Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Bingung


__ADS_3

William mulai menanggalkan kemeja yang menutupi tubuh kekarnya. Ia tersenyum penuh kemenangan saat melihat Rea terus menggeliat di atas tempat tidur. Wanita itu sudah tenggelam dalam gairah yang disebabkan karena obat perangsang.


Lelaki berambut pirang itu merangkak naik ke atas pembaringan. Mengukung tubuh indah Rea yang masih terbalut gaun.


"Ah... kenapa sangat panas?" Rancau Rea sesekali terpejam. Ia juga menggigit bibir bawahnya karena tak kuasa menahan sesuatu di bawah sana.


"Aku bisa membantumu, sayang." Bisik William seraya mengusap pipi halus Rea. "Kau sangat cantik."


Tubuh Rea berdesir saat menerima sentuhan itu. William menatap mata Rea yang mulai menggelap. Ia tahu wanita itu menginginkan hal lebih dan itu yang ia harapkan.


"Ngghh...." Rea yang sudah tidak tahan pun mencengkram erat tangan William. Wanita itu benar-benar tidak sadar degan apa yang terjadi saat ini. Obat sialan itu sudah menguasi dirinya.


"Di mana aku harus menyentuhmu, baby?" Bisik William mengangkat gaun Rea dengan gerakan sensual. Lalu dielusnya paha mulus itu. Membuat sang empu mengerang kuat.


"Kau sangat seksi, sayang. Biarkan aku menikmatimu malam ini."


Baru saja tangan William hendak membuka resleting gaun Rea. Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras. Sontak lelaki itu pun menoleh. Betapa terkejutnya ia saat melihat Zain berdiri di sana dengan tatapan membunuh.


Sial! Bagaimana lelaki itu bisa tahu rencanaku? Apa wanita itu mengkhianatiku?


Zain berjalan dengan santai mendekati ranjang, namun tatapanya tak lepas dari lelaki brengsek itu. Suara ketukan sepatu lelaki itu terdengar mengerikan bagi William. Sontak ia pun beringsut mundur. Tidak lama dari itu, Juna dan dua lelaki berpakain serba hitam pun muncul.


Zain mengeratkan rahangnya saat melihat kondisi sang istri. Wanitanya itu terlihat sangat tersiksa karena ulah si brengsek William. Zain pun kembali melayangkan tatapan membunuh pada lelaki itu. Andai saja ia tak memikirkan kondisi Rea, mungkin lelaki itu sudah habis ditangannya saat ini juga.


"Bereskan dia." Titah Zain dengan kilatan amarah di matanya.


Dua orang bertubuh tegap itu pun bergegas menghampiri William. Mengapit kedua tangannya. William pun memberontak kuat. Juna yang melihat itu pun mendekatinya. Lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku celana. Dengan kasar ia membuka mulut William dan meminumkan isi botol itu sampai tandas.


"Bawa dia ke tempat seharusnya." Perintah Juna. Kedua pria bertubuh besar itu pun segera membawa William keluar.


"Lepaskan aku." Teriak William yang sama sekali tak di gubris oleh Zain maupun Juna.


Zain menatap Juna. "Thank you." Ucapnya dengan tulus. Jika tidak ada Juna. Mungkin saat ini William sudah berhasil menjahati istrinya. Zain tidak pernah tahu jika Juna terus mengawasi William dan Zee selama ini. Termasuk saat Zee memerintahkan seseorang untuk menambahkan obat perangsang pada minuman Rea. Karena itu mereka bisa menggagalkan semua rencana busuk kedua manusia licik itu. Zain sangat bersyukur akan hal itu.


"Sama-sama, urus dulu istrimu." Juna pun bergegas pergi dari sana.


Zain menatap Rea sendu. Tanpa banyak berpikir lagi ia melepas jas dan kemejanya. Lalu naik ke atas pembringan. Ia tahu istrinya itu butuh pertolongan.


"Sayang." Zain mengusap pipi Rea yang memerah. Ia menggeram marah. Berani sekali mereka melakukan hal ini pada istrinya. Awas saja, ia akan membalasnya lebih dari ini.


