Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Tanggung jawab lho


__ADS_3

Keesokan hari, Mercia enggan bangun dari posisinya, karena tubuhnya remuk redam. King benar-benar gila dan tak membiarkannya istirahat walau sebentar. Bahkan setelah makan siang tadi, King kembali menggempurnya di kamar mandi. Seolah melampiaskan satu minggu yang terlewatkan.


"Udah, Mas. Aku capek banget." Keluh Mercia saat King memeluknya dari belakang dan kembali mencumbu lehernya. Bahkan tangannya kembali menyelusup ke delam bathrobe yang Mercia kenakan. Tenaga lelaki itu seolah tak ada habisnya, bahkan Mercia sampai keheranan dibuatnya.


King tersenyum. "Aku gak ngapa-ngapain kok, Yang."


"Gak ngapa-ngapain gimana? Itu tangan kamu di mana, Mas?" Kesal Mercia.


King terkekeh lucu, dan menghentikan aksi jahilnya itu karena tahu sang istri butuh istirahat setelah hampir seharian ia gempur.


"Kayaknya aku gak bisa jalan, Mas. Tanggung jawab lho." Keluh Mercia seraya membalik tubuhnya. Lalu membenamkan wajahnya di dada bidang King.


"Tanggung jawab gimana, hem?" King mengecup lembut pucuk kepala istrinya.


Mercia mendongak, lalu tersenyum geli. "Beliin martabak mesir, dagingnya yang banyak. Terus minumannya frappucino starbucks. Eh, mau pizza juga deh topping meat lovers. Boleh ya?"


King tertawa geli mendengar permintaan istrinya itu. "Kamu minta tanggung jawab apa lagi kelaparan hm?" ditoelnya hidung Mercia karena gemas.


"Dua-dua, Mas. Abis tenaga aku kan habis terkuras, ulah siapa coba? Capek tahu, sampe badan aku rasanya remuk semua. Bayangin aja, hampir seharian badan aku yang kecil ini kamu gempur. Mana badan kamu gedenya dua kali lipat dari aku lagi." Omelnya panjang lebar, membuat King kembali tergelak.


"Tapi suka kan? Buktinya kamu teriak-teriak gitu."


"Suka sih pas gitunya, tapi abisnya capek, Mas. Sekarang badan aku sakit semua." Keluhnya manja.


"Ya udah, supaya gak capek lagi. Mas pesenin deh apa yang kamu minta tadi. Seneng kan?" Tawar King yang langsung dijawab anggukan antusias oleh Mercia.


King tersenyum sembari meraih ponselnya. Lalu memesan makanan yang istrinya sebutkan beberapa saat lalu.


Hanya butuh hitungan menit, makanan itu pun sampai. Kini Mercia tengah menikmatinya sambil menonton televisi di atas ranjang, sedangkan King entah pergi ke mana.


Ketika sedang asik makan dan menonton, ponsel suaminya berdering. Mercia menoleh, tetapi tak berniat melihatnya dan kembali fokus makan. Namun, ponsel King kembali berdering.

__ADS_1


"Ck, siapa sih? Ganggu aja. Gak tau apa udah mau magrib." Dumelnya seraya meraih ponsel suaminya yang tergolek di atas nakas. Alisnya terangkat sebelah saat melihat nama Jef yang muncul di layar.


Mercia melihat ke arah pintu, berharap King segera kembali karena takut ada hal penting yang ingin disampaikan. Sayangnya King tak kunjung datang sampai Jef kembali menghubunginya. Alhasil Mercia pun mengangkatnya.


"Halo." Sapanya.


Namun, tidak ada sahutan di seberang sana.


"Jef, suamiku sedang diluar. Apa kau...."


"Katakan pada Uncle untuk menghubungiku." Sela Jef yang kemudian memutus panggilan sepihak. Sontak Mercia pun kaget.


"Dih, gak ada salam gak ada apa main dimaitiin aja. Gak sopan banget, sekarang kan aku Auntynya." Mercia terkekeh sendiri saat membayangkan Jef memanggilnya Aunty.


"Ish, mana mau dia manggil aku Aunty. Secara ngomong sama aku aja jarang. Dia kan benci banget sama aku." Imbuhnya seraya menaruh ponselnya kembali di tempat semula. Dan kembali fokus menyantap makanannya.


Sedangkan di tempat lain, Jef tampak mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu melempar asal ponselnya ke atas tempat tidur.


Sebenarnya Jef tidak berniat menghubungi King jika tidak dalam kondisi mendesak. Ia sangat membutuhkan lelaki itu soal pekerjaan.


Jef mendudukkan diri di sofa, lalu menengadahkan wajahnya ke atas dengan mata terpejam. Entah mengapa wajah cantik Mercia justru bermain dalam pikirannya. Bagaimana wanita itu tersenyum, merengek manja dan memasang wajah sedih seolah terekam jelas dimemorinya. Jujur ia merindukannya.


"Hah, kenapa aku harus jatuh cinta padamu, Cia? Padahal sejak awal aku selalu menepik perasaan itu. Karena aku tahu kau tak bisa aku miliki. Kenapa kau harus hadir dikehidupanku?Kenapa, Cia?" Teriaknya dengan frustrasi. Untuk pertama kalinya Jef menitikkan air mata karena patah hati. Ternyata sesakit ini melepaskan cinta pertamanya untuk orang lain.


Setelah merenung sendirian, Jef memutuskan untuk mencari angin segar. Saat keluar dari lift, ia tak sengaja berpapasan dengan sang Mommy.


"Jef? Mau kemana?" Tanyanya menatap sang putra heran. Pasalnya ini masih terbilang pagi dan tidak biasanya Jef keluar.


"Aku ingin jalan-jalan sebentar, Mom." Jawabnya asal.


Queen menatap putranya lembut, sebagai seorang ibu ia tahu apa yang sedang dirasakan putranya saat ini. Disentuhnya lengan Jef lembut. "Mommy harap kamu tetap bahagia, Jef. Mungkin sulit melupakan seseorang, Mommy pernah diposisimu. Berat memang. Tapi kamu harus tetap menjalaninya dan hidup bahagia. Kamu masih muda, perjalananmu masih panjang."

__ADS_1


Jef menghela napas, lalu memeluk Queen hangat. "Aku baik-baik saja, Mom."


Queen mengusap punggung putranya penuh perasaan. "Tidak perlu membohongi Mommy, Jef. Mommy selalu tahu apa yang kamu pikirkan. Maaf karena Mommy tidak bisa memberikan kebahagiaan itu padamu. Mommy berada di posisi sulit, antara kamu dan Unclemu. Kalian sama-sama penting."


Jef mengeratkan pelukannya. "Sudah aku katakan. Aku baik-baik saja, Mom."


"Bohong. Lalu buat apa kamu membatalkan kuliah di sini dan malah memilih London, hem? Kau memang ingin meninggalkanku kan?"


Jef melerai pelukannya, lalu mengecup kening sang Mommy begitu mesra. Kemudian pandangan keduanya pun saling bertemu. "Aku mencintaimu, Mom. Sangat mencintaimu dan tak terpikir untuk meninggalkanmu. Tapi aku butuh suasana baru. Aku janji akan kembali dalam waktu tiga tahun."


Tangisan Queen pun pecah. "Dasar anak durhaka, tiga tahun itu bukan waktu singkat, Jef. Menyebalkan."


Jef tersenyum tipis. "Biarkan aku mandiri, Mom. Secepatnya aku akan kembali." Katanya dan kembali membawa Queen ke dalam pelukan. "Kau masih punya Ryan."


"Anak itu sangat nakal, bahkan tidak pernah mendengarkan perkataan Mommy."


"Aku dengar, Mom." Sahut Ryan berjalan melewati keduanya dengan santai. Lalu mendengus sebal karena berpikir sang Mommy lebih menyayangi Kakaknya. Katakan saja dia cemburu karena Queen lebih peduli pada Jef yang notabennya sudah dewasa.


Queen menarik diri dari dekapan putra sulungnya. Lalu menatap punggung Ryan. "Lihat dia, selalu saja seperti itu."


"Dia hanya cemburu padaku, Mom." Sahut Jef menatap wajah cantik Mommynya itu.


Mercia pun kembali memusatkan perhatiannya pada Jef. "Apa dia pernah mengatakan itu?"


Jef mengangguk. "Dia akan datang padaku dan melampiaskan amarahnya setelah kau marahi."


Queen terkekeh lucu. "Dasar cemburuan, padahal Mommy juga sangat mencintainya."


"Dia masih kecil, Mom. Jadi jangan sering memarahinya. Aku pergi dulu." Dikecupnya pipi Queen dengan lembut, sebelum benar-benar pergi.


Queen cuma bisa menatap kepergian putranya dengan iba. Ia tahu Jef sedang tidak baik-baik saja saat ini. Karena sudah kebiasaan anak itu, jika sedang stres ia pasti akan pergi keluar. "Mommy harap kamu segera menemukan kebahagiaan, Jef. Hah, Cia memang gadis cantik. Wajar jika putra dan adikku jatuh cinta padanya. Bahkan aku saja menyukainya. Ck, sekarang dia sudah menjadi adik iparku. Tidak masuk akal memang, tapi mau bagaimana lagi? Takdir tidak ada yang tahu."

__ADS_1


Setelah bermonolog, Queen pun beranjak menuju dapur. Menyusul putra kecilnya yang sepertinya sedang kelaparan.


__ADS_2