
Kini rumah terlihat ramai karena kunjungan kedua orang tua Rea dan Zain yang ingin menjenguk cucu mereka. Saat ini semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Sayang, ayo dong digendong Oma." Sejak tadi Elsha terus membujuk cucu mungilnya itu yang tidak mau di gendong oleh orang lain. Padahal saat lahir dulu Elsha terus menggendongnya. Namun sekarang Queen sama sekali tidak mau disentuh olehnya.
"Aneh banget ya? Biasanya anak bayi seusianya sama siapa saja mau. Lah ini gak mau digendong orang lain selain Mommy dan Daddynya. Dari bayi aja sudah kelihatan manjanya. Untung kamu anak sultan, dek." Omel Rena panjang lebar. Kemudian mencubit pelan pipi cubby cucunya. Sontak Queen pun menangis kencang.
"Aduh... Mima cuma pegang pipinya aja loh. Kenapa malah nangis?"
Rea tertawa renyah. "Sabar ya, Mi. Cucu Mami ini memang agak berbeda."
"Padahal saat Zain bayi tidak seperti ini." Protes Elsha.
"Rea juga pas bayi anteng aja di pegang orang lain. Kok Queen aneh ya? Apa karena dia anak zaman now? Pilih-pilih orang untuk menggendongnya?" Ujar Rena.
"Mungkin Queen belum mengenali kalian. Siapa suruh terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Sampai lupa sudah punya cucu yang pintar." Ujar Adrian mengusap kepala Queen. Dan anehnya bayi itu langsung berhenti menangis. Sontak semua orang terperangah melihatnya.
"Hey, kamu benar-benar pemilih ya?" Kali ini Elsha mencoba menoel hidung Queen. Lagi-lagi bayi itu menangis kencang. Lalu mereka pun tertawa geli.
"Sudah, jangan mengganggunya lagi. Kasihan sekali anak Mommy," Rea pun membawa Queen dalam gendongan. Mencoba untuk menenangkannya.
"Padahal Mommy sudah beniat akan membawa Queen ke rumah satu malam saja. Jika seperti ini, bagaimana mau di bawa pulang? Ditoel saja menangis."
"Kau benar, aku juga sudah membayangkan Queen tidur bersamaku. Huh, jika seperti ini semuanya pupus sudah."
"Sabar, tunggu sampai Queen besar. Kalian bebas memonopolinya." Ujar Jackson dengan begitu santai.
"Itu kan masih lama." Keluh Elsha sambil menatap Rea yang sudah berdiri di dekat jendela, masih berusaha menenangkan putrinya.
"Hy everyone!" Seru seseorang yang berhasil membuat semua orang terkejut. Termasuk baby Queen yang kembali menangis karena kaget.
"Aron!" Geram Rea. Padahal baru saja ia berhasil menangkan Queen. Sekarang bayi itu kembali menangis kencang.
Aron tersenyum kikuk seraya mendekati Rea.
"Kau sudah mencuci tangan? Kau baru pulang dari bandara kan? Mandi dulu," titah Rea.
"Jangan khawatir, aku sudah mandi di apartemen. Hey girl, kau kaget ya? Maafkan uncle ya?" Aron hendak menyentuh keponakannya itu. Namun Rea langsung menahannya.
"Dia tidak bisa disentuh sembarangan orang. Kali ini aku tidak bercanda, Mami saja tidak bisa menyentuhnya. Dia akan langsung menangis."
"Aku belum mencobanya." Lagi-lagi Rea melarang Aron untuk meneyentuh putrinya.
"Sekali saja. Lihat, aku membawa banyak mainan modern. Kau senang baby girl?"
"Nope. Dia tidak suka orang asing."
"Aku unclenya. Jadi bukan orang asing, sini uncle gendong, sayang."
"Aron!" Rea memperingati.
Lelaki itu tertawa geli. "Baiklah, aku hanya bercanda."
__ADS_1
"Kau ini. Sana makan dulu, kebetulan Bibik masak banyak."
"Ah, kebetulan aku memang belum makan. Aku ke dapur dulu." Senelum ke dapur Aron tampak menyapa Uncle dan Auntynya lebih dulu.
Tidak lama Zain pun pulang bersama Juna.
"Kenapa baby menangis?" Tanya Zain menghampiri Rea.
"Dia kaget tadi mendengar suara teriakan Aron."
"Aron? Dia ada di sini?"
"Ya."
"Boleh aku menggendongnya?" Pinta Juna yang sebenarnya sejak lama ingin menggendong bayi cantik itu.
"Maaf, Jun. Bukan aku melarangmu, hanya saja dia sangat pemilih. Banhkan Mommy dan Mami yang hanya menyentuhnya saja Queen langsung menangis." Keluh Rea.
"Aku belum mencobanya. Berikan saja padaku."
