Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Saya Minta Maaf


__ADS_3

Faizah di bawa ke rumah sakit karena jatuh pingsan. Dokter mengatakan Faizah dehidrasi dan demam tinggi. Bahkan tekanan darahnya pun rendah. Tentu saja sang Mammy dan Daddy mencemaskan kondisi putrinya yang sampai detik ini belum sadarkan diri. Dan Faizah juga saat ini sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


"Om?" Sapa seorang dokter tampan pada Daddy Faizah yang sedang duduk di depan ruangan Faizah bersama sang istri.


"Vin," sahut Tuan Santoso.


"Kok di sini? Siapa yang sakit?" Tanya dokter itu penasaran. "Tunggu! Faizah sakit?"


Keduanya pun mengangguk.


"Loh, sakit apa?" Tanya dokter itu yang merupakan sepupu Faizah.


"Faizah lagi hamil, dia morning sicknessnya sampe berlebihan, Vin. Jadi kekurangan cairan tubuh." Jelas Mammy Faizah.


"Terus suaminya di mana?"


Mammy dan Daddy Faizah pun saling memandang. "Faizah lagi ada masalah sama suaminya."


"Terus gak di kasih tahu?" Dokter itu menatap keduanya lekat. Mereka pun menggeleng.


"Di kasih tahu aja, Om. Dia berhak tahu. Kevin boleh liat Fai kan?"


Tuan Santoso mengangguk. Lalu Kevin pun masuk ke dalam. Ia tersenyum lembut saat melihat Faizah mulai sadar.


"Hei," sapanya. Faizah pun mengerutkan dahi.


"Vin," balas Faizah dengan suara seraknya.


"Gimana kondisi kamu huh? Apa baikan? Atau ada keluhan?" Tanyanya seraya duduk di bibir ranjang. Kemudian memeriksa suhu tubuh Faizah. "Masih demam ya?"


"Haus, Vin."


Kevin tersenyum, diambilnya gelas di atas nakas. Dan dengan sigap ia membantu Faizah bangun. Faizah pun meneguk air itu hingga tandas.


"Haus banget ya?" Tanya Kevin mengambil gelas kosong dari tangan Faizah, lalu menaruhnya di tempat semula.


"Dari jam empat aku muntah-muntah terus, Vin. Sampe lemes banget." Adu Faizah seraya memijat batang hidungnya.


Kevin menghela napas berat. "Namanya juga orang hamil, Kak Aeera juga gitu pas hamil si bocil. Malah kayak kamu ini sampe dirawat."


"Ck, gak nyangka hamil itu kayak gini, Vin. Gede banget ya perjuangan seorang Ibu. Belum lagi ngelahirin, pasti sakit banget."


Kevin tertawa renyah. "Udah kodrat perempuan mau gimana lagi?"


Faizah mengangguk lemah. "Oh iya, kamu gak kerja? Kok di sini sih?"


"Aku baru sampe, hari ini kena jadwal di poli. Paling jam sembilan baru buka."


"Huh, ngaret. Mentang-mentang dokter, sesuka hati nentuin waktu."


"Yah... dokter juga manusia. Butuh waktu istirahat."


Faizah tersenyum. Kevin yang melihat itu ikut tersenyum. Bahkan tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh pipi Faizah. "Gak nyangka kamu udah nikah, bahkan mau punya anak, Fai."


Faizah menatap Kevin lekat. "Kamu masih punya perasaan ya sama aku, Vin?"


Kevin terdiam sejenak. "Ya, andai hubungan kita direstui. Mungkin sekarang yang ada dalam perut kamu ini anakku, Fai."


Faizah tertawa kecil. "Itu masa lalu, Vin. Aku aja udah move on. Pantes kamu gak nikah-nikah, padahal udah mau kepala tiga juga."


"Aman, masih muda kok. Paling kalau kepepet banget aku cari dokter cantik, terus bawa deh kepelaminan."


Faizah tertawa lagi. "Emangnya anak orang barang apa bisa langsung dibawa ke pelaminan? Hadapin dulu orangtuanya, baru nikahin anaknya."