Rea membuka mata. Ditatapanya wajah sang suami lamat-lamat. "Nghh... Kak...."


Zain membungkam bibir istrinya dengan ciuman lembut. Rea yang pada dasarnya membutuhkan sentuhan pun mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Lalu keduanya pun terhanyut dalam ciuman panas.


"Kak, please...." lenguh Rea yang sudah tidak tahan ingin disentuh lebih.


"Let me help you, honey." Bisik Zain seraya membantu Rea menanggalkan pakaiannya. Wanita itu terus memgeluarkan d*s*h*n saat tangan Zain tak sengaja menyentuh kulitnya. Dan itu membangunkan hasrat Zain.

__ADS_1


"Kak, please. Lakukan sekarang." Pinta Rea sambil menggigit bibirnya. Dan itu terlihat sangat seksi di mata suaminya. Ah, apa pun yang Rea lakukan memang selalu membuatnya tergoda.


"Sebentar, sayang."


"Badanku gatal semua...." lenguh Rea sedikit membusungkan dada agar Zain lebih mudah melepas pakaiannya.


"Di mana yang gatal, sayang?" Zain pun menggoda kewanitaan istrinya. Lalu tersenyum nakal.


"Please, itu sangat gatal." Rengek Rea memejam dan membuka matanya dengan begitu seksi. Rea benar-benar sudah gila, otaknya terus membayangkan hal panas bersama sang suami. Itu sangat menyiksanya, sungguh.


"Sial. Kenapa kau sangat cantik, sayang." Zain kembali menyambar bibir istrinya. Kali ini lebih rakus dan menuntut. Rea m*nd*s*h kencang saat Zain menurunkan ciumannya ke leher. Memberikan kecupan basah dan panas, sampai menimbulkan bercak merah yang indah. Lalu adegan panas pun terus berlanjut semakin jauh dan dalam. Keduanya benar-benar terhanyut dalam gairah yang mendamba.


****


Sedangkan di tempat lain, Juna terlihat duduk santai di sebuah sofa kamar hotel. Matanya terus tertuju ke arah ranjang. Di sana Zee terlihat meronta-ronta saat dirinya dipegangi oleh dua lelaki bertubuh besar.


"Brengsek kau, Juna!" Umpat Zee melayangkan tatapan tajam pada Juna.


Juna tersenyum miring. "Seharusnya kau pikirkan akibatnya sebelum bertindak. Kau tidak tahu siapa orang yang kau usik, Zee. Mungkin dulu Zain akan membelamu, tapi kali ini kau membuat kesalahan besar. Kau mencelakai wanita yang dicintainya. Dia tidak akan mengampunimu. Meski aku menjualmu sekalipun, dia tidak akan peduli padamu."


"Brengsek."


"Percuma kau berteriak. Tidak akan ada yang mendengarmu. Aku punya kejutan untukmu, besok pagi kau akan tahu kejutan dariku." Juna bangun dari posisinya. Lalu mendekati Zee. Ia pun memberikan sesuatu pada Zee, sama seperti yang ia berikan pada William.


"Bawa lelaki itu masuk." Titahnya. Tidak lama kedua anak buahnya membawa William masuk.


Zee tampak kaget melihat kondisi William saat ini. Lelaki itu terlihat seperti orang gila. Namun tidak lama dari itu Zee merasakan ada yang aneh pada dirinya. Tubuhnya mendadak panas dan gatal.


"Minuman sama seperti yang kau berikan pada Rea. Selamat bersenang-senang." Jawab Juna yang kemudian beranjak pergi. Sedangkan dua lelaki bertubuh tegap itu pun melempar William ke atas ranjang. Lalu mereka pun meninggalkan tempat itu.


Juna tersenyum penuh arti saat mendengar makian Zee dari dalam sana.


"Pastikan awak media datang besok pagi. Buat kejutan besar untuk mereka." Perintah Juna pada anak buahnya. Keempatnya pun mengangguk paham.


"Pastikan masa depan mereka hancur. Salah mereka sendiri karena mengusik ketenangan kita."


"Baik, bos."


