
Zain menghela napas gusar saat melihat istrinya terus menangis karena si blacky kesayangannya mati. Bahkan kamarnya kini sudah dipenuhi oleh gumpalan tisue. Bumil yang satu itu memang ada saja tingkahnya setiap hari.
"Sayang, besok kita beli blacky yang baru okay?" Zain mengusap punggung istrinya. Berusaha menenangkannya sebisa mungkin.
"Tidak mau... padahal aku sayang banget sama dia. Kenapa dia harus terjun ke kolam renang sih? Apa selama ini aku kurang perhatian sampai dia bunuh diri?"
Ingin sekali rasanya Zain tertawa kencang mendengar pertanyaan konyol istrinya. "Itu murni kecelakaan, sayang. Mungkin dia terpeselet saat lari."
"Hiks... sedih banget tahu." Zain menarik istrinya dalam dekapan. Lalu ia pun tersenyum geli. "Berhenti menangis, besok aku akan pesan blacky yang lain."
"Tidak mau lagi. Aku takut kecewa. Bagaimana jika blacky yang baru juga ikut terjun ke dalam kolam?" Tolak Rea.
"Jadinya mau apa huh?"
"Tidak mau apa-apa."
"Kalau begitu berhenti menangis. Kau terlihat jelek seperti ini."
Rea yang mendengar itu langsung melepaskan diri dari dekapan suaminya. Kemudian memberikan pukulan kecil di lengan Zain. "Jahat banget."
"Kau tidak percaya? Biar aku fotokan penampilanmu sekarang. Kau pasti akan mengakui jika dirimu sangat jelek." Ledek Zain lagi.
"Tidak perlu. Menyebalkan." Rea menghapus jejak air matanya. Kemudian tertawa lucu. "Kau mengacaukan kesedihanku tahu."
Zain tersenyum geli. Lalu menangkup kedua pipi istrinya. "Hidungmu seperti badut. Tapi aku suka. Apa lagi yang ini." Zain mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Memberikan l*m*t*n kecil. Secara naluri Rea pun memejamkan mata dan mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Zain menyudahinya saat Rea mulai kahabisan napas. Ia tersenyum tipis saat melihat pipi merona istrinya. Padahal mereka sudah sering melakukannya, tetapi Rea masih saja malu-malu.
"Sangat manis." Puji Zain memberikan kecupan singkat di bibir istrinya. "Heroinku."
Rea tertawa renyah. "Dan kau simesumku."
"Besok kau siap melakukan perjalanan jauh?"
Rea mengangguk antusias. "Kakek dan Nenek pasti sangat senang kita datang."
Zain tersenyum manis. Kemudian menyapu sisa air mata sang istri dengan lembut. "Jangan membuang air matamu karena hal tidak penting, aku tidak rela kau menangis."
Rea mengangguk pelan. Kemudian memeluk suaminya begitu erat. "Aku lapar, masak sesuatu yang enak untukku."
"Baik Tuan putri, apa kau ingin makanan khusus?"
"Tidak, apa pun yang kau masak aku akan makan."
"Jika aku masak racun kau juga akan makan?" Gurau Zain.
"Tentu saja, setelah aku mati nanti. Aku akan menjadi bayanganmu. Dan tidak akan aku biarkan kau menikah lagi. Kau akan menduda seumur hidup. Mau?"
Zain tertawa lucu seraya memeluk istrinya gemas. "Tak akan aku biarkan kau meninggalakanku, Re."
"Hm. Aku juga tidak akan membiarkanmu pergi dari sisiku. Aku mencintaimu."
"Satu sama."
Zain mengerut bingung, kemudian mendorong pundak istrinya. Menatap wajah cantik itu lamat-lamat. Rea tersenyum geli saat melihat ekspresi bingung sang suami.
__ADS_1
"Satu sama, dulu kau menang karena berhasil membuatku jatuh cinta padamu. Sekarang aku yang menang karena berhasil membuatmu begitu tergila-gila padaku."
