
Melihat keberanian Mercia, tentu saja beberapa senior merasa terhibur, tetapi ada juga yang tak menyukainya karena merasa Mercia terlalu sombong dan sok cantik. Padahal memang sangat cantik.
"Berdiri di depan!" Perintah seniornya yang sok galak. Dengan malas Mercia pun maju.
"Kamu juga." Kali ini Jihan yang kena sembur, tanpa banyak berpikir gadis itu pun beranjak ke depan. Dan kini keduanya menjadi tontonan semua orang.
Para Senior pun mulai berteriak dan memperingati yang lain agar tidak membangkang dan menjadikan Mercia dan Jihan sebagai ancaman mereka. Namun, kedua tersangka tampak tenang seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan Mercia sempat melambaikan tangannya pada orang yang ia kenali.
"Jadi hukuman apa nih yang pas buat mereka berdua?" Tanya salah satu mahasiswi berpenampilan cantik.
Mercia menatapnya biasa saja seolah itu bukan masalah untuknya.
"Wait! Kayaknya aku pernah lihat deh wajah anak ini." Kata salah satu mahasiswa kemayu menatap Marcia lekat.
"Dia istri Tuan muda Michaelson." Sahut Jihan malas. Tentu saja para senior yang tak tahu pun tampak kaget, termasuk senior tampan berbaju biru. Terlihat jelas kekecewaan di wajahnya.
"Wah, pantes wajahnya familiar. Rupanya yang seliweran di majalah dan berita itu kamu ya. Sebentar." Lelaki kemayu itu mengeluarkan ponselnya, lalu berselfie bersama Mercia.
"Aku post di beranda kampus ya? Supaya kampus kita makin hedun karena istri konglomerat sekolah di sini." Imbuhnya terlihat begitu semangat. Bahkan melupakan soal senioritas yang tengah mereka lakukan.
"Memangnya kenapa kalau dia istri seorang konglomerat, di sini kita sama rata. Gak ada bedanya. Yang namanya salah harus dihukum." Ketus gadis sombong yang sepertinya sejak awal tak senang melihat Mercia.
"Oke cukup." Sanggah Della, mahasiswi berhijab yang sebelumnya membantu Mercia. Entah kenapa Mercia senang sekali melihat Kakak seniornya yang satu itu. Selain cantik, juga terlihat baik. "Memang benar di sini kita tidak akan membedakan soal status sosial. Kita semua sama, sama-sama ingin menuntut ilmu. Jadi jangan merasa hebat atau berkuasa."
Perkataannya itu sempat menohok beberapa senior yang bersikap sombong. Mereka yang tersinggung pun mendengus sebal. Dan semuanya pun fokus kembali ke acara.
"Kalian berdua nyanyi, hibur kita semua di sini. Yang lain silakan duduk, kita akan menikmati hiburan gratis."
Semua mahasiswa pun terlihat patuh dan duduk di lapangan, sedangkan Mercia dan Jihan diminta untuk menyanyikan sebuah lagu bebas.
Alhasil, Mercia pun menyanyikan lagu dari Yura Yunita 'Tutur Batin'. Dan siapa sangka suaranya begitu merdu dan berhasil menghipnotis semua orang.
Mercia tidak tahu jika saat ini penampilannya sedang ditayangkan langsung di sebuah sosial media kampus. Bakat terpemdamnya itu pun banyak menuai pujian dari netizen dan penggemar setianya. Dan tak disangka videonya itu cepat sekali tersebar.
King yang baru selesai meeting tampak bingung saat sang sekretaris memberikan iPad padanya. Menunjukkan sebuah video sang istri yang tengah tampil menawan dengan suara yang begitu merdu. King sendiri tidak tahu jika Mercia memiliki bakat itu.
"Siapa yang menyebarkan video ini?" Tanyanya heran.
"Video ini berasal dari akun real kampus Nyonya saat ini, Tuan."
King tersenyum. "Biarkan itu tranding, supaya tidak ada yang bisa meremehkan istriku. Ah, aku sendiri tidak sadar punya istri berbakat."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
King terus tersenyum, ia tak sabar untuk bertemu lagi istrinya dan akan memintanya bernyanyi. "Entah kejutan apa lagi besok."
****
King menjemput Mercia sore hari, gadis itu terlihat berantakan dengan wajah ditekuk. Tentu saja King tersenyum lucu melihatnya.
"Capek ya?" Tanya King.
Mercia mengangguk tak semangat sembari memasang seat belt. Setelah itu King pun melajukan mobilnya.
"Mau makan dulu?" Tawar King mencoba mengajak istrinya itu mengobrol.
"Pulang aja, aku capek banget." Keluh Mercia menyandarkan punggungnya di kepala kursi. Lalu terpejam.
King pun tidak berani lagi menganggunya dan fokus mengemudi. Bahkan Mercia tidak sadar King membeli makanan sangking capeknya.
