Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Positif


__ADS_3

"Mima!" Seru Queen sambil berlari masuk ke rumah sang Nenek.


"Wah... ada apa ini sampe lari-lari segala?" Tanya Rena yang langsung memeluk dan mecium cucu kesayangannya.


"Mima, tadi Mommy dan Daddy malahin aku." Queen benar-benar mengadu.


"Bukan marahin. Tadi Mommy cuma kasih teguran karena kamu sudah tidak sopan pada Tante Gesya." Sahut Rea yang baru masuk bersama sang suami. Mendengar itu Queen pun mengeratkan pelukannya pada sang Mima.


"Memangnya ada masalah apa sih?"


"Biasa, dia tidak mau Juna diambil orang." Jawab Rea.


"Loh, kenapa Uncle Junanya tidak boleh di ambil orang? Terus bagaimana nanti kalau Uncle menikah?" Tanya Rena seraya mengusap rambut panjang Queen.


"Menikah itu apa, Mima?"


Rena tersenyum lebar. "Menikah itu lelaki dan perempuan tinggal bersama setelah melakukan beberapa syarat. Nanti kalau Queen sudah besar pasti tahu apa itu menikah. Mima bingung bilangnya gimana kalau sekarang. Kamu masih terlalu kecil."


"Kalau gitu aku juga mau tinggal sama Uncle Juna. Bial gak ada yang lebut."


Zain, Rea dan Rena tertawa renyah mendengar itu. Rena yang merasa gemas pun mencium cucunya mesra. "Kamu ini. Setelah besar nanti, kamu akan mengerti apa itu menikah. Sekarang waktunya bermain. Ayo ikut Mima, kemarin Mima beli mainan baru."


Queen pun langsung mengangguk antusias. "Banyakkan, Mima?"


"Banyak dong. Mima sengaja beli buat kamu. Malam ini gimana kalau Queen nginap di sini? Bobok sama Mima."


Mendengar itu Queen bertambah semangat, gadis kecil itu mengangguk setuju. Kemudian menarik tangan Rena, menariknya menuju kamar. Sedangkan Zain dan Rea hanya bisa pasrah. Semakin hari ada saja tingkah Queen. Terkadang Rea dibuat pusing olehnya. Namun itu semua tak membuat Rea menyerah untuk terus memberikan kasih sayang pada putri cantiknya itu.


****


Rea tersenyum lebar, kemudian mendekati Zain yang tengah bersiap untuk kerja. Wanita itu menempelkan diri sambil mengulum senyuman penuh arti.


Zain mengerut bingung melihat ekspresi aneh istrinya. "Ada apa?" tanyanya sedikit melonggarkan dasi.


"Coba tebak aku punya hadiah apa?"


Sebelah alis Zain pun terangkat. "Memangnya apa huh?"


"Tebak dulu." Rengek Rea begitu manja.


"Em... kau punya tawaran job?"


Rea menggeleng.


"Em... Mommy mengajakmu shopping?"


"Ck, salah semua."


"Lalu?"


Rea semakin mengembangkan senyuman. Kemudian mengeluarkan sebuah test pack dari dalam saku piamanya. Dan langsung memberikan benda itu pada Zain.


Zain tampak kaget melihat hasilnya, di mana terdapat tanda positif di sana. Seketika senyuman di bibirnya mengembang. "Kau hamil lagi?"

__ADS_1


Rea mengangguk antusias. Kemudian menarik tangan Zain dan menempelkannya di perut. "Sudah dua minggu aku terlambat datang bulan."


Zain membawa Rea dalam dekapan. Dikecupnya kening sang istri bertubi-tubi, ia sangat bahagia dengan kabar baik ini. "Secepatnya aku akan membawamu ke dokter. Mulai sekarang jangan terlalu banyak bekerja okay?"


"Ck, biasanya juga aku diam saja di rumah. Paling bermain dengan putri nakal kamu."


"Sama saja." Zain memberikan tatapan penuh cinta. "Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu." Rea meraih bibir suaminya dengan lembut. Zain pun mulai membalas ciuman istrinya, memberikan sentuhan demi sentuhan di setiap inci tubuh istrinya. Zain memang tidak pernah bisa menahan godaan istri cantiknya itu, pantang di pancing.


Perlahan Zain membaringkan istrinya di atas kasur, menindih dan memberikan kecupan di ceruk leher istrinya dengan penuh perasaan. Mengabaikan pakaiannya yang kembali kusut. Rea melenguh lembut saat suaminya itu terus memberikan sentuhan menggoda. Tanpa mereka sadari pintu kamar terbuka perlahan karena tidak terkunci.


"Mommy, Daddy."


Sontak keduanya beringsut bangun dan merapikan pakaian masing-masing. Lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu yang terbuka setengah. Di mana putri kecil mereka berada.


"Hai... sayang." Sapa Rea dengan senyuman kikuk.


"Kenapa Daddy tidul di atas Mommy?Nanti Mommy kesakitan tahu." Dengan polosnya Queen berlari ke arah Zain dan memukulkan boneka pada sang Daddy.


Zain menggaruk tenguknya yang tak gatal. "Mommy tidak akan kesakitan, justru kesenangan."


Rea mencubit perut suaminya dengan keras. "Jangan bicara aneh-aneh. Queen masih kecil."


"Aku bicara apa adanya." Bisik Zain dengan wajah kesal. Bukan sekali dua kali Queen mengganggu kesenangan mereka.


Rea memutar bola matanya malas, kemudian sedikit membungkuk. Mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Tadi mata Mommy kelilipan, jadi Daddy yang bantu."


"Sini aku lihat," pinta Queen menarik wajah sang Mommy. Mengecek mata Rea dengan serius. Kemudian meniupnya pelan. "Masih sakit?"


Queen tertawa kecil. "Lain kali Mommy halus hati-hati."


"Iya, sayang." Rea mencium pipi putrinya gemas. "Kamu lapar?"


Queen mengangguk. "Mommy dengan Daddy lama. Padahal aku udah nunggu di luang makan dengan Bibik."


Rea tersenyum geli. "Ya sudah, sekarang ayo kita makan."


Rea pun menegakkan tubuhnya kembali, memusatkan perhatian pada Zain. "Kita sarapan, berhenti menekuk wajahmu. Queen tidak bersalah, kau saja yang tidak tahu tempat dan waktu."


Zain melotot. "Hey, kau yang memulainya."


"Aku hanya menciummu, kau saja yang mudah tergoda."


Zain menghela napas berat. "Ya, kau memang tidak pernah salah."


Queen yang masih ada di sana pun hanya bisa menyaksikan perdebatan kedua orang tuanya dengan tatapan polosnya.


"Itu kau tahu. Sudah, ayo kita sarapan. Putrimu akan marah jika kita terlalu lama di sini." Rea pun menggendong Queen dan langsung membawanya keluar dari kamar. Sedangkan Zain masih terpaku sambil menghela napas beberapa kali.


"Mommy, aku ingin sekolah." Ujar Queen saat mereka sedang melangsungkan sarapan.


Zain dan Rea yang mendengar itu pun saling memandang. Kemudian menatap putrinya kembali.

__ADS_1


"Daddy akan mendaftarkamu besok."


"Yey, thank you Daddy." Sorak Queen.


"Lanjutkan sarapanmu, hari ini kita ke mall untuk mencari perlengkapan sekolah. Kamu senang?" Ujar Rea.


Queen mengangguk antusias. "Mommy... Aku ingin beli tas yang ada gambal plincesnya."


"Iya, sayang. Cepat habiskan makanannya, supaya kamu cepat besar dan bisa jadi anak pintar."


Queen pun kembali mengangguk dan melanjutkan sarapannya dengan kebahagian yang terpancar jelas di wajahnya.


Siang harinya Rea benar-benar membawa Queen ke mall untuk membeli semua perlengkapan sekolah. Gadis kecil itu terus berceloteh sejak dari perjalanan sampai sekarang. Sedangkan Rea hanya menanggapinya dengan tawaan kecil seraya mendorong stroller sang anak. Berkeliling Mall.


"Mommy, mainan itu bagus. Di lumah belum ada mainan sepelti itu." Tunjuk Queen ke sebuah deretan lemari mainan.


"Kita ke sini bukan untuk membeli mainan, sayang. Katanya mau sekolah?"


Queen memasang wajah sedih. "Iya, Mommy."


Rea menghela napas pendek. "Kita akan membeli mainan setelah ini okay?"


Seketika wajah Queen kembali ceria. "Boleh tidak aku membeli tiga?"


Rea sedikit melebarkan matanya. "Buat apa banyak sekali? Mainan di rumah saja masih banyak. Tidak boleh boros."


Queen terdiam sejenak. "Kalau ada Mima dan Oma pasti boleh banyak beli mainan."


Rea menghela napas berat. Seperti inilah jika anak terlalu dimanjakan oleh kedua neneknya. "Ya sudah, kamu boleh membeli tiga. Tapi bulan depan tidak boleh ada mainan baru."


"Mommy pelit."


Rea terkejut mendengarnya. "Bukannya pelit, kamu harus belajar hemat, sayang. Lagian buat apa banyak-banyak membeli mainan. Di rumah saja sudah tiga lemari dipenuhi mainan."


"Tapi... mainan itu belum ada di lemali, Mommy."


Rea terdiam.


"Mommy. Mommy malah ya?" Queen menoleh ke belakang.


"Enggak kok." Rea tersenyum simpul.


"Ya udah deh. Aku gak jadi beli mainan." Queen pun tampak mengalah meski terlihat jelas raut tak rela di wajahnya. Dan hal itu mengundang senyuman di wajah Rea.


"Kamu yakin?"


Queen mengangguk lemas. "Asal Mommy tidak malah."


"Terus kenapa wajahnya di tekuk?"


Queen pun langsung menggeleng kuat. Kemudian tersenyum lebar. Apa yang Queen lakukan benar-benar membuat Rea gemas sendiri.


"Nanti Mommy belikan mainan baru deh. Mommy gak tega juga lihat kamu sedih."

__ADS_1


Queen pun bersorak senang. Lalu mereka pun langsung memilih perlengkapan sekolah sambil sesekali bercanda. Alhasil mereka pun pulang sore hari karena terlalu asik berkeliling mall. Namun kebersamaan itu membuat hubungan Ibu dan anak di antara mereka pun semakin dekat.


__ADS_2