Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Who are you?


__ADS_3

Rea menyelipkan sebuah belati kecil dalam holster yang terpasang di bagian paha. Kemudian merapikan gaun hitam yang membungkus tubuh seksinya. Tidak lupa sebuah topi bundar yang menutupi kepala indahnya.


"Kau siap?" Tanya Aletta memasuki kamar Rea. Wanita itu juga sudah terlihat seksi dengan pakaian serba hitam. "King Lapendos sudah menunggumu. Aku harap kau tidak melakukan kesalahan kali ini. Apa kau yakin dengan keputusanmu? Sebaiknya kau pakai saja rencana Daddy untuk menyerang mereka."


"Kau tenang saja, aku punya cara sendiri untuk membunuhnya. Sudah cukup kita kehilangan anggota."


"Aku harap kau tidak membiarkannya menyentuhmu. Atau mungkin kau ingin mencoba batang baru?"


Rea mendengus sebal, lalu menyambar sling bag miliknya. "Ayo pergi. Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya menghembuskan napas terakhir."


Aletta tertawa renyah. "Kau selalu saja berambisi untuk membunuh. Aku harap baby tidak sekejam dirimu."


"Itu lebih baik, supaya dia tidak mudah ditindas." Sahut Rea berlalu meninggalkan kamar.


Lagi-lagi Aletta tertawa seraya mengekori sahabatnya itu.


"Perutmu mulai membuncit. Aku harap lelaki tua itu tidak menyadarinya." Ujar Aletta ketika mereka menaiki mobil yang sudah disiapkan.


"Hm." Rea mengusap perutnya dengan mimik wajah datar. Aletta tersenyum penuh arti, kemudian melesatkan mobil mewah itu dengan kecepatan penuh.


Tidak butuh waktu lama mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah tempat yang sudah ditentukan. Tanpa banyak bicara Rea pun turun dari mobil, ia tersenyum penuh arti saat melihat lelaki berusia empat puluhan yang sudah menunggunya dan duduk di kap mobil.



Perlahan tapi pasti Rea menghampiri lelaki itu. Menatapnya penuh permusuhan.


"Lady Amora, aku tidak pernah menyangka kau datang sendiri ke hadapanku. Apa kau mengakui kekalahanmu dan bersedia menjadi milikku?"


Rea tersenyum miring. "Tentu saja."


Lelaki berparas tampan itu berdiri tegap, kemudian mendekati Rea. Menatap wajah cantik wanita yang selama ini ia dambakan.


"Sesuai perjanjian. Aku akan melepaskan keluargamu, tapi selamanya kau harus berdiri disisiku." Lelaki itu dengan berani menyentuh pundak Rea.


Rea menatap tangan lelaki itu yang masih menempel di pundaknya. Lalu menepisnya secara lembut. Tentu saja ia harus bermain halus. "Sesuai perjanjian, sebaiknya kita meninggalkan tempat ini."


Rea berjalan pasti memasuki mobil lelaki itu. Bahkan tanpa ragu ia memilih duduk di depan. Dan hal itu berhasil mengundang senyuman di bibir sang lelaki. Ia pun ikut masuk ke dalam mobil. Lalu mengemudikannya dengan kecepatan penuh. Membawa Rea ke sebuah hotel berbintang. Rea sama sekali tidak protes atau kaget karena sudah memiliki segudang rencana.


King Lapendos membukakan pintu mobil untuk Rea. Membantu wanita itu turun. Bahkan tanpa ragu ia mengecup punggung tangan Rea. Membuat sang empu harus manahan kekesalan dalam hatinya.


Di depan pintu masuk dilakukan pemeriksaan, dan itu membuat Rea mendadak gamang. Namun beruntung King Lapendos mengecam dua petugas itu untuk tidak menyentuh Rea. Alhasil ia pun masuk tanpa pemeriksaan. Rea bernapas lega karena bisa menyelamatkan senjata tajamnya.


"Kemana kau akan membawaku?" Tanya Rea dengan nada dingin. Bahkan ia harus rela tangannya di genggam erat oleh si Lapendos.


"Kita akan bersenang-senang, Baby. Sudah lama aku memimpikan hal ini bersamamu."


Rea terdiam mendengar itu.


"Kau takut?"


"Tidak sama sekali." Tegas Rea.


Di dalam lift, lelaki itu mengukung tubuh Rea. Bahkan hendak menciumnya, tetapi dengan cepat Rea menghindar. "Kita lakukan itu di kamar. Aku tidak suka bermain di tempat umum."


Lapendos tersenyum miring. "Ternyata kau senang bermain di atas ranjang huh?"


"Hm."


Ting!


