
Beberapa hari ini Zain terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Bahkan lelaki itu sampai melupakan istrinya yang kabur. Pekerjaan memang pelarian yang paling ampuh bagi Zain. Bohong jika lelaki itu tak memikirkan istrinya. Ditambah seseorang tak dikenal terus mengirimnya beberapa foto Rea yang hanya mengenakan bikini. Juga beberapa potret Rea yang tengah tertawa ria bersama seorang laki-laki. Itu cukup mempengaruhinya.
Saat Zain sedang sibuk sendiri, Zee menyelonong masuk ke dalam ruangan. Wanita itu tersenyum saat melihat keseriusan Zain. "Kau masih saja sibuk seperti ini, aku juga butuh perhatian tahu?" Rengeknya seraya duduk di atas pangkuan Zain. Kemudian mengecup pipi lelaki itu.
"Aku sibuk, tunggu saja di sofa." Perintan Zain sama sekali tak berniat melirik wanita itu.
"Ada apa huh? Kau masih memikirkan istrimu? Ayolah, dia sedang bersenang-senang di sana. Mungkin sudah banyak lelaki yang ia goda."
Mendengar itu, Zain langsung menatap Zee tajam. "Rea bukan wanita seperti itu." Entah mengapa ia merasa tak suka saat seseorang menjelekkan istrinya. Termasuk Zee yang notabennya wanita yang dicintainya.
"Ck, jadi kau mulai membelanya? Bukankah kau sangat membencinya?" Atau jangan-jangan kau sudah mencintainya." Zee mengusap rahang Zain. Kemudian memberikan kecupan di bibir lelaki itu. Zain sama sekali tidak keberatan.
"Itu tidak mungkin."
Zee tersenyum senang mendengar itu. "Makan siang bersama? Hari ini aku free." Tawarnya.
"Hm." Zain mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaan.
"Aku merindukanmu." Lirih Zee hendak mencium bibir Zain. Namun lelaki itu mengelak karena tiba-tiba wajah Rea melintas dalam pikirannya.
"Menyingkirlah." Tegas Zain dengan rahang yang mengeras. Zee yang melihat itu segera menjauh.
"Ada apa? Tidak biasanya kau seperti ini."
"Pergilah, aku lupa siang ini ada janji dengan klien." Bohong Zain.
Zee mendengus sebal. "Menyebalkan, kau selalu sibuk dengan klien. Zain, aku ini kekasihmu."
"Akhiri saja jika kau tidak suka dengan kesibukanku. Rea tidak pernah protes saat aku sibuk bekerja, dia selalu menghargaiku." Kesal Zain yang tanpa sadar membandingkan Zee dengan istrinya.
"Rea lagi? Setiap hari kau selalu menyebut namanya saat bersamaku. Kau mengabaikan perasaanku, Zain." Kesal Zee tak senang kekasihnya itu terus membandingkan dirinya dengan Rea.
"Kau juga mengabaikan perasaanku saat kau pergi dulu." Tegas Zain. Sontak Zee terdiam saat mendengar itu.
"Zain, aku menyesal soal itu. Kita sudah membahasnya bukan?"
"Pergilah, aku sibuk."
Zee merasa geram karena pengusiran Zain. Wanita itu pun beranjak pergi dari sana dengan wajah memerah karena amarah. "Lihat saja, aku tidak akan membiarkan wanita itu bersamamu. Aku tahu kau masih mencintaiku."
Setelah kepergian Zee. Tidak lama kedua orang tua dan mertuanya pun muncul, tentu saja Zain kaget dengan kehadiran mereka yang dadakan. Beruntung Zee sudah pergi.
"Mom, ada apa ini?" Tanyanya heran. Namun Elsha seolah mengabaikannya.
__ADS_1
"Kita harus bicara, Zain." Tegas Jackson seraya duduk di sofa yang diikuti oleh ketiganya. Tanpa banyak bertanya, Zain pun ikut bergabung di sana.
