Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Gagal


__ADS_3

Rea merapikan kemeja suaminya, kemudian memasangkan dasi untuknya. "Apa kau sengaja membuat pertemuan di sini?" Tanya Rea menatap Zain sekilas.


"Hm. Aku tidak bisa menahan rindu padamu."


"Pembohong." Ketus Rea.


"Aku tidak berbohong, aku merindukanmu." Jujur Zain melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Rea. Menatap wajah cantik istrinya begitu dalam.


"Jam berapa selesai meeting? Hari ini aku free, Regan memintaku untuk istirahat. Tapi rasanya tidak asik berdiam di kamar terus."


"Untukmu aku bisa mempercepatnya."


"Tidak perlu. Aku akan menunggumu. Aku ingin keliling kota."


"Baiklah, siang aku sudah kembali. Bersiaplah, aku akan langsung menjemputmu." Zain mengecup kening Rea dengan lembut.


"Okay. Jangan buat aku kecewa. Aku akan menunggumu di sini."


Zain mengangguk yang diiringi dengan senyuman tulus. "Aku pergi, jangan lupa makan sarapanmu."


"Aku mencintaimu." Ucap Rea menatap Zain lekat. Sebelum pergi Zain memberikan ciuman lembut di bibir istrinya. Setelah itu ia pun bergegas pergi.


Rea menghela napas dan duduk di tepi ranjang. Sesakali ia memijat perutnya yang terasa nyeri dan ngilu. "Sepertinya aku akan datang bulan. Ck, mana lupa membeli pembalut lagi." Keluhnya.


Rea kembali berbaring karena mendadak lemas. Mungkin karena sejak malam tadi ia belum menyentuh makanan apa pun. Jadi kondisi tubuhnya sedikit menurun. Karena sangat lemas, mata Rea kembali terpejam. Dan tanpa sadar ia tertidur lagi.


Siang harinya Zain kembali ke kamar hotel dengan sebuket bunga mawar berukuran besar yang sudah ia siapkan sebelumnya.


"Sayang." Zain pun membuka pintu kamar. Kemudian masuk dengan senyuman yang mengembang. Namun seketika ia merasa heran saat melihat Rea masih tertidur. Zain pun duduk di tepi ranjang, kemudian menyentuh kening Rea. Ia bernapas lega karena Rea tidak demam.


"Sayang." Panggilnya seraya menepuk pelan pipi Rea. Wanita itu pun membuka matanya perlahan.


"Kau sudah pulang? Apa aku tertidur?" Rea pun meneliti penampilannya. "Maafkan aku, seharunya sejak tadi aku bersiap."


Rea hendak bangun dari tempatnya, tetapi dengan sigap ditahan oleh Zain. Rea pun langsung menatapnya heran.


"Sebentar lagi. Tidak usah buru-buru. Ini untukmu." Zain memberikan buket itu pada istrinya. Rea menatap takjub buket indah itu.


"Ini... aku suka." Rea tersenyum bahagia.


"Bagaimana kau tahu aku suka mawar merah?"


"Aku menebaknya. Kebanyakan wanita kan suka dengan bunga." Jawab Zain jujur. Rea terkekeh geli mendengarnya.


"Sama sekali tidak romantis. Tapi aku tetap suka. Terima kasih, Kak." Rea mengecup pipi Zain dengan tulus.


"Malam ini kita pindah hotel." Putus Zain yang ingin menyukseskan rencananya.


Rea menatap Zain penasaran. "Kenapa harus pindah?"


"Rasanya tidak nyaman saja di sini."


"Owh, terserah kau saja. Sebagai istri yang baik aku ikut saja." Zain tersenyum lega.


"Apa masih pusing?" Tanya Zain sambil mengusap kepala istrinya. Rea pun mengangguk manja.


"Aku juga sangat lemas." Adu Rea.


"Kau terlalu banyak bekerja. Sebaiknya hari ini kau istirahat. Aku akan menemanimu."

__ADS_1


"Tapi aku ingin jalan-jalan." Rengek Rea kembali seperti biasanya. Zain tersenyum geli. Setidaknya Rea tidak lagi marah-marah seperti kemarin.


