor ugal-ugalan. Lain kali harus hati-hati, Mbak." Sahut sang suster yang juga sangat serius membersihkan luka Mercia. Sesekali Mercia mendesis karena lukanya terasa perih.
Sang suster pun tersenyum ke arah Mercia. Tentu saja wanita itu tahu siapa King dan Mercia karena wajah keduanya akhir-akhir ini serig seliweran di media sosial.
Setelah mendapat penanganan, Mercia pun diperbolehkan untuk langsung pulang karena lukanya tidak terlalu parah.
"Mas, cantik ya suster tadi? Ramah lagi." Tanya Mercia saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Hm." Sahut King tanpa minat.
Perlahan Mercia memiringkan tubuhnya ke arah King. "Mas, kayaknya aku berubah pikiran deh?"
King menoleh, ditatapnya Mercia penasaran.
"Aku pengen lanjut kuliah kedokteran, boleh kan?" Imbuh gadis itu dengan tatapan memohonnya.
King mengangkat sebelah alisnya. "Kok bisa berubah pikiran? Jangan bilang kamu suka lagi sama dokter tadi?"
Spontan Mercia tertawa geli mendengar pertanyaan suaminya itu. Dicubitnya pipi King gemas. "Ish, curigaan banget sih jadi suami. Kamu itu yang palinga ganteng tahu, Sayang. Dokter tadi mah gak ada apa-apanya. Aku pengen kuliah itu biar bisa jadi orang berguna buat banyak orang. Setelah aku pikir-pikir, jadi dokter kayaknya pilihan terbaik deh. Boleh kan aku kuliah kedokteran. Jihan juga kan ambil kedokteran, jadi pas banget kita bisa bareng lagi."
King tersenyum puas mendengar jawaban istrinya itu. "Boleh, nanti aku daftarin kamu."
__ADS_1
"Yey! Makasih, Sayang." Dikecupnya Pipi King dengan mesra. "Love you."
King tersenyum senang. "Love you too, Baby."
Mercia pun tersenyum begitu bahagia. Entah kenapa ia mendadak ingin sekali menjadi seorang dokter. Hatinya tergerak ingin menjadi manusia yang berguna untuk banyak orang.
Sesampainya di rumah, Rea langsung menyambut menantu dan anaknya dengan wajah panik.
"Cia, kok bisa gini sih?" Tanya seraya mengecek kondisi Mercia.
"Gak papa kok, Mom. Cuma lecet dikit." Sahut Mercia tersenyum tulus.
"Ck, lecet gimana? Sampe diperban gini?" Balas Rea seraya meraih tangan Mercia, lalu mendesis kecil seolah merasakan apa yang gadis itu rasakan. "Lain kali hati-hati dong, Sayang."
Mercia tersenyum bahagia dengan kepedulian Ibu mertuanya itu. "Iya, Mom. Lain kali aku pasti lebih hati-hati kok."
"Mom, biarin Cia istirahat." Akhirnya King bersuara. Spontan kedua wanita itu menoleh.
"Ya udah, sana bawa istri kamu ke kamar." Titah Rea sembari mengusap punggung Mercia. Lalu keduanya pun berpamitan ke kamar.
Mercia menjatuhkan bokongnya di ranjang, lalu meringis pelan karena lututnya baru terasa nyeri. King yang mendengar itu pun bergegas mendatanginya, lalu berjongkok di depan Mercia. "Ada apa? Mana yang sakit?"
Mercia menunjuk lututnya.
"Ck, makanya lain kali kalau suami bilangin itu nurut. Sekarang yang negrasain sakitnya siapa? Kamu sendiri kan?" Omel King sembari meniupi luka di lutut Mercia yang terhalang perban itu.
Mercia tersenyum geli tanpa sepengetahuannya. "Jangan diomelin, lagi sakit jug istrinya." Rengek Mercia pura-pura sedih.
King menghela napas berat. "Iya, maaf. Ya udah, buat hari ini gak perlu mandi. Tunggu sampe lukanya kering dulu."
"Lah, nanti akunya bau, Sayang." Protes Mercia.
"Enggak, kamu tetap wangi kok." Jawab King kembali meniupi luka Mercia.
Mercia tersenyum lagi karena mendapat perhatian lebih dari suaminya.
Duh, ternyata gini ya rasanya kalau nikah sama cowok yang bener-bener cinta sama kita. Berasa dijadiin ratu. Makin cinta deh. Batin Mercia semakin mengembangkan senyumannya.
Saat sedang bahagia-bahagianya, tiba-tiba saja Mercia ingat cimolnya. "Mas, cimol aku mana?"
King mendengus sebal karena istrinya masih saja ingat soal jajanan itu. "Udah dibuang."
"Hah! Kok dibuang? Aku pengen banget tahu gak? Makanya aku bela-belain keluar buat beli cimolnya." Kesal Mercia memukul pundak King kesal.
King menatapnya tajam. "Nanti beli lagi, itu udah kotor. Lagian apa enaknya makanan pinggiran kayak gitu sih? Kalau kamu sakit perut gimana? Gara-gara jajanan gak jelas itu juga kamu harus luka-luka kagak gini."
Mendengar itu Mercia pun semakin kesal. "Ihhhhh... yang suruh buang itu siapa? Aku capek tahu gak belinya? Masak main buang-buang aja. Ngeselin ih." Dengan perasaan dongkol Mercia pun bangkit dari duduknya. Lalu beranjak ke keluar sambil menghentak-hentakkan kakinya.
__ADS_1
"Sayang." Panggil King.
"Gak usah maggil-manggil, kamu itu ngeselin tahu gak?" Teriak Mercia. Tentu saja King merasa bingung dan cuma bisa menghela napas berat.