Setibanya di rumah, King menggendong Mercia yang tertidur dan membawanya masuk. Lalu menidurkannya di kasur dengan hati-hati. Juga melepas sepatunya.
Setelah itu ia pun beranjak ke kamar mandi.
Mercia terbangun saat mendengar suara gemercik air. Lalu menoleh ke arah kamar mandi di mana ia bisa melihat siluet tubuh kekar suaminya. Seulas senyuman terbit dibibirnya dan bergegas bangun dari tempat tidur. Kemudian berlari ke kamar mandi.
King terkejut saat Mercia masuk dan memeluknya dari belakang. "Kangen."
"Dih, gampang banget bangunnya, Mas. Belum juga diapa-apain." Goda Mercia tersenyum geli.
"Namanya juga datang sarangnya, wajar kalau dia bereaksi." Sahut King yang berhasil membuat Mercia teratawa lucu.
"Mau masuk gak?" Tawarnya lagi sembari menyentuh benda keras itu untuk menggodanya.
"Yakin gak capek? Tadi kamu keliatan capek banget, Mas gak akan maksa." King mengusap kepala Mercia lembut.
"Tapi pengen, Mas. Yuk main bentar." King terkejut mendengar ajakan istrinya itu.
"Yakin?"
Mercia mengangguk yakin dan langsung berjinjit untuk meraih bibir suaminya. Tentu saja King langsung menyambutnya dengan sepenuh hati. Dan pergulatan panas pun kembali terjadi di sana.
Malam harinya, Mercia berbaring di tempat tidur sambil bermain ponsel dengan paha King sebagai bantalnya. Sedangkan King duduk bersandar sambil mengecek email lewat ponsel. Sedangkan tangan satunya yang menganggur terus bergerak mengusap kepala sang istri.
"Mas," panggil Mercia kemudian.
"Hm?" Sahut King tanpa melihat lawan bicaranya.
__ADS_1
"Tahu gak alasan Jef pindah kampus dadakan kenapa?" Tanyanya karena sangat penasaran. "Gak mungkin kan cuma mau cari suasana baru?"
King terdiam beberapa saat. "Mas kurang tahu." Jawabnya asal.
Mercia menarik napas panjang. "Kok dia aneh gitu ya? Gak datang diacara kita, terus gak pernah pun hubungin aku."
"Emangnya dia pernah ngasih kabar ke kamu selama ini?" Tanya King.
"Ya enggak sih, hehe."
King pun cuma menggeleng.
"Oh iya, Mas. Kamu tahu gak siapa perempuan yang dia suka? Aku penasaran deh."
Lagi-lagi pertanyaan Mercia berhasil membuat King terdiam. Pasalnya ia tidak mungkin memberi tahu Mercia soal perasaan Jef terhadapnya selama ini.
"Mas juga gak tahu, dia kan tertutup banget. Ngomong aja paling bahas masalah bisnis."
Mercia mengangguk. "Penasaran aja sih, mana tahu aku kenal orangnya."
King menghela napas. "Terus kenapa kamu pengen tahu banget?"
"Kepo aja, Mas." Mercia merubah posisinya menjadi tiarap. "Oh iya, Mas. Kok aku mendadak pengen jalan-jalan sambil jajan ya? Keluar yuk nyari bakso?" Ajaknya dengan tatapan berbinar.
King menatap Mercia bingung. "Kita baru makan lho, Yang. Kamu udah lapar lagi? Belum juga satu jam."
Mercia mengerucutkan bibirnya. "Namanya juga kepengen, Mas. Kita ke tempat biasa aku beli aja, di depan sma itu lho. Mau ya?" Mohonnya.
"Ck, emang masih buka jam segini?" Tanya King kembali fokus pada ponselnya.
"Buka kok, biasanya tutup jam sebelas. Yuk Mas, udah ngences ini," rengek Mercia menggoyangkan lengan suaminya.
King menutup emailnya lalu menyimpan ponselnya di atas nakas. "Ya udah ayo. Sana pake baju."
"Gini kan udah bagus, Mas. Panas tahu." Sahut Mercia melihat penampilannya saat ini. Di mana hanya memakai tanktop dan hotpants.
"Enggak, pake jaket atau cardigan." Sanggah King seraya bangun dari duduknya dan berjalan ke ruang ganti
Mercia mendegus sebal dan bergegas menyusul suaminya. King tersenyum senang karena Mercia terlihat menggemasakan saat memakai sweater rajut kebesarannya. Sedangkan dirinya terlihat jauh lebih muda karena memakai kaos hitam yang dipadukan dengan walking shorts warna senada.
Mercia mengambil sebuah topi, lalu memakaikannya pada King. "Pake ini biar gak ada yang ngenalin. Duh, gantengnya suamiku."
King cuma bisa tersenyum.
__ADS_1
"Yuk." Ajak Mercia mengamit tangan besar suaminya. Lalu keduanya pun beranjak pergi menuju warung bakso yang dimaksud.