
"Siapa kau sebenarnya?"
Lelaki itu berbalik, kemudian tersenyum lebar. "Your love."
"Jangan main-main, katakan siapa yang mengirimmu?" Kecam Rea dengan tatapan membunuh yang kental.
Lelaki asing itu mendekati Rea. Membuat sang empu semakin waspada. Bahkan ujung belati itu berhasil menyentuh dada si lelaki asing.
"Kau tidak mengenaliku? Keterlaluan." Lelaki asing itu melepas janggut dan rambut palsunya.
Mata Rea pun membulat sempurna. Bahkan tanpa sadar ia menjatuhkan belati ditangannya. "Kau!"
Rea tertawa hambar. Tanpa banyak berpikir lagi Ia pun berhambur dalam dekapan lelaki asing itu yang merupakan suaminya sendiri.
"Dasar wanita nakal. Kau membahayakan dirimu sendiri? Aku tidak akan memaafkanmu kali ini."
"Maafkan aku."
"Tidak akan aku maafkan. Bahkan kau berani selingkuh dibelakangku."
"Tidak, aku tidak melakukannya. Aku...."
"Lady Amora, jadi itu kau?"
Rea termangu. Mulutnya seolah terkunci rapat.
"Aku tidak menyangka gadis polos, manja dan cengeng yang aku nikahi ternyata seorang pemimpin gangster. Pandai sekali kau berakting."
"Maafkan aku. Tolong jangan tinggalkan aku setelah kau tahu siapa aku sebenarnya."
"Sudah aku katakan kali ini aku tidak bisa memafakanmu. Kau membawa bayiku dalam bahaya."
"Jadi kau akan meninggalkanku? Jangan lupa dia bayiku juga." Rea mendongak dengan tatapan takut.
"Hm. Aku tidak suka wanita kasar."
Lagi-lagi Rea terdiam. Namun enggan melepas pelukannya. Ia sangat takut Zain bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.
"Bahkan kau tidak berniat mengatakan siapa dirimu padaku. Apa itu sikap seorang istri yang baik?"
"Sorry."
Zain mendorong pelan pundak Rea, memberikan tatapan tak bersahabat pada wanitanya itu.
"Jika aku tidak datang, apa kau akan dengan suka rela menyerahkan tubuhmu hah?"
Rea menggeleng kuat. "Aku akan membunuhnya sebelum dia menyentuhku."
"Tapi bibir ini kau berikan padanya." Dengan kasar Zain m*l*m*t bibir sang istri. Dan itu membuat Rea terhenyak kebelakang, dengan sigap Zain menahan pinggangnya.
Zain menyudahinya, lalu mengunci mata indah sang istri. "Aku suamimu, kapan saja aku bisa membantumu. Aku tidak selemah yang kau pikirkan. Apa sebegitu lemahnya aku dimatamu sampai kau enggan meminta bantuan dariku huh?"
Rea menggeleng kuat. "Bukan itu, aku hanya takut kau akan meninggalkanku saat tahu aku seorang gangster. Aku tidak sebaik yang kau pikirkan. Sudah banyak nyawa yang hilang di tanganku. Aku sudah membunuh sejak masa sekolah menengah harus kau tahu itu."
"Aku tahu."
Rea terkejut. "Bagaimana kau tahu?"
"Jangan lupa Ayah angkatmu itu Uncleku, Re. Lagi pula aku sudah curiga sejak kehilangan William. Aku dan Juna mulai menyelidikimu. Bahkan aku meminta Juna untuk terus berada di sisimu. Sampai kau berani mengungkap siapa dirimu padanya. Akh... aku sedikit kecewa karena kau lebih percaya Juna dari pada aku."
Rea mendesis geram. Ia melupakan kesetian Juna pada suaminya. "Maafkan aku." Ia menghela napas berat.
"Aku punya alasan kenapa memilih masuk dalam dunia hitam. Semuanya terjadi saat sekolah menengah dulu. Aku hampir diperkosa oleh tiga kakak kelasku. Entah kekuatan dari mana aku membunuh mereka dengan pecahan kaca. Sejak saat itu aku depresi berat, beruntung Aletta dan Daddy selalu ada bersamaku. Mereka menyembunyikan itu dari Mami dan Papi atas permintaanku. Sejak saat itu aku memutuskan untuk ikut jejak Daddy. Membantai beberapa pengacau, sampai aku terbiasa dengan hal mengerikan." Ungkap Rea panjang lebar. Ia merasa lega karena pada akhirnya mengungkap siapa dia sesungguhnya.
