Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Kau harus bertanggung jawab


__ADS_3

Area 21+, anak di bawah umur harap menyingkir.


...****...


Plak!


Queen langsung memukul lengan Sean saat mendengar ajakan lelaki itu. "Ulang sekali lagi."


"Ayok kita bercinta." Dan Sean benar-benar mengulang kalimatnya. Sontak Queen melotot dan mencubit lelaki itu dengan kesal.


"Nyebelin, kenapa jadi mesum gini sih?"


Sean tersenyum geli dan langsung membawa Queen dalam dekapannya. Lalu membisikkan sesuatu. "Kamu takut huh?"


Mendengar itu Queen pun merasa tertantang dan langsung mendorong lelaki itu hingga terlentang di kasur. "Siapa yang bilang aku takut huh? Ayok kita lakukan."


Sean terkejut mendengar itu. Pasalnya ia hanya bercanda tadi. Tidak menyangka gadis itu akan terpancing. "Lupakan, tadi aku hanya ingin menggodamu."


Queen menatap Sean lekat. Lalu duduk dipangkuan lelaki itu dan memeluknya erat. "Aku benar-benar penasaran dengan rasanya. Ayok kita lakukan. Sekarang aku mengingikannya, kau harus bertanggung jawab."


"Queen." Sean mencoba memperingati gadisnya itu. "Aku tidak mungkin merusak masa depanmu."


"Apa kau tidak yakin jika aku adalah masa depanmu huh?" Queen mengecup leher Sean dengan lembut. Seketika darah Sean pun berdesir. Bahkan aset berharganya semakin menegang dan terasa sesak di bawah sana. Sean sadar jika rasa ingin tahu gadis seusia Queen jauh lebih besar.


"Jangan menggodaku. Kau akan menyesal."


Queen menatap wajah Sean begitu dalam. "Please." Lirihnya. Ia benar-benar penasaran seperti apa rasanya bercinta. Ia sering mendengar cerita Ella, jika bercinta itu sangat nikmat dan memabukkan. Dan... ia ingin merasakan itu sendiri.


"Tidak sekarang, belum saatnya kau mengenal hal itu." Sean mengusap pipi Queen dengan lembut. "Aku sudah berjanji akan menjagamu."


Queen memasang wajah sedih. "Sekali saja."


"Tidak, sayang."


"Baiklah, aku akan meminta orang lain mengajarkanku caranya bercinta."


Sean terkejut mendengarnya. "Jangan coba-coba melakukan itu. Ini bukan masalah yang bisa kau coba-coba dengan orang lain."


"Kalau begitu ayok kita lakukan, bukankah kita sepasang kekasih. Atau... aku akan melakukannya dengan Uncle." Pancing Queen.


Seketika darah Sean mendidih mendengar perkataan kakasihnya itu. Sedangkan Queen tersenyum tipis karena berhasil memancing kekasihnya. Jujur ia tidak berbohong dengan rasa penasarannya itu.


"Baiklah, kita akan melakukannya. Tapi jangan pernah memintanya pada orang lain. Ingat itu." Kecam Sean. Queen pun langsung mengangguk antusias.


"Aku harap kau tidak menyesal, karena aku tidak akan berhenti di tengah jalan." Sean memberikan tatapan serius. Bahkan ia benar-benar tidak akan melakukannya jika Queen menolaknya saat ini juga.


"Siapa takut." Sahut Queen penuh rasa percaya diri. "Tapi kita tidak bisa melakukannya di sini, Daddy memasang cctv."


Sean melihat ke sudut, dan benar di sana terdapat sebuah cctv.


"Kita lakukan di kamar sebelah, di sana tidak ada cctv." Bisik Queen.


Tidak ingin membuang waktu, Sean pun membopong tubuh ringan Queen ke kamar sebelah. Sesampainya di sana ia langsung m*l*m*t bibir kekasihnya dengan penuh perasaan. Sampai suara decapan bibir mereka pun menggema di kamar itu. Dan ciuman mereka pun semakin panas.


