Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Tamu Spesial


__ADS_3

"Aaaaa...." Queen berteriak sambil memukuli King sangking kesalnya. "Dasar adik sialan."


King berusaha menghindari pukulan Kakaknya. Namun apalah daya ruang di dalam mobil membatasi pergerakkannya.


"Ampun... Kak. Aku melakukan itu juga demi kebaikanmu." King mulai terpojok.


"Kebaikan matamu. Sekarang siapa yang akan bertanggung jawab jika dia beneran datang?" Histeris Queen.


"Jangan cemas, Mommy ada." Sahut King dengan santainya. Tentu saja hal itu membuat Queen semakin murka.


"Aku benar-benar ingin membunuhmu, King." Geram Queen. Dengan perasaan kesal ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sontak King kaget dan langsung berpegangan erat.


"Kak, jangan gila. Kita masih muda, aku belum siap mati."


"Kau belum siap mati? Tapi kau membuatku kesal setengah mati. Hukumanmu harus setimpal."


King menelan air ludahnya dengan susah payah. Ia tahu kenekatan Kakaknya itu. Ditatapnya jalanan yang lumayan ramai. Bisa saja mobil yang mereka kendarai menabrak salah satu di antara kendaraan yang berlalu lalang jika sedikit saja membuat kesalahan. Tetapi Queen mampu melewati satu per satu kendaran tanpa kesalahan sedikit pun.


"Okay, aku minta maaf soal tadi."


"Maafmu tidak akan mengubah semuanya." Queen tersenyum miring saat melihat ekpresi ketakutan di wajah adiknya. Ia rasa hukuman ini cukup setimpal. Queen menambah kecepatan mobilnya. Sampai terdengar suara raungan mobil polisi yang mengejarnya.


"Kau gila! Polisi mengejar kita."


"Tutup matamu jika kau takut." Ledek Queen mengemudikan mobilnya dengan lihai. Ia tersenyum penuh arti sambil sesekali melihat ke arah spion. Memastikan mobil polisi tidak bisa mengejarnya.


"Dari mana kau belajar balapan? Sialan! Kakiku lemas." Umpat King mulai memejamkan mata. Queen yang melihat itu malah tertawa puas.


"Kau harus menjadi anak nakal supaya bisa mengusai dunia. Mainmu kurang jauh, adik kecil."


"Berhenti mengoceh, aku rasa Daddy akan membunuhmu karena membuat masalah dengan polisi." Oceh King masih dengan mata terpejam.


"Itu akan terjadi jika mereka bisa menangkap kita."


"Mereka tidak sendiri."


"Buka matamu, kita sudah sampai di apartemen." Titah Queen dengan santainya. Seketika King pun membuka matanya. Benar saja, kini mereka sudah berada di basement. Sontak King pun bergumam tak percaya.


"Bagaimana kau melakukannya? Di mana polisi tadi?"


"Mereka terjebak lampu merah." Sahut Queen turun dari mobil. Meninggalkan King yang masih mengumpulkan nyawanya.


"Hufftt... aku rasa dia lebih gila dari Mommy." King turun dari mobil sang Kakak dengan kaki yang masih menyisakan sedikit getaran. Queen benar-benar gila memang.


"Ada apa, King? Kenapa wajahmu pucat? Tadi Kakakmu datang dengan wajah ceria." Tanya Rea saat melihat ekpresi lucu putranya.


"Mom, kau harus tahu jika...."

__ADS_1


"King! Aku butuh bantuanmu," teriak Queen yang berhasil menahan mulut King yang hendak mengadu.


"Pergilah, sebelum dia membuat keributan." Titah Rea tersenyum geli dengan tingkah anak-anaknya itu. King berdecak kesal.


Bahkan dia sudah memporak-porandakan kota, Mom. Omel King dalam hati. Kemudian beranjak menuju kamar sang Kakak.


****


Malam harinya semua orang benar-benar sibuk untuk menyambut kedatangan Sean. Terutama Rea, ia lebih sibuk dari yang lainnya. Bahkan ia sampai rela turun tangan sendiri untuk membuat beberapa hidangan lezat. Meski Zain juga ikut andil membantunya.


"Pastikan ruangan wangi. Makanan juga sudah hampir selesai. Apa lagi kira-kira?" Tanyanya saraya mengatur hidangan di atas meja.


"Mom, tidak perlu berlebihan, dia hanya temanku." Sahut Queen duduk di sofa dengan malas.


Rea tersenyum penuh arti. "Tidak perlu protes, bersiaplah. Buat dirimu secantik mungkin."


"Mom, ini hanya acara makan malam saja. Bukan lamaran."


"Tetap saja, kau harus tampil cantik."


Cih, bahkan dia sudah tahu kegilaanku.


"Cepat ganti pakaianmu, Queen." Geram Rea saat melihat putrinya masih saja santai. Bahkan Queen hanya mengenakan sweater kebesaran kesukaannya.


