Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Aku terlalu mencintainya


__ADS_3

Queen tampak termenung sambil mentap lurus ke luar jendela pesawat. Di dalam hatinya ia menangis pilu, pasalnya Juna benar-benar tidak datang hanya untuk mengucapkan perpisahan. Bahkan kejadian malam tadi saja belum bisa ia lupakan.


Zain yang merasa heran pun menggenggam tangan putrinya itu. Spontan Queen pun menoleh. "Ada apa, sayang? Sejak tadi Daddy perhatikan kamu terus termenung. Jika keputusan Daddy dan Mommy membebani pikiranmu, Daddy akan membatalkan semuanya. Kita bisa kembali ke indonesia."


Queen langsung menggeleng. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya menolak untuk melanjutkan study di Amerika. Karena itu juga salah satu impiannya. Hanya saja ia memiliki sesuatu di Indonesia yang sulit untuk dilupakan. "Aku hanya sedih karena meninggalkan Mommy, Dad."


Zain tersenyum, menarik kepala Queen agar bersandar di pundaknya. "Jika rindu katakan, Daddy akan membawa Mommy padamu."


"Mommy pasti sedih karena tidak ada lagi teman shopping. Biasanya setiap minggu kami menghabiskan uang Daddy."


Zain tertawa kecil mendengarnya. "Jangan cemas, Mommymu masih punya segudang teman untuk di ajak shopping. Termasuk Oma dan Mima kalian."


Queen ikut tertawa. "Aku melupakan mereka. Jadi aku tidak perlu sedih ya Dad?"


Zain benar-benar dibuat gemas oleh putrinya itu. "Tentu saja, putri Michaelson tidak boleh bersedih sama sekali. Kau harus selalu bahagia."


Tapi aku sedih, Dad. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Batin Queen. Direngkuhnya tangan sang Daddy, perlahan matanya mulai terpejam. Ia berharap saat bangun nanti, cinta untuk lelaki itu benar-benar hilang selamanya. Dan menemukkan cinta baru yang lebih indah.


"Kau kecewa karena Uncle tidak datang huh?"


Queen terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia membuka matanya perlahan. "Em... sedikit."


"Hm." Zain mengusap rambut Queen lembut. "Tidurlah, perjalanan kita masih panjang."


Queen memejamkan matanya kembali. Hatinya terlalu lelah jika terus memikirkan lelaki yang sama sekali tak mengharapkan dirinya.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, kini keduanya sudah sampai di apartemen.


"Wow... ini luar biasa." Seru Queen saat melihat kondisi apartemen yang cukup luas dan mewah itu. Sepertinya sangat tidak cocok untuk seorang mahasiswa sepertinya.


"Daddy senang kau suka. Kau lapar tidak? Daddy akan mencari makanan ke luar."


"Ikut. Sekalian berkeliling kota."


Zain tersenyum. "Ya sudah, ayok. Daddy akan memperkenalkan kota di sini padamu."


Keduanya pun beranjak pergi dari sana.


"Wah, ini mobilku?" Tanya Queen saat melihat mobil mewah berwarna merah miliknya.


"Ya, cobalah." Zain melempar kunci pada sang putri. Dengan sigap Queen menangkapnya. Lalu memasuki mobil dengan semangat.


"Omg! Jalannya sangat mulus. Aku suka mobilnya, Dad. Thank you so much." Queen benar-benar senang saat ini.


"Daddy selalu memperhatikan kenyamananmu, sayang. Senang melihatmu sebahagia ini."


"Dad, apa uang jajanku bertambah?" Tanya Queen malu-malu.


"Ya, Daddy sudah mengirim uang bulananmu dua kali lipat. Cek saja sendiri." Jawab Zain yang berhasil membuat Queen bersorak dalam hati.


"Thank you so much, Daddy. Aku menyayangimu."


"Daddy lebih menyayangiku, my princess." Balas Zain.


Queen tersenyum senang, melajukan mobilnya dengan santai. Sesekali ia bersenandung sangking senangnya. Zain yang melihat itu hanya bisa menggeleng dan tersenyum. Setidaknya ia cukup puas melihat kebahagiaan putrinya.


