
Keesokan harinya Mercia dan King pun langsung terbang ke Indonesia. Karena tak ingin menunggu terlalu lama untuk mempublis hubungan mereka.
Mercia menyandarkan kepalanya di pundak King sambil sesekali menguap.
"Tidur aja, perjalanannya masih panjang." King mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
"Aku masih kepikiran, sayang. Gimana kalau orang tua kita sama-sama gak setuju?" Sahut Mercia mengangkat wajahnya untuk menatap King.
King memberikan tatapan penuh keyakinan. "Udah aku bilang kan? Apa pun yang terjadi, kita hadapin sama-sama. Lagian mereka bisa apa kalau kita saling jatuh cinta?"
Mercia menghela napas berat. "Yang harus aku hadepin itu Mama. Udah pasti Mama gak bakal setuju. Tapi Om bener, apa pun yang terjadi aku pasti gak akan goyah. Kawin lari pun aku siap."
Mendengar itu King pun tertawa kecil. "Bagaimana pun caranya, kita pasti dapat restu."
Mercia mengangguk, dipeluknya King erat-erat. "Mau bobok sambil dipeluk." Rengeknya manja. King pun menuruti keinginan gadisnya itu. Memeluk Mercia sampai gadis itu benar-benar tertidur.
Setelah berjam-jam lamanya duduk di peswat. Akhirnya mereka sampai di Jakarta tepat pukul lima sore. Keduanya harus berpisah di sana karena sudah dijemput oleh supir masing-masing.
"Sampai ketemu lagi, Om." Mercia mengecup bibir King sekilas sebelum benar-benar masuk ke dalam mobilnya.
King melambaikan tangan saat mobil yang Mercia naiki melaju meninggalkan Bandara. Setelah itu King pun beranjak masuk ke dalam mobil alphard miliknya. Dan mobil mewah itu pun segera meninggalkan Bandara.
Sesampainya di rumah, King langsung disambut hangat oleh Rea. Wanita itu sangat bahagia karena akhirnya putra satu-satunya itu pulang setelah sekian lama menghilang.
"Ah, akhirnya anak Mommy pulang juga." Sambut Rea memeluk anaknya itu penuh kerinduan.
"Mom, aku bukan anak kecil lagi." King memeluk cinta pertamanya itu dengan erat.
"Bawa oleh-oleh buat Mommy gak?" Tanya Rea mendongak.
King menggeleng. Tentu saja Rea terlihat kecewa dengan jawaban anaknya.
"Ck, uang banyak. Tapi beliin Mommy hadiah aja gak bisa. Anak pelit." Ketus Rea menarik diri dari King. Berpura-pura merajuk.
King tersenyum geli. "Becanda, Mom. Dibagasi ada koper warna silver, itu punya Mommy."
Mendengar itu Rea pun kegirangan. "Beneran? Satu koper buat Mommy?"
King mengangguk. "Iya, apa yang enggak buat Mommy. Mommy minta Vila pun aku kasih."
"Huh, sombong. Mentang-mentang banyak duit. Ya udah, Mommy mau lihat dulu hadiahnya. Udah sana istirahat." Rea pun langsung beranjak ke luar untuk melihat hadiah miliknya dengan penuh semangat. King yang melihat itu pun cuma bisa menggelengkan kepala. Kemudian bergegas ke kamar karena ingin segera istirahat.
__ADS_1
Di sisi lain, Mercia juga langsung disambut hangat oleh kedua orang tuanya.
"Mama, kangen." Mercia memeluk Faizah erat-erat. Lalu mencium kedua pipi Mama tersayangnya dengan mesra.
"Kangen apanya, kayak lama aja di sana. Papa sama Mama sempat kaget loh kamu pengen pulang lagi." Sahut Faizah sembari melerai pelukan mereka. Meski begitu ia tetap merindukan putri nakalnya itu. Karena sejak dulu cuma Mercia yang sering buat keributan di rumah.
"Maaf, namanya juga gak betah." Alibinya. Karena memang itu alasan yang Mercia katakan pada kedua orang tuanya supaya dizininkan pulang.
Setelah puas memeluk sang Mama, Mercia pun beralih pada Juna, Papa tersayangnya. "Huhu, kangen banget sama Papaku yang paling ganteng ini."
Juna yang mendengar itu tersenyum sembari mengusap kepala anaknya. "Papa juga kangen sama kamu, sayang." Dikecupnya pucuk kepala Mercia dengan sayang.
"Kak, mana oleh-olehnya?" Celetuk Marchel sembari menengadahkan tangannya. Mendengar itu Mercia pun langsung melotot.
"Haish, Kakak kamu baru pulang udah dimintain oleh-oleh." Protes Faizah.
