
Semenjak Queen masuk sekolah. Setiap pagi sudah menjadi rutinitas bagi Rea untuk menyiapkan bekal dan mengantar putrinya itu ke sekolah.
"Mommy, hali ini aku mau mie goleng pake telul mata sapi." Pinta Queen yang sudah lengkap dengan pakaian sekolah. Gadis itu benar-benar sabar menunggu sang Mommy menyiapkan bekal seperti biasanya sambil menikmati sarapan pagi.
"Boleh, sayang. Di minum dulu susunya." Rea memberikan segelas susu pada putrinya. Dengan semangat Queen menerima dan meminumnya.
"Wah... anak Daddy sudah cantik rupanya." Sapa Zain ikut bergabung di meja makan. Lelaki itu pun sudah lengkap dengan setelan kantornya. Sebelum duduk Zain tidak lupa memberikan kecupan hangat di kening putrinya.
"Daddy, hali ini Buk gulu bilang akan belajal menggambal. Aku suka menggambal." Oceh Queen yang disambut tawa oleh Zain.
"Memangnya kamu mau gambar apa? Daddy jadi penasaran."
"Lahasia dong, Dad. Nanti kalau udah selesai gambalnya, aku kasih tahu Daddy."
Zain tertawa renyah. "Daddy tunggu. Gambar yang cantik ya, supaya dapat nilai bagus."
Queen mengangguk patuh. "Ya, Daddy. Mommy juga bilang... kalau mau nilainya bagus. Halus lajin belajal."
"Pinter anak Daddy."
"Sarapan roti atau nasi goreng?" Tanya Rea seraya memberikan secangkir kopi pada sang suami.
"Roti, sayang." Jawab Zain. Dengan sigap Rea mengoleskan selai coklat di roti dan memberikannya pada suami tercinta. Zain terus memperhatikan wajah pucat istrinya.
"Mommy, aku juga mau roti selai stlowbeli."
"Iya, sayang." Rea pun menuruti keinginan anaknya.
"Duduklah, kita makan sama-sama. Sudah aku katakan kau tidak perlu menyiapkan semuanya sendiri. Untuk sementara biarkan Bibik yang membantumu." Ujar Zain merasa cemas dengan kondisi istrinya.
"Aku baik-baik saja, cuma morning sickness biasa. Lagian Bibik punya tugas sendiri. Hanya menyiapkan bekal Queen aku rasa tidak terlalu berat." Jawab Rea masih sibuk menyiapkan bekal anaknya.
"Aku hanya cemas kau akan sakit karena terlalu banyak bergerak."
Rea tersenyum tulus. "Aku baik-baik saja, sayang. Jangan khawatir okay?"
Zain menghela napas pasrah. "Kau memang keras kepala."
"Aku sedang belajar untuk menjadi Istri dan Ibu yang baik, Kak. Jadi jangan terlalu mencemaskan aku. Lagipula aku hanya melakukannya di pagi hari. Setelah itu aku banyak menghabiskan waktu di kamar."
"Kemari?" Pinta Zain. Rea pun memberikan tatapan bingung. Namun dengan patuh ia mendekati suaminya.
Zain merengkuh pinggang ramping sang istri. Kemudian memberikan kecupan di perut rata Rea. "Jangan menyulitkan Mommymu. Daddy tahu kamu anak baik."
"Ya, Daddy." Sahut Rea menirukan anak kecil.
"Mommy, aku juga ingin mencium adik bayi." Pinta Queen yang tidak ingin kalah dari sang Daddy. Rea yang mendengar permintaan putrinya itu pun mendekat. Kemudian memberikan kecupan di pucuk kepala Queen.
Queen mengelus dan memberikan kecupan di perut sang Mommy. "Adik bayi cepat besal ya? Supaya Kakak punya teman balu."
Zain dan Rea tersenyum lucu mendengar itu. "Iya Kakak bawel."
Queen pun memeluk Rea dengan erat. "Aku sayang Mommy."
"Mommy juga sayang Queen. Sudah dulu pelukannya, Mommy harus menyiapkan bekal buat kamu. Nanti telat lagi kesekolahnya."
