Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Jadilah Pacarku Sungguhan


__ADS_3

Sebelumnya aku mau ngucapin selamat hari raya idul fitri ya teman-teman... mohon maaf lahir dan batin πŸ™πŸ₯°


...🌾🌾🌾...


Queen cukup kaget mendengar permintaan Sean barusan. "Ma__mana mungkin? Kau tahu aku tidak mencintaimu." Gadis itu mendadak gugup.


"Sudah aku katakan, belajarlah mencintaiku. Dengan senang hati aku akan mengajarimu."


Queen terdiam. Ditatapnya netra biru Sean begitu dalam. "Aku tidak mengerti kenapa kau begitu menginginkan aku, Sean? Aku tidak punya kelebihan apa pun. Aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, aku bodoh dalam segala hal dan...."


"Aku sedang mencari istri, bukan seorang pembantu." Potong Sean yang berhasil membuat Queen bungkam. Gadis itu tidak pernah menyadari jika kecantikannya mampu melemahkan iman para lelaki. Termasuk Sean salah satunya.


"Jadilah pacarku sungguhan. Tidak perlu menyewa atau membayarku. Dengan senang hati aku rela menjadi kekasihmu. Kau tertarik?" Tawar Sean.


Queen tampak berpikir keras.


"Jangan lama berpikir. Tawaranku hanya berlaku satu kali."


"Hiks... aku belum siap menjadi kekasih sungguhanmu. Kau terlalu luar biasa untukku. Bagaimana jika banyak penggemarmu yang mengincar nyawaku?" Keluh Queen tidak bisa membayangkan kehidupan barunya setelah menjadi kekasih seorang billionaire ternama seperti Sean. Sampai ia lupa jika dirinya juga keturunan seorang billionaire yang tak kalah ternama.


Sean tersenyum geli. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu walau hanya sehelai rambut pun. Percayalah padaku."


Queen terdiam sesaat. "Akan aku pikirkan."


"Jangan lama-lama, aku butuh jawaban sekarang."


"Tapi...."


"Percayalah, aku akan selalu membahagiakanmu."


Queen menatap Sean lekat. "Aku hanya takut tidak bisa menerimamu sepenuhnya. Aku...."


"Aku percaya padamu, aku akan membantumu melupakan masa lalu, percayalah." Sela Sean meyakinkan.


Queen terdiam cukup lama. Setelah berpikir panjang, akhirnya gadis itu pun mengangguk. "Aku akan mencoba."


Sean tersenyum. "Jadi?"


"Em... bolehkah aku menjawabnya besok?"


Sean menggeleng. "Aku ingin sekarang."


"Kenapa kau memaksa?"


"Karena aku tidak sabar menjadi kekasihmu."


Queen memutar bola matanya malas. "Oh iya, kenapa kau tidak menerima perjodohan Daddymu?"


Sean menatap Queen lekat. "Karena seseorang sudah menguasai hatiku."


"Apa itu aku?" Gurau Queen terkekeh geli.


"Ya. Karena itu aku butuh jawaban darimu," ujar Sean.


Queen tersenyum. "Apa kau yakin sanggup melayani kemanjaanku? Aku rasa belum satu minggu kau akan menyerah."


Sean tersenyum mendengarnya. "Mungkin kau belum tahu aku orang penyabar."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Ya." Sean mengangguk.


"Kalau begitu bersabarlah menunggu jawabanku."


Sean menatap Queen begitu dalam. Dan itu membuat Queen merasa gemas sendiri.


"Wajahmu sangat menggemaskan. Baiklah, aku menerimamu." Putus Queen.


Sean terkejut mendengarnya. "Jadi?"


"Kau kekasihku sekarang. Aku akan belajar mencintaimu. Tapi jangan pernah mengecewakan aku."


Sean tersenyum senang mendengarnya. "Jadi sekarang aku buka lagi sugar daddymu huh?"


Queen tersenyum malu. Lalu menggeleng pelan. "Bukan, tapi kau kekasihku."


Sean menarik dagu kekasih barunya itu dengan lembut. "Aku bahagia."


"Terlihat jelas di matamu." Sahut Queen mengalungkan kedua tangannya di leher Sean sambil tersenyum tipis.


Tidak jauh dari sana, Rea yang sejak tadi terus memantau keduanya pun merengkuh erat lengan sang suami.


"Sepertinya hubungan mereka mulai ada perkembangan." Ujarnya.


"Aku harap Sean menjaga putri kita."


"Hm... jadi itu yang kau bahas dengan Sean tadi?"


Zain menatap ke arah Queen yang tengah tersenyum lepas. "Besok kita sudah pulang, apa salahnya aku mempercayai lelaki itu? Awas saja jika dia berani merusak putriku."


"Dia sama sepertimu. Terlalu agresif."


Rea tertawa renyah. "Lupakan masalah Queen." Ia pun merubah tatapannya menjadi serius. "Sekarang aku tanya, siapa Sarah? Kenapa kalian terlihat akrab?"