"Ada apa, Dad?"
"Di mana Rea?" Tanya Elsha dengan sorot mata tajam. Begitu pun dengan Rena dan Adrian yang memberikan tatapan tak kalah sengit.
"Aku tidak tahu."
Brak! Elsha melempar sebuah majalah fashion di atas meja, di mana Rea lah yang ada di cover majalah itu. Zain sama sekali tidak terkejut melihat itu. Karena sejak awal dia menang sudah tahu.
Zain menatap gambar itu dengan seksama. "Lalu?"
Elsha dan Jackson terkejut mendengar reaksi putranya itu. "Dia istrimu, Zain. Bagaimana bisa kau mengizinkannya menjadi model dewasa seperti ini?"
"Itu yang dia inginkan." Sahut Zain dengan santainya.
"Rea tidak pernah mau menerima tawaran seperti ini." Timpal Rena.
"Mom, Dad. Rea sudah dewasa, seharusnya dia tahu mana yang baik dan buruk."
"Cukup, Zain! Kau keterlaluan. Jika sejak awal kau tidak ingin menikahinya, kau tidak perlu menikahinya. Kami tidak pernah memaksamu." Kesal Rena memberikan tatapan membunuh.
"Sabar, Sayang." Bisik Adrian. Kemudian lelaki paruh baya itu pun menatap Zain lekat. "Lepaskan Rea jika kau tidak menginginkannya. Aku tidak akan marah, masih banyak yang menginginkan putriku."
"Mommy kecewa padamu, Zain. Jangan kamu pikir kami tidak tahu scandalmu dengan model tidak tahu diri itu huh? Kami tahu semuanya." Elsha pun mulai menangis sesegukan.
"Kau sudah mengecewakan kami semua, Son. Pikirkan semuanya baik-baik, jangan sampai kau menyesal pada akhirnya." Kali ini Jackson ikut menimpali.
"Kita pergi, aku ingin putriku kembali." Lirih Rena bangkit dari posisinya. Adrian pun ikut bangkit dan membawa istrinya pergi.
"Mommy kecewa padamu, jangan temui aku lagi." Pungkas Elsha yang kemudian ikut menyusul besannya. Zain cukup kaget mendengar itu, ia tak pernah melihat samg Mommy semarah ini.
Jackson menatap putranya, kemudian mengehela napas berat. "Rea gadis yang manis dan polos. Kau yakin akan melepaskannya?"
Zain tampak diam seribu bahasa. Jika boleh jujur, di dalam hatinya yang paling dalam. Ia tak ingin melepaskan gadis itu. Namun ego masih mengalahkan perasaanya saat ini.
"Tanyakan pada hatimu, apa benar kau tidak mecintainya? Daddy hanya mengingatkanmu, Rea memiliki cinta sejati. Jika bisa, pertahankan dia. Hanya wanita seperti Rea yang akan bertahan di sisimu saat kau jatuh sekali pun."
"Cih, buktinya sekarang dia pergi." Kesal Zain.
Jackson tersenyum mendengar itu. "Rea pergi karena sebab. Kau yang membuatnya pergi untuk yang kedua kali. Setelah ini, Daddy rasa Rea tak akan kembali lagi padamu. Wanita mana pun tidak akan tahan dengan sifat ambigumu ini. Kau yang salah di sini. Coba pikirkan, wanita mana yang tidak sakit hati saat mengetahui suaminya malah menghabiskan malam dengan wanita lain huh? Ditambah lagi wanita itu mantan kekasihmu."
Zain bergeming mendengar itu. Saat ini hatinya dan pikirannya tengah berperang. Jackson pun bangkit dari posisinya. "Susul istrimu, jangan sampai ia terpikat dengan lelaki lain. Dia gadis yang cantik, banyak lelaki yang menginginkannya." Jackson beranjak pergi setelah memberikan nasihat pada putranya. Sedangkan Zain masih diam seribu bahasa.