"Jangan memaksakan diri. Masih ada hari besok." Bujuk Zain.


Rea memanyunkan bibirnya. "Aku belum makan. Sudah lama aku tidak disuapi."


Zain menghela napas, kemudian mengambil makanan di atas nakas. "Aku akan menyuapimu. Buka mulutmu lebar-lebar." Zain membuka penutup hidangan.


Dan dengan sabar pula ia menyuapi istri manjanya itu.


"Minum." Pinta Rea. Zain mengambil botol air mineral, lalu memberikannya pada sang istri.


"Aku tidak bisa membuka penutupnya, lemas." Rea memberikan kembali air mineral itu pada suaminya.


"Ya Tuhan, kenapa aku punya istri semanja ini sih?" Gemas Zain seraya menoel hidung mancung Rea.


"Karena aku istri langka. Aakk... aku masih lapar." Rea kembali membuka mulutnya. Zain pun menyuapinya lagi.


Setelah selesai makan. Rea pun memutuskan untuk mandi. Sedangkan Zain menunggunya di atas pembaringan sambil mengecek beberapa pekerjaan melalui email.


Lima belas menit berikutnya Rea pun keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk yang begitu pas ditubuhnya yang ramping. Zain yang melihat itu menenal air liurnya yang terasa kelu. Istrinya itu terlihat sangat seksi dan begitu menggoda. Apa lagi paha mulusnya yang terlihat jelas. Seolah membangunkan jiwa lelaki dalam diri Zain.


"Kau sengaja ingin menggodaku?" Tanya Zain seraya meletakkan ponselnya di atas nakas. Lalu bangkit dari atas pembaringan, menghampiri Rea yang tengah mengeringkan rambut.


"Di dalam ada bathrobe, kenapa kau memakai handuk sekecil ini huh? Sengaja memancingku?"


Rea tersenyum jahil. Kemudian mengangguk kecil. Bahkan tanpa rasa malu ia mengalungkan kedua tangannya di leher Zain. "Apa aku cantik seperti ini?"


Zain menatap wajah cantik alami istrinya. "Jangan salahkan aku jika kau tidak bisa bangun dari tempat tidur setelah ini."


"Ini masih siang." Bisik Rea tertawa geli.


"Siapa juga yang ingin disentuh olehmu. Aku hanya menggodamu saja." Rea menjulurkan lidahnya dan berlari kecil menuju lemari. Kemudian bergegas mengenakan pakaian.


Zain yang melihat itu cuma bisa menggeleng pasrah. Mengawasi pergerakan istrinya yang tengah mengenakan pakaian. Setelah itu Rea pun kembali menghampiri suaminya.


"Aku ingin jalan-jalan." Rengeknya bergelayut manja di lengan Zain.


"Jalan-jalan kemana huh?"


"Cari es krim, katanya di sekitar sini ada es krim yang terkenal lezat." Jawabnya begitu antusias.


"Baiklah. Ayo kita pergi."


Rea pun mengangguk antusias. Lalu mereka pun langsung bergegas pergi. Mencari toko es krim yang Rea maksud.


Sesampainya di toko itu Rea langsung memesan satu cup es krim coklat berukuran jumbo. Zain pun merasa heran dengan istrinya itu.


"Kau yakin bisa menghabiskannya?" Tanya Zain menatap Rea dan es krim itu bergantian.


"Ya, kau jangan minta." Rea pun langsung melahapnya dengan penuh semangat. "Ya ampun... ini sangat enak. Kau harus memesannya."


"Tidak, aku tidak suka makanan seperti itu."


"Kalau tidak mau ya sudah. Aku saja yang makan. Aku ingin memesan lagi boleh?"


"Hey, itu saja belum habis." Tegur Zain tidak habis pikir dengan istrinya itu.


Rea pun tertawa renyah. "Aku hanya bercanda."

__ADS_1


"Dasar." Zain mengambil tisue dan menyapu ujung bibir Rea yang menyisakan secuil es krim.


"Ah, apa belepotan?" Tanya Rea merasa malu.


"Sedikit." Zain tersenyum simpul. Rea pun mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.


