
Di sebuah mansion mewah, tampak seorang lelaki tampan lengkap dengan setelan kantor tengah menuruni anak tangga. "Bagaimana hasilnya, Ben?" Tanya lelaki itu pada sang asisten pribadi yang sejak tadi sudah menunggunya di lantai dasar. Lelaki bernama Ben itu sedikit membungkuk untuk memberikan hormat pada atasannya.
"Pemiliknya bersedia menjual setelah kita menawarkan harga paling tinggi, Tuan." Sahut Ben.
"Segera lakukan pembayaran, malam ini aku akan langsung menempatinya."
"Baik, Tuan."
Lelaki itu tersenyum penuh arti. Dan berlalu keluar dari mansion. Memasuki mobil mewah miliknya yang diikuti oleh sang asisten. Lelaki itu tak lain adalan Sean.
Sean Cameron (35 th) merupakan pemilik dua perusahaan besar, SC Company dan Air America. Parasnya yang tampan, tatapannya tajam, rahang yang tegas bernetra biru dan berperawakan atelitis mampu melemahkan siapa saja yang melihatnya. Dalam dunia bisnis, ia tidak akan segan menyingkirkan lawannya tanpa belas kasihan. Sean begitu terkenal dengan keambisiannya yang diwariskan dari sang Daddy.
Sean kerap sekali menjadi buah bibir para wanita karena ketampanannya. Bahkan banyak di antara mereka yang berani merendahkan diri hanya untuk mendapatkan hatinya. Hanya saja lelaki itu seolah menutup hati pada semua wanita dan memilih untuk hidup sendiri. Namun pertemuan dengan seorang gadis berparas cantik di sebuah toko buku menimbulkan getaran di hatinya.
Sean tersenyum tipis. Queen Michaelson. Secantik wajahnya. Akan aku pastikan kita bertemu lagi, gadis kecil.
Hanya dalam hitungan menit mobil yang ditumpanginya itu berhenti tepat di depan pintu utama perusahaan. Sean keluar dari sana dan berjalan penuh karisma. Beberapa karyawan khusus berderet, memberi salam hormat pada pemilik perusahaan itu. Sean mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat pada para karyawan untuk berhenti membungkuk, kemudian ia pun terus melangkah menuju lift khusus presdir yang membawanya menuju lantai teratas. Tempat di mana ia menghabiskan banyak waktu.
Sean membuka jas mahal miliknya, lalu menyampirkan di kepala kursi. Kemudian ia pun duduk di kursi empuk itu dengan gerakan sensual.
"Ben, geser meeting besok pagi ke minggu depan. Aku punya urusan yang lebih penting." Titahnya Ben yang masih setia berdiri di sisinya. Lelaki berambut pirang itu memasang wajah heran. Karena untuk yang pertama kalinya Sean bersikap seperti ini.
"Kau mendengarku, Ben?"
Ben terhenyak. "Siap, Tuan. Akan saya lakukan."
Sean mengangguk pelan. "Oh iya, bagaimana reaksinya setelah mendapat hadiah dariku?"
"Gadis itu tidak menunjukkan ekspresi yang terlalu berlebihan, Tuan."
Lagi-lagi Sean tersenyum tipis. "Aku tahu dia beda dari yang lain. Kau sudah cari jadwalnya di kampus?"
"Sudah, Tuan. Saya akan segera mengirimnya pada Anda."
"Hm." Sean mengeluarkan ponselnya. Lalu menghubungi seseorang. "Aku sudah tidak butuh perjodohan yang diatur oleh keluarga. Katakan padanya aku punya pilihan sendiri. Tidak akan ada yang bisa melarangku, jika mereka berani, aku tidak akan segan menghabisinya."
Ben beranjak pergi dari sana. Ia tahu Tuannya itu butuh privasi.
__ADS_1
Setelah menghubungi asisten sang Ayah. Sean pun bangkit dan beranjak menuju ruang pribadinya. Di tatapnya foto mendiang sang ibu lamat-lamat. "Kau benar, tidak ada yang terbaik selain pilihan hati, Mom. I miss you so much."
Sean terdiam sejenak. "Secepatnya aku akan memperkenalkannya padamu. Dia sangat cantik sepertimu."
Sesekali Sean menghela napas gusar dengan kedua tangan yang terkepal erat. Wajahnya yang berseri kini berubah datar tak tersentuh. Tatapan yang begitu dingin akan membekukan siapa saja yang melihatnya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
****
Queen terus mengembangkan senyuman bahagia karena Profesor memberikan pujian padanya. Ia berhasil menyelesaikan tugas dengan nilai jauh lebih baik dari teman-temannya.
Huh, setidaknya aku berterima kasih pada pria asing itu. Pikirnya.
"Wah, senang sekali ya dapat pujian dari guru besar?" Sindir Ella seraya merengkuh pundak sepupunya itu. Keduanya pun berjalan menuju kelas selanjutnya. Sedangkan Bara hanya mengekori keduanya.
"Hm. Ini berkat buku yang pria asing itu berikan."
Ella mengerut bingung. "Aku jadi penasaran seperti apa dia?"
"Entahlah, aku saja agak lupa dengan wajahnya. Karena aku tidak terlalu memperhatikannya saat itu." Queen terkekeh lucu. Ia memang tidak bohong soal itu.
"Tapi kau harus lebih berhati-hati. Bagaimana jika dia memiliki niat jahat padamu?"
