
"Hiks! Kejam banget buang-buang makanan. Gak tahu apa perjuangan gue buat nyari tu makanan gimana? Ngeselin banget jadi suami." Kesal Mercia terus berjalan keluar rumah sambik menggerutu kecil. Tentu saja Rea yang melihat itu merasa heran.
"Lho, mau kemana lagi?" Tanyanya bingung.
Mercia menoleh, masih dengan wajah kesalnya. "Anak Mommy tuh, masak jajanan aku dibuang. Hiks, di mana coba dibuangnya?"
"Jajanan apa?" Tanya Rea lagi semakin bingung.
"Itu Mom, tadi sebelum jatuh aku ada beli cimol, jajanan tradisional gitu. Tapi malah dibuang sama anak Mommy. Ngeselin. Padahal aku pengen banget makanya aku nekad buat beli pake motor. Tapi seenaknya aja dibuang." Adunya dengan wajah sedih yang tak dibuat-buat.
King yang baru saja turun dan mendengar itu pun langsung menyahut. "Makanannya udah kotor, makanya aku buang."
Sontak Mercia dan Rea pun menoleh bersamaan. "Kotor apanya, Mas? Orang aku liat sendiri jajanannya masih utuh dalam plastik."
Rea menghela napas berat. "Udah jangan ribut, mending kamu ajak Cia beli lagi jajanannya. Mommy gak mau cuma gara-gara perihal cimol kalian malah ribut."
Mercia menatap King sebal.
King menghela napas, dan akhirnya mengalah. "Oke, kita beli sekarang." Ajaknya yang langsung membawa Mercia pergi. Namun itu tak membuat Mercia senang sama sekali. Apalagi kondisinya saat ini tengah sensitif. Tentu saja emosinya mudah meledak.
Akhirnya mereka pun benar-benar pergi mencari cimol yang Mercia maksud. Namun, sesampainya di sana sang penjual pun sudah pulang karena habis.
"Tuh kan, pasti jam segini udah habis." Mercia menatap King kesal.
"Mungkin ada yang lain, Sayang. Kita cari lagi ya?" Bujuk King.
"Gak usah, yang lain gak ada yang enak. Aku mau pulang aja." Ketusnya tanpa melihat lawan bicaranya.
King menghela napas kasar. "Ya udah, besok lagi kita balik ya?" Bujuknya lagi.
"Gak perlu, besok udah gak selera." Sahutnya masih dengan nada ketus. "Udah ayo balik. Gak ada guna di sini."
King cuma bisa mengalah dan kembali melajukan mobilnya untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Mercia langsung turun dari mobil tanpa sepatah kata pun. Dan itu membuat King waswas karena sudah pasti akan diabaiakan gadis itu.
"Lho, kok cepet banget baliknya?" Tanya Rea merasa heran. Namun siapa sangka gadis itu mengabaikannya dan terus berlalu ke kamar.
Tidak lama King pun masuk. Rea langsung melempar pertanyaan padanya. "Kenapa lagi sih, King? Gak dapet cimolnya?"
King mengangguk. "Udah abis, Mom."
"Ck, kamu juga. Udah tahu istri lagi sensi malah dipancing. Lain kali tanya-tanya dulu kalau mau buang sesuatu. Ya udah, terima aja kalau malam ini cuma bisa meluk guling." Rea tertawa geli. "Siapa suruh mancing emosi perempuan lagi haid, tahu rasa kamu."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Rea pun beranjak pergi, mengabaikan King yang masih terdiam di posisinya.
Di kamar, Mercia masih terlihat kesal. Gadis itu duduk di sofa sambil bermain gawai. Mengabaikan suaminya yang baru saja masuk.
King tersenyum, lalu duduk disisinya. Sontak Mercia pun bergeser menjauh. "Gak usah deket-deket." Ketusnya tanpa melihat ke samping.
"Yang, gak boleh ketus-ketus sama suami. Dosa lho." King masih tersenyum geli.
"Bodo." Sahut Mercia bangkit dari duduknya, lalu berpindah ke atas tempat tidur.
King cuma bisa menghela napas sambil menyandarkan punggungnya di sofa, dengan pandangan tak lepas dari Mercia. Gadis itu benar-benar mengabaikanya.
Malam harinya, King mengerutkan dahi saat Mercia membatasi tempat tidur dengan bantal guling. Ditatapnya King dengan sinis. "Jangan lewatin batas."
"Sayang...." perkataanya itu terpaksa berhenti karena Mercia menutup tubuhnya dengan selimut. Alhasil King cuma bisa pasrah dan tidur memeluk guling malam ini.
****
Keesokan harinya, King terbangun sendirian karena istrinya sudah tidak ada di kamar. "Sayang." Panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Namun tak ada sahutan dari istrinya. Alhasil King bangun dan beranjak ke kamar mandi.
Di ruang tv, Mercia terlihat asik sendiri sambil melahap roti selai coklat kesukaannya. Gadis itu sesekali tersenyum saat melihat adegan lucu salah satu kartun kesukaannya yang tayang ditelevisi setiap pagi.
Sebenarnya Mercia bisa saja nonton di kamar, hanya saja ia tak ingin membangunkan sang suami yang masih tertidur pulas. Ditambah ia masih kesal pada King, meski tak sekesal kemarin.