"Bukan tidak ingin mempercayaimu dalam hal ini. Aku hanya takut kau lari setelah mengetahui semuanya. Dengan susah payah aku mendapatkanmu. Mana mungkin aku membiarkanmu pergi. Apa yang terjadi hari ini juga untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin hanya karena diriku, kau masuk dalam zona bahaya. Sorry... and i love you so much, my husband." Imbuh Rea mulai menitikan air mata. "Tolong jangan pergi."
"Sekarang kau harus percaya jika aku bisa diandalkan. Aku membunuh musuhmu tanpa harus mengotori tanganku. Atau melempar tubuhku pada musuh." Sindir Zain.
Rea memukul dada suaminya. "Kau mengacaukan rencanaku. Aku belum sempat mengorek di mana stempel kekuasaan mereka."
__ADS_1
"Aku tidak peduli soal itu. Yang aku pikirkan hanya keselamatanmu dan calon anak kita. Uncle juga mengizinkanku bertindak kali ini."
"Cih, menyebalkan. Rugi saja aku tidak tidur memikirkan segala cara. Kau yang aku lindungi, kau juga yang membuyarkan segala rencanaku." Protes Rea.
"Hey, jika aku tidak datang tepat waktu. Aku akan meyesal sampai mati. Suami mana yang rela lelaki lain menyentuh istrinya huh? Bahkan kau saja marah hanya karena Letta menciumku."
Rea menghela napas panjang. "Maafkan aku."
"Sudah puluhan kali kau mengucapkan maaf. Aku tidak butuh hanya sekadar kata maaf."
"Lalu?"
"Pikirkan caranya agar aku bisa memaafkanmu. Sekarang kita harus cepat-cepat pergi. Sebelum ada yang masuk dan memergoki kita karena sudah membunuh lelaki sialan itu." Zain memandang remeh pada jasad Lapendos.
"Kau sudah mengamankan cctv?" Tanya Rea seraya memungut belati dan holster miliknya.
"Aku tidak sebodoh itu. Anak buahku akan mengurus semuanya. Uncle mengabariku, dia berhasil menguasai selatan. Jadi jangan khawatir tentang keselamatan keluarga kita." Zain pun menarik tangan istrinya menuju pintu yang menghubungkan ke kamar sebelah. Kamar yang sudah ia pesan sebelumnya.
Mulut Rea terbuka lebar saat melihat seisi kamar yang sudah didekorasi begitu indah. Bahkan di sana sudah tersedia sebuah kue ulang tahun sederhana namun terkesan mewah bagi Rea.
Zain memeluknya dari belakang. "Happy birth day, my little wife."
Rea menutup mulutnya tidak percaya. Bahkan ia lupa dengan hari kelahirannya sendiri. "Aku tidak percaya ini."
"Kau hampir mengacaukan kejutanku. Padahal aku sudah memesan hotel mewah untuk merayakan ulang tahunmu. Dan kau malah lari." Keluh Zain. Benar, ia memang sudah memesan hotel untuk merayakan ulang tahu istrinya. Namun wanita itu keburu kabur dan semua rencannya untuk membuat kejutan musnah sudah.
Rea tertawa lucu. "Ini ulang tahuku yang paling spesial. Sebelumnya aku tidak pernah merayakannya."
"Aku tahu, karena itu aku ingin memberikan kesan indah di hari ulang tahunmu kali ini. Kau sanang?"
Rea mengangguk antusias.
"Sebaiknya kita mandi, masih ada kejutan untukmu."
"Apa itu?"
Usai mandi Rea pun duduk kembali di bibir ranjang masih dengan bathrobenya. Ia menatap Zain lekat.
"Sebelum itu tiup lilinya dulu. Make a wish." Zain memberikan kue ulang tahun itu pada sang istri. Rea pun tersenyum senang seraya memejamkan mata.
Zain ikut tersenyum melihat aura kebahagian yang terpancar di wajah sang istri.
Rea membuka matanya perlahan.
"Apa yang kau minta?"
"Hidup bersamamu sampai maut yang memisahkan kita."
"Hanya itu?" Rea mengangguk kecil.
"Boleh aku mencicipinya?" Rea menatap kue itu dengan tatapan berbinar.
"Tidak, kau harus membayar kesalahmu lebih dulu."
Rea menyebikkan bibirnya. "Sedikit saja, aku sangat lapar. Sejak pagi aku belum sempat makan, hanya minum segelas jus."
"Kebiasaan. Habiskan semuanya."
Rea bersorak gembira. Tanpