
Pesta pernikahan Juna dan Faizah berlangsung dengan meriah. Konsep outdoor yang mereka pilih sepertinya benar-benar tepat karena para tamu terlihat sangat menikmatinya.
"Makasih ya, Mas? Kamu udah wujudin mimpi aku buat nikah di Paris. Seneng banget, Mas." Ucap Faizah memasang wajah penuh haru. Ditatapnya para tamu dan keluarga besarnya yang hadir. Mereka semua tampak bahagia, terutama orang tua Faizah yang terlihat gembira saat menyapa para tamu undangan. Tawa mereka membuat perasaan Faizah menghangat. "Udah lama banget aku gak liat Daddy ketawa, Mas."
Juna tersenyum kecil sambil terus memperhatikan wajah cantik istrinya. Faizah memang menawan jika dilihat dari sisi mana pun. Juna akui itu sekarang.
Kenapa dia makin cantik sih? Apa karena aku mulai nerima dia dan auranya semakin terpancar? Atau memang aku yang selama ini tidak terlalu memperhatikannya.
Faizah menoleh, lalu dahinya mengerut saat memergoki Juna terus memandangnya. "Kenapa mandang aku gitu banget, Mas? Jelek ya?" Paniknya.
Juna menggeleng. "Cantik."
Seketika pipi Faizah memanas. "Ah, bisa aja kamu, Mas. Pasti cantik lah orang aku dipoles. Tar kalau udah luntur balik lagi wajah aslinya." Faizah tertawa sendiri.
Juna sama sekali tidak peduli dan terus memandang wajah Faizah. "Gak capek?"
"Dikit," jawab Faizah.
"Kita istirahat aja dulu," ajak Juna. Belum sempat Faizah menjawab. Segerombolan orang yang cukup Juna kenal menaiki pelaminan. Siapa lagi kalau bukan sahabat-sahabatnya yang super rempong.
"Widih... manten kita udah mau pergi aja. Sabar dong bro? Udah unboxing juga, ngapain buru-buru balik?" Goda Mike mengedipkan matanya pada Faizah. "Aslinya lebih cantik ya? Hebat nyari daun muda."
Faizah menatap Juna karena tak mengenal mereka kecuali Zain dan istrinya.
"Ini Mike dan Laura, istrinya. Yang itu Daniel dan Maria, yang belakang saya rasa kamu tahu kan?" Juna memperkenalkan sahabat-sahabatnya pada sang istri.
Faizah mengangguk dan tersenyum pada mereka sambil menangkup kedua tangan di dada. "Mr. Michaelson, senang bisa bertemu dengan Anda lagi."
"Salam kenal, aku Rea. Selamat untuk kalian berdua, semoga langgeng terus ya? Baby juga sehat sampai lahiran." Rea tersenyum seraya mengusap perut Faizah.
"Terima kasih, Nyonya." Balas Faizah.
"Kok Nyonya sih? Panggil aja Mbak. Lagian kamu udah masuk circle kita sekarang. Iya kan teman-teman?"
"Ya." Jawab yang lain kompak. Faizah pun mengangguk paham. "Senang bisa mengenal kalian."
"Pokoknya selamat untuk kalian berdua, aku harap kali ini pernikahan si tua ini benar-benar utuh sampai anak cucu. Tolong dumaklumi jika si tua ini agak lain dari yang lain ya? Soalnya dia emang agak aneh." Ujar Maria panjang lebar.
Juna mendengus sebal, sedangkan Faizah malah tertawa mendengar itu, ia paling senang jika ada yang meledek suaminya. "Siap, Mbak. Saya pasti maklumin kok, udah tahu saya gimana pria tua ini, hehe."
"Duh... asik kayaknya istri kamu, Jun. Kapan-kapan ajak nongkrong dong. Atau ikutan arisan aja sama kita-kita deh." Ajak Laura.
"Emangnya boleh? Saya kan masih junior." Sahut Faizah.
