
"Hentikan, sayang." Sean menahan tangan Queen dan berhasil membuat gadis itu berhenti melawan. "Dengar, kita harus secepatnya pergi dari sini."
"Lalu bagaimana dengan pertunanganmu huh?" Tanya Queen dengan hidung dan mata yang memerah.
"Memangnya kau setuju aku bertunangan dengannya?"
Queen pun menggeleng seperti anak kecil. Dan itu membuat Sean semakin gemas.
"Aku hanya mencintaimu, Queen." Sean pun membawa Queen dalam dekapan. Lalu menghadiahi kecupan. "Jangan menangis lagi."
"Tidak ada satu pun yang percaya aku ini kekasihmu, Sean. Apa aku terlalu jelek huhu?"
Sean tersenyum kecil. "Siapa yang berani meremehkanmu huh?"
Sontak dua penjaga pintu dan security yang masih ada di sana pun terlihat gugup dan panik. Mereka tidak menyangka jika Queen benar-benar kekasih Sean.
Queen menarik diri dari dekapan Sean. Lalu menatap dua penjaga pintu yang sudah menunduk lesu. "Mereka."
Sean menoleh ke belakang.
"Mereka juga." Kali ini Queen menunjuk dua security yang terlihat kalang kabut. Terlihat jelas dendam di mata Queen saat ini. "Mereka tidak percaya saat aku mengatakan jika kau itu kekasihku."
"Maaf, Tuan. Kami sama sekali tidak tahu." Ucap salah satu dari mereka bergetar ketakutan.
"Apa kalian tidak pernah melihat berita? Di sana terpampang jelas siapa sebenarnya kekasihku. Sepertinya aku harus memberi tahu atasan kalian, kerja kalian tidak becus." Ancam Sean penuh penekanan.
"Maaf, Tuan."
"Sean, lupakan mereka. Ayok kita pergi, aku masih ingin menghajarmu. Kau yang salah di sini." Sela Queen merasa kasihan melihat keempat lelaki itu yang sudah berkeringat dingin menahan takut.
Sean pun kembali memusatkan perhatian pada sang kekasih. "Baiklah, ayok pergi."
"Tunggu!" Seru seorang wanita cantik memakai dress lilac, yang tak lain adalah Stella. Wanita itu pun melangkah cepat menghampiri Sean. "Kau tidak bisa pergi, ini acara kita, Sean."
Queen merengkuh lengan Sean posesif. Dan memberikan tatapan tak suka yang kental pada wanita itu. Bahkan terang-terangan ia menilai penampilan Stella.
"Sean, jadi kau akan menikahi tante ini?" Sindir Queen.
"Tante? Kau mengataiku?"
"Ya, lalu siapa lagi?" Balas Queen berpura-pura polos. Sean dan Ella yang melihat itu tersenyum geli.
"Sean, dia mengataiku." Adu Stella. Namun Sean tampak acuh.
"Sayang, aku lapar. Ayok kita pulang, Ella juga pasti sudah lapar." Rengek Queen ingin memperlihatkan kemanjaanya pada wanita itu.
"Iya, sayang." Sean mengecup pucuk kepala Queen, turut menunjukkan jika wanita yang dicintanya hanya Queen seorang.
"Katakan pada Ayahmu, maaf aku tidak bisa menikahi wanita yang sudah tiga kali melakukan aborsi." Imbuh Sean yang berhasil membuat Stella tersentak kaget. Bahkan wanita itu bungkam seketika.
"Ayok kita pergi." Ajak Queen menyunggingkan senyuman remeh pada Stella. Menunjukkan bahwa ia adalah pemenangnya. Lalu keduanya pun melenggang pergi dari sana.
__ADS_1
"Selamat atas pertunanganmu, Nona." Ledek Ella yang kemudian mengikuti jejak Queen dan Sean.
"Akhhhh... sial! Lihat saja, aku akan membunuhmu wanita sialan."
"Bermimpi saja, justru kau yang akan mati jika berani menyentuhnya walau hanya sehelai rambut." Semprot Sarah yang entah sejak kapan sudah ada di sana. Sontak Stella pun berbalik, dan wajah Stella berubah pucat saat melihat tatapan tajam Stella.
"Mau apa kau?" Stella mundur beberapa langkah ketika Sarah mendekat.
"Aku ingatkan padamu, berhenti mengejarnya. Atau hidupmu tidak akan pernah tenang, karena aku orang pertaman yang akan membunuhmu jika kau berani mengganggu mereka." Kecam Sarah tidak main-main.
Tubuh Stella bergetar mendengar itu. Ia tahu siapa Sarah McBone, wanita itu tidak pernah main-main dengan ancamannya. Semua orang tahu suami Sarah merupakan pimpinan mafia yang amat ditakuti, termasuk pihak berwajib sekali pun.
"Ada apa ini?" Seru perdana menteri menghampiri mereka bersama Tuan Cameron di sebelahnya.
Stella pun langsung berlindung dibalik tubuh sang Ayah.
"Di mana Sean?" Tanya Tuan Cameron. "Acaranya akan segera di mulai."
"Dia pergi dengan wanita itu lagi, Uncle." Adu Stella.
Mendengar itu Tuan Cameron memberikan tatapan tajam pada Sarah. "Kau yang membawanya kemari?"
"Kau salah Tuan, tapi cinta yang membawa mereka bersatu sekuat apa pun kau memisahkan mereka. Jangan kau pikir putramu itu bodoh sepertimu. Dia itu hanya memanfaatkan keadaan untuk menarik cintanya kembali." Sarah tertawa remeh.
"Omong kosong!"
