Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Kenapa harus Mercia?


__ADS_3

"Mom, Dad." Sapa King pada kedua orang tuanya yang tengah menonton di ruang tengah. Sontak kedua orang tuanya pun menoleh bersamaan. Lalu mata Rea pun tertuju pada Mercia.


"Loh, kok Cia ada di sini? Bukanya kamu di Amerika ya?" Kaget Rea masih tak sadar jika gadis itu adalah kekasih yang King maksud.


"Eh, aku baru pulang kemarin Gran... eh Tante maksudnya." Jawab Mercia gugup bahkan masih salah memanggil Rea.


Melihat gelagat aneh Mercia dan genggaman tangan King pada gadis itu. Menyadarkan Rea akan satu hal. "Tunggu! Kalian?"


King langsung mengangguk. "Yes, Mom. Cia pacar aku sekarang."


"Hah?" Kaget Rea. Namun Zain sepertinya sudah tahu karena itu dia terlihat biasa saja.


Namun, detik berikutnya Rea tertawa lucu. Tentu saja hal itu membuat King dan Mercia saling pandang-pandangan.


"Jangan becanda kamu, King. Masak iya kamu macarin anak remaja kayak Cia sih? Jangan bohong sama Mommy. Atau... kamu maksa Cia lagi, buat jadi pacar bohongan supaya Mommy gak jadi jodohin kamu. Iya kan?" Tudingnya sambil tertawa lagi.


King menghela napas berat. "Mom, aku sama Cia beneran pacaran." Jelasnya sembari merengkuh pinggang ramping Mercia.


"Iya, Tan. Kita emang beneran pacaran kok." Timpal Mercia dengan gugup.


Tentu saja jawaban mereka itu tak membuat Rea percaya begitu saja. "Ck, kalian ini kompak banget aktingnya. Udah lah, King. Kita ketemuan aja sama Luna ya? Dia itu baik kok, umurnya juga gak jauh-jauh banget sama kamu. Kasian tahu Mercia kamu paksa gitu, sampe gugup gitu loh dia."


Mercia yang mendengar itu mengerjapkan matanya beberapa kali karena bingung harus ngomong apa lagi.


"Mom, aku sama Cia gak bohong. Kita emang bener pacaran. Aku juga mau lamar dia dalam waktu dekat, soalnya aku udah janji sama Uncle Juna buat nikahin Cia secepatnya. Jadi aku harap Mommy sama Daddy restuin hubungan kita." Jelas King dengan tatapan serius.


Sontak senyuman di wajah Rea pun memudar. "Jadi kalian beneran pacaran?"


Mercia dan King pun mengangguk kompak.


Melihat jawaban itu tubuh Rea pun mendadak lemas. Refleks Zain yang ada di sebelahnya pun menahan tubuh sang istri.


"Mom." Panik King menghampiri sang Mommy.


Rea menatap King. "Bilang sama Mommy kalau ini mimpi, King?"


King terdiam sejenak. Lalu menggeleng pelan. "Ini gak mimpi, Mom. Aku beneran jatuh cinta sama Cia, dan mau jadiin dia istri."

__ADS_1


Mendengar itu tubuh Rea pun semakin lemas dan benar-benar jatuh pingsan.


Mercia menutup mulutnya tak percaya jika Rea benar-benar pingsan seperti yang King katakan beberapa menit lalu.


"King, bawa Mommy kamu ke kamar. Biar Daddy telepon dokter." Perintah Zain.


King pun mengangguk setuju dan langsung membopong sang Mommy ke kamar. Dan Mercia pun mengekorinya karena ingin tahu kondisi calon mertuanya itu.


Beberapa menit kemudian, Rea pun sadar dari pingsannya. Wanita itu melihat ke sekeliling. Dan kembali melihat Mercia dan King ada di sana. "Ya Tuhan, jadi aku tidak mimpi?"


King duduk di sisinya, lalu menggenggam tangan Rea dan mengecupnya lembut. "Mom, maaf membutmu kaget."


Rea mengembuskan napas kasar, lalu ditatapnya Mercia yang sedang menunduk. Setelah itu kembali menatap putranya. "Kenapa harus Cia, King? Dari sekian banyak perempuan yang ngejar kamu, kenapa harus Mercia? Dia itu masih anak-anak, King."


Mercia yang mendengar itu pun langsung menyahut. "Aku udah dewasa kok, Tan. Bahkan udah bisa buat anak sama Om King." Celetuknya yang berhasil membuat semua orang yang ada di sana kaget.


Sadar dengan ucapannya, Mercia pun langsung tutup mulut.


King menatap sang Mommy lekat. "Mom, cinta itu gak harus mandang usia kan? Kami sama-sama jatuh cinta."


"Tante, aku beneran cinta sama anak Tante. Tolong kasih restu buat kami." Lirih Mercia memasang wajah sedih. King pun bangkit dan langsung merengkuhnya.


"Biarin Mommy istirahat, sayang. Yuk kita keluar." Ajak King membawa Mercia keluar. Sebelum menutup pintu, King melihat ke arah sang Mommy yang masih memijat batang hidungnya. Ia menghela napas berat, kemudian menutup pintu perlahan.


"Gimana dong? Kita gak dapet restu Mommy kamu, sayang." Lirih Mercia yang langsung memeluk King. Membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.


King menghela napas. "Mommy masih syok, sayang. Kasih waktu buat Mommy menerima keadaan ya? Aku yakin Mommy pasti ngasih restu buat kita."