Ya, sebelumnya mereka memang sempat bertemu Sarah tadi.


Zain tersenyum. "Sudah aku bilang. Dia hanya temanku saat kuliah dulu."


"Kenapa aku tidak pernah mendengar soalnya? Kau menyembunyikan sesuatu?"


"Kita tidak terlalu dekat. Kenapa kau jadi mempermasalahkannya huh?"


"Aku bisa melihat tatapan memujanya padamu." Ketus Rea.


"Tidak perlu cemburu. Kau tahu aku hanya mencintaimu, sayang."


"Hm." Rea menyandarkan kepalanya di pundak Zain. "Ngomong-ngomong, di mana putramu?"


Zain terkejut, ia baru sadar jika putranya tidak ada di sana. Ia pun mulai mengedarkan pandangan ke setiap penjuru tempat. Namun tidak menemukan putranya itu.


"Anak itu, sehari saja tidak membuat ulah, hidupnya tidak tenang."


Tidak lama dari itu, King datang dengan wajah tanpa dosa.


"Dari mana saja huh?" Semprot Zain. Ia hanya khawatir karena usia King masih sangat muda untuk bergabung dengan orang dewasa.

__ADS_1


"Mencari spot foto. Lumayan buat postingan malam ini." Jawab pemuda itu jujur. Menjadi salah satu selebgram membuatnya bersemangat mencari spot-spot bagus untuk postingannya setiap hari.


"Ck, Mommy pikir kemana tadi." Kali ini Rea ikut menimpali.


King menoleh ke arah Queen yang masih berdansa dengan Sean. Bahkan kini keduanya terlihat begitu mesra. Di mana Sean memeluk Queen dari belakang. Mereka terlihat berbincang kecil yang disusul dengan senyuman bahagia.


"Apa aku kehilangan momen bahagia?"


"Tentu saja, siapa suruh kelayapan terus." Jawab Rea.


"Biarkan Kakakmu melanjutkan kebahagiaannya, sebaiknya kita pulang. Besok pagi kita harus cepat bangun."


"Kau akan meninggalkan Queen di sini?" Tanya Rea menatap Zain lekat.


"Sean ada bersamanya. Aku percaya dia bisa menjaga putri kita."


Rea pun mengangguk patuh. "Apa tidak sebaiknya kita pamit dulu?"


"Tidak perlu, aku sudah berpamitan sebelumnya."


"Baiklah."


Lalu ketiganya pun beranjak untuk pulang.


****


Di sebuah kamar yang cukup luas. Clarie menghampiri suaminya yang sejak tadi terus berdiri menghadap ke jendela. Ia tersenyum, lalu disentuhnya pundak sang suami dengan lembut. Sontak Juna pun menoleh.


Clarie berdiri di sisinya. Ikut menatap ke luar jendela. "Sudah aku katakan padamu bukan? Cobalah temui dia walau hanya sebentar. Jelaskan padanya semua masalahmu, aku rasa dia akan memahmimu. Kenapa kau tidak mencobanya sejak dulu?"


Juna masih saja diam.


"Jangan jadi pengecut, kau terus memikirkannya tapi memilih diam seperti orang bodoh. Selagi kita di sini, cobalah temui dia secara langsung."


"Itu tidak perlu."


"Kau memang payah. Sudahlah, aku tidak akan mengingatkanmu lagi." Clarie hendak pergi. Namun Juna langsung menahannya. Refleks wanita itu pun menoleh.


"Apa menurutmu dia akan memaafkanku?" Lirih Juna.


Clarie menghela napas pendek. Kemudian berdiri kembali di sisi suaminya.


"Dia anak yang baik, sudah pasti memaafkanmu. Ditambah dia sangat mencintaimu."


"Dia sudah menemukan cintanya."


"Tapi dia masih sangat mencintaimu, begitupun denganmu. Setiap malam kau terus menyebut namanya, Juna. Sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri?" Clarie menggenggam erat tangan suaminya.


"Setidaknya kau masih punya kesempatan untuk menemuinya. Berbeda denganku, dia sudah tiada." Clarie tertawa hambar.


Juna menoleh, menatap istrinya lekat. "Tapi aku memutuskan untuk mencintaimu, Cla."


Clarie tersenyum masam. "Kau tidak akan pernah bisa mencintaiku selagi hatimu terbebani oleh perasaan bersalah."


"Aku tidak akan pernah menemuinya, muncul dihadapannya akan membuat dia tersakiti. Karena itu aku selalu menghindarinya."


"Terserah kau saja, aku sudah sering mengingatkanmu. Aku pikir apa salahnya kau mencoba menemuinya."

__ADS_1


Juna tampak berpikir keras. Perkataan sang istri selalu mempengaruhi pikirannya. Bohong jika ia tidak merindukan princess kecilnya. Sejak lama ia ingin menemui Queen, tetapi tidak memiliki keberanian karena takut hatinya tergoyah.


__ADS_2