"Kayaknya kalau ikutin jejak kamu keren juga, hamilin dulu biar langsung dapat restu."


"Sialan!" Umpat Faizah yang berhasil mengundang tawa Kevin. Kemudian Faizah pun ikut tertawa kecil. Dan di waktu bersamaan, Juna pun masuk. Seketika tawa mereka pun terhenti karena kaget.


Juna menatap keduanya aneh. "Maaf, saya mengganggu. Lanjutkan saja."

__ADS_1


"Mas." Lirih Faizah saat Juna hendak pergi. Juna pun menoleh. "Mau kemana?"


"Keluar, kalian lagi ngobrol kan?" Sahut Juna.


Kevin pun bangkit. "Kita udah selesai kok, tadi cuma bahas masa depan aja. Iya kan, sayang?"


Baik Juna maupun Faizah kaget mendengarnya.


"Sayang?" Selidik Juna.


"Iya, dia kesayangan saya." Jawab Kevin mengedipkan mata pada Faizah. Sontak ia pun mendapat pelototan dari Faizah. "Tadi kan kita memang lagi bahas masa depan, sayang."


"Kevin." Geram Faizah sambil melirik Juna yang sudah memasang wajah masam.


"Hm, kenapa gak lanjut aja bahas masa depannya?" Sinis Juna.


"Mas...."


"Sayang, aku kerja dulu. Sampai ketemu lagi di masa depan." Sela Kevin yang langsung berlalu. Kemudian berbisik saat melewati Juna. "Jaga dia baik-baik, sebelum orang lain merenggutnya dari Anda."


Juna kaget dan menoleh ke belakang, sayangnya dokter Kevin sudah pergi.


"Mas." Panggil Faizah dengan suara lemahnya. Juna pun kembali memusatkan perhatian pada sang istri. Lalu mendekat dan duduk di bibir brankar. Disentuhnya kening Faizah dengan lembut. "Kamu masih demam."


Faizah menatap suaminya lekat. "Mas, gak bawa makanan ya? Aku lapar."


Juna menggeleng. "Kenapa kamu bisa sakit?"


Faizah terkejut dan langsung speechless saat mendengar pertanyaan suaminya.


"Kenapa diam? Baru sehari saya lepasin kamu, kamu udah sakit kayak gini. Kamu gak dengar saya bilang apa kemarin? Jangan terlalu banyak beraktivitas."


Mata Faizah berkaca-kaca. "Aku lagi sakit juga kamu marahin, Mas?"


Juna berdecak kesal. "Kalau gak dimarahin kamu itu gak akan kapok, Izah."


Juna menghela napas berat. "Izah...."


"Kalau Mas gak mau ke sini mending gak usah. Aku juga gak minta, aku tahu aku ini cuma jadi beban buat kamu." Timpal Faizah langsung membelakangi Juna. Punggungnya bergetar karena menahan isakkan.


Juna ikut berbaring, dipeluknya Faizah dari belakang. "Jangan nangis lagi."


Faizah semakin terisak. "Aku juga gak pengen sakit, Mas. Gak ada orang yang mau sakit."


"Hm." Juna mengecup bahu istrinya.


"Kamu tuh bisa gak sih sehari aja baik sama aku? Aku juga pengen disayang."


"Hm." Sahut Juna lagi seraya mengelus perut Faizah.


"Ish... orang lagi sedih kamu malah kayak penyangi gambus yang udah hilang kabar aja." Ketus Faizah.


Juna tersenyum. "Saya udah bicara sama mereka, supaya gak ganggu kamu lagi, Izah."


Faizah terkejut, sangking kagetnya tangisannya pun langsung redam. "Kamu datengin mereka, Mas?"


"Ya."


Faizah pun berbalik. Ditatapnya wajah Juna lamat-lamat. "Mas gak ribut kan sama mereka?"


Juna balas menatap istrinya. "Sedikit."