Mercia pun mengangkat wajahnya. "Daddy kamu juga gak ngasih tanggapan apa-apa, sayang. Gimana aku gak kepikiran. Kalau kita gak dapat restu, kita kawin lari aja ya?"


Meneengar itu King pun tersenyum geli. "Kita belum usaha terlalu jauh, sayang. Kita coba lagi, kalau memang keadaan memaksa. Baru kita kawin lari."


"Tapi aku takut kamu bakal dijodohin sama perempuan bernama Luna itu, sayang. Pasti dia cantik dan berkarier kan? Mommy kamu aja bilang dia baik. Beda sama aku yang pecicilan, masih suka jajan, suka main terus suka nangis juga. Aku juga gak punya apa-apa buat dibanggain." Cerocos Mercia yang berhasil menggelitik hati King. Lelaki itu tertawa geli.


"Dengarin aku, sayang. Walaupun kamu gak punya apa-apa, aku akan tetap milih kamu. Karena yang aku mau itu cuma kamu. Mau beribu wanita diluar sana yang antri sekalipun, tetap kamu satu-satunya wanita yang aku pilih." King mencoba meyakinkan kekasih kecilnya itu.


Mercia terdiam beberapa saat. "Tapi...."

__ADS_1


Belum selesai Mercia bicara, King sudah membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Tentu saja Mercia terhenyak, tetapi setelahnya ia pun membalas ciuman King. Keduanya terus berciuman seolah tak takut ada yang memergoki mereka.


****


"Baby, kau mau kemana?" Tanya Sean saat melihat istrinya mengemasi pakaian ke dalam koper.


"Aku mau pulang ke Indonesia, Sean." Sahut Queen yang berhasil membut Sean kaget.


"Sayang, apa aku membuat kesalahan?" Panik Sean mendekati istrinya itu.


Queen menghela napas, lalu berbalik. "Kau tidak membuat kesalahan, Sean. Tapi putramu yang membuat masalah. Apa kau tahu? Mercia dan King pacaran. Mommy baru saja memberitahuku. Ini semua terjadi karena anak kita mengatakan hal buruk untuk Mercia. Jadi gadis itu berpaling hati. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Sean. Mercia itu menantuku." Jelasnya panjang lebar.


Sean yang mendengar itu pun menghela napas kasar. "Kau ini tidak ada habis-habisnya untuk menjodohkan mereka, Queen. Kau harus ingat, anak-anak punya hak untuk memilih. Jika Mercia memilih King, itu artinya pilihan yang dia inginkan. Sudahlah, berhenti menjodohkan mereka."


Queen memutar bola matanya malas. "Tidak, Sean. Aku tidak akan terima begitu saja. Mungkin saja Mercia terpaksa menerima King karena sedang patah hati. Kau tahu kan usia King dan Mercia itu terpaut jauh?"


Sean berdecak kecil. "Memang apa salahnya kalau usia mereka terpaut jauh? Usia kita juga terpaut jauh, tapi semuanya aman-aman saja. Ayolah, berhenti merencanakan hal-hal konyol yang akan membuat semua orang rugi, baby. Kau akan menghambat perkembangan mereka."


Queen benar-benar kesal sekarang. "Terserah kau saja, Sean. Pokoknya aku akan tetap pulang ke Indonesia. Dan menghentikan mereka yang berencana menikah itu. Sejak bayi Mercia itu sudah ditakdirkan untuk Jef."


"Tidak, Mom." Sambar Jef yang tiba-tiba muncul di ambang pintu. Spontan kedua orang tuanya itu menoleh bersamaan.


"Jef?" Kaget Queen karena anaknya sudah kembali dari liburan tak sesuai jadwal.


Jef mendatangi kedua orang tuanya. Lalu menatap Queen lamat-lamat. "Mom, please. Jangan memkasanya untuk bersamaku. Dia sudah bahagia dengan pilihannya sendiri. Sejak awal aku sudah katakan dia tak menyukaiku, tapi Mommy terus mendesaknya."


Queen memutar bola matanya malas. "Kau itu terlalu pengecut, Jef."


"Mom, Mercia mencintai Uncle sejak lama. Kau harus terima itu." Sahut Jef yang berhasil mendapat pelototan dari sang Mommy.


"Terserah kalian mau bilang apa, Mommy akan tetap membawa Cia kembali ke rumah ini." Queen menatap kedua lelaki dihadapnnya secara bergantian. Lalu bergegas pergi dengan menggeret kopernya.


Jef hendak menahannya, tetapi Sean lebih dulu menghentikan putranya itu. "Biarkan saja Mommymu pergi. Dia tidak akan mendengarkanmu, Son. Kita tunggu saja apakah dia berhasil membawa gadis itu atau tidak. Atau dia akan pulang dengan kekecewaan."


Jef pun mengangguk patuh. Sean tersenyum, lalu menepuk-nepuk bahu putranya. "Kau akan mendapatkan gadis yang jauh lebih baik darinya, Son." Jef menatap sang Daddy sekilas, kemudian beranjak pergi dari sana.


Sean pun cuma bisa menghela napas kasar. Bahkan tak berniat menahan Queen. Karena ia tahu istrinya itu tak akan mendengarkan siapa pun sebelum mendapat yang diinginkannya. Jadi Sean hanya akan menunggunya.

__ADS_1


__ADS_2