"Gak masalah, gak ada batasan senior sama Junior. Banyak kok istri-istri pejabat yang lebih muda dari kamu. Padahal suaminya udah tua-tua. Masih mending Juna lah pokoknya." Imbuh Laura.
Faizah menatap suaminya meminta jawaban. Juna pun mengangguk. Seketika senyuman Faizah pun mengembang. "Boleh deh, saya ikutan gabung. Lagian gak ada kegiatan juga di rumah."
"Gitu dong, makin seru kalau ada anggota baru. Tar kita masukin ke grup arisan ya? Duh... jadi gak sabar buat ngegosip." Laura terlihat begitu antusias.
"Udah, tar aja bahas masalah arisan. Itu orang udah pada antri. Buruan salamin pengantinnya." Seru Rea saat melihat tamu yang lain mulia antri.
"Duh... foto dulu dong sebelum turun. Viewnya bagus banget nih, pinter ih nyari tempat." Heboh Maria seraya menyalami keduanya.
__ADS_1
Setelah memberikan ucapan, mereka pun berfoto lebih dulu. Bahkan pelaminan mendadak heboh karena mereka.
"Mas, temen-temen kamu udah tua tapi masih kocak ya? Kalau gini mah aku gak bakal minder. Malah seneng, bisa tanya masalah pengalan rumah tangga. Sekalian ah mau tanya cara nyenengin suami gimana, biar kamu gak bosan sama aku." Oceh Faizah saat mereka sudah turun.
"Hm." Hanya itu sahutan Juna. Lalu keduanya pun kembali menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
"Mas, capek. Kaki aku sakit banget, pinggang juga encok kayaknya." Keluh Faizah tidak berbohong jika tubuhnya mulai terasa remuk. "Katanya cuma undang suadar sama temen-temen doang. Kok banyak banget sih yang datang, Mas?"
"Kan mereka temen-temen saya, Izah. Temen bisnis."
"Hish... terus gimana dong? Aku udah capek banget." Rengek Faizah sambil memijat kakinya.
"Kita istrirahat aja dulu. Atau mau langsung ke hotel?"
"Gak enak kalau kita pulang, Mas. Tamunya masih banyak. Duduk aja dulu di sini, bilang sama petugasnya biar jangan ada yang ucapin dulu, beneran encok ini mah."
"Iya bawel." Juna pun langsung memberi kode pada petugas untuk menutup jalan sementara. Kemudian Juna pun ikut duduk.
"Mas, abis acara pengen dipijitin ya? Badan aku pegel semua."
"Iya." Sahut Juna seraya merapikan rambut istrinya.
"Mas, Halley kok gak keliatan sih? Perasaan tadi ada deh." Tanya Faizah saat tak melihat keberadaan anak tirinya.
"Jangan cemas, dia pintar jaga diri."
"Iya, Mas. Oh iya, emang dia gak punya pacar ya? Belum pengen nikah gitu? Kan umurnya udah dua lima. Aku aja yang baru dua puluh dua aja udah mau punya anak."
"Halley masih senang kerja, biarin aja. Kalau dia pengen nikah nanti juga pasti ngomong." Tanggap Juna.
"Kamu lapar?" Tanya Juna.
Faizah menggeleng. "Cuma haus aja, pengen minuman seger."
"Hm, saya ambil dulu."
Faizah mengangguk lagi. "Jangan lama ya? Gak enak sendirian di sini."
Juna mengangguk, lalu bangkit dari tempat duduk dan melangkah pasti menuju area resto. Tentu saja semua itu tidak lepas dari pandangan Faizah. Bumil itu tersenyum geli, masih tidak percaya secepat ini Juna menerima dirinya. "Semoga kamu beneran jatuh cinta sama aku, Mas. Aku pasti nunggu kok sampe kamu mau ngaku."
Tidak lama Juna pun kembali dengan segelas minuman yang terlihat segar, juga sepotong cake. Juna pun duduk ditempatnya semula. Lalu memberikan minuman itu pada istrinya. "Makan ini, jangan sampai perutmu kosong."