Zain tersenyum miring. "Dua satu."
"What?" Rea memasang wajah bingung.
Zain mengusap perut istrinya. "Kemenangan keduaku."
Rea melotot. "Hey, itu tidak adil. Kita sama-sama membuatnya. Harusnya bagi dua dong, jadi satu setengah."
"Tidak bisa, tetap aku pemenangnya."
Rea menyebikkan bibirnya. "Terserah kau saja. Yang jelas aku pemenangnya. Kau itu hanya pemeran pengganti."
Zain melipat kedua tangannya di dada. "Tanyakan saja pada author. Siapa sebenarnya pemeran utamanya? Aku atau dirimu?"
Rea mendegus sebal. "Tentu saja author akan memihak padamu, kau itu tampan dan banyak digilai wanita. Author kita kan wanita, sudah pasti dia menyukaimu."
"Cih, kau cemburu pada authormu sendiri? Bahkan dialah yang sudah menciptakan kita di sini. Jika tidak ada dia, kau tidak akan bisa menatapku, menyentuhku atau bahkan menciumku seperti saat ini."
"Huh, aku tidak peduli." Rea melipat kedua tangannya di dada.
"Jangan lupakan juga para pembaca. Berkat dukungan mereka kita bisa banyak dikenal orang. Berikan salammu pada mereka."
Rea menghela napas berat. Lalu memutar bola matanya malas. "Salam kenal dariku. Tolong jangan bayangkan wajah suamiku dalam tidur kalian. Aku bisa cemburu. Jangan senyum-senyum, orang lain akan mengaggap kalian gila."
Zain tertawa renyah sambil mengusap rambut istrinya. "Dasar." Rea pun kembali membenamkan diri dalam dekapan Zain.
"Lapar tahu."
"Lima menit lagi." Zain pun membuang napas pasrah. Ia tak bisa menolak keinginan istrinya itu. Penolakan akan membuat wanitanya itu murka dan pada akhirnya dirinya juga yang harus membujuk.
****
"Sudah siap?" Tanya Zain menghampiri istrinya yang tengah memasukkan beberapa alat make up ke dalam tas.
"Apa itu perlu di bawa?" Tanya Zain lagi.
"Tentu saja, aku harus membawa sunblock, masker, pembersih wajah, toner dan yang lainnya. Kalau tidak perawatanku akan sia-sia."
"Aku tidak tahu kenapa wanita seribet ini jika ingin bepergian?"
"Karena kau seorang laki-laki, jadi kau tidak akan paham masalah wanita."
"Hm. Aku menyerah soal itu. Apa masih lama?" Zain melirik arloji di tangannya. "Ini sudah hampir jam delapan."
"Sebentar." Rea pun berlari kecil menuju walk in closet. Tidak lama dari itu ia pun kembali. "Aku lupa memasukkan handuk kecil."
Zain menghela napas. "Sudah?"
Rea mengangguk.
"Ayo kita berangkat." Ajak Zain seraya mengambil alih koper milik istrinya, setelah itu mereka pun beranjak pergi.
Namun niat keduanya untuk bergegas pergi pun harus tertahan karena Zee sudah berdiri di depan gerbang. Wanita itu tampak gelisah, terlihat dari raut wajah dan tingkahnya. Zain menghentikan dan menurunkan kaca mobil.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" Tanya Zain datar.
"Zain, aku ingin bicara dengan Rea. Kali ini saja, lima menit juga boleh, Zain."
Rea yang mendengar itu pun menatap Zee lekat. Membaca ekspresi wajahnya. "Sayang, aku turun sebentar." Pinta Rea bergegas membuka pintu.
"Lima menit, tidak boleh lebih." Tegas Zain.
Rea pun mengangguk patuh.
