Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Menghabiskan malam denganmu


__ADS_3

Sean menyudahi ciuman mereka karena tahu Queen mulai kehabisan oksigen. "Cara berciumanmu sangat buruk, jangan menahan napasmu, dasar bodoh."


Queen tersenyum lucu. "Jadi aku bodoh?"


"Ya, kau sangat bodoh."


"Apa kau masih mau berteman denganku meski aku bodoh?" Rancau Queen.


Sean tersenyum seraya mengusap pipi halus Queen. "Sebaiknya kita pulang, ini sudah larut.


Queen menatap Sean penuh arti. "Aku tidak mau pulang." Gadis itu kembali meraih bibir Sean. Tentu saja sang empu merasa kaget.


"Rasanya sangat manis, aku suka."


Sean terdiam cukup lama sambil memperhatikan wajah Queen. "Aku tidak ingin kita menyesal nantinya."


Queen menggeleng. "Biarkan aku ikut bersamamu. Bawa aku kemana pun kau mau, Sean."


"Kau mabuk, Queen. Aku akan mengantarmu pulang."


Queen menggeleng kuat. "Aku tidak mau pulang, biarkan aku ikut denganmu."


"Queen...."


"Jika kau tidak mau membawaku, pergilah. Biarkan aku di sini." Queen berjalan sempoyongan menuju meja bartender. Meminta si lelaki tampan mengisi gelasnya lagi. Namun dengan sigap Sean menahannya.


"Kau tidak boleh minum lagi. Sudah cukup, kita pulang sekarang." Sean langsung membawa Queen dalam gendongan, lalu membawanya pergi dari sana.


"Lepaskan aku, biarkan aku bersenang-senang." Queen terus memukuli dada Sean.


"Kau boleh bersenang-senang, tapi tidak di sini."


"Lelaki sialan." Umpat Queen.


"Kau berani memakiku?"


"Tidak." Queen menggelengkan kepalanya. Kemudian tertawa kecil. "Ciuman tadi... aku suka itu."


Sean menggeleng pelan. Ia tahu gadis itu mabuk berat.


"Boleh aku minta lagi?" rancau Queen seraya menyentuh bibir Sean. "Bibirmu sangat lembut dan kenyal."


"Hm." Sean pun menurunkan Queen ke dalam mobil. Lalu ia pun mengitari mobil dan ikut masuk ke dalamnya. Kemudian mobil mewah itu melaju, meninggalkan kawasan club.


"Sean." Panggil Queen. Sean pun menoleh sekilas. "Apa aku cantik?"


"Tentu saja." Sahut lelaki itu.


"Jika aku cantik, kenapa dia tidak menyukaiku? Bahkan kau saja menolak untuk menciumku lagi."


Sean tersenyum geli. "Aku bukan lelaki brengsek yang akan memanfaatkan gadis yang sedang mabuk."


"Sean." Panggil Queen lagi.


"Apa lagi huh?"


Queen terdiam sejenak. "Bagaimana rasanya bercinta?"


Sean terkejut mendengar itu.


"Ayok kita bercinta." Ajak Queen memasang wajah memelas.


"Kau benar-benar mabuk, Queen." Sean mengacak rambut gadis itu karena merasa gemas sendiri.


"Jadi kau tidak ingin bercinta denganku?"


"Berhenti mengoceh."


Queen menyebikkan bibirnya. "Jadi kau menolakku? Baiklah, aku akan mencari lelaki tampan untuk mengajariku caranya bercinta."


Sean langsung melayangkan tatapan membunuh mendengar perkataan gadis mabuk itu. "Sebelum menyentuhmu, akan aku pastikan lelaki itu membusuk di tanah."


"Kenapa kau memarahiku huh?"


Sena menghela napas panjang. "Lupakan itu."


"Sean." Queen menarik lengan baju Sean. Namun lelaki itu mengabaikannya kali ini. Ia benar-benar menyesal karena sudah menuruti keinginan gadis itu dengan membawanya ke club.

__ADS_1


"Sean! Kau mendengarku tidak?" Teriak Queen.


"Tidak."


"Ck, aku tidak mau pulang."


"Lalu kemana kau akan pergi huh?"


"Bawa saja aku kemana kau mau."


Sean menggeram kesal. Beruntung saat ini Queen bersamanya. Bagaimana jika gadis itu pergi dengan lelaki lain? Mungkin Queen akan habis. Ia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.


"Tidurlah." Titah Sean. Namun gadis itu masih saja mengoceh tak menentu. Bahkan dengan keberanian penuh ia memaki Sean. Sampai dirinya bosan dan akhirnya tertidur.


Sean membawa mobilnya masuk ke pelataran mansion mewah miliknya. Ia tidak akan membiarkan gadis itu sendirian di apartemen dan memanggil lelaki asing yang akan membahayakan masa depannya.


Sean menggendong Queen masuk ke mansion. Para pelayan pun menyambutnya dengan penuh hormat.


"Siapkan kamar lain, aku akan tidur di sana." Titanya pada kepala pelayan. Lelaki berusia empat puluhan itu pun mengangguk patuh.


Sean membawa gadis itu ke kamarnya, lalu menidurkan Queen di atas ranjang mewah. Ditatapnya gadis itu lamat-lamat. "Dasar bodoh." Ia tersenyum seraya merapikan rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu.


"Aku akan melindungimu, gadis kecil. Tidurlah dengan nyenyak." Sean memberikan kecupan lembut di kening Queen dan hendak pergi dari sana. Namun Queen lebih dulu mencekal lengannya.


"Jangan pergi." Pinta gadis itu dengan mata yang masih terpejam. Sean pun duduk di sisinya.


Queen membuka matanya. "Bisakah kau memelukku?"


Sean mengerut bingung. Namun detik berikutnya ia pun ikut berbaring dan memeluk gadis itu. Seketika tangisan Queen pun pecah.


"Apa kau juga akan menginggalkan aku, Sean?" Queen mencengkram erat kemeja yang Sean kenanakan.


"Tidak akan pernah."


"Lalu... kenapa dia menikah dengan orang lain? Apa aku kurang cantik? Katakan padaku apa kekuranganku?"


"Kau bodoh, hanya itu kekuranganmu."


Queen benar-benar menumpahkan air matanya dalam dekapan Sean. Melepaskan sesak di dadanya yang begitu mendalam. Namun Sean sama sekali tidak protes, ia membiarkan gadis itu melakukan apa yang disukainya.


Malam semakin larut, tetapi Queen tidak kunjung tidur. Sedangkan Sean terlihat mengantuk dan sesekali terpejam.


"Sean."


"Maukah kau menjadi kekasihku?"


Sean tersenyum geli. "Aku rasa besok pagi kau tidak akan mengingat kata-katamu barusan."


"Jawab aku, Sean."


"Tidak."


"Jadi kau juga menolakku?"


"Kau tidak tulus menyatakan perasaanmu padaku."


Queen tertawa kecil. "Ayok kita habiskan malam bersama."


"Kita sedang melakukannya. Aku harap besok pagi kau tidak memakiku."


Queen memejamkan matanya dalam dekapan Sean. "Aku suka aroma tubuhmu, kau sangat harum."


"Tidurlah. Selamat malam, gadis kecil." Sean memberikan kecupan kedua kalinya di kening Queen, sampai mereka pun terlelap bersamaan.


****


Queen terperanjat dari tidurnya saat sadar dirinya berada dalam dekapan seorang lelaki. Sean pun terkejut karena pergerakan gadis itu. Mata Queen membulat saat menyadari dirinya tertidur dalam dekapan lelaki itu.


"Kau!" Sontak Queen pun langsung melihat tubuhnya, lalu bernapas lega karena pakaiannya masih lengkap. Setelah itu ia pun kembali melayangkan tatapan tajam pada Sean.


"Apa yang kau lakukan padaku?"


"Menghabiskan malam denganmu."


"Kau...."


"Kau yang memohon padaku malam tadi." Selanya yang berhasil membuat Queen terdiam dan tampak berpikir keras. Ia berusaha mengingat semua kejadian malam tadi. Sedetik kemudian wajahnya pun merona. Ia masih ingat dirinya mabuk dan... dia tidak ingat lagi.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucapnya seraya memijat kepalanya yang terasa pening. "Apa malam tadi aku meminta hal aneh padamu?"


Sean tersenyum. "Ya, kau bilang ingin bercinta denganku." Godanya. Tapi itu memang apa adanya bukan? Ayolah, Sean hanya ingin tahu reaksi gadis itu saja.


Queen tampak kaget mendengarnya. "Be... bercinta?"


Sean mengangguk. "Kau terus memohon padaku. Beruntung aku masih waras. Bahkan kau memintaku untuk jadi kekasihmu."


Wajah Queen pun terasa panas karena menahan rasa malu. "Bisakah kau melupakan soal malam tadi."


"Aku tidak bisa melupakannya, itu sangat membekas dikepalaku. Apa lagi saat kau memaksaku untuk berciuman."


"Apa?" Kaget Queen. "Kita juga berciuman?"


Lagi-lagi Sean mengangguk. Sontak Queen pun langsung menyentuh bibirnya. Jadi ciuaman pertamanya ia berikan pada lelaki ini? Ingin sekali rasanya ia mengutuk dirinya sendiri. Menyebalkan! Seharusnya ia tidak mabuk malam tadi.