__ADS_1
****
Di sebuah Club ternama di Bali, terlihat seorang wanita berpakain seksi tengah duduk di meja bartender. Kelihatannya wanita itu sudah mabuk dan tampak begitu berantakan. Dan di sebelahnya terdapat seorang lelaki yang terus mengawasinya.
"Tambah lagi." Pintanya seraya menyodorkan gelas pada sang bartender.
"Cukup, kau sudah mabuk, Re." Regan menjauhkan gelas milik Rea. Ia tak ingin wanita itu mabuk berat. Meski ia memang sudah mabuk berat.
"Berikan itu padaku, aku ingin bersenang-senang." Seru Rea yang sudah dikuasai alkohol. "Kau tahu? Dia terus bermesraan dengan wanita itu. Lalu mengabaikan aku di sini. Biarkan aku juga bersenang-senang di sini."
Dengan sempoyongan Rea bangkit dari kursi dan ikut berjoget bersama yang lainnya. Ini pertama kali untuknya, tetapi ia menyukainya.
"Yeah.... ini sangat menyenangkan." Teriaknya seraya meliuk-liukkan tubuhnya. Regan yang melihat itu hanya bisa memijat batang hidungnya. Kemudian ponselnya pun bedering. Sang Mommy menghubunginya. Regan beranjak keluar dari Club untuk menerima panggilan. Meninggalkan Rea yang mulai gila.
"Hai cantik, kau sendirian?" Tanya lelaki tampan berkemeja hitam. Bahkan dengan berani ia menyentuh punggung mulus Rea yang tak terhalang kain.
"Ya, kau juga sendiri?"
"Ya, kau ingin bersenang-senang?"
"Aku tidak tahu caranya." Sahut Rea dengan polosnya.
"Wow, kau baru ya?"
Rea mengangguk sambil tertawa riang. Tubuhnya terus meliuk-liuk mengikuti alunan musik. "Ini sangat menyenangkan."
Lelaki itu tersenyum penuh arti saat melihat wajah cantik Rea di balik lampu disko. "Bagaimana jika kita melakukan hal yang lebih menyenangkan?"
"Apa itu?"
"Kau akan tahu nanti, tetapi bukan di sini tempatnya. Kita bisa memesan sebuah bilik."
"Bilik? Buat apa kita di sana? Menari seperti ini bukan?" Rea terus tertawa sambil terus menggoyangkan tubuhnya.
"Ya, di sana kau akan merasakan goyangan yang lebih hot. Mau mencoba?"
"Boleh. Ayok." Lelaki itu pun menarik Rea ke tempat yang lebih sepi. Gadis itu terlihat pasrah dan tak menyadari jika bahaya tengah mengintarinya. Rea sempat terjatuh, lalu sebuah tangan terulur padanya.
"Terima kasih." Ucapnya. Lelaki itu pun membantu Rea bangun. Namun Rea merasa aneh. Tangan lelaki itu sedikit berbeda dari sebelumnya. Lebih besar dan lembut. Lalu keduanya pun beranjak menuju sebuah bilik yang minim pencahayaan.
"Akh... kenapa kau mendorongku?" Rea terbaring di kasur sambil memperhatikan lelaki di hadapannya. Ia tak bisa melihatnya dengan jelas karena pandangannya buram. Namun ia bisa melihat pakaian lelaki itu berbeda. Kini lelaki itu mengenakan kemeja putih.
"Sakit tahu? Kau sengaja ya? Kapan kau berganti pakaian?" Rancau Rea dengan polosnya. "Hey, kenapa kau membuka pakaianmu?" Rea berusaha bangun dari posisinya. Namun lelaki itu lebih dulu mengukungnya.
__ADS_1
"Berani sekali kau bersenang-senang degan lelaki lain. Terima hukuman dariku." Nada suara lelaki itu pun ikut berubah. Sepertinya Rea mengenalinya. Namun wanita itu seolah tenggelam begitu jauh. Ia mabuk dan tak sadar dengan apa yang terjadi.