Rea menatap Zain yang langsung dijawab anggukan oleh lelaki itu. Kemudian dengan ragu Rea memberikan Queen pada Juna. Dan hebatnya tangisan Queen pun perlahan berkurang. Bahkan bayi itu langsung tertidur dalam gendongan Juna.
"Lihat, dia menyukai gendonganku." Sombong Juna meski ia masih terlihat kaku menggendong Queen.
Zain dan Rea merasa heran dengan putrinya itu. Queen sepertinya akan menjadi gadis pemilih nantinya. Masih bayi saja ia sudah menunjukkan sifat anehnya.
"Sepertinya putri kalian menyukai uncle tampan. Benarkan sayang?" Juna mengecup pipi Queen dengan lembut.
"Aku hanya memanfaatkan waktu, saat ini aku bisa bebas menciumnya. Sudah besar nanti jangankan mencium, aku rasa memandang saja sudah tidak boleh. Lagi pula putrimu sangat cantik, aku rasa dia akan mengikuti jejak Mommynya. Menjadi top model."
Zain mendengus sebal, sedangkan Rea malah mengulum senyuman geli.
"Wah, kenapa Queen anteng digendong Uncle tampan? Sepertinya dia penyuka wajah tampan deh. Ya ampun, masih kecil saja sudah bisa membedakan mana yang cantik dan tampan, bagaimana besarnya nanti huh?" Elsha mencium pipi Queen begitu hati-hati. Hanya saat tidurlah ia bisa mencium cucu mungilnya itu dengan bebas.
"Sebaiknya tidurkan Queen di kamar, Re. Kasihan sejak tadi di luar terus."
"Iya, Ma." Rea pun mengambil alih Queen kembali. Kemudian membawanya ke kamar yang diikuti oleh Zain.
****
Tiga tahun kemudian....
"Uncle, aku ingin ikut." Rengek Queen terus menarik ujung baju Juna. Lelaki tampan itu pun berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Queen.
Juna tersenyum manis. "Uncle harus bekerja, sayang. Besok kita main lagi okay?"
Queen pun menggeleng kencang. "Uncle bohong, Mommy bilang Uncle dan Daddy akan pelgi jauh."
Lagi-lagi Juna tersenyum. "Iya, sayang. Uncle pergi cuma dua hari kok. Queen ingin hadiah apa? Nanti Uncle belikan."
Queen menggeleng lagi dengan mata berkaca-kaca. "Aku ingin ikut."
__ADS_1
"Ada apa, sayang?" Tanya Zain yang baru saja muncul. Queen pun langsung berhambur dalam pelukan sang Daddy.
"Daddy... aku ingin ikut Uncle Juna."
Zain menggendong Queen. Kemudian mengecup pipinya gemas. "Lain kali Queen boleh ikut. Sekarang Daddy dan Uncle harus pergi untuk mencari uang. Nanti Daddy belikan mainan baru, bagaimana?"
Queen mengangguk. "Boneka plinces."
"Iya, nanti Daddy belikan boneka princess."
Queen pun bersorak riang. Bahkan dengan lucunya ia mencium pipi Zain. "Thank you, Daddy. I love you."
"Jadi hanya Daddy yang diberikan ciuman. Bagaimana dengan Mommy huh?" Rea menghampiri mereka dengan senyuman yang mengembang.
Queen pun merentangkan tangannya pada Rea. Dengan sigap Rea menggendongnya.
"Ya ampun, anak Mommy berat sekali." Rea mengecupi pipi gembul Queen dengan gemas.
"Queen kan banyak makan, Mommy."
"Benarkah?"
"Ya, Mommy."
Zain, Juna dan Rea pun tertawa renyah.
"Daddy pergi dulu, sayang. Jangan nakal di rumah okay?"
Queen mengangguk antusias.
"Anak pintar." Zain memberikan kecupan di kening putri kecilnya itu. Kemudian bergantian mengecup bibir Rea dengan mesra.
"Aku juga mau di sini." Rengek Queen menunjuk bibirnya sendiri. Tentu saja hal itu mengundang tawa ketiganya. Kemudian dengan senang hati Zain menuruti keinginan putrinya itu.
"Daddy... boneka plincesnya jangan lupa ya?"
"Iya, sayang. Daddy pergi. Love you." Pamit Zain.
"Dadah cantik." Juna pun ikut memberikan salam perpisahan.
"Uncle, jangan lupa hadiahnya."
"Siap, princess."
Queen tersenyum senang sambil memeluk sang Mommy. Kemudian keduanya pun melambaikan tangan saat mobil yang mereka naiki melaju pergi.
"Sekarang kita masuk, bantu Mommy menyiapkan makan siang bersama Bibik okay?"
"Ya, Mommy."
"Anak pintar."
__ADS_1