Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Terima kasih sudah mengerti aku


__ADS_3

Sean merasa heran sendiri karena Queen kembali diam. Bahkan gadis itu langsung masuk ke rumah tanpa menunggunya.


"Apa aku salah bicara?" Gumam Sean yang masih berada di dalam mobil. Lelaki itu menghela napas berat dan begegas turun dari mobil. Lalu masuk dengan segenap pertanyaan yang masih menghiasi kepalanya.


"Baby." Sean mengetuk pintu kamar kekasihnya pelan. Takut mengganggu penghuni yang lainnya. Namun sayang, tidak ada sahutan dari dalam.


"Sean, kau sedang apa?" Tanya Rea menatap calon menantunya bingung.


Sean pun menoleh. "Ah, aku ingin bicara dengannya sebentar, Mom."


"Loh, bukannya kalian baru sampai. Ada apa, bertengkar?"


"Tidak, Mom. Hanya saja dia mendedak jadi pendiam, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja."


Bukannya cemas, wajah Rea malah berubah ceria. "Apa jangan-jangan... ini pertanda kehamilan?"


"Apa?"


"Iya, apa tadi dia muntah-muntah atau mengeluh pusing?"


Sean yang masih bingung pun cuma menggeleng.


"Ya Tuhan, kau harus membawanya periksa besok. Mungkin saja dugaanku benar. Ya ampun, jadi gak sabar buat nimang cucu."


"Cucu? Maksudmu dia hamil?"


"Iya, Sean. Kenapa kau jadi bodoh sih."


Sean tertawa kecil. "Mana mungkin Mom, kita melakukan itu belum genap dua minggu. Dan...."


"Apa kau menembaknya di dalam saat pertama kali?"


Sean mengangguk pelan.


"Lalu apa lagi yang kau ragukan huh? Ayok bawa dia ke rumah sakit, pastikan jika dugaanku benar."


Sean tersenyum. Ia tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. "Baiklah, besok aku akan membawanya untu periksa."


"Bagus. Ya ampun, aku harap dugaanku benar. Queen hamil, itu artinya cucuku akan segera hadir. Ah... kau satu-satunya menantuku yang tampan, Sean." Rea mencubit pipi Sean gemas, kemudian beralu pergi sambil tersenyum lebar.


Sedangkan Sean, ia juga ikut tersenyum. Tidak bisa dipungkiri kebahagiannya akan meluap-luap jika apa yang dikatakan Rea benar-benar terjadi. Dia akan memiliki seorang anak, oh... itu impiannya saat ini.


Di dalam kamar, Queen merendam dirinya di dalam bathup tanpa melapas pakaian.


"Apa aku harus membicarakan ini pada dokter? Bisakah aku hamil dalam waktu dekat meski aku sudah suntik progestin? Hiks, aku tidak mungkin membuatnya kecewa. Tapi aku belum siap hamil."


Kepalanya berdenyut sakit karena terus memikrikan hal itu. Ia tidak pernah memikirkan jika dirinya harus punya anak secepat ini. Usianya masih delapan belas. Harusnya ia masih bebas bermain seperti kebanyakan orang.


Satu jama lamanya Queen meremdam diri dalam air dingin. Sampai tubuhnya pun ikut menggigil.


"Ya, aku akan bicara padanya." Queen memandang wajah pucatnya di balik cermin. Seulas senyuman terbit di bibirnya saat melihat masih ada sisa bercak merah yang menghiasi dadanya. Sebuah karya indah yang dibuat oleh kekasihnya.


Queen mengelus perutnya yang rata. "Bagaimana bisa tumbuh bayi di dalam perut sekecil ini. Apa dia bisa bernapas?" Gadis itu terkekeh sendiri. Sampai ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu.


Queen membuka pintu perlahan, dan yang ia lihat adalah wajah tampan sang kekasih.


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya yang langsung masuk dan mengunci pintu.


"Ya." Queen menatap heran wajah Sean yang berseri-seri. "Ada apa?"


Sean tersenyum lebar dan langsung memeluk Queen yang hanya mengenakan sehelai handuk dengan rambut yang masih basah.


"Besok kita ke rumah sakit."


"Apa?" Queen mendorong Sean karena kaget. "Buat apa ke rumah sakit?"


"Apa kau merasa ada yang aneh huh? Seperti pusing atau mual?"

__ADS_1


Queen menggeleng. "Ada apa denganmu, Sean?"


"Aku pikir kau sudah hamil."


"Apa? Tidak mungkin, Sean."


Sean mengerut. "Kenapa tidak mungkin? Sejak pertama kita melakukannya tanpa pengaman. Kemungkinan besar kau hamil."


Queen menggeleng. "Aku tidak mungkin hamil, Sean. Karena aku sudah suntik progestin. Maafkan aku."


Deg!


Jantung Sean seakan berhenti berdetak mendengar pengakuan Queen.


"Maafkan aku."


Sean tertawa getir. "Kau bercanda kan?"


"Tidak, aku pergi ke rumah sakit sehari setelah kita melakukan itu yang pertama kali. Aku belum siap hamil, Sean."


Sean terdiam beberapa saat. "Kenapa kau tidak diskusikan ini denganku lebih dulu huh?"


Queen menatap netra biru Sean begitu dalam. Ia bisa melihat kekecewaan di mata lelaki itu.


"Apa kau sebegitu tidak inginnya memiliki anak bersamaku, Queen?"


Queen menggeleng dan langsung berhambur dalam pelukan Sean. "Maafkan aku, Sean. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Aku hanya belum siap memiliki anak."


Sean mengusap kepala Queen dengan lembut. "Dasar bodoh, aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena hal sesepele ini."


Queen mendongak, menatap wajah Sean lekat. "Jadi kau tidak marah?"