"Edgar... Edgar... kau itu masih saja bodoh. Kau pikir dua orang ini tulus padamu? Apa karena iming-iming kekuasaan kau bersedia menyerahkan putramu pada mereka? Ayolah, jangan naif. Justru mereka yang ingin memanfaatkanmu, Edgar. Demi mendapatkan nama baik Sean, mereka terus menjilatmu. Menjijikan. Aku tidak tahu bagaiman bisa Kakakku jatuh cinta pada lelaki bodoh sepertimu?"
"Kenapa? Kau tersinggung?"
"Dad, jangan ribut lagi. Media sedang menyorot kita." Bisik Stella pada sang Ayah.
"Ingat satu hal, Edgar. Mungkin dulu kau berhasil membodohi Kakakku, tapi kali ini tidak dengan putranya. Kau tidak pernah mengenal siapa putramu, karena kau sudah digelapkan dengan keserakahan. Berisaplah untuk menyesal, kau sudah kehilangan putramu sejak lama, Edgar." Setelah mengatakan itu, Sarah pun langsung beranjak pergi. Meninggalkan Tuan Cameron yang terlihat marah.
"Uncle, aku tidak ingin pertunangan ini batal. Aku ingin Sean."
Tuan Cameron menatap Stella tajam. "Kita bicarakan ini lain waktu." Lalu bergegas pergi meninggalkan tempat.
"Dad, bagaimana ini?"
"Diamlah, aku pusing."
"Ck, semuanya membuatku muak." Stella pun ikut meninggalkan tempat itu dengan rasa kesal yang memuncak.
Di tempat lain, Sean membawa Queen ke sebuah apartemen. Sedangkan Ella memilih kembali ke hotel.
"Jangan peluk-peluk, aku belum memaafkanmu." Kesal Queen menjauhkan diri dari Sean.
"Baby, berhenti merajuk."
"Kau tahu? Rasanya aku ingin membunuhmu saat melihat berita menjijikan itu."
__ADS_1
"Bukan aku yang membuat berita itu."
"Tapi kau tidak menolaknya, Sean. Apa kau senang semua orang mencemoohku jika aku hanya menjadi bonekamu. Aku membencimu, sungguh."
Sean menghela napas berat. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku pikir kau akan kembali padanya, Queen. Saat itu aku melihat masih ada cinta dimatamu untuknya. Aku tidak mungkin memaksamu."
"Kau memang bodoh, Sean. Bahkan aku akan senang jika kau memaksa dan memperjuanhkan cintaku. Tapi kau malah lari dan ingin bertunangan dengan tante-tante jelek itu."
Sean tersenyum kecil. "Apa aku cemburu saat melihat berita itu?"
"Cih, aku tidak sudi cemburu pada lelaki sepertimu. Kau pengecut. Kau tidak tahu kan bagaimana orang lain menganggapku gila karena mengaku-ngaku kekasihmu? Kau itu jahat, Sean. Aku membencimu."
"Jika kau membenciku, lalu buat apa kau di sini?" Gurau Sean. Ia sangat senang melihat Queen marah. Baginya gadis itu semakin menggemaskan saat sedang marah. Pipinya yang memerah membuatnya semakin terlihat cantik. Sean suka itu.
"Sean! Aku sedang marah, seharusnya kau membujukku dan meminta maaf." Kesal Queen mulai tersedu. "Kau jahat."
Sean tertawa kecil. Kemudian memeluk Queen dengn erat. "Baiklah, maafkan aku, sayang. Aku hanya bercanda tadi. Aku sama sekali tidak berniat bertunangan dengannya. Sejak kemarin aku menunggumu. Sudah aku katakan, aku hanya mencintaimu."
Tangisan Queen pun semakin menjadi. Namun ia membalas pelukan Sean. Jujur ia sangat merindukan kehangatan lelaki itu. "Kau membuatku lelah karena harus berlari ke sana kemari seperti orang bodoh."
"Maafkan aku, aku tidak tahu kau akan mencariku sejauh itu. Jujur aku sempat kecewa padamu saat itu. Aku takut kau benar-benar kembali padanya." Sean mengecup pucuk kepala Queen dengan lembut.
Quen mengangkat wajahnya. Menatap Sean begitu dalam.
"Bagaimana mungkin aku kembali padanya, dia sudah punya istri. Aku juga sudah berjanji padamu, aku akan mencintaimu meski itu tidak sekarang. Keturunan Michaelson tidak pernah mengingkari janji."
Sean tersenyum. "Rasanya aku ingin menikahimu sekarang juga, Queen."
Queen tersenyum, kemudian mengecup bibir Sean selembut mungkin. "Kau sangat tampan. Tunggu sampai aku mencintaimu, setelah ity aku tidak akan menolak lagi lamaranmu."
"Kau juga secantik bidadari." Balas Sean seraya menyingkirkan anak rambut kekasihnya itu. Lalu bibir mereka pun bertemu kembali. Dan kali ini lebih menuntut dan penuh perasaan.
Namun di pertengahan permainan, Queen menghentikannya. Ditatapnya netra biru Sean begitu dalam.
"Sean... bisakah kita melakukannya sekali lagi?"
"Tidak."
Terlihat jelas kekecewaan di wajah Queen.
"Aku tidak bisa menolakmu, sayang."
Seketika senyuman di wajah Queen pun terbit kembali. "Kau memang brengsek."
"Lalu apa bedanya dengan dirimu huh?"
Queen tertawa renyah. "Aku membencimu."
"Tapi aku mencintaimu."
Dan pertengkaran itu pun berujung dengan pergulatan panas di atas ranjang. Bahkan kali ini mereka bermain cukup lama sampai langit Madrid pun berubah jingga dan mentari mulai meninggalkan bumi.
__ADS_1