"Mas, aku kan udah bilang jangan ribut sama mereka. Lagian mereka gak salah, Mas. Aku emang cewek gak bener, buktinya aku jebak kamu sampe hamil kayak gini. Mas... aku gak suka kamu musuhan sama keluarga sendiri. Cukup Mammy sama Daddy yang ada masalah sama keluarga. Kamu jangan Mas."


"Kamu lagi sakit aja cerewet banget, Izah."


Faizah menunduk. "Maaf."


Juna tersenyum tipis. Ditariknya dagu sang istri pelan. "Saya udah mutusin buat milih kamu, Izah. Saya udah pikirin semuanya. Saya gak akan lepasin kamu."

__ADS_1


Faizah kaget mendengar itu. "Mas?"


"Kita hadapi semuanya sama-sama. Kamu mau kan, Izah? Tolong pahami semua kondisi saya. Saya juga akan berusaha memahami kondisi kamu. Kita mulai lembaran baru dari sekarang."


Faizah mengangguk. "Tapi jangan judes-judes lagi, jangan marahin aku terus, Mas. Aku juga punya perasaan."


"Saya gak akan marahin kamu kalau kamu gak nakal. Kamu itu selalu buat saya jengkel, Izah."


Faizah menyebik, dan kembali membelakangi Juna. "Kamu gak pernah ngertiin perasaan aku, Mas."


Juna kembali memeluk Faizah. "Saya minta maaf."


"Gak mau dimaafin."


Juna kaget. "Kok gitu?"


Faizah tersenyum geli. "Kamu datang gak bawa makanan, Mas. Aku kan lapar. Bahkan buah-buahan aja gak kamu bawa."


Juna menghela napas pendek. "Boro-boro saya inget beli makanan, Izah. Pas dapat kabar kamu masuk rumah sakit aja saya langsung panik. Padahal tadi lagi ada meeting di hotel sebelah."


Faizah tertawa kecil. "Jadi kamu mulai peduli sama aku, Mas?"


"Mungkin."


"Ish... masih aja gengsi. Jangan bilang kamu udah jatuh cinta ya sama aku?"


"Enggak."


Wajah Faizah merengut. "Lupa, kamu kan masih cinta mati sama Queen. Mana mungkin aku bisa ambil posisi dia. Kenapa sih kamu gak sama dia aja."


"Dia gak cocok sama saya, terlalu sempurna."


"Ih... jadi kamu teh ngatain aku jelek ya?" Kesal Faizah.


"Saya gak bilang gitu."


Faizah tersenyum. "Jadi aku cantik ya?"


"Enggak juga."


"Mas!" Kesal Faizah. Sontak Juna pun tersenyum tipis.


"Lumayan lah kalau buat dibawah kondangan."


"Ih... selalu aja ngeselin."


"Hm. Cepat sembuh. Katanya mau gelar resepsi di Paris?"


Mendengar itu Faizah langsung berbalik. "Apa, Mas? Kamu mau gelar pestanya di Paris? Beneran?" Tanyanya begitu antusias. Bahkan rasa sakit pun hilang begitu saja.


Juna mengangguk. "Tunggu kamu benar-benar sehat dulu, dan kandungan kamu udah kuat buat bepergian jauh."


"Mas, aku udah sehat kok." Faizah langsung tersenyum lebar.


"Sehat apanya? Kamu masih demam gini." Juna menoel hidung istrinya gemas.


"Hiks... gak sabar mau ke Paris. Kalau bisa pas kedip mata langsung sampe di sana. Aaa... gak sabar, Mas."


"Coba aja kedip mata."


Dengan polosnya Faizah mengedipkan mata, dan...


Cup!


Sebuah kecupan lembut mendarat dibibirnya. "Izah, jadilah istriku selamanya."


Tbc....


Maaf ya kalau ada yang kecewa karena mereka langsung ketemu. Banyak banget yang pada minta Faizah pergi. Tapi aku rasa gak perlu, terlalu drama hehe... semoga kalian terhibur.

__ADS_1


__ADS_2