
Queen menggigit ujung bibirnya. Antara ragu dan gugup untuk menerima panggilan lelaki itu. Pada akhirnya panggilan pun berakhir. Sontak Queen kaget. Ditatapnya layar ponsel penuh harap, mungkin Juna akan meneleponnya lagi. Namun harapannya harus pupus karena Juna tidak menghubunginya lagi.
Akh sial!
Queen langsung mengetik sebuah pesan.
Ada apa uncle? Maaf, tadi aku ke toilet.
Gadis itu kembali menggigit ujung bibirnya karena menunggu jawaban sang pujaan hati. Namun Juna tak kunjung menjawabnya. Queen merasa kecewa dan menaruh ponselnya ke dalam tas. Bahkan ia tidak jadi menghubungi sang Mommy karen kasal.
Saat Queen hendak bangkit. Sebuah pesan balasan pun masuk. Dengan tergesa ia merogoh ponselnya dan membuka pesan dari Juna.
Maaf, hanya salah sambung.
Seketika hati Queen mencolos dan perih melihat jawaban dari Juna. Salah sambung? Apa dirinya tidak sepenting itu?
"Dasar lelaki brengsek." Karena emosi, Queen langsung mendelet nomor lelaki itu dan bergegas pergi meninggalkan kelas. Wajahnya terlihat memerah karena emosi.
Menyebalkan.
"Kenapa dengan wajahmu?" Tanya Ella saat Queen ikut bergabung. Bukan hanya Ella yang merasa heran, tetapi Bara juga ikut memberikan tatapan heran pada gadis itu.
"Tidak ada. Saat ini aku ingin makanan super pedas dan air dingin."
Ella dan Bara pun saling melempar pandangan.
"Apa perlu aku memesankannya untukmu?" Tawar Bara.
"Ya, jika kau tidak keberatan." Sahut Queen sambil mendengus sebal. Bara pun bangkit dan beranjak dari sana.
"Ada apa huh?" Ella memberikan tatapan serius. Queen pun menatap gadis itu lekat. Lalu menunjukkan pesan singkat dirinya dan Juna barusan. Seketika tawa Ella pun pecah. Dan itu membuat Queen semakin kesal.
"Ya ampun, lucu sekali dia. Bukankah di sana sudah larut malam? Memangnya siapa yang akan dia hubungi selarut itu?"
"Kekasihnya mungkin." Ketus Queen.
"Atau jangan-jangan mereka sudah menghabiskan malam bersama." Goda Ella. Sontak Queen pun melayangkan tatapan membunuh.
"Uncle tidak mungkin semurahan itu. Buktinya sampai sekarang dia belum menikah."
"Hampir, kau kan yang mengacaukan pernikahannya?" Ella tertawa geli. Sedangkan Queen mendengus sebal.
"Lupakan itu. Di mana kekasihmu? Kenapa lama sekali?"
__ADS_1
"Hey, sudah baik dia mau membantumu."
Queen menghela napas berat. "Kenapa hidupku sesial ini sih?"
"Bukan sial, kau saja yang terlalu bucin. Bagaiman jika malam ini kita ke club? Lupakan masalah cintamu itu, dan kita bersenang-senang."
Queen tampak berpikir. "Tidak buruk."
Ella tersenyum senang. Tidak lama dari itu Bara pun datang dengan sebuah nampan di tangannya. Lalu meletakkannya di depan Queen. Seketika mata gadis itu terbelalak karena Bara membawakan sepiring Suicide Chicken dan segelas soda dingin.
"Apa kau ingin membunuhku?" kesal Queen.
Bara duduk kembali di posisinya. "Kau yang meminta makanan super pedas. Jadi hanya makanan ini yang tersedia di sini." Mendengar itu Queen langsung melayangkan tatapan tajam pada kekasih sepupunya itu.
Ella tertawa geli. "Baby, kau sangat pengertian. Queen, jangan buat kekasihku kecewa kali ini."
Dengan rasa kesal yang mendalam. Queen melahap makanan itu dengan malas. Seketika keringat bercucuran diwajahnya karena menahan rasa pedas yang luar biasa. Meski hatinya lebih panas dari pada rasa pedas dimulutnya saat ini.
"Bagaimana rasanya? Apa sama seperti perasaanmu saat ini."
Queen meneguk soda hingga tersisa separuh. Kemudian menyeka keringat dipelepisnya. "Lumayan, setidaknya perasaanku jauh lebih baik. Bisakah kau memesankanku soda lagi? Aku rasa ini tidak cukup."
Ella dan Bara mengeleng pelan melihat kekonyolan Queen. Gadis itu benar-benar sangat lucu saat sedang kesal seperti saat ini.
Suara alunan musik club terdengar begitu merdu. Lantai dansa terlihat penuh oleh para wanita dan lelaki yang tengah bersenang-senang. Sedangkan di meja bartender terdapat tiga anak muda yang tengah menikmati segelas bir. Mereka tak lain adalah Queen, Ella dan Bara.