"Tidak perlu, seperti ini sudah cukup. Dia tidak akan keberatan."


"Mom, tolong jangan mengatakan hal yang aneh-aneh padanya. Kita murni berteman. Aku baru mengenalnya seminggu yang lalu."


"Tapi dia menyukaimu bukan? Bukankah itu bagus? Dia sangat cocok untukmu. Selain tampan, dia juga punya segalanya."


"Mom." Queen memperingati.


Rea berbalik, menatap Queen penuh arti. "Mommy tahu kamu belum bisa melupakan Juna. Tapi apa salahnya membuka hati untuk orang lain. Juna sudah bahagia dengan pilihannya."


Queen terdiam. Rea yang melihat itu pun berinisiatif mendekati putrinya.


"Mommy tahu ini berat. Bahkan Mommy pernah ada di posisimu saat ini. Tapi sayangnya kamu tidak seberuntung Mommy. Sekarang... ada lelaki yang tulus mencintaimu. Cobalah membuka hati, tidak perlu terburu-buru. Mommy yakin perasaan itu akan berubah. Sean anak yang baik. Mommy dan Daddy sudah menyelidiki status dan sikapnya selama ini."


Queen memeluk sang Mommy erat. "Bagaimana jika aku tidak bisa melupakannya, Mom?"


"Setidaknya kamu sudah berusaha, sayang."


Queen mengangguk kecil.


"Ya sudah, bantu Mommy sedikit lagi ya?"


"Hm." Queen mengangguk lagi. Keduanya pun kembali melanjutkan perkerjaan.

__ADS_1


Tiga puluh menit berikutnya, Sean pun tiba. Lelaki itu membawa beberapa buah tangan. Tentu saja Rea dan Zain menyambutnya dengan kehangatan.


Saat ini... mereka semua sudah berkumpul di ruang makan. Selama makan malam berlangsung. Sean terus melirik ke arah Queen. Baginya gadis itu terlihat sangat cantik meski hanya mengenakan kaos kebesaran dengan rambut di cepol asal.


"Maaf jika semuanya terkesan sederhana." Ucap Rea membuka pembicaraan.


"Tidak, ini sudah luar biasa. Makanannya sangat enak." Sahut Sean tersenyum manis.


"Apa lagi ada gadis cantik di depan mata, iya kan?" Sambar King yang berhasil mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya. Terutama Queen tentunya.


Sean tersenyum lucu. "Ya, itu salah satunya. Malam ini dia sangat cantik."


Queen melotot saat mendengar pujian Sean untuknya. Berbeda dengan Rea dan Zain. Keduanya justru tertawa renyah.


"Padahal Mommy sudah memintanya berganti pakaian tadi, tapi dia bilang seperti ini sudah bagus. Mau bilang apa lagi?"


"Mom." Queen memperingati. Wajahnya mulai merah karena menahan rasa malu.


"Seperti ini saja sudah cantik, dia jauh lebih alami." Ujar Sean memberikan senyuman termanis. Sontak Queen pun memberikan tatapan tajam pada lelaki itu. Yang di tatap pun malah tersenyum geli.


"Jadi... bagaimana hubungan kalian? Lanjut atau tidak?" Tanya Rea begitu semangat.


"Mom...."


"Tergantung putri Anda, Nyonya." Sela Sean ikut menggoda Queen.


"Ck, panggil aku Mommy. Supaya nantinya sudah terbiasa." Protes Rea.


Sean pun mengangguk canggung.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Aku dengar kau membuka cabang baru?" Kali ini Zain mulai mengeluarkan suara.


Sean pun memusatkan perhatian pada Zain. "Ya, jika ada waktu, aku mengundang kalian semua pada acara perayaan malam lusa secara resmi. Kehadiran kalian akan menbuatku merasa terhormat."


Mendengar itu Rea pun langsung menyenggol lengan suaminya. Berharap Zain menerima undangan resmi itu. Kesempatan langka bisa menghadiri pesta besar seorang billionaire yang cukup famous hampir di pelosok dunia.


"Dengan senang hati, kami menerima undanganmu. Kami semua pasti hadir." Sahut Zain yang berhasil membuat Queen kaget karena lusa adalah jadwal kepulangan mereka ke Indonesia.


"Dad, lusa kalian harus pulang." Queen mencoba mengingatkan.


"Itu masalah gampang. Kita bisa mengundurnya. Tidak baik menolak tawaran bagus, sayang." Kata Zain begitu mantap.


"Senang mendengarnya." Sahut Sean. Lelaki itu pun tersenyum penuh kemenangan. Ditatapnya si gadis yang terus merengut.


Menggemaskan.


"Terserah kalian saja." Ketus Queen melanjutkan makannya yang sempat terpotong meski hatinya dongkol karena sikap orang tuanya yang begitu terang-terangan.

__ADS_1


__ADS_2