Queen m*nd*s*h kecil saat tangan Sean menyentuh dua benda kenyal miliknya. Bahkan memberikan r*m*s*n lembut di sana. Setelah puas berciuman panas, keduanya pun saling melucuti pakaian masing-masing.

__ADS_1


Queen menelan air liurnya dengan susah payah saat melihat tubuh indah milik Sean. "Apa kau sering berolah raga?"


"Hm." Sean menyahut sambil mengecupi leher kekasihnya. Hasratnya sudah sampai ubun-ubun, ditambah penampakkan indah di depan matanya membuat dirinya menginginkan hal lebih.


"Aku tidak menyangka milikmu yang ini lumayan berisi." Bisik Sean seraya menyentuh dua gunung kembar milik Queen yang cukup megkal.


"Ck, bukankah kau sendiri yang mengatakan jika dadaku rata huh? Dasar munafik."


Sean tersenyum lucu. "Saat itu aku belum tahu isinya."


Kini keduanya pun saling mengunci pandangan.


"Kau yakin akan melakukannya, sayang?" Tanya Sean meyakinkan kekasihnya sekali lagi. Lalu Queen pun mengangguk pasti.


"Aku mencintaimu." Ucap Sean kembali meraih bibir seksi Queen dan memberikan cecapan lembut. Dan Queen sendiri tampak menikmatinya.


"Ah... Sean." Queen menjerit tertahan saat merasakan gelenyar aneh ditubuhnya kala tangan Sean meraba aset berharganya.


"Milikmu sangat basah, sayang."


"Hm." Queen mengangguk lemah. Ia mencoba untuk menikmati setiap sentuhan yang Sean berikan.


Sean membaringkan Queen di atas kasur,


lalu mengukungnya seolah tak ingin melepaskan gadisnya itu sampai pagi. Ia kembali mengecupi wajah Queen. Mulai dari kening, hidung, bibir, dagu dan terus turun ke bawah. Tidak ada satu pun yang terlewati kali ini.


"Oh God!" Queen memekik saat bibir lembut Sean sampai di lembah basah miliknya. Bahkan secara refleks ia merapatkan kedua kakinya.


Sean tersenyum, dan perlahan membuka kedua kaki kakasihnya itu. Dan kembali melanjutkan aksinya. Menjelajahi setiap inci lembah indah milik kekasihnya itu.


Tubuh Queen tersentak beberapa kali karena mendapat pelepasan pertama. Ada sensai aneh yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. "Apa itu tadi? Kenapa rasanya sangat aneh?" tanyanya dengan polos.


"Itu hanya permulaan."


"Jadi masih ada yang lain?"


"Ya." Sean kembali merangkak naik. Ditatapnya wajah cantik Queen. Gadis itu terengah-engah dan berusaha mengatur napasnya.


"Kau siap?"


Queen mengangguk ragu. Sean tersenyum dan langsung mengarahkan rudalnya ke liang kenikmatan Queen. Lagi-lagi Sean tersenyum saat melihat wajah tegang Queen.


"Calm down, baby." Sean pun mendorongnya perlahan. Sontak Queen terhenyak karena rasa perih bercampur sakit di bawah sana.


"Sakit, Sean." Ringis Queen mencengkram erat lengan kekasihnya.


"Tahan, ini belum masuk sepenuhnya."


"Kenapa tidak bilang jika rasanya sesakit ini. Aku tidak mau lagi." Rengek Queen mulai menitikan air mata.


"Ini sudah setengah jalan, sayang. Tanggung." Dengan sekali hentakkan Sean mendorong miliknya sampai habis. Sontak Queen pun menjerit kesakitan dan mulai menangis. Bahkan gadis itu menggigit kuat bahu Sean sampai berdarah.


"Jauhkan itu, rasanya sangat sakit, Sean." Tangisannya pun pecah seketika.


Sean tertawa geli. "Sekarang kau menyesal huh?"