Dengan patuh Queen melepaskan pelukannya. Untuk terakhir kalinya ia mencium perut Rea. "Aku juga sayang adik bayi."
"Baby juga sayang Kakak." Rea kembali menirukan suara anak kecil. Dan itu berhasil mengundang tawa si gadis kecil.
"Jadi tidak ada yang sayang Daddy lagi sekarang?" Sindir Zain pura-pura memasang wajah sedih. Queen yang melihat itu langsung lompat dari duduknya dan berlari kecil ke arah Zain. Bahkan gadis itu naik ke pangkuan sang Daddy dengan susah payah. Beruntung Zain sigap dan membantunya naik.
"Daddy jangan sedih, aku sayang Daddy kok. Love you, Daddy." Ucap Queen begitu menggemaskan. Bahkan ia memberikan kecupan kasih sayang di bibir sang Daddy.
Rea yang menyaksikan itu hanya bisa menggelengkan kepala. Hal itu sudah biasa menjadi tontonannya.
"Daddy juga menyayangimu, Princess." Zain memeluk putrinya mesra.
__ADS_1
"Daddy wangi, aku suka." Pujinya.
"Benarkah? Anak Daddy juga wangi, wangi strowberi."
Queen terkekeh lucu. "Aku kan suka stlobeli, Daddy."
"Besok Daddy belikan stroberi untukmu."
"Yey, telima kasih, Daddy." Queen bersorak dan langsung memeluk Zain dengan erat.
"Anak baik." Zain memberikan kecupan di kening putrinya. "Habiskan rotinya, supaya putri Daddy yang cantik ini cepat besar."
Queen mengangguk patuh. Kemudian ia pun beranjak turun dan kembali ke posisi semula.
****
Usai mengantar putrinya, Rea mendadak lemas dan pusing. Ia pun menjatuhkan diri di sofa sambil sesekali memijat batang hidungnya. Bik Ade yang kebetulan melihat itu mengerut bingung dan bergegas menghampiri majikannya itu.
"Nyonya sakit?" Tanyanya dengan raut wajah panik.
Rea menggeleng kecil. "Cuma kecapekan aja sedikit, Bik. Tolong buatkan teh hangat ya Bik."
"Boleh, Nya." Bik Ade pun bergegas ke dapur. Beberapa menit kemudian beliau kembali dengan secangkir teh. "Ini Nya diminum dulu."
Rea menerimanya, menyesap minuman hangat itu sedikit. Kemudian meletakannya di atas meja.
"Bik, tolong jemput Queen nanti ya? Bilang saja sama Pak Restu, kalau aku yang suruh. Kepalaku pusing banget."
"Baik, Nya. Bibik bantu ke kamar ya?"
Rea pun mengangguk patuh. Kemudian Bibik pun membawa Rea ke kamar dengan penuh hati-hati.
Menjelang siang Bik Ade menjemput Queen ke sekolah.
Queen tampak celingukan, mencari sang Mommy yang biasa menjemputnya. "Bibik, di mana Mommy?"
"Mommy sakit?"
Bik Ade mengangguk.
"Aku mau pulang sakalang, Bik."
"Ayok, Non." Dengan sigap Bik Ade membantu Queen naik ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah, Queen langsung berlari menuju kamar sang Mommy.
"Mommy." Panggilnya dengan nada pelan. Ia merengut sedih saat melihat Rea yang tertidur pulas. Gadis itu naik ke atas ranjang, menarik selimut dan menyelimuti sang Mommy dengan hati-hati. Di tatapnya wajah Rea lamat-lamat.
"Non, ganti baju dulu yuk." Ajak Bik Ade. Queen menoleh.
"Mommy sakit banget ya, Bik?" Tanya Queen seraya turun dari ranjang dan menghampiri Bik Ade dengan wajah sedih.
Bik Ade tersenyum tulus, kemudian menggendong Queen. "Mommy cuma kecepekan kok. Setelah istirahat Mommy sehat lagi."