Pintu lift pun terbuka. Keduanya pun kembali melanjutkan langkah menuju sebuah kamar hotel dengan fasilitas mewah. Rea sempat tertegun melihat kondisi kamar hotel yang lebih cocok digunakan untuk pasangan pengantin baru. Mendadak ia mengingat sang suami.


"Apa yang ada dalam kepala cantikmu huh?" Rea terperanjat kaget saat Lapendos secara tiba-tiba memeluknya dari belakang. Bahkan lelaki itu membuang topi yang Rea kenakan. Lalu menyingkap gaun yang Rea kenakakan. Sontak Rea pun menjauh.


"Berikan aku waktu."


Lapendos menggeram kesal. Ia merasa Rea tengah mempermainkannya. "Kau ingin mempermainkanku?"

__ADS_1


Rea menatap lelaki itu lekat. "Bukan, aku tidak suka langsung bermain. Maksudku... aku harap kau mengerti."


Lapendos tersenyum miring. Kemudian ia menarik Rea dan mengangkatnya duduk di atas meja pajangan. Rea sempat kaget, tetapi ia masih mempertahankan mimik wajahnya. Bahkan semua pajangan sudah berserakan di lantai. Namun itu sama sekali tak menggoyahkan lelaki itu.


Rea merinding ngeri saat tangan lelaki itu membelai paha mulusnya. Saat tangan lelaki itu hendak mencapai paha satunya, dengan cepat Rea menahannya. Namun seolah tahu apa yang ada dalam benak Rea, lelaki itu lebih gesit dan merebut paksa holster milik Rea.


Sialan! Umpat Rea dalam hati.


"Kau ingin membunuhku huh?"


"Aku hanya ingin melindungi diri, bagaimana jika kau berkhianat?"


Lapendos tertawa renyah seraya melempar asal holster milik Rea. "Aku tipe lelaki setia. Ingin mencoba?" Kini tangan lelaki itu kembali bergerak nakal. Ingin sekali rasanya Rea membenturkan kepala lelaki itu ke dinding. Namun ia tidak bisa gegabah karena di luar sana banyak anak buah Lapendos.


Rea memejamkan mata sesaat, memikirkan cara lain untuk menghindari lelaki hidung belang itu. Rea hendak memukul tangan lelaki itu. Namun dengan sigap Lapendos menahannya, lalu menguncinya di atas kepala. Bahkan tubuhnya kini sudah terlentang.


"Jangan lupakan kesepakatan kita, kau akan menjadi milikku." Rea terhenyak saat lelaki itu berhasil membuka resleting gaunnya.


"Akh...." Rea memekik kesakitan saat Lapendos manancapkan kuku dipahanya sampai mengeluarkan setetes darah segar.


Sialan!


Untuk yang kesekian kalinya Rea mengumpat kesal.


"Aku tidak suka wanita pasif. Aku butuh umpan balik."


Lapedos melempar tubuh Rea ke atas ranjang. Lalu menindihnya kasar. Seketika Rea mengingat bayi dalam kandungannya. Ia tidak akan membiarkan lelaki di atasnya itu menyakiti sang jabang bayi.


"Tolong jangan terlalu kasar, kau menyakitiku." Rea memasang wajah memelas.


"Jika kau ingin aku bermain lembut, jangan menghindari sentuhanku, sayang." Lapendos meraih bibir Rea dengan lembut. Sedangkan Rea hanya bisa memejamkan mata dengan hati yang terlampau perih. Ia merasa hina karena telah mengkhianti suaminya.


Maafkan aku, Kak.


Suara bel pintu pun berhasil menahan perbuatan mesum Lapendos pada Rea. Membuat Rea bernapas lega.


"Brengsek! Siapa yang berani mengganggu kesenanganku?" Dengan perasaan kesal Lapendos beranjak menuju pintu. Tidak ingin membuang kesempatan, Rea mengambil belati miliknya dan menyembunyikan itu di balik selimut. Ia pun duduk kembali di bibir ranjang.


"Bawa masuk, segera pergi."


"Baik, Tuan." Lelaki berjanggut panjang itu masuk ke dalam.


Rea menatap lelaki asing itu lekat, begitu pun sebaliknya.


"Sebelum bermain sebaiknya kita minum," tawar Lapendos duduk di sofa mewah. Kemudian memerintahkan sang pelayan pergi. Sebelum pergi, lelaki itu sempat milirik Rea.


Bukankah ini kesempatan untukku? Pikir Rea bersorak penuh kemenangan.


"Layani aku, Baby."


Rea bangun dari posisinya, kemudian bergerak menghampiri lelaki itu. Dengan lihai pula ia menuang anggur ke dalam gelas. Lalu memberikannya pada Lapendos.


