
Setiap di penghujung minggu, Queen selalu berkeliling kota dengan berjalan kaki. Hitung-hitung mencari hihuran dan menghilangkan rasa penat setelah seminggu penuh belajar. Menjadi mahasiswa tahun pertama di negara asing, memaksanya untuk menyesuaikan diri secepat mungkin. Beruntung ia bisa dengan cepat menguasai beberapa jalanan di kota. Meski belum sepenuhnya ia kuasai.
Queen terlihat menikmati perjalanannya. Saat ini gadis itu terlihat begitu santai, menunggu lampu penyeberangan berubah hijau. Hembusan angin berhasil meniup rambut indahnya sampai melambai seolah memanggil siapa pun yang melihatnya. Seulas senyuman tipis ia terbitkan saat melihat seorang ibu tengah mengajak bayi dalam stoller bicara.
Dan di saat bersamaan, sebuah mobil mewah melintas pelan. Sang pemilik di dalamnya sempat menoleh ke arah Queen. Awalnya ia mengabaikan keberadaan gadis itu. Namun sedetik kemudian ia menoleh lagi. Seketika matanya terpatri pada gadis cantik itu.
"Siapa gadis itu?" Tanpa sadar ia mengeluarkan pertanyaan konyol. Sang asisten pun menoleh ke belakang.
"Siapa yang Anda maksud, Tuan muda?"
Lelaki itu mengibaskan tangannya. "Lupakan. Sepertinya mataku salah lihat."
"Baik, Tuan."
Lelaki asing itu tidak benar-benar melupakan wajah berseri Queen. Bahkan tanpa sadar ia tersenyum. Namun kemudian ia tersadar dan kembali memasang wajah datar. Sang asisten yang melihat itu cuma bisa menggeleng.
Kembali pada Queen, gadis itu berhasil menyeberang dan kembali melangkahkan kaki tanpa arah. Saat ini ia benar-benar ingin berjalan-jalan sampai kakinya pegal.
Lalu kaki jenjang itu pun berhenti tepat di depan sebuah butik. Bibirnya melengkung sempurna saat melihat wedding dress yang membuatnya kembali mengingat sang Uncle. "Bagaimana rasanya jika aku bisa memakai gaun itu dan berdiri di sisinya? Pasti sangat menyenangkan."
Setelah puas memandangi gaun itu, Queen melanjutkan langkahnya. Dan berakhir di sebuah toko buku. Memilih beberapa buku bisnis dan novel romantis.
"Ya ampun, ini buku yang aku cari." Queen terlihat senang saat menemukan sebuah buku bisnis limited edition yang selama ini ia cari. Namun pergerakannya harus tertahan karena seseorang menyerobotnya lebih dulu. Spontan Queen menoleh. Seorang lelaki berpakaian kasual yang tadi merebut buku pun sempat kaget melihat Queen.
Gadis ini. Jadi ini yang dinamakan jodoh huh? Menarik.
"Hey, aku yang lebih dulu melihatnya." Seru Queen tidak terima.
"Tapi aku yang lebih dulu mengambilnya." Ujar lelaki itu tersenyum tipis dan langsung bergegas menuju kasir. Masih tidak terima, Queen mengejar lelaki itu.
"Hey... Tuan. Apa Anda pernah diajarkan sopan santun? Penampilanmu sama sekali tidak menceriminkan sifatmu. Dasar penyerobot." Cibir Queen sangat kesal. Namun lelaki itu seolah mengabaikannya.
Queen yang tidak ingin memperpanjang masalah pun bergegas menuju kasir yang lain. Lalu membayar buku yang sudah ia pilih. Ia melirik lelaki itu sekilas dan ternyata lelaki itu pun tengah memperhatikannya. Queen memasang wajah tidak suka yang begitu kental dan bergegas pergi dari sana usai pembayaran.
"Menarik." Lelaki itu pun beranjak pergi meninggalkan toko buku. Bahkan ia mengikuti kemana Queen pergi. Sesekali ia tersenyum saat mendengar Queen menggerutu yang sudah pasti dutujukan untuknya.
Lelaki asing itu pun mempercepat langkah dan berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan Queen. Membuat gadis itu kaget setengah mati. "Hey, kau mengikutiku?"
"Tidak, kebetulan kita searah."
"Cih, modus. Dari mana kau tahu kita searah huh?"
"Buktinya kau masih berjalan disisiku. Jadi aku pikir kita searah." Sahut lelaki itu dengan nada santai.
Queen sangat melas meladeni lelaki asing yang super menyebalkan itu dan mempercepat langkahnya. Namun sepertinya langkah lelaki itu mampu mengimbanginya.
"Untukmu saja, aku berubah pikiran." Lelaki itu memberikan buku tadi pada Queen.
"Maaf, aku tidak menerima barang dari orang asing."
Lelaki itu tersenyum. "Namaku Sean Cameron. Siapa namamu?"
__ADS_1
Queen sama sekali tidak menjawab.
"Jadi kau gadis sombong huh?"
Queen langsung menoleh dan melayangkan tatapan membunuh pada lelaki itu. "Apa motifmu huh? Aku bisa mencium niat terselubung dalam dirimu."
"Jangan berburuk sangka dulu, gadis kecil. Aku hanya ingin memperkenalkan diri agar kau tidak menganggapku lelaki asing lagi."
"Kau pikir aku peduli?" Queen mempercepat langkahnya untuk menghindari lelaki asing menyebalkan itu.
"Gadis kecil, apa kau yakin tidak ingin buku ini?"
Queen yang mendengar itu langsung menahan langkahnya. Lalu berbalik dan melayangkan tatapan permusuhan yang kental. Sebenarnya ia sangat membutuhkan buku itu sebagai tugas kuliahnya. Hanya saja ia tidak mungkin menerimanya begitu saja, bagaimana jika lelaki itu hanya modus dan ingin merampok dirinya?
"Katakan berapa harganya? Biasanya lelaki sepertimu menggunakan modus seperti ini untuk memeras seseorang." Sinis Queen. Mendengar itu lelaki bernama Sean pun tertawa. Lalu melangkah pasti mendekati Queen.
"Memeras bukanlah profesiku, gadis kecil."
"Berhenti memanggilku gadis kecil, brengsek." Kesal Queen.
"Kalau begitu beri tahu siapa namamu, gadis kecil."
Queen tidak menjawab dan hanya mendengus sebal.
Sean mengangkat buku ditangannya ke udara. "Tawaranku masih berlaku. Aku hanya ingin tahu namamu sebagai syaratnya."
Queen mendelik, lalu meninggalkan lelaki itu dengan kesal. "Menyebalkan. Memangnya dia pikir siapa huh? Berani sekali menindasku."
...Sean Cameron...
****
Queen melempar barang belanjaanya sembarang di atas kasur. Lalu ikut menjatuhkan diri di sana. "Brengsek. Membuatku kesal saja. Dasar penipu, penampilannya saja terlihat seperti orang berwibawa. Tapi akalnya tidak lebih dari seorang penipu. Beruntung aku tidak sebodoh itu. Huft... lelah sekali."
Queen mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Lalu menghubungi Ella. Tidak lama wajah Ella pun memenuhi layar ponselnya. Queen cukup kaget karena Ella masih berada di atas ranjang dengan bagian dada dan leher yang dipenuhi bercak merah.
"Hai... ada apa, honey?"
"Apa yang sedang kalian lakukan, Ell?"
Ella memutar matanya malas. "Hanya bersenang-senang." Wanita itu mengarahkan kamera pada Bara yang ternyata bertelanjang dada. Lelaki itu terlihat pulas dalam tidurnya.
"Dia lelah setelah olahraga malam," imbuhnya sambil terkikik geli. Queen yang mendengar itu mendengus sebal.
"Terserah kalian ingin melakukan apa. Apa kau sudah mendapat buku itu?"
Ella mengangguk. "Kau sudah dapat?"
Queen menggeleng. "Ell. Aku gagal mendapatkan buku itu. Aku rasa Profesor akan menghukumku kali ini. Aku sudah mencari buku itu kesetiap toko. Tapi tidak ada stok yang tersisa. Apa kau tahu, aku hampir medapatkannya tadi. Tapi pria asing menyebalkan itu merebutnya dariku."
__ADS_1
Ella tampak mengernyit. "Pria asing?"
"Ya, dia itu penipu hebat."
"Lain kali kau harus behati-hati. Kejahatan begitu marak akhir-akhir ini."
"Hm." Queen mengangguk.
"Siapa, baby?" Suara serak milik Bara pun mulai terdengar.
"Queen, dia belum mendapatkan buku itu."
"Hm." Sahut Bara bergelayut manja di leher Ella. Bahkan tanpa malu ia menciumnya di depan Queen yang polos.
"Awh... geli, sayang. Queen melihat kita."
Rengek Ella.
Queen medengus sebal.
"Akh... jangan lagi. Aku masih lelah, baby."
Seketika Queen kaget saat mendengar d*s*h*n yang Ella keluarkan. Tanpa banya berpikir ia pun memutuskan panggilan sepihak. Bisa-bisa matanya kotor jika terus melihat adegan tak senonoh yang mereka lakukan.
Queen menghela napas berat. "Bosan sekali." Ia bangkit dari posisinya dan beranjak menuju balkon untuk melihat penampakan kota. Hambusan angin sejuk menyapa wajah cantiknya dengan lembut. Setidaknya hal itu bisa menghibur kesepiannya saat ini.
Saat sedang asik menikmati pemandangan, terdengar suara bel pintu. Queen mengerut bingung. Pasalnya ia tidak menbuat janji dengan siapa pun hari ini. Dengan langkah santai ia pun bergegas untuk melihat siapa gerangan yang mengganggu kesenangannya. Sebelum menbuka pintu, Queen melihat orang itu dari monitor. Dan ternyata itu seorang kurir. Queen bergegas membuka pintu.
"Nona Queen Michaelson?"
"Ya."
"Ini ada paket untuk Anda, mohon tanda tangan bukti penerimaannya."
Queen pun menandatanginya.
"Ini paketnya." Lelaki paruh baya itu memberikan sebuket bunga mawar merah dan sebuah kota kado Queen. Membuat Queen terheran-heran.
"Thank you." Ucap Queen.
"Mari, Nona." Kurir itu pun langsung pergi.
Queen menutup pintu kembali dan beranjak menuju ruang tengah. Lalu mengecek nama pengirimnya. Namun ia tidak menemukan nama si pengirim. Karena penasaran, ia pun membuka pita kotak kado itu dan melihat isinya. Sontak matanya membulat kala melihat buku bisnis yang ia ketahui lebih mahal dibanding dengan yang ia perebutkan dengan lelaki asing tadi. Ia tahu untuk mendapatkan buku ini harus memesan khusus dari sang penulis.
"Siapa yang mengirim ini?" Queen mengambil sepucuk surat yang ada di dalamnya.
Aku harap kau senang. Buku ini lebih lengkap dari pada buku yang kau cari. Pakai sesukamu. Sampai berjumpa lagi, gadis kecilku.
^^^Sean Cameron^^^
"Oh God! Bagaimana dia bisa tahu alamatku? Siapa lelaki ini sebenarnya? Apa dia seorang hacker?" Queen langsung menutup kado itu dengan tergesa. Lalu menaruhnya di atas meja dengan perasaan yang berkecamuk. Digigitnya bibir bawah karena takut, bagaimana jika lelaki itu memiliki niat buruk?
__ADS_1