Setelah mata kuliah usai, Queen pun mampir di sebuah restoran. Membeli makanan untuk makan malam nanti. Setelah membayarnya, gadis itu langsung pulang ke apartemen karena hari ini cukup melelahkan baginya.
Queen memasuki lift menuju lantai apartemennya. Gadis itu sama sekali tidak memperhatikan orang-orang yang ada di dalamnya. Wajahnya terlihat kusut karena benar-benar lelah. Dan hal itu mengundang senyuman seorang lelaki yang berdiri tepat di belakangnya.
Ting!
Queen keluar dari lift dan melangkah pasti menuju apartemennya. Mengetik sebuah password dan tidak lama pintu terbuka dengan sendirinya. Gadis itu langsung masuk ke dapur dan menaruh makanan di dalam kulkas. Setelah itu ia bergegas menuju kamar.
"Huh, lelah sekali." Keluhnya seraya duduk di sofa. Baru saja ia ingin memejamkan mata. Seseorang menekal bel pintu. Sontak Queen pun bangkit. "Siapa lagi sih?"
Dengan malas Queen keluar dari kamar untuk melihat siapa yang bertamu. Seperti biasa ia melihat dari balik layar, tetapi kali ini ada yang aneh. Tidak ada satu orang pun yang terpantau, tetapi ada sebuah benda berukuran besar yang membuatnya penasaran.
"Benda apa itu? Apa jangan-jangan bom?" Seketika Queen pun panik dan langsung berlari ke kamar. Bagaimana jika itu benar-benar bom? Apa ini akhir dari kehidupannya? Tapi atas dasar apa orang itu mengirimnya bom?
Mommy.... Daddy... aku belum siap mati. Queen menjerit dalam hati. Gadis itu membenamkan diri dalam selimut. Tidak berapa lama ponselnya berdering. Ia pun beringsut bangun untuk mengambil ponselnya. Namun keningnya mengerut saat melihat nomor tak dikenal lah yang muncul dilayar ponselnya.
__ADS_1
Dengan ragu Queen menerima panggilan. "Hallo."
Tidak ada sahutan.
"Hey, siapa ini?" Tanya Queen mendadak kesal. Namun masih tidak ada sahutan. Queen pun menjauhkan ponsel dari telinganya untuk memastikan panggilan masih tersambung atau tidak. Dan ternyata panggilan masih tersambung. Queen pun menempelkan kembali ponselnya ke telinga.
"Hey, apa kau bisu?" Makinya. "Jika tidak ingin bicara, jangan mengganguku lagi."
"Kau sangat manis saat sedang marah, gadis kecil."
Queen terbelalak saat mendengar suara itu. "Kau! Bagaimana kau bisa tahu nomor ponselku? Siapa kau sebenarnya huh? Atau kau memang penjahat kelamin?" Cercanya tanpa perasaan.
Bukannya marah, lelaki dibalik telepon itu malah tertawa renyah. "Aku tebak wajahmu sangat menggemaskan saat ini, sayang. Kau sudah menerima hadiah dariku, gadis kecil?"
Mata Queen melebar. "Owh... jadi kau yang mengirim benda aneh itu. Jadi kau benar-benar tukang teror? Kau ingin membunhku karena aku orang asing di sini? Hey... aku tidak punya salah apa pun padamu. Bahkan aku tidak mengenalmu. Bawa kembali benda itu. Aku tidak akan menerimanya."
"Gadis kecil, kau sangat cerwet. Ambil dan lihat lebih dulu isinya. Aku rasa kau akan senang. Aku sengaja mengirim kejutan untukmu, gadis kecil."
Queen mendengus sebal. "Aku tidak peduli apa pun isinya. Bawa saja hadiahmu itu dan berhenti memanggilku gadis kecil. Aku sudah dewasa."
"Benarkah? Tapi dimataku kau masih terlihat kecil, bahkan dadamu masih rata."
What the....
"Brengsek! Jangan hubungi aku lagi."
Terdengar gelak tawa dari sana. Membuat Queen semakin kesal saja. Tanpa aba-aba Queen langsung memutus panggilan.
"Lelaki mesum! Menyebalkan. Dia bilang apa tadi? Dadaku rata?" Queen berjalan cepat menuju cermin. Lalu memperhatikan dadanya. Apa kata lelaki itu memang benar adanya, dadanya memang terlalu kecil jika dibandingkan teman-temannya yang lain. Bahkan nyaris tak terlihat karena dirinya memakai kaos kebesaran.
"Sial! Kenapa aku medengarkan kata-katanya sih? Memangnya kenapa kalau dadaku kecil huh? Akhh... lelaki sialan." Gadis itu benar-benar meras kesal sendiri.
Queen melempar ponselnya di atas kasur, lalu dirinya pun ikut terlempar di sana. Namun tiba-tiba saja ia jadi penasaran dengan hadiah di depan.
"Tidak, kau tidak boleh menerimanya. Bagaimana jika itu benar-benar bom? Lalu kau akan mati mengenaskan. Oh God! Aku belum mau mati semuda ini."
Queen terdiam seraya menatap langit-langit kamar. Namun rasa penasaran dalam hatinya begitu kentara. Menggoyahkan rasa gengsi dan takut dihatinya. Alhasil ia pun bergegas bangun untuk melihat benda itu.
__ADS_1
Ditatapnya benda berukuran besar itu yang kini sudah berpindah tempat di ruang tengah. Queen menggigit ujung bibirnya. Antara ragu dan penasaran bercampur menjadi satu.