****


Pagi hari, Rea terbangun dalam dekapan sang suami. Seketika senyumannya pun mengembang. Di tatapnya wajah tenang sang suami lamat-lamat. Namun tiba-tiba Rea mengingat pesta semalam.


Tunggu! Malam tadi apa yang terjadi? Pesta itu... kenapa aku tidak ingat kapan aku pulang?


Rea terhenyak saat sebuah kecupan mendarat di bibirnya.


"Pagi-pagi kau sudah melamun. Apa yang sedang kau pikirkan huh?"

__ADS_1


Rea menatap wajah suaminya begitu dalam. "Malam tadi, apa kita melakukannya lagi? Aku bermimpi kita bercinta begitu panas, tapi anehnya aku tidak ingat kapan kita pulang. Terakhir kali aku ingat, aku makan dan William duduk bersamaku."


Zain membalas tatapan istrinya. "Kau tertidur semalam, mungkin karena terlalu banyak makan." Bohong Zain. Ia rasa Rea tidak perlu tahu soal malam tadi.


"Benarkah? Tapi soal percintaan itu, apa itu juga mimpi?"


Zain tersenyum geli. "Itu tidak mimpi, kita memang bercinta."


"Ah." Rea pun mengangguk paham. "Tapi... kenapa aku tidak mengingatnya dengan jelas? Itu sangat aneh."


"Mungkin kau lelah malam tadi. Apa itu penting sekali huh? Pagi-pagi kau sudah membahas bercinta. Apa perlu kita mengulangnya lagi?"


"Eh! Tidak perlu, tubuhku sangat lengket. Aku ingin mandi."


Zain tersenyum tipis. "Kita mandi bersama. Menghemat waktu."


Rea mengangguk antusias. "Aku ingin digendong."


"Dasar manja." Zain pun bangkit dari tempat tidur dan langsung menggendong istrinya ke kamar mandi.


Usai membersihkan diri dan berganti pakaian. Rea pun beranjak turun untuk membantu Bik Ade di dapur.


"Pagi, Bik." Sapa Rea.


Bik Ade pun menoleh. "Eh, Nya. Pagi juga, Nya. Tumben telat pagi ini?"


"Pagi ini agak telat bangunnya, Bik. Mungkin karena kecapekan semalam." Jawab Rea sekenanya.


"Iya, Nya. Oh iya, tadi itu ada berita panas lagi loh, Nya." Seru Bik Ade terlihat begitu semangat.


"Berita apa lagi sih Bik?" Tanya Rea seraya mengambil gelas. Ia ingin membuatkan kopi untuk suaminya.


"Itu loh, Nya. Perempuan yang kemarin di gosipin miring sama Tuan. Model terkenal itu. Katanya sih dia kepergok tidur sama pemilik agensi asal Prancis. Dari keterangan beritanya dia tidur supaya terkenal gitu. Pantes aja dia sampe mendunia."


Rea cukup kaget mendengar itu. "Serius, Bik?"


"Iya, Nya. Gak nyangka banget kan? Padahal kan dia cantik, model terkenal lagi, kenapa gak nikah aja ya kalau pengen gituan? Anak zaman sekarang mah pergaulannya bebas. Rela jual harga diri cuma buat tenar."


Rea terdiam cukup lama.


"Nya." Panggil Bik Ade yang berhasil mengejutkan Rea. "Ih si Nyonya mah diajak ngobrol malah ngelamun."


Rea tersenyum geli. "Enggak ngelamun kok. Cuma mikir aja dikit."


Bik Ade pun tertawa renyah. "Tapi bagus juga kan, Nya? Dengan gosip ini gak bakal ada lagi gosip tentang Tuan. Beruntung Tuan nikahnya sama Nyonya, kalau sama dia kan kasihan."


"Hus, gak usah dibahas lagi deh, Bik. Urusan orang juga. Lagian kalau gak salah mereka itu pacaran. Wajar aja sih."

__ADS_1


"Yang namanya belum sah itu gak wajar tidur bareng, Nya."


Rea pun cuma manggut-manggut. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi. Semuanya benar-benar membingungkan baginya. Namun ia juga tidak ingin ambil pusing. Mungkin saja itu karma untuk Zee yang sudah banyak menjahati orang.


__ADS_2