
Semua orang tampak gembira saat mendengar Rea berhasil melahirkan Baby K dengan selamat. Termasuk Queen yang bersorak senang dalam gendongan Jackson. Bahkan ia sudah tidak sabar untuk melihat adik kecilnya setelah sekian lama menunggu.
"Opa, aku ingin melihat adik." Rengeknya.
"Sabar, sayang. Nanti kita lihat adik ya?"
"Aku mau sekarang, Opa. Aku mau lihat Mommy dan adik." Kekehnya yang berhasil menarik perhatian semua orang yang hadir di sana.
"Adiknya sedang dimandikan, sabar ya? Nanti kamu bisa melihatnya kok." Ujar Rena.
"Mima, apa adik tampan?"
"Pasti dong. Kan Daddy tampan." Jawab Rena merasa gemas dengan pertanyaan Queen. Semua orang tersenyum senang melihat semangat Queen dalam menyambut sang adik.
Beberapa saat kemudian Rea pun sudah dipindahkan ke ruang rawat. Ibu dua anak itu masih tertidur pulas. Queen yang sejak tadi duduk disampingnya pun terlihat bosan.
"Oma, kenapa Mommy belum bangun?" Tanya Queen yang sejak tadi menunggu sang Mommy bangun. "Adik juga tidak ada di sini? Apa suster itu menculik adik?"
Elsha tertawa renyah. "Kamu ini ada-ada saja. Adik sedang dimandikan supaya wangi. Sebentar lagi suster akan membawanya ke sini."
"Lama. Aku kan bosan menunggu." Keluhnya. "Mommy, ayok bangun."
"Shutt... biarkan Mommy tidur. Kasihan Mommy lelah." Elsha pun segera membawa Queen menjauh dari Rea.
"Aku mau Mommy, Oma." Rengek Queen.
Zain yang baru saja masuk pun langsung bertanya. "Ada apa ribut-ribut?"
"Daddy, aku mau Mommy." Mata Queen pun mulai berkaca-kaca. "Mommy tidak mau bangun."
Zain tersenyum, mengambil alih Queen dalam gendongannya. "Mommy capek, sayang. Tunggu sebentar lagi, Mommy akan bangun okay?"
Queen memeluk Zain erat. "Aku juga mau adik."
"Adik juga sebentar lagi datang."
Queen mengangguk patuh.
"Sepertinya Queen juga lelah, Zain. Biarkan dia istirahat."
"Iya, Mom."
Elsha tersenyum, kemudian berpamitan keluar.
"Bobok ya?"
Queen menggeleng. "Aku mau lihat adik." Sahutnya dengan mata sayu. Ia juga menyandarkan dagunya di pundak sang Daddy, kemudian menatap Rea lekat.
"Tapi adik masih ditangani suster, sayang."
"Daddy, apa adik bisa di bawa pulang?"
Zain tersenyum lucu. "Tentu saja, adik milik kita."
"Apa dia setampan Daddy?"
Senyuman dibibir Zain pun semakin mengembang. "Sudah pasti, dia anak Daddy juga."
"Hm." Mata Queen pun perlahan terpejam.
__ADS_1
Setelah di rasa tidurnya pulas, Zain menidurkan Queen di sebelah Rea karena masih banyak ruang kosong di sana. Kemudian ia pun memutari brankar dan duduk di sisi lain Rea. Diraihnya lengan sang istri dengan lembut. Dan kecupan mesra pun ia berikan di keningnya.
"Terima kasih sudah memberikan banyak kebahagiaan dalam hidupku. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa hidup sebahagia ini bersamamu." Bisiknya bersama senyuman tulus yang terulas di bibirnya. "Aku mencintaimu, honey."
****
Queen terus menangis karena tidurnya sempat terganggu. Gadis kecil itu sulit dibujuk sampai Zain merasa bingung.
"Biar Mommy bawa dia keluar." Ujar Elsha mengambil Queen dari gendongan Zain.
"Aku mau Mommy," pinta Queen dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.
Rea yang sudah terbangun beberapa menit lalu pun mengulurkan tangannya. "Kemari."
Elsha membawa cucunya itu pada Rea.
"Kenapa sih anak Mommy?" Rea memeluk Queen dengan penuh kasih sayang.
"Aku mau pulang, tapi dengan Mommy." Rengeknya sambil terisak.
"Dokter belum mengizinkan Mommy pulang, sayang. Mungkin besok."
"Aku mau pulang." Queen memukul dada Rea sekuat tenaga. "Mau pulang dengan Mommy."