Sean benar-benar dibuat geli oleh tingkah gadis itu. Lelaki itu pun bangkit dari tidurnya. "Sudahlah, aku sangat lapar. Kau ingin sarapan denganku?"


Seketika Queen baru menyadari jika dirinya tengah berada di tempat asing. "Di mana ini?"


"Kediamanku." Sean melangkah pasti menuju sebuah pintu yang tidak Queen ketahui tempat apa itu. Lelaki itu masuk ke dalam sana. Meninggalkan Queen yang masih kebingungan sendiri.


Gadis itu mengedarkan pandangan ke setiap penjuru. Ia baru sadar jika dirinya berada di sebuah kamar mewah dan cukup luas, bahkan bisa ditebak luas kamar ini hampir setara dengan luas apartemen miliknya. Bukan hanya itu, hampir semua barang yang ada di sana memiliki harga yang cukup fantastis. Tidak ada satu pun barang murahan di sana.


Siapa lelaki itu sebenarnya? Pikirnya dalam hati.


Queen turun dari ranjang, kemudian berjalan menuju meja pajangan yang cukup panjang. Di sana begitu banyak foto-foto Sean mulai dari kecil sampai dewasa. Bahkan ada beberapa foto lelaki itu saat meneriman penghargaan. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya. Melainkan sebuah foto wanita cantik berukuran besar yang terpajang di dinding. Mata biru laut itu begitu mirip dengan Sean.


"My Mom."


Queen terkejut dan langsung berbalik. Ditatapnya lelaki itu yang ternyata sudah berganti pakaian santai. Sean tersenyum manis dan mendekati gadis itu.


"Aku akan memperkenalkanmu padanya." Sean menggenggam tangan Queen. Lalu keduanya pun menatap foto wanita cantik yang diketahui sebagai Ibu kandung Sean.


"Dia adalah cinta pertamaku."


Queen menoleh, menatap Sean begitu dalam. Sedangkan lelaki itu terlihat fokus menatap foto sang ibu.


"Aku dilahirkan dan dibesarkan oleh wanita sehebat dirinya. Karena itu aku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama."


Queen pun kembali memusatkan perhatian pada foto itu.


"Perasaan itu semakin bertambah setiap harinya. Sampai aku kehabisan cinta dan memutuskan hanya akan mencintai Ibuku. Dia begitu banyak memberikan cinta dan kasih sayang padaku. Bahkan cintanya melebihi cintaku."


"Lalu... di mana Ibumu saat ini?" Tanya Queen menatap Sean penasaran. Sean pun menoleh.


"Mommy meninggal setelah aku lulus kuliah."


Queen terkejut mendengarnya. "Maafkan aku, Sean."


Sean tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa hidup tanpanya."


"Dia pasti wanita yang hebat bukan?"


"Ya. Dia satu-satunya wanita terhebat di dunia."


"Jika aku boleh tahu, apa penyeban Mommymu meninggal?"


"Dia dibunuh."


Lagi-lagi ungkapan Sean berhasil membuat Queen jantungan. "Dibunuh?"


"Hm. Saat aku duduk di sekolah menengah atas. Daddy menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda dari Mommy. Dia menceraikan Mommy tanpa rasa iba. Aku masih ingat saat itu Mommy sangat sedih dan hampir gila. Beruntung aku berhasil meyakinkannya. Kami hidup berdua dalam kesederhanaan."


"Apa istri muda Ayahmu yang menbunuhnya?"


Sean mengangguk. "Dia tidak terima aku mendapatkan hak waris keluarga. Saat itu Mommy bersikukuh untuk mendapatkan hakku. Dan dia berhasil meraih itu. Aku tidak pernah menduga itu adalah perjuangannya untuk yang terkakhir kali. Wanita sialan itu menabrak Mommy sampai harus meregang nyawa."


Hati Queen ikut sakit mendengar itu. "Itu pasti sangat berat untukmu."


"Ya. Bahkan aku sempat depresi karena kehilangannya."


Queen merasa tertarik dengan kisah hidup lelaki di sampingnya itu. Ia pun membalas genggaman tangan Dean dan membiarkan Sean melanjutkan ceritanya.


"Beruntung aku bertemu dengan seorang dokter psikiater yang baik hati dan menarikku dari jurang curam. Aku bangkit dan meraih kesuksesan. Tapi rasanya kesuksesan itu tiada arti karena orang yang ingin aku buat bahagia telah tiada. Hanya saja aku tidak ingin membuat perjuangan Mommy sia-sia. Aku pun melanjutkan hidup tanpa cinta dan warna. Karena cinta itu mati bersama mendiang Mommy. Tapi itu sebelum bertemu denganmu." Sean menatap Queen begitu dalam.


Queen mengerut bingung. "Apa hubungannya denganku?"

__ADS_1


"Aku jatuh cinta padamu."


__ADS_2