"Sayang!" Geramnya.

King tersenyum lucu. "Laper, Yang. Buatin dong." Pintanya dengan wajah memelas.
Mercia menghela napas berat dan hendak bangkit, tetapi King lebih dulu menariknya ke dalam pangkuan. "Lupa ya kamu belum ngasih asupan pagi?"
Mercia mendengus sebal. "Jangan lupa, aku masih marah."
King tersenyum. "Udah dong marahnya, Sayang. Mas minta maaf ya? Jangan ngambek lagi, nanti cantiknya hilang." Ditoelnya hidung Mercia gemas.
Mercia mendengus sebal, tetapi detik berikutnya tersenyum. "Siapa suruh ngeselin. Untung aku gak lagi hamil, kalau enggak ileran anak kamu, Mas."
King tersenyum lagi, lalu dikecupnya bibir cerewet itu dengan gemas. Lalu kecupan itu pun berubah menjadi sapuan lembut dan penuh penuntutan. Mercia yang tak berdaya pun mulai terbawa permaianan suaminya. Keduanya berciuman begitu intens. Sampai lupa jika saat ini berada di tempat yang bisa kapan saja orang lain lihat.
Ciumana mereka pun berakhir karena sama-sama kehabisan oksigen. Napas keduanya pun memburu.
King tersenyum seraya mengusap bibir basah istrinya. "Rasa coklat."
Mercia berdecak sebal seraya memukul dada suaminya pelan. "Ya udah awas, katanya kamu lapar."
__ADS_1
King menatap wajah cantik istrinya begitu dalam. Kemudian kembali menempelkan bibir mereka. Dan kali ini hanya menempel.
Mercia mengusap dada suaminya. "Jangan mulai, Mas. Nanti junior kamu bangun gimana? Aku lagi gak mood buat nidurin dia."
King tertawa kecil mendengarnya. "Kapan kamu selesai haid?" Tanyanya seraya menyelipkan rambut istrinya.
Mercia pura-pura berpikir. "Mungkin tiga hari lagi." Jawabnya kemudian.
"Ck, masih lama." Kesal King yang sudah tidak sabar untuk segera mencicipi istrinya itu.
Mercia tertawa pelan. "Sabar dong, Sayang. Tiga hari lagi, gak lama kok."
"Ck, menurutku itu masih lama, Sayang. Kamu tahu sendiri kan aku udah nahan dari lama." Kesal King.
Lagi-lagi Mercia tertawa. "Duh, kasiannya suamiku ini yang masih harus puasa. Sabar ya, Sayang." Dikecupnya bibir King dengan mesra.
King tersenyum seraya merengkuh pinggang istrinya posesif. "Habis ini aku gak akan lepasin kamu, Sayang. Jangan harap kamu bisa jalan setelahnya."
Mercia mengalungkan kedua tangannya, lalu tersenyum nakal. "Siapa takut? Aku tunggu tanggal mainnya." Setelah mengatakan itu Mercia pun bergegas bangun dan berlalu ke dapur untuk membuatkan sarapan pagi suaminya.
King cuma bisa tersenyum sambil menatap kepergian istrinya. Kemudian fokus ke layar televisi.
Tidak perlu lama Mercia pun kembali dengan nampan berisi roti selai dan segelas susu. Ditaruhnya benda itu di atas meja, lalu ikut duduk di sebelah suaminya dan lanjut menonton.
King menatap istrinya itu lamat-lamat. "Disuapin dong, Yang. Biar romantis."
Mendengar itu Mercia pun kembali menoleh. "Ish, udah tua juga masih aja manja. Makan aja sendiri, aku lagi nonton, Sayang." Protesnya dan kembali fokus ke layar telivisi.
King masih diam sambil menatapnya, dan itu membuat Mercia tak nyaman. Dengan setengah kesal ia mengambil nampan itu kepangkuannya. "Manja banget punya suami. Buka mulutnya."
Dengan patuh King membuka mulutnya dan menerima suapan roti dari sang istri. Tentu saja rasanya jauh lebih enak. King mengambil gelas susu dan meminumnya setengah. "Susunya enak, pasti kamu buatnya pake cinta kan?"
Mercia melerik King malas. "Enggak, pake racun."
King tertawa pelan. "Racun cinta ya kan?"
"Ck, au ah. Ini cepet diabisin rotinya. Ganggu kesenengan aja kamu, Yang. Untung cinta, kalau enggak udah aku obral di pasar loak." Omel Mercia dengan wajah menggemaskannya.
"Emang ikhlas suaminya dibeli dengan harga murah hm? Masih perjaka lho." King tersenyum geli.
Mercia tertawa geli. "Ya enggak lah, kecuali nanti aku udah bosan mungkin bisa dipertimbangkan." Guraunya. Sontak King langsung memasang wajah kesal. Melihat itu Mercia pun tergelak dan langsung memeluk suaminya. "Duh, enggak mungkinlah aku jual suamiku yang paling ganteng ini. Boro-boro aku jual, Mas. Dilirik orang aja aku gak rela."
King tersenyum seraya membalas pelukan istrinya itu. Dan keduanya pun kembali menonton sambil berpelukan mesra.
__ADS_1