"Biarin, abis Kakak keluar negeri gak ajak Aku." Ketus Marchel seraya melipat kedua tangannya di dada, juga bibir yang mengerucut.
"Gak ada oleh-oleh, gak sempat beli." Jawab Mercia dengan entengnya. Sontak Marchel pun nangis kejer.
"Aaaaa.... Kakak jahat. Aku mau oleh-oleh, mainan mahal." Histeris Marchel.
Bukanya merasa kasihan, Mercia malah mengejeknya. Sontak tangisan Marchel pun semakin kencang. Anak itu pun langsung berlari ke dalam pelukan Mamanya.
"Dasar cengeng aja dianya. Huh, dasar cengeng." Ejek Mercia yang lagi-lagi berhasil membuat Marchel semakin menangis kencang.
"Cia." Tegur Juna. Spontan Mercia pun cengengesan dan langsung beranjak ke kamarnya. Sebelum itu ia pun sempat menjulurkan lidahnya pada Marchel.
****
Malam hari, di kediaman Michaelson. King terlihat menikmati waktu bersama kedua orang tuanya. Saat ini mereka sedang asik menonton serial televisi yang saat ini sedang tayang di salah satu stasiun tv.
Saat sedang asik menonton. Tiba-tiba Rea memanggilnya. "King."
Spontan King pun menoleh. "Ya, Mom?"
"Sini deh." Pinta Rea. Dengan patuh King mendatanginya, duduk di sebelahnya.
"Liat ini, cantik kan?" Rea menunjukkan sebuah foto gadis cantik padanya.
"Cantik." Jawab King jujur. Karena gadis di foto memang sangat cantik.
__ADS_1
Mendengar itu Rea pun tersenyum lebar. "Beneran cantik?"
"Yes Mom" Sahut King kembali menatap ke layar televisi.
"Oke deh, kalau gitu Mommy gak salah pilih dong. Berhubung kamu juga suka. Jadi Mommy bakal bilang sama dia kalau besok kita jadi ketemuan." Cetus Rea.
Mendengar itu refleks King menoleh. "Maksudnya, Mom?"
"Ck, kamu itu udah tua, King. Umur udah mau tiga lima. Udah waktunya buat nikah, mau nunggu sampe kapan lagi? Inget, Mommy sama Daddy juga makin tua. Emang mau kamu nikah gak ada lagi Mommy sama Daddy?"
"Mom...."
"Buat kali ini Mommy yang bakal buat keputusan, King. Ngarepin kamu bawa calon istri keburu kiamat. Kamu mau Mommy jodohin sama gadis yang ada di foto ini. Cocok kan?" Potong Rea.
Mendengar itu King pun kaget, bukan hanya King. Zain juga ikut kaget dan langsung menatap istrinya. "Ide konyol apa itu?"
Rea pun menatap Zain tajam. "Sshhtt... Daddy diem aja. Ini urusaan Mommy sama King."
Zain menghela napas kasar yang diiringi gelengan kecil. Kemudian kembali fokus menonton.
"Mom, aku gak mau dijodoh-jodohin. Ini bukan zaman Siti Nurbaya. Aku udah punya pilihan sendiri. Pokoknya aku gak akan mau dijodohin." Tolak King mentah-mentah.
Rea tertawa kecil. "Kalau emang kamu udah punya calon, sini tunjukin sama Mommy mana pacar kamu. Bawa dia ke sini besok. Kalau enggak Mommy terpaksa pertemukan kamu sama Luna."
King menghela napas. "Oke, tapi Mommy harus janji bakal terima dia apa pun kondisinya."
Mendengar itu alis Rea pun terpaut. "Kok ngomongnya gitu? Emang selama ini Mommy pernah mandang rendah orang? Enggak kan?"
"Ya enggak sih. Cuma kali ini Mommy pasti kaget." Sahut King tersenyum tipis. Tentu saja Rea semakin penasaran dengan gadis yang akan King bawa itu.
"Siapa namanya? Jangan bilang Mommy kenal lagi?" Rea menatap putranya penasaran.
King mengangguk. "Kenal banget."
"Hah? Siapa sih? Jangan bikin Mommy makin penasaran, King." Kesal Rea.
"Sabar dong sayang. Besok juga dibawa sama King." Ujar Zain tanpa melihat lawan bicaranya.
"Ck, gimana mau sabar coba? Tiga puluh lima tahun anak kamu ini gak pernah sekali pun bawa pacarnya ke rumah. Dibilang gak laku juga gak mungkin. Kebanyakan maunya kali." Omel Rea yang berhasil membuat dua lelakinya tertawa kecil.
"Daddy bener, Mom. Sabar." King tersenyum jahil.
__ADS_1
"Hish... anak sama Ayah sama aja. Ngeselin." Kesal Rea memasang wajah masamnya. Melihat itu Zain dan King pun tertawa lagi.