Satu jam lamanya mereka menghabiskan waktu di toko es krim. Dan Rea benar-benar menghabiskan semuanya. Sungguh perut ajaib. Zain saja merasa heran melihatnya.


"Aku rasa perutmu itu tong sampah." Cibir Zain mengamit tangan istrinya karena saat ini mereka kembali melakukan perjalanan. Menyusuri kota Paris di sore hari memang sangat menyenangkan.


"Bukan tong sampah. Tapi perut karet, bahkan aku masih sanggup makan coklat. Ngomong-ngomong, aku jadi ingin minum coklat panas. Kau mau membelikannya untukku kan?"


"Re, kau baru menghabiskan semangkuk besar es krim. Sekarang kau minta coklat lagi?"


"Pokoknya aku mau coklat panas." Rengek Rea menahan langkahnya.


"Okay, kita cari coklat panas sekarang." Pasrah Zain. Seketika mata Rea pun langsung berbinar.


"Aku mencintaimu." Rea pun mengecup pipi Zain dengan gemas. Kemudian menarik lelaki itu menuju sebuah kafe tempatnya biasa membeli satu cup coklat panas.


"Sepertinya kau sudah sangat hafal tempat ini?" Tanya Zain.


"Ya, beberapa kali aku mampir di sini." Rea pun segera memesan apa yang diinginkannya pada sang waiter. Tidak perlu lama pesanannya pun selesai. Mereka pun melanjutkan perjalanan.


Di tengah perjalanan, Rea menahan langkahnya karena perutnya terasa kram.


"Ada apa?" Tanya Zain bingung.


"Akh... perutku nyeri. Sepertinya aku datang bulan." Rea pun memutuskan untuk duduk di salah satu bangku pinggiran jalan. Mengusap perutnya yang masih sangat nyeri.


"Kak, aku perlu pembalut." Rea menatap Zain penuh harap.


"Pembalut?"


Rea mengangguk kencang. "Kau tanya saja di supermarket. Mereka akan membantumu. Aku tidak bisa jalan, perutku sangat sakit."


Zain pun tampak bingung. "Ok. Aku cari dulu. Kau tunggu di sini."


"Iya, cepat sedikit."


Zain pun langsung pergi meski masih dilanda kebingungan. Ia memasuki sebuah minimarket dan langsung mencari rak pembalut. Ia terus berkeliling tanpa berniat menanyakan pada sang karyawan yang melihatnya bingung. Katakan saja Zain malu untuk bertanya. Ia takut dianggap suami tidak perhatian karena tidak tahu apa yang dibutuhkan istrinya. Meski itu benar adanya.


Akhirnya Zain pun mendapat apa yang sedang dicarinya. Namun ia kembali dilanda kebingungan karena begitu banyak merek di sana. "Rea biasa menggunakan yang mana? Akh... persetanan. Aku ambil saja secara acak."


Zain memilih beberapa merek dan bergegas membayarnya. Sang kasir sempat bingung karena Zain mengambil beberapa merek. Wanita itu sepertinya paham. Jadi ia tak banyak tanya. Setelah itu Zain pun kembali ke tempat istrinya berada.


"Ini." Zain memberikan benda itu pada istrinya. Seketika Rea pun tertawa terbahak-bahak.


"Kau memborongnya? Ya ampun, satu saja sudah cukup. Ini bisa untuk satu tahun."


"Jangan tertawa. Aku tidak mengerti masalah perempuan."


"Kau harus terbiasa. Aku selalu datang bulan di pertengahan. Jadi kalau aku kesakitan kau tidak perlu khawatir. Itu artinya aku sedang datang bulan."


Ck, jika datang bulan itu artinya aku gagal menghamilinya. Sial! Bahkan kejutanku pun akan sia-sia. Geram Zain dalam hati.


"Kak, kau kenapa?" Tanya Rea saat melihat raut wajah Zain yang agak aneh.


"Tidak apa-apa. Sebaiknya kita cari toilet. Agar kau bisa langsung memakainya." Rea pun mengangguk. Lalu mereka pun beranjak dari sana.

__ADS_1


__ADS_2