"Benelan, Bik?"
"Iya, cantik. Setelah ganti baju, Non makan dulu ya?"
"Bibik yang suap."
"Boleh." Jawab Bik Ade yang berhasil mengundang senyuman dibibir Queen.
Setelah makan, Queen terlihat asik bermain sendirian di kamarnya. Namun jam berikutnya anak itu mulai bosan. Ia pun keluar dari kamar. Menyusuri seisi rumah tanpa sepengetahuan siapa pun karena di jam seperti ini semua orang tengah istirahat. Kecuali satpam di depan gerbang.
Anak seusianya memang masih dikuasi rasa penasaran yang mendalam. Bahkan anak itu tidak pernah tahu bahaya mengelilingi sekitarnya.
****
__ADS_1
Mendengar kabar sang istri sakit, Zain pun langsung pulang setelah rapat panjangnya.
"Sayang." Zain memasuki kamar dan menghampiri Rea dengan rasa cemas. Rea yang merasa tidurnya terusik pun mulai terbangun. Zain mengusap pipi halus istrinya yang sedikit pucat. "Sudah aku katakan kau tidak bisa terlalu lelah. Kau sangat keras kepala."
Rea tersenyum simpul. "Aku baik-baik saja."
"Hm. Kau sudah makan?"
"Jam berapa ini?" Bukannya menjawab, Rea malah balik bertanya.
"Jam dua." Jawab Zain.
"Di mana Queen? Apa dia sudah pulang?" Rea mengubah posisinya menjadi duduk.
"Aku belum bertemu dengannya. Tapi Bibik bilang Queen ada di kamarnya, dia sedang bermain."
Rea mengangguk pelan.
"Aku akan melihatnya sebentar lagi. Apa yang kau rasakan sekarang?"
"Kepalaku masih pusing."
"Apa ini efek kehamilanmu?"
"Aku rasa, selera makanku juga berkurang akhir-akhir ini."
Zain tersenyum, kemudian dielusnya perut Rea dengan lembut. "Dia sedang tumbuh di dalam sini. Wajar jika kau mengalami hal aneh."
Rea mengangguk lagi. Namun tiba-tiba ia mengingat putrinya lagi. "Aku merasa tak enak hati. Lihatlah putrimu, apa dia baik-baik saja."
"Baiklah, aku akan mengeceknya. Lanjutkan tidurmu."
"Ya." Rea kembali berbaring dan menarik selimut. Perlahan matanya terpejam kembali.
Zain pun bergegas menuju kamar putrinya. Namun ia sama sekali tak menemukan Queen selain mainan yang berserakan di lantai. "Princess? Kau di mana?"
Zain mencari ke setiap sudut kamar. Namun putrinya itu tidak ada di sana. "Oh God!" Ia berlari ke luar kamar.
"Bik!" Panggil Zain. Tidak lama Bik Ade pun muncul.
"Ada apa, Tuan?"
"Di mana Queen?"
Bik Ade mengerut bingung. "Tadi di kamarnya, Tuan."
"Tidak ada, Bik."
"Mungkin Non Queen di kamar bersama Nyonya."
"Tidak ada, Bik. Aku baru dari sana." Kesal Zain yang kemudian berlalu pergi.
Zain mencari putrinya di setiap penjuru rumah, namun ia masih tak menemukannya.
"Sayang, di mana Queen?" Rea melangkah cepat menghampiri Zain. Ia cukup kaget mendengar kabar putrinya hilang.
"Sayang... aku...."
"Katakan padaku di mana Queen?" Rea berteriak kencang.
"Aku sedang mencarinya."
"Ya Tuhan, Queen. Di mana kamu, sayang?" Rea mulai menitikan air mata. Bahkan tubuhnya merosot ke lantai karena rasa pusing di kepalanya semakin bertambah. Zain yang melihat itu langsung menghampiri Rea. Lalu memeluknya erat.
"Queen baik-baik saja, percayalah."
"Cari dia, aku ingin Queen sekarang." Histeris Rea.
__ADS_1
"Ya, kita pasti menemukannya."