"Duduklah." Lependos menepuk pahanya. Meminta Rea duduk di sana. Tidak ingin membuat masalah, Rea pun menurutinya.


"Minumlah."


"Aku tidak suka minum."


"Sedikit saja."


"Aku alergi alkohol." Bohong Rea. "Jika kau tidak percaya, biar aku membuktikannya."


"Tidak perlu, aku percaya padamu."


Rea tersenyum tipis. "Apa kau tidak takut kekasihmu marah? Aku dengar kau sudah bertunangan."


"Aku tidak peduli dengan wanita itu."

__ADS_1


"Kau sangat jahat."


"Semua orang tahu itu." Lapendos meneguk anggur itu dengan kasar. "Aku ingin lagi."


Dengan patuh Rea pun mengisi gelas itu lagi. Sepertinya lelaki itu penggila alkohol, ia sanggup menghabiskan satu botol penuh tanpa mabuk sedikit pun.


"Kau sering minum?" Tanya Rea ingin memastikan lelaki itu benar-benar mabuk atau tidak.


"Ya, aku senang minum. Apa lagi bersama wanita cantik sepertimu." Lapendos merubah posisi Rea menjadi mengangkanginya. "Aku suka posisi ini."


"Aku lebih suka di atas ranjang." Balas Rea tersenyum nakal.


"Gaya apa yang kau sukai? D*g*y st*l*?"


"Mungkin."


"Ah, semua wanita menyukai gaya itu. Tapi aku lebih suka Missionary."


"Hm." Rea membuka botol baru. Lalu menuangnya ke dalam gelas.


"Kau mencintai suamimu?"


Mendengar pertanyaan itu Rea langsung menatap Lapendos lekat. "Jika aku tidak mencintainya, aku tidak mungkin berada di sini."


Lapendos tertawa renyah. "Pengorbanan cinta huh? Tapi aku suka wanita jujur sepertimu."


"Kau hanya tertarik dengan tubuhku."


"Tidak... tidak. Aku suka semua yang ada dalam dirimu. Terutama bibirmu." Rea mengelak saat Lapendos hendak menciumnya lagi.


"Itu milik suamiku."


Lapendos tersenyum devil. "Sebentar lagi akan menjadi milikku."


Rea terdiam.


"Kenapa kau mencintai lelaki bodoh sepertinya huh?"


Rea memberikan tatapan tak suka karena lelaki itu mengatai sang suami. "Dia tidak bodoh, hanya saja terlalu baik."


"Baik dan bodoh itu hampir mendekati. Buktinya dia tidak tahu istrinya sedang selingkuh."


Rea mengeratkan rahangnya. "Kau...."


"Mari bersenang-senang." Belum selesai Rea bicara, Lapendos lebih dulu membopong tubuhnya. Membuatnya kembali terlentang di atas pembaringan. Tangan Rea perlahan bergerak untuk meraih belati milikknya.


Ukhuk!


Rea terkejut saat tiba-tiba lelaki itu muntah darah. Bahkan ia belum menancapkan belati itu. Detik berikutnya Lapendos ambruk. Beruntung Rea segera bergeser dan menjauh dari ranjang. Ia pun bergegas mencuci wajahnya yang terkena noda darah.


Rea memeriksa denyut nadi lelaki itu. Sepertinya lelaki itu sudah mati. Rea pun memeriksa seluruh tubuh lelaki itu seolah mencari sesuatu. Namun tak kunjung menemukannya. Sial! Sia-sia sudah perjuangannya sejauh ini.


Sial! Apa Daddy bergerak lebih dulu? Aku belum mendapat stempel kuasanya. Kesal Rea dalam hati.


Saat Rea hendak meninggalkan kamar. Pintu terbuka lebih dulu. Lelaki asing pengantar minuman tadi pun berdiri di ambang pintu, lalu masuk dan mengunci pintu. Rea pun mundur beberapa langkah sambil menodongkan belati.


"Siapa kau?"


Lelaki itu mengabaikan Rea, menghampiri tubuh Lapendos yang terbujur kaku. "Kau membunuhnya."


"Tidak, aku tidak melakukan apa pun." Rea membela dirinya sendiri.


"Kau memegang senjata tajam."


"Tidak ada bekas tusukan, kau lihat saja sendiri."


"Kau takut? Aku pikir wanita sepertimu sudah terbiasa membunuh orang."

__ADS_1


Rea memicingkan mata. "Siapa kau sebenarnya?"


Lelaki itu berbalik, lalu tersenyum lebar. "Your love."


__ADS_2