__ADS_1


Queen mengangguk.


"Tapi aku tidak bisa berhenti." Sean pun mulai menggerakkan miliknya perlahan agar tidak menyakiti kekasihnya. Ia juga memberikan kecupan lembut di bibir Queen agar gadisnya itu lebih rilex.


"Perlahan sakitnya akan hilang."


Queen mengangguk patuh dan mulai meresapi setiap sensai yang Sean berikan. Bahkan tanpa sadar ia mengeluarkan d*s*h*n kecil saat rasa sakit itu berubah nikmat.


Kini jerit tangisan Queen pun berubah jadi erangan penuh kenikmatan. Dan keduanya pun terhanyut dalam pergulatan panas. Baik Sean maupun Queen berusaha menikmati permainan yang mereka ciptakan sendiri, padahal mereka sama-sama belum berpengalaman.


****


Pagi hari Queen tampak menggeliat dalam tidurnya. Lalu matanya pun terbuka perlahan. Dan tubuhnya langsung menegang saat yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan Sean. Bahkan bayangan soal malam tadi pun kembali terputar di kepalanya. Ia masih mengingat dengan jelas pergulatan panas mereka malam tadi. Dan rasanya benar-bebar sulit diungkapkan oleh kata-kata.


Queen sadar akan satu hal, ternyata melakukan percintaan tidak harus melibatkan perasaan. Jika boleh jujur, Queen sama sekali belum merasakan gelenyar aneh saat berdekatan dengan kekasihnya itu. Namun ia berharap dengan hubungannya yang seperti ini ia bisa segera melupakan Juna dan menerima Sean dihatinya.


Queen mengusap rahang tegas kekasihnya itu. "Aku harap bisa secepatnya mencintaimu, Sean. Kau itu lelaki yang manis dan sangat baik. Aku tidak ingin mengecewakanmu kedepannya. Karena aku tahu rasanya cinta yang tak terbalas."


Queen mengecup bibir Sean dengan lembut. Dan itu berhasil membangunkan si empu. Sean pun tersenyum karena mendapat morning kiss dari sang kekasih.


"Morning, baby." Sapa Sean mengecup kening Queen dengan lembut.


"Morning." Balas Queen masih setia menatap wajah tampan Sean.


"Apa aku sangat tampan sampai kau enggan berpaling huh?"


Queen tersenyum yang disusul dengan anggukkan kecil. "Kau harus bertanggung jawab. Jangan pernah tinggalkan aku, semuanya sudah aku serahkan padamu, Sean."


"Seharusnya aku yang mengatakan itu. Bagaimana jika setelah ini kau malah lari dariku huh?"


Lagi-lagi Queen tersenyum. "Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu, Sean. Bahkan aku akan menemukanku meski aku bersembunyi diujung dunia sekali pun."


"Hm." Sean membalas tatapan kekasihnya itu. "Apa masih sakit?"


"Ya, sedikit."


"Bagaimana rasanya? Kau sudah tidak penasaran lagi huh?" Sean menoel hidung mancung Queen karena gemas.


"Entahlah, aku tidak bisa mengungkapkannya. Dan aku ingin mencobanya lagi."


Sean tertawa mendengarnya. Kekasihnya itu benar-benar polos.


"Sean, aku lapar. Bisakah kau memasak untukku lagi? Rasa masakkanmu masih tersisa dimulutku."


"Benarkah?"


Queen mengangguk. "Aku ingin makan steak lagi."


"Baiklah, aku akan menyiapkannya untukmu. Sekarang kau mandi dulu, setelah itu langsung makan."


Queen mengangguk antusias. "Terima kasih."


"Sama-sama, cantik."


Queen tersenyum dan langsung bangkit dari tidurnya. Ia memakai kembali bathrobe miliknya dan berjalan tertatih ke kamar mandi. Sean yang melihat itu tertawa geli. "Kau sangat menggemaskan, sayang. Aku mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2