Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Perasaan Bersalah


__ADS_3

Sejak tadi Sean terus memandangi Queen yang sedang mempercantik diri di depan cermin. Ada sedikit perasaan bersalah karena dirinya sudah merenggut mahkota gadis itu.


"Sayang." Panggil Sean. Queen pun langsung menoleh.


"Ya?" Queen menghampiri kekasihnya itu dan duduk di sampingnya.


"Apa kau menyesal?" Tanya Sean memandang Queen lekat.


"Soal?"


"Malam tadi."


Queen terdiam sejenak. "Tidak sama sekali. Aku yang memaksamu malam tadi. Apa sejak tadi kau terus memikirkan itu?"


"Ya." Sean mengusap pipi kekasihnya itu dengan lembut. "Aku merasa berdosa karena telah menodaimu."


Queen tersenyum. Ia benar-benar bahagia karena bisa dipertemukan dengan lelaki sebaik Sean. "Kita kan melakukannya karena sama-sama mau. Buat apa kau merasa bersalah?"


Sean memperdalam tatapannya. "Ayok kita menikah."


Queen menggeleng. "Aku belum ingin menikah, Sean. Tolong mengertilah."


Sean terdiam. Queen yang melihat itu langsung meraih tangan sang kekasih. "Kita akan menikah, tapi tidak untuk saat ini. Aku masih ingin menikmati masa studyku tanpa terbebani oleh urusan rumah tangga. Sekarang aku belum punya apa-apa, Sean. Apa yang akan orang lain katakan jika seorang Sean Cameron menikahi wanita biasa sepertiku huh? Mereka pasti akan memandang rendah dirimu."


"Bagaimana kau bisa berpikir sejauh itu, baby? Bahkan aku tidak pernah peduli dengan tanggapan orang luar."


"Tapi aku peduli, Sean. Setidaknya berikan aku waktu satu tahun ya?"


Sean mengangguk kecil. Queen tersenyum dan memberikan kecupan di pipi Sean. "Ayok antar aku ke kampus."


"Apa kau yakin akan ke kampus? Jalan saja kau kesulitan."


Queen tersenyum. "Aku baik-baik saja."


"Baiklah, ayok berangkat." Sean pun membawa kekasihnya pergi meninggalkan apartemen.


Sepanjang perjalanan mereka terus membisu, seakan keduanya orang asing yang kebetulan berada dalam satu mobil.


****


"Aku akan menjemputmu siang nanti."


Queen menoleh sebelum turun dari mobil. "Jika kau sibuk, aku bisa pulang dengan Ella."


"Aku akan menjemputmu." Tegas Sean. Queen pun mengangguk pasrah yang kemudian turun dari sana.

__ADS_1


Siang harinya, Sean benar-benar menjemput Queen. Tentu saja ia menjadi pusat perhatian semua mahasiswi yang melihat keberadaannya. Banyak decak kagum yang mereka lontarkan untuknya. Namun lelaki itu solah tak peduli karena saat ini ia sedang menanti sang pujaan hati.


Tidak berapa lama Queen pun muncul, gadis itu sedikit berlari menghampirinya. "Sorry, tadi aku bertemu dosen dulu."


Queen sedikit berjinjit dan mengecup bibir Sean. Ia hanya ingin menunjukkan pada semua orang jika Sean benar-benar kekasihnya. Karena saat ini banyak mata yang menyaksikan mereka.


Mendapat serangan dadakan, tubuh Sean pun mendadak kaku.


"Sayang." Panggil Queen karena Sean masih saja diam. Sontak lelaki itu tersentak.


"Kita pergi sekarang?"


Queen mengangguk antusias. "Kita makan dulu, aku sangat lapar."


"Baiklah." Sean pun membukakan pintu mobil untuk sang kekasih. Lalu Queen pun masuk dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Setelahnya Sean pun ikut masuk ke dalam mobilnya. Aston martin itu pun melesat cepat meninggalkan pekarangan kampus.


"Kau ingin makan di mana?"


"Di mana aja, yang penting perutku kenyang." Jawab Queen sekenanya.


Sean tersenyum tipis dan mempercepat laju mobilnya. Dan sampailah di sebuah restoran berbintang tempat Sean biasa makan siang.


"Wow, ternyata seleramu bagus juga. Ini restoran pertama yang aku datangi saat tiba di sini. Daddy yang membawaku kemari."


Sean tersenyum lagi. "Ayok turun."


Mereka pun memilih meja sedikit agak tengah. Lalu memesan makanan sesuai selera.


"Aku rasa tempat ini tidak pernah sepi." Ujar Queen mengedarkan pandangan ke setiap penjuru restoran.


"Ini restoran terbaik menurutku." Sahut Sean terus memperhatikan wajah cantik Queen. Entahlah, ia tidak pernah bosan memandang wajahnya.


"Baby, aku ingin bicara hal penting padamu."


Queen menatap Sean lekat. "Apa itu?"


"Besok aku harus ke Madrid."


Kening Queen mengerut. "Apa ada masalah serius?"


Sean terdiam sejenak. "Tidak."


"Lalu?" Tanya Queen semakin penasaran.


"Daddy sudah mengatur jamuan untukku dan Stella, anak perdana mentri. Aku tidak bisa menolak, karena ini menyangkut pekerjaan. Bukan sekadar jamuan biasa."

__ADS_1


Queen terkejut mendengarnya. "Berapa lama kau di sana?"


Sean tersenyum mendengar nada cemas Queen. "Belum tahu pasti kapan aku kembali."


Queen memberikan tatapan tajam. "Jangan bilang kau ingin lari dariku setelah mendapat apa yang kau mau?" Tudingnya.


"Aku tidak sejahat itu, baby. Aku benar-benar harus pergi karena pekerjaan."


Queen tampak termenung. Dan itu berhasil mengundang senyuman di wajah Sean. "Dengar...."


Perkataan Sean pun harus terpotong karena sang waitress meletakkan pesanan mereka di meja. Setelah orang itu pergi, Sean pun kembali melanjutkan obrolannya.


"Dengar, aku...." belum selesai Sean bicara. Queen lebih dulu mencengkram erat tangannya. Dan mata gadis itu tertuju ke sebuah meja. Sontak Sean pun menoleh ke belakang. Dan betapa kagetnya ia saat melihat keberadaan Juna di salah satu meja yang lumayan jauh dari tempat mereka duduk.


"Sean. Dia ada di sini."


Dengan cepat Sean kembali menatap kekasihnya. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca, tetapi seolah tak ingin melepas pandangan dari Juna. Sean yang melihat itu tampak kecewa. Lalu tersenyum kecut.


Ternyata dia masih mempengaruhimu meski kita sudah melewati malam panjang sekali pun.


Sedangkan Juna, ia juga tidak sengaja bertemu pandang dengan Queen. Ia cukup kaget dan tidak menyangka bisa bertemu dengan princess kecilnya.


"Queen," gumamnya yang berhasil menyita perhatian Clarie. Wanita itu pun menoleh ke belekang dan menemukan keberadaan Queen. Setelah itu ia pun kembali menatap suaminya.


"Tuhan memberikanmu kesempatan, temui dia sekarang." Pintanya. Namun Juna langsung menggeleng dan kembali melanjutkan makannya. Berbeda dengan Queen, gadis itu masih setia menatapnya dengan tatapan sedih.


"Queen." Panggil Sean. Sontak Queen pun kaget dan tersadar dengan apa yang dilakukannya. Seketika ia merasa bersalah pada Sean.


"Sean, aku...."


"Tidak apa, aku paham." Sean tersenyum seolah semuanya baik-baik saja. Namun nyatanya tidak dengan perasaannya saat ini. Bohong jika ia tidak cemburu dengan sikap Queen yang menatap lelaki itu penuh perasaan.


Queen menggenggam tangan kekasihnya dengan erat. Lalu mengecupnya lembut. Dan semua itu tentu saja tidak luput dari pengawasan Juna. Wajah lelaki itu merengut saat menyaksikan apa yang Queen lakukan.


"Aku tidak akan mengkhianatimu." Ucap Queen dengan tulus. Ia benar-benar menyesal karena sempat mengabaikan Sean.


Sean tersenyum tak yakin. "Aku percaya padamu. Makanlah, sebentar lagi makanannya dingin."


Queen menganguk. "Kau juga harus makan."


"Aku rindu suapanmu."


Queen tertawa kecil. "Kau seperti anak kecil, tapi kali ini aku akan menurutimu. Besok kau akan meninggalkanku. Aku pasti merindukanmu."


Sean tersenyum.

__ADS_1


"Aaa!" Queen pun menyuapi Sean tanpa keterpaksaan. Bahkan ia tertawa kecil saat Sean menerima suapannya. Lelaki itu terlihat seperti anak kecil dan cukup menggemaskan.


Tanpa sadar, Queen membuat hati Juna meremang. Bahkan lelaki itu beranjak pergi dari sana dengan perasaan kesal.


__ADS_2