"Ikut aku." Ajak Rea pada wanita itu. Lalu mereka pun beranjak menuju taman depan. Duduk di sebuah kursi panjang.
"Ada apa?" Tanya Rea menatap Zee serius.
Zee menghela napas panjang, setelah itu ia menangkup kedua tangannya di dada. "Maafkan aku, Re. Hampir setiap hari aku dihantui rasa bersalah padamu, maukah kau memaafkanku? Aku tahu, kesalahanku sangat fatal. Tapi aku harap kau benar-benar memaafkanku."
Rea terus memperhatikan mimik wajah Zee dengan serius. Lalu mengunci mata wanita itu rapat-rapat. Dan ia sama sekali tak menemukan sebuah kebohongan di sana. Itu artinya Zee tidak berbohong dengan ucapannya kali ini.
"Sebenarnya aku sudah memaafkanmu, Zee. Hanya saja aku masih kesal padamu, kau hampir mencelakai anak dalam perutku."
Zee memasang wajah sendu. "Maafkan aku, saat itu aku benar-benar tidak tahu kau sedang hamil. Aku hanya cemburu padamu karena kau berhasil mendapatkan hatinya. Aku tidak terima dia berpindah hati karena aku sudah terbiasa dicintai olehnya."
Rea menarik napas dalam. "I know. Seperti yang aku katakan, aku sudah memaafkanmu. Hanya saja kau terus mengganggu suamiku, aku cemburu. Hanya itu yang menbuatku marah padamu. Dan soal bayiku, semuanya baik-baik saja, kau tidak perlu cemas."
Zee meraih tangan Rea dan menggenggamnya lembut. "Terima kasih. Aku harap kedepannya jika kita bertemu lagi. Kita bisa saling menyapa sebagai teman. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih."
Rea mengangguk yang diiringi dengan senyuman tulus. "Jadi bagaimana kelanjutannya sekarang? Kau masih ingin bersembunyi dari dunia maya?"
Zee tertawa renyah. "Aku tidak bersembunyi, hanya saja sengaja menghilang. Aku memutuskan fakum di dunia modeling dan sejenisnya. Besok aku akan berangkat ke London, bersama suamiku."
"Suami?" Kaget Rea. Zee pun mengangguk pelan.
"Aku sudah menikah seminggu yang lalu." Zee menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Kau tidak bercanda?"
"Pernikahan bukan untuk candaan, Re. Aku memang sudah menikah. Suamiku adalah teman kecilku dulu. Lucu bukan? Jodoh tidak ada yang tahu, Re. Bagiku dia sosok malaikat. Setelah kasus itu, justru dia datang padaku dan mengungkapkan perasaannya. Aku juga sempat kaget. Bahkan dia menemaniku meski tahu siapa aku yang kotor ini. Dan di saat kondisiku dibawah seperti sekarang, dia masih saja menerimaku. Beruntung sekali aku bukan?"
Rae tersenyum lebar. "Aku senang mendengarnya. Semoga kalian selalu diberikan kebahagian. Apa kau tidak ingin bicara pada suamiku?"
"Tidak perlu, aku rasa dia masih belum memafkanku. Tolong sampaikan maaf dariku padanya. Terima kasih atas kemurahan hatimu. Semoga kalian juga selalu diberikan kebahagian."
"Aamiin."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Maaf menganggu waktu kalian."
"Tidak apa-apa. Ayok sekalian. Sebenarnya kami juga mau pergi." Rea dan Zee pun bengkit dari posisinya. Lalu melangkah pelan meninggalkan taman.
"Oh ya? Maaf sekali karena menyita waktu berharga kalian."
"Tidak apa."
Zain yang sejak tadi menunggu di mobil pun mengawasi keduanya dari balik spion. Alisnya ikut terangkat saat dirinya melihat Zee dan Rea saling berpelukan.
Apa dunia akan berdamai selamanya? Pikir Zain yang kemudian tersenyum tipis.
__ADS_1