Queen memarkirkan mobilnya di sebuah restoran bintang lima. Tentu saja ia sengaja melakukan itu. Saat ini ia ingin membuat sang Daddy bangkrut. Kapan lagi cobak ia bisa punya waktu seperti ini bersama sang Daddy? Kebersamaan ini sangat langka.


"Bersiaplah untuk bangkrut, Dad." Keduanya pun keluar dari mobil secara bersamaan.


"Bukankah ini pemerasan?" Sindir Zain. Queen tersenyum sambil mendekati sang Daddy.


"Kapan lagi aku bisa memerasmu, Dad?" Queen mengaitkan tangannya ke lengan Zain. "Aku sangat lapar, ayok masuk sekarang."


"Kau sama seperti Mommy, tidak sabaran."


"Aku kan anaknya."


"Dasar bawel." Zain pun langsung membawa putrinya masuk. Lalu memilih sebuah meja dekat dinding kaca.


"Bagaimana Daddy menghabiskan waktu di sini saat sekolah dulu? Apa Daddy punya teman dekat di sini?" Tanya Queen mulai penasaran dengan masa-masa study sang Daddy dulu.


"Teman ada, tapi tidak sedekat itu."

__ADS_1


Queen tersenyum, ia semakin penasaran dengan pengalaman Daddynya itu. "Sebelum menikah dengan Mommy, apa Daddy pernah menjalin cinta dengan seorang wanita? Ya... mungkin berpacaran."


Zain tersenyum tipis. "Daddy menemukan cinta pertama Daddy di sini, namanya Zee. Dia seorang model saat itu. Kita tidak sengaja bertemu di museum, saat itu dia sedang melakukan pemotretan. Daddy jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, saat itu dia sangat manis dan cantik."


"Wow, kenapa aku tidak pernah mendengar itu? Aku pikir Mommy cinta pertama Daddy. Pasti dia sangat cantik sampai Daddy menyukainya. Lalu di mana Aunty Zee berada?Aku tidak pernah mendengar namanya selama ini." Tanya Queen begitu antusias.


Zain memasang wajah sedih. "Dia disurga."


Sontak Queen kaget mendengarnya. "Dad, i am so sorry."


"Tidak apa, sayang." Zain menggenggam tangan Queen erat. "Aunty Zee mengalami kecelakaan berencana, dia meninggal saat sedang mengandung. Padahal dia baru menikah beberapa bulan. Ceritanya begitu cepat. Kadang Daddy merasa bersalah, karena kematiannya masih berhubungan dengan Daddy. Ditambah saat itu Daddy sedang sakit parah dan tidak bisa datang saat pemakaman."


"Aku tidak mengerti, Dad."


"Perlahan Daddy akan menceritakan semuanya padamu. Butuh waktu panjang untuk menceritakan semuanya. Termasuk kegilaan Mommymu. Karena itu Daddy selalu mengawasi dan melindungimu, Queen. Semua sifatmu begitu mirip dengan Mommy, Daddy takut kau juga akan berbuat nekad."


Queen mengerut bingung. "Aku jadi penasaran, terutama soal Mommy."


"Secepatnya kau akan tahu."


"Ceritakan semuanya di apartemen, Dad. Aku ingin tahu semuanya tanpa terkecuali."


Zain mengangguk.


Keduanya terlihat begitu bahagia karena bisa menikmati waktu bersama. Terutama setelah Zain menceritakan semua masa lalunya,


****


Dua hari menghabiskan waktu bersama sang anak. Zain pun menutuskan untuk pulang. Zain benar-benar menceritakan semuanya pada Queen. Termasuk siapa Rea di masanya silam.


Queen memeluk sang Daddy erat. "Aku akan merindukanmu. Terima kasih untuk dua harinya. Meski terkesan singkat, tapi aku sangat senang. Kapan lagi kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini."