Queen menegak minuman beralkohol itu hingga tandas. Lalu meminta sang bartender mengisi ulang gelasnya. Ella yang melihat itu cuma bisa menggeleng.
"Aku baru tahu kau pandai minum, Queen."
"Aku sering ke club secara diam-diam." Jawab Queen jujur.
"Jika Daddymu tahu, kau pasti habis."
"Daddy tidak akan tahu." Sahut Queen, menegak segelas bir untuk yang kedua kalinya. Lalu meminta sang bartender mengisinya lagi.
"Jangan gila hanya karena lelaki itu, Queen. Kau masih muda." Ella mencoba mengingatkan sepupunya itu.
"Biarkan aku melupakan dia walau hanya sejenak. Bersulang." Queen mengangkat gelasnya ke udara. Ella dan Bara pun menyambutnya dengan senang hati.
Tanpa Queen sadari, Ella mengambil ponsel miliknya dan merekam apa yang sedang dilakukan gadis itu. Queen mulai mabuk sekarang.
Queen menopang kepalanya dengan satu tangan, di tatapnya Ella lekat. "Kau tahu Ell? Malam itu aku menemuinya, lalu mengatakan cinta padanya. Tapi dia tidak menjawab dan mendorongku ke dalam mobil. Lalu dia pergi meninggalkanku dengan kejam. Hatiku sangat sakit harus kau tahu itu." Rancaunya dengan tatapan sedih.
__ADS_1
"Kau bisa mencari lelaki lain, Queen. Kau masih muda." Kata Bara.
Queen menggeleng. "Aku meminta bertemu dengannya di malam terakhir. Tapi dia malah membawa wanita lain dan mereka mengaku sudah berpacaran. Dia berhasil mencabik hatiku, Ell. Aku menangis semalaman penuh. Bahkan dia juga tidak datang untuk mengucapkan kata-kata perpisahan. Dia sangat jahat."
Ella masih setia merekam semua yang Queen lakukan saat ini.
"Sekarang aku akan melupakannya dan bersenang-senang." Lanjut gadis itu yang disusul tawa hambar. "Tonight let me forget it." Queen berteriak kencang. Lalu turun dari posisinya dan berjalan sempoyongan ke lantai dansa. Meliukkan tubuh indahnya mengikuti alunan musik. Sambil sesekali berteriak kegirangan. Gadis itu benar-benar mabuk.
"Aku harap kau melihat ketulusannya, Uncle. Jika kau memiliki perasaan yang sama. Susulah dia sebelum menjadi gila." Ella sengaja menambahkan kata-kata di ujung video. Lalu mengirimkan itu pada Juna. Beruntung Rea belum menghapus riwayat chat mereka sehingga Ella masih bisa menghubungi lelaki itu.
"Dia sangat menyedihkan." Lirih Bara.
"Nasibnya saja yang tidak mujur." Sahut Ella seraya meletakkan kembali ponsel Queen ke dalam tas. Keduanya pun terus mengawasi pergerakan Queen. Menjaga gadis itu agar tidak melakukan hal bodoh yang akan merugikan diri sendiri.
Pagi hari, Queen terbangun dari tidurnya saat ponsel miliknya terus berdering. Dengan mata yang masih terasa berat, tangannya mulai bergerak mengambil ponsel di nakas. Lalu menggeser ikon terima ke kanan dan menempelkannya ke telinga.
"Queen, sedang apa? Kenapa semuanya gelap? Kau belum bangun?"
Queen kaget bukan main saat mendengar suara sang Mommy. Dengan cepat ia melihat layar ponsel.
Mommy?
Dengan tergesa Queen bangun dari tidurnya dan merapikan rambut. Lalu berusaha tersenyum meski kepalanya masih pusing karena efek alkohol.
"Hai... Mom."
"Kau belum mejawab pertanyaan Mommy, Queen."
"Sorry, Mom. Semalam aku terlalu asik bercerita dengan Ella. Jadi aku terlambat bangun."
Terdengar helaan napas Rea. "Kenapa wajahmu pucat? Kau sakit?"
Queen tersenyum. "Aku baik-baik saja. Cuma kurang tidur saja, Mom."
"Lalu bagaimana dengan kuliahmu huh?" Tanya Rea yang berhasil membuat Queen menepuk jidat.
"Mommy! Pagi ini aku ada kelas." Pekik Queen seraya bangkit dari duduknya.
"Kau ini, jika seperti ini terus kuliahmu tidak akan selesai-selesai."
"Mom, lain kali aku telepon lagi. Love you, Mom."
"Love you too, baby. Hati-hati di jalan."
__ADS_1
"Ya, Mom." Queen langsung menutup sambungan telepon sepihak. Lalu berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.