Faizah tersenyum bahagia karena Juna mulai menunjukkan perhatian padanya. "Makasih, Mas. Emang Mas gak haus?"
"Udah minum tadi."
"Suapin ya?" pintanya dengan manja.
Juna melihat kesekeliling. "Ini tempat ramai, Izah."
"Emangnya kenapa? Kan kita suami istri. Lagian orang pacaran aja sering suap-suapan." Dengan sengaja Faizah membuka mulutnya.
Juna menghela napas berat, lalu dengan pasrah ia menyuapi istri manjanya itu. Tentu saja hal itu mendapat sorakan meriah dari teman-teman dan saudara mereka.
__ADS_1
Faizah tertawa kecil saat melihat wajah bahkan telinga Juna memerah. "Cie... ada yang blushing nih. Malu ya Mas nyuapin istri sendiri?"
Juna tidak menyahut dan kembali menyuapi istrinya. Bahkan tanpa ragu ia ikut menyuapi dirinya sendiri.
"Eh, gak jijik Mas? Itu kan bekas mulut aku."
"Kalau saya jijik, gak mungkin saya sering cium bibir kamu, Izah." Jawab Juna frontal.
"Hehe, iya juga sih. Bahkan bukan cuma bibir atas kan Mas, yang bawah juga kamu suka."
Juna melotot saat mendengar itu. "Mulut kamu, Izah. Sekali lagi ngomong gitu saya jahit."
Faizah tertawa pelan. "Abis kamu yang duluan mancing sih. Tapi kan bener, kamu juga suka yang bawah. Sampe bikin aku kelojotan loh. Duh... jadi pengen, Mas. Tar malam ya?"
Uhuk!
Juna tersedak air liurnya sendiri mendengar pertanyaan sang istri.
"Ck, pelan-pelan dong, Mas. Nih minum dulu." Faizah memberikan sisa minumannya pada Juna. Lalu tanpa berpikir lagi Juna langsung meneguknya.
Faizah tersenyum. Katanya kalau suami minum bekas istri bakal nurut. Mudah-mudahan aja beneran, hehe.
"Mas, acaranya sampe sore atau malam? Gak sabar pengen tiduran."
Juna menatap Faizah tajam. "Yang minta diadakan pesta siapa huh? Jadi nikmati aja."
Faizah mengerucutkan bibirnya. "Kan gak tahu bakal semeriah ini. Padahal acaranya di luar negeri. Tapi temen-temen kamu banyak banget yang datang."
"Uang mereka banyak." Jawab Juna apa adanya.
"Iya sih, kayak kamu kan? Banyak banget uangnya, sampe buat acara segede ini. Emang selama ini kamu gak pernah beli apa-apa ya?"
"Enggak, pengeluaran saya cuma buat Halley dan biaya hidup sendiri. Buat keluarga juga gak seberapa."
Faizah terdiam sejenak. "Maaf ya, Mas. Pasti kamu kesel ya karena aku banyak minta ini itu? Pengeluaran kamu bulan ini pasti jadi bengkak karena aku."
Juna menarik napas pendek. "Kamu istri saya, Izah."
"Mas, gak nyesel kan buang uang buat acara kayak gini?"
"Emang kalau saya nyesal kamu mau ganti rugi?"
Faizah nyengir. "Enggak, hehe. Aku kan gak kerja, Mas. Dapat uang dari mana buat ganti rugi?"
"Terus buat apa nanya? Dasar."
Faizah tersenyum. "Makasih, Mas. Aku bahagia pake banget."
"Hm."
"Hm doang? Gak mau bilang yang lain kek? Yang lebih romantis kek."
"Gak perlu kayaknya."
__ADS_1
"Ish... ngeselin." Faizah menyebikkan bibirnya karena kesal. Sedangkan Juna tersenyum tipis melihat itu.
Tbc....