Sean menggeleng. "Aku tidak akan memaksamu, aku tahu usiamu masih sangat muda. Maaf jika aku terlalu memaksamu."


Queen tersenyum lega. Dikecupnya bibir Sean dengan lembut. "Bagaimana bisa aku bisa jahat padamu, Sean. Kau lelaki baik yang selalu mengalah dan memahamiku. Bagaimana bisa aku membuatmu kecewa? Aku berjanji, dalam hidipku aku hanya akan mencintaimu."


Queen terdiam sejenak. "Terima kasih sudah mengerti aku, Sean."


Sean mengangguk. Dan ia baru sadar jika Queen hanya mengenakan handuk kecil yang tidak sepenuhnya bisa menutup bagian dada kekasihnya.


"Aku rasa kau harus cepat berpakaian, sayang. Sebelum juniorku bangun dan meninta hal lebih."


Queen tertawa renyah. "Baiklah, tunggu sebentar."


Sean mengangguk dan memilih berbaring di ranjang.


Queen mengenakan kaos kebesaran dan celana pendek. Sean yang sejak tadi memperhatikan kekasihnya yang sedang mengeringkan rambut cuma bisa tersenyum.


"Kenapa kau menatapku seperti itu huh? Apa aku cantik?" Tanya Queen membalas tatapan Sean di balik cermin.


"Ya, kau selalu cantik di mataku."


Queen tertawa dan merangkak naik ke atas pembaringan. Lalu dipeluknya lelaki tampan itu seerat mungkin. "Aku sangat mengantuk, peluk aku sampai aku tertidur."


"Aku juga mengantuk." Sean mengecup pucuk kepala Queen penuh cinta. Lalu keduanya pun terlelap dengan posisi saling berpelukan.


****


Queen terbangun dari tidurnya karena suara deringan ponsel miliknya. Dengan mata yang masih terasa berat. Queen meraba-raba atas nakas untuk mencari keberadaan ponselnya.


Mata Queen terbuka saat melihat nama Ella tertera di layar ponselnya, dan wanita itu ingin melakukan video call. Dengah setengah malas Queen menggeser tanda terima. Dan terpampanglah wajah Ella yang sedang tersenyum lebar.


"Ada apa denganmu?" Tanya Queen.


"Cobak tebak aku punya kabar apa?"


"Kabar buruk mungkin," jawab Queen sekenanya.

__ADS_1


"Ck, bukan, beib. Tapi kabar baik."


"Hm... apa itu?"


"I am pregnant, Queen. Aku akan memiliki anak."


"Apa?" Kaget Queen yang berhasil membuat Sean terbangun.


"Ada apa, sayang?" Tanya Sean dengan suara seraknya yang begitu seksi.


"Bukan apa-apa, aku sedang bicara dengan Ella." Jawab Queen yang disambut anggukan oleh Sean. Lalu lelaki itu pun tidur kembali dengan tangan yang menyelusup masuk ke dalam kaos Queen.


"Beib, kau sedang bersama Sean?" Tanya Ella dengan wajah berbinar.


"Ya. Bagaimana kau bisa hamil, Ell?"


Ella memutar bola matanya malas. "Pertanyaan apa itu? Tentu saja karena aku rajin berolah raga dengan kekasihku. Oh... jangan sok polos, Queen."


Queen tersenyum. "Baiklah, lupakan pertanyaanku tadi. Sekarang kembali pada kehamilanmu. Sejak kapan kau hamil?"


"Dokter bilang usianya baru dua minggu. Dan harus kau tahu, Queen. Setiap pagi aku mual sampai lemas. Hah, ternyata tidak mudah menjadi seorang ibu. Dokter juga mengatakan aku dan Bara tidak diperbolehkan dulu berhubungan intim. Dan itu menyiksaku."


"Dasar mesum, aku harap anakmu tidak semesum dirimu, Ell. Tapi... apa Bara tidak marah kau hamil?"


"Justru dia sangat senang, Queen. Dia terus menangis setelah tahu aku hamil anaknya."


Queen tersenyum. Apa Sean juga akan sebahagia itu jika aku hamil?


Tiba-tiba saja Queen memekik kaget karena Sean menggoda kewanitaannya. "Sean! Aku sedang menerima telepon."


Sean tersenyum jahil, bahkan tangannya terus menyelusup masuk ke dalam kaos kebesaran Queen.


"Ada apa?" Tanya Ella yang terlihat sedang mengunyah sesuatu.


"Tidak ada, apa yang kau makan?"


"Es krim."


"Kau ngidam huh?"


"Anggap saja seperti itu, sejak kemarin tidak ada satu pun makanan yang bisa masuk ke perutku. Aku sangat tersiksa."


"Sudah tanyakan itu pada dokter?"


Ella mengangguk. "Dokter hanya memberikan vitamin."


Queen menghela napas berat. "Apa sebegitu menderitanya saat hamil?"


"Ya, bagiku seperti itu. Rasanya kepalaku terbelah dua dan perutku diperas karena terus mual."


Queen menggigit ujung bibirnya. Ya Tuhan, aku jadi takut untuk hamil.


"Lupakan itu, sekarang kapan kau akan menikah?"


"Minggu depan."


"Beib, doakan aku baik-baik saja dan bisa datang di pesta pernikahanmu."


"Ya, aku sangat berharap kau hadir."


"Ya, aku akan usahakan datang."


"Hm."


"Ya sudah, lanjutkan bersenang-senangnya. See you, darling."


"See you too."

__ADS_1


Panggilan mereka pun berakhir. Queen meletakkan ponsenya ketempat semula. Kemudian matanya kembali terpejam karena masih sangat mengantuk.


__ADS_2