Zain mengecup pucuk kepala putrinya. "Jaga diri baik-baik di sini. Daddy juga akan merindukanmu."


"Maaf tidak bisa mengantarmu, Dad. Aku takut berubah pikiran dan ikut pulang."


Zain tersenyum. "Tidak jadi masalah, Daddy sudah biasa sendiri. Pokoknya jaga diri baik-baik okay?"


"Ya, Dad. Love you"


Setelah kepergian Zain, Queen kembali ke kamarnya. Meraih ponselnya di atas nakas, lalu membaringkan tubuh di sofa super empuk. Dengan ragu ia membuka galeri ponselnya, memilih sebuah foto Juna yang sengaja ia ambil dari akun instagram lelaki itu beberapa hari lalu.


"Jahat sekali. Kau membiarkanku pergi tanpa sepatah kata pun. Aku merindukanmu." Queen mengecup layar ponselnya dengan lembut. Kemudian dielusnya bagian wajah lelaki itu sambil mengembangkan senyuman.


"Aku sendiri tidak tahu kenapa hatiku memilihmu. Padahal kau itu lebih cocok jadi Ayahku, tapi... apa aku salah mencintaimu, Uncle? Kau terlalu sempurna untuk menjadi seorang pria. Jika suatu hari nanti aku bisa memilikimu, tidak akan pernah kulepas lagi. I miss you so much."


Queen memeluk ponselnya dengan erat, kemudian matanya terpejam dengan bibir yang terus mengembangkan senyuman menawan. Sampai ia pun mulai tertidur dan tenggelam dalam alam mimpi.


****


Hari ini adalah hari pertama Queen masuk kampus. Gadis itu terlihat begitu cantik dengan stelan kasualnya. Dengan sebuah tas yang tersampir di pundak kirinya, Queen memasuki sebuah kelas. Lalu memilih duduk di deretan terdepan.



Tidak lama seorang gadis manis duduk di sebelahnya. Refleks Queen pun menoleh. Namun sedetik kemudian ia mendengus sebal. Gadis itu tak lain adalah Nuella, putri dari pasangan Aletta dan Cristian.



"Ell, bisakah kau sedikit menjauh dariku?"


Ella tersenyum simpul. "Bukankah semua mahasiswa bebas memilih tempat duduk? Aku sedang ingin duduk di sini."


Queen berdecih sebal. "Biar aku yang pindah." Saat hendak bangkit, Ella langsung menahannya.


"Jadi kau masih marah padaku, Queen? Hanya karena aku mengadu pada Uncle jika kau yang mengancam mempelai wanita saat itu? Ayolah, lupakan itu. Kita tetap saudara harus kau tahu."


"Apa peduliku?" Queen menepis tangan Ella dan berpindah tempat duduk. Ella menghela napas berat.


"Queen, sorry soal hal itu. Saat itu aku tidak tahu kau benar-benar mencintainya. Aku pikir kau hanya main-main."


Queen memutar matanya jengah. "Lupakan itu. Karena dirimu aku dilempar sampai sejauh ini."


Ella memasang wajah sedih. "Karena itu aku ke sini untuk menemanimu. Aku tidak akan mengadukan apa pun lagi pada Daddymu."

__ADS_1


Queen masih saja diam. Tidak ingin membuang kesempatan, Ella pun bangkit dan duduk di sebelah Queen. Meraih tangan sepupunya itu dengan lembut. "Sorry, okay. Aku tidak ingin karena kesalahpahaman hubungan persahabatan kita hancur. Aku merindukanmu tahu. Biasanya kau akan mengadu padaku jika punya mainan baru."


Queen menghela napas pendek, diliriknya Ella dengan tatapan sendu. Bohong jika ja tidak merindukan gadis itu. "Aku tidak marah padamu, hanya kesal saja. Karena ulahmu aku tidak bisa bebas menemuinya lagi."


Ella memberikan pelukan singkat. "Apa kau masih mencintainya?"


Queen mengangguk. "Aku terlalu mencintainya."