Rea menahan kedua tangan putrinya itu. Lalu memberikan tatapan tajam. "Kakak, dengarkan Mommy." Tegasnya. Sontak tangisan Queen pun reda.
Rea melembutkan tatapannya. Diusapnya air jejak air mata anaknya dengan lembut. "Adik baru lahir, Mommy tidak bisa pulang sekarang. Bagaimana jika Kakak pulang dengan Daddy? Mau ya?"
Queen menggeleng. "Aku mau Mommy."
"Kalau begitu jangan menangis. Adik bisa terbangun."
"Pulang." Queen masih merengek.
"Besok kita pulang. Kakak sudah makan belum?"
Queen menggeleng pelan.
"Ya sudah, sebaiknya Kakak makan dengan Daddy ya?"
Lagi-lagi Queen menolak.
"Jadi Kakak mau apa huh?"
"Pulang."
Rea menghela napas berat. "Makan dulu, setelah itu Kakak pulang ya?"
"Mommy ikut?" Tanyanya.
"Mommy belum bisa pulang, sayang." Jawab Zain ikut duduk di sebelah istrinya. Mendengar itu tangisan Queen pun kembali pecah.
Rea menatap Zain lekat. "Sebaiknya kamu bawa dia ke luar dulu. Sepertinya dia belum kenyang tidur."
Zain membawa Queen dalam gendongannya meski anak itu sempat memberontak. Dan ia pun segera membawa Queen pergi sebelum semuanya semakin kacau.
Elsha duduk di sebelah Rea. "Queen terkejut dari tidurnya saat dokter memeriksa kondisimu."
Rea mengangguk. "Anak itu memang sangat sulit dibujuk, anak manja."
__ADS_1
"Queen masih kecil."
Rea mengangguk. "Mom, aku sangat lapar."
Elsha tersenyum, lalu diambilnya box makanan di atas nakas dan menyerahkannya pada Rea.
"Dokter bilang apa tadi?" Tanya Rea seraya membuka penutup box.
"Besok kalian sudah diizinkan pulang. Kondisi Baby juga sehat dan normal." Jawab Elsha.
"Mami belum kembali?"
"Rena bilang dia akan kembali malam nanti."
"Hm. Jika Mommy lelah, sebaiknya Mommy juga pulang. Aku baik-baik saja di sini." Ujar Rea.
"Tidak apa-apa, Mommy akan pulang jika Mami kamu sampai."
"Em, boleh juga. Mommy tidak makan?"
"Sudah tadi dengan Daddy."
"Syukurlah."
Elsha tersenyum dan Rea melanjutkan makannya dengan lahap.
Tidak lama dari itu Baby K terbangun dan menangis kencang. Dengan sigap Elsha menggendong cucu keduanya itu. "Haus ya cucu Oma?"
Rea meletakkan box makanan tadi di atas nakas. Kemudian mengambil Baby dalam pelukannya. Rea tersenyum senang saat melihat wajah tampan anak keduanya itu. Lalu mulai menyusuinya. Bayi itu pun minum begitu lahap.
"Anak Mommy haus ya?" Rea mengusap pipi kemerahan Baby K.
"Kalian sudah menyiapkan nama untuknya?"
Rea mengangguk. "Kingsley Michaelson."
"Wah, jadi kita sudah punya ratu dan raja sekarang? Luar biasa."
Rea tersenyum. "Aku harap dia bisa menjadi pemimpin yang bertanggung jawab di masa depan."
"Aamiin. Gemesin banget sih? Oh iya, gimana kalau acara penyambutan King dilangsungkan di rumah Mommy? Sudah lama Mommy memikirkan hal ini."
"Terserah Mommy aja jika tidak memberatkan. Tapi sebaiknya diskusikan dulu dengan yang lain. Aku gak mau ada perdebatan."
"Mommy akan membicarakan ini pada Zain. Tidak sabar memperkenalkan cucu Mommy yang ganteng ini ke publik." Elsha mengusap kepala mungil King.
"Mom, apa Letta memberi kabar akan kemari?" Tanya Rea.
"Tidak ada, sepertinya Letta masih sibuk mengurus restoran barunya."
Rea mengangguk paham.
Di luar rumah sakit, Zain membawa Queen berjalan-jalan di sekitaran rumah sakit.
"Wah... ada toko es krim tuh. Mau tidak?"
Queen mengangguk kuat. "Rasa strowberi."
Zain tersenyum dan langsung membawa putrinya masuk ke toko es krim. Ia juga langsung memesan es krim sesuai keinginan sang anak. Setidaknya Zain merasa lega karena berhasil membujuk Queen. Anaknya itu memang sangat sulit untuk di bujuk.
__ADS_1
Tbc.....