Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Impoten


__ADS_3

Sepanjang meeting berlangsung Zain terus menekuk wajahnya. Ia masih kesal karena tidak berhasil menuntaskan hasratnya karena ulah Juna.


Juna tersenyum tipis melihat itu. Untuk pertama kalinya ia berhasil membuat Zain kesal setengah mati.


"Senang bisa bekerja sama dengan Anda, Tuan Michaelson. Aku harap kedepannya kita bisa terus bekerja sama."


Zain berusaha untuk tetap profesional, ia pun tersenyum ramah seraya menjabat tangan klien. "Senang juga bisa bekerja sama dengan Anda, Tuan Lord."


Usai meeting, Zain pun kembali ke apartemen tepat di malam hari.


"Sebaiknya kau pesan hotel." Titah Zain pada Juna. Ia tidak ingin kejadian sore tadi terulang kembali. Itu sangat menjengkelkan.


"Maaf, Tuan muda yang terhormat. Tugas saya selalu berada di sisi Anda. Jadi saya menolak perintah Anda kali ini." Sahut Juna dengan entengnya.


Zain mendengus sebal. "Pesan hotel atau aku akan memecat dirimu." Ancamnya. Dan itu berhasil membuat Juna terdiam tanpa mengiyakan perintah Tuannya.


"Berhenti di toko kue." Titah Zain lagi.


"Dengan senang hati."


Tidak butuh waktu lama mobil yang mereka tumpangi tiba di depan sebuah toko kue. Zain turun dari mobil dan memasuki toko tersebut untuk membeli kue pesanan sang istri.


"Lava cake dua." Pinta Zain pada sang penjaga toko.


"Ini Tuan."


Zain pun segera membayarnya dan bergegas pergi dari sana.


"Ini pertama kalinya kau turun sendiri ke toko kue, aku rasa kau benar-benar menjadi suami yang baik." Sindir Juna. Zain melirik lelaki itu sekilas.


"Aku akan melakukan apa pun demi istriku."


"Owh, kau sangat manis. Dulu siapa yang mengatakan tidak akan jatuh cinta padanya huh? Bahkan kau kabur ke rumahku saat malam pertama. Kau sangat munafik."


"Tidak perlu mengungkit masa lalu. Sekarang pikirkan masa depanmu. Nikahi Nesya secepatnya."


Juna tersenyum tipis. "Belum saatnya."


"Bersiaplah kehilangan cintamu."


"Tidak jadi masalah, masih banyak wanita di luar sana."


"Aku rasa kau lelaki impoten."


Juna tertawa renyah. "Jika mau aku sudah menghamili Nesya, tapi aku menghargainya. Jika dia menyerah untuk terus disisiku, aku juga akan menghargainya. Dia berhak bahagia dengan pilihannya bukan?"


"Dasar aneh."


Juna tersenyum tipis, kemudian suasana pun kembali sepi.


Sesampainya di apartemen. Zain langsung mengusir Juna. Meski awalnya sempat terjadi drama tolak menolak. Akhirnya Zain berhasil mendepak lelaki itu dari sana. Ia berhasil menyingkirkan si pengganggu.


"Sayang, tadi aku mendengar keributan di luar." Rea menghampiri Zain yang baru saja masuk.


"Ya, tadi aku mengusir si brengsek Juna."

__ADS_1


Rea mengerut bingung. "Kenapa kau mengusirnya?"


"Supaya tidak ada yang mengganggu kesenangan kita lagi."


Rea tertawa renyah. "Jadi kau masih mempermasalahkan itu. Sudahlah, lupakan yang sudah berlalu. Mana pesananku?"


Zain memberikan paper bag di tangannya pada sang istri. Dengan senang hati Rea menerimanya.


"Thank you, Daddy." Rea pun duduk di sofa. Membuka satu cup lava cake yang mejadi favoritnya akhir-akhir ini. Sepertinya ibu hamil yang satu itu sudah lupa dengan prinsip diet dalam hidupnya.


Zain ikut duduk di sisi Rea, memandangi sang istri yang begitu lahap menyantap lava cake yang sama sekali tak menggugah seleranya. Justru ia lebih tertarik dengan bibir sang istri yang sedikit kotor karena noda coklat.


"Kau mau?" Tawar Rea. Zain menggeleng kecil.


"Aku lebih suka yang ini." Zain mencium ujung bibir istrinya. Dan itu membuat Rea mematung karena kaget.


"Ada sisa coklat di sana." Zain tersenyum geli karena berhasil membuat pipi Rea merona.


"Kau mesum. Mana ada membersihkan bibir dengan ciuman." Kesal Rea memukul lengan suaminya. "Menyebalkan. Kau mengganggu waktu makanku tahu."


Zain tersenyum simpul. "Lanjutkan makanmu, aku akan berganti pakaian."


Rea pun mengangguk patuh dan kembali melanjutkan makannya yang sempat terpotong karena ulang sang suami. Setelah mengisi perutnya dengan dua porsi lava cake. Rea pun menyusul Zain ke kamar.


"Sayang." Rea menghampiri Zain yang sedang bermain gawai di sofa. Lalu ikut berbaring di sana. Ia juga menjadikan tangan Zain sebagai bantal.


Zain meletakkan ponselnya di meja. Kemudian menatap sang istri lekat. Rea tersenyum penuh arti, mengalungkan kedua tangannya di leher Zain. Bahkan dengan berani ia mencium bibir suaminya. Sampai keduanya pun terhanyut dalam ciuman panas. Zain menarik kaki Rea agar berada di atasnya, lalu menahannya dan tak membiarkan wanitanya itu lepas dari genggaman.