"Sebaiknya kau lupakan dia, usiamu dengannya terpaut jauh, Queen. Kau delapan belas, sedangkan dia empat puluh tiga. Ayolah, masih banyak lelaki tampan di luar sana yang jauh lebih tampan dan muda."


Queen menatap Ella lekat. "Kau tidak akan bisa memahami perasaanku, Ella. Aku sudah berusaha meyakinkan hatiku untuk tidak mencintainya. Tapi hatiku bertambah sakit saat melakukan itu."


Ella menggenggam erat tangan Queen. "Jika seperti itu, aku akan mendukung semua keputusanmu."


Queen memberikan tatapan sedih. "Tapi dia sudah punya kekasih, Ell. Dia sangat jahat, padahal aku sudah mengatakan cinta padanya. Apa aku kurang cantik?"


Ella memeluk Queen lembut. "Kau sangat cantik, Queen. Bahkan lebih cantik dari dewi yunani."


Queen tertawa renyah. "Kau ini selalu saja bercanda. Padahal aku sedang sedih."


"Bukankah itu gunanya sahabat, saling menghibur saat salah satu di antara kita ada yang bersedih."


Queen tertawa lagi. "Lupakan masalahku, bagaimana dengan masalahmu?"


Ella tersenyum lebar. Lalu mendekatkan wajahnya ke teliga Queen. "Aku dan dia sudah berciuman."


Mata Queen membulat sempurna. "Serius? Jadi kalian sudah jadian?"


Ella mengangguk.


"Tapi... sekarang kan kau di sini. Lalu bagaimana dengannya?"


Ella tersenyum, lalu menggeser matanya deretan bangku paling atas. Refleks Quen pun mengikuti arah pandangan gadis itu. Seketika mata Queen membulat. Seorang laki-laki tampan menatap ke arah mereka.



"Omg! Jadi dia satu kelas dengan kita?"


"Ya, dia tidak bisa jauh dariku."


"Jangan bilang kalian satu atap?"


Ella mengangguk antusias. "Bahkan kami tidur bersama."


"Hah? Kau gila? Lalu bagaimana dengan Daddymu?"


Ella memutar matanya malas. "Ayolah, Daddyku tidak pernah melarang hubungan kami. Katanya sih tidak ingin mengulang masa lalu. Kau tahu sendiri Mommy dan Daddyku dulu berpacaran secara diam-diam karena grandpa tidak memberikan restu."


"Owh, hidupmu bebas sekali. Andai Daddy seperti itu, mungkin aku akan langsung minta Uncle untuk menikahiku."


"Kau memang gila, Queen. Aku rasa sifat Aunty benar-benar turun padamu semua. Kalian akan melakukan segala cara untuk mendapatkan cinta seseorang."


Queen mengerut. "Bagaimana kau tahu masa lalu Mommyku?"


"Jangan lupakan Mommymu itu anak angkat grandpaku, Queen."


"Ck, jadi orang tua itu masih mengoceh seperti dulu?"


"Hey, bagaimana pun dia itu grandpamu. Dasar cucu durhaka." Ledek Ella.


Queen tertawa renyah. "Aku merindukannya. Hampir satu tahu lebih kita tidak bertemu."


"Ya, grandpa dan grandma juga sering membicarakanmu."


"Jika ada waktu libur aku akan mengunjungi mereka."


Ella mengangguk paham. Tidak lama pelajaran pertama pun di mulai. Dan itu berlangsung tanpa hambatan.


"Kau tidak ke kantin?" Tanya Ella bangkit dari posisinya karena pelajaran selesai sejak setengah jam yang lalu.


"Sebentar lagi, aku harus menghubungi Mommy."


"Baiklah, aku dan Bara ke kantin."

__ADS_1


"Okay."


Ella dan sang kekasih pun bergegas meninggalkan ruang kelas. Kini hanya tersisa beberapa orang di sana. Tanpa menunggu lagi, Queen hendak menghubungi sang Mommy. Namun ponselnya lebih dulu berdering, dan nama Uncle Juna yang muncul di sana. Seketika jantung Queen berdetak kencang.


__ADS_2