"I love you." Bisik Rea dengan bibir yang sedikit membengkak.


****


Dua hari berikutnya Rea dan Zain pun sudah kembali ke tanah air. Keduanya pun menjalankan aktivitas seperti biasanya. Seolah tidak terjadi hal apa pun.


Siang ini Rea dan Zain sudah membuat janji untuk memeriksa kandungan. Kini mereka sudah berada di ruang usg. Keduanya tampak bahagia karena bisa mendengar suara detak jantung sang jabang bayi yang setiap harinya menunjukkan perkembangan baik. Bahkan Rea sampai menitikan air mata sangking senangnya. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya jika kehadiran bayi dalam perutnya membawa kebahagian yang begitu besar.


"Tolong dijaga pola tidur Anda, Nyonya. Jangan sampai Anda stress, karena itu akan mempengaruhi tumbuh kembang janin."


Rea mengangguk patuh. "Baik, dok."


"Apa masih sering mual?"


"Masih, hampir setiap pagi mual. Tapi tidak berlebihan seperti sebelumnya." Jawab Rea seraya mengubah posisinya menjadi duduk. Kemudian Zain membantunya turun dari brankar. Mereka pun duduk di hadapan sang dokter.


"Vitaminnya masih ada?"


Rea menggeleng pelan. Sang dokter pun menuliskan resep vitamin. Lalu memberikannya pada Zain. "Terima kasih, dok."


Sepulangnya dari rumah sakit keduanya pun mampir ke kediaman Michaelson. Sesampainya di sana Rea pun disambut hangat oleh Elsha.


"Ya ampun anak Mommy, dari mana aja huh? Mommy sama Daddy cemas tahu. Suka banget sih hilang tanpa kabar. Apa anak Mommy nyakitin kamu lagi?"


Rea tersenyum lebar seraya melirik sang suami. "Enggak kok, Mom. Aku ada urusan dadakan di Moscow, gak sempat ngasih kabar."

__ADS_1


"Ya ampun, Mommy kira kalian berantem. Terus kamu kabur lagi."


"Hubungan kami aman terus kok, Mom. Maaf aku sering buat kalian cemas. Sekarang Mommy bisa lihat sendiri, aku baik-baik aja."


"Iya, sayang. Mami kamu udah di kasih kabar kan?"


"Udah, Mom."


"Syukurlah. Ayo masuk. Malam ini kalian tidur di sini aja ya? Mommy kangen tahu." Elsha menuntun Rea masuk. Seperti biasanya Zain hanya menjadi anak tiri. Lelaki itu mengekori keduanya dari belakang.


"Terserah Kak Zain aja, Mom. Aku sebagai istri yang baik hanya bisa menurut."


"Malam ini kami tidak bisa menginap, besok aku harus pergi ke luar kota. Mungkin malam besok, sekalian aku nitip Rea di sini." Sahut Zain yang berhasil menarik perhatian sang istri.


"Kamu kok gak kasih tahu aku sih?"


"Ini aku kasih tahu. Lagian cuma dua hari di sana."


"Ikut."


"Nope, kamu harus istirahat. Sudah cukup jalan-jalannya."


"Mom, lihat anak Mommy. Aku kan pengen ikut." Rea merengek pada sang Mommy.


"Zain benar, sayang. Kamu baru aja melakukan perjalanan jauh. Sebaiknya kamu sama Mommy aja di sini. Besok kita shopping bareng Mami kamu gimana? Sudah lama juga Mommy tidak shopping."


Mata Rea pun langsung bersinar. "Kalau shopping aku mau deh. Gak papa ditinggal juga." Ujar Rea tersenyum lebar. Elsha tertawa renyah mendengarnya. Sedangkan Zain hanya bisa bernapas pasrah dengan sikap istrinya.


"Daddy mana, Mom?" Tanya Zain saat tak melihat batang hidung sang Daddy.


"Main golf seperti biasa." Jawab Elsha apa adanya.


"Masih kuat rupanya." Ledek Zain.


"Jangan remehkan Daddymu. Meski usianya sudah tua, tapi jiwanya tidak kalah jauh dari kamu."


"Sama seperti Papi, gak ada lelah-lelahnya kalau sudah main. Sampai Mami mengadu kesepian karena sepanjang waktu ditinggal Papi."


"Hm... beruntung Mommy punya butik. Jadi tidak kesepian, setiap hari Mommy menghabiskan waktu di sana."


Rea pun tertawa renyah. "Besok aku mampir ke butik Mommy ya? Koleksi pakaianku sepertinya minta ditambah."


"Boleh dong, Mommy kasih diskon deh."


"Beneran, Mom? Ah... kalau gitu aku bakal borong."


Zain berdeham mendengar itu. "Pakaian di lemari saja belum tersentuh." Sindirnya.


"Biarkan saja istrimu bersenang-senang, Zain. Dia harus happy, ibu hamil itu tidak boleh stress."


Rea yang mendapat pembelaan pun memberikan tatapan mengejek pada suaminya. Kemudian memeluk Elsha seolah wanita paruh baya itu miliknya seorang.


"Terserah kalian saja. Aku lapar dan butuh nutrisi untuk menghadapi sikap manja wanita yang satu ini." Zain mengacak rambut Rea sebelum beranjak pergi.


"Kak... kau merusak gaya rambutku." Teriak Rea tak terima rambutnya berantakan.

__ADS_1


"Kau lebih cocok seperti itu, lebih menggemaskan." Sahut Zain sedikit berteriak.


"Suami menyebalkan, aku tidak akan memaafkanmu." Teriak Rea lagi. Elsha yang menyaksikan drama itu pun hanya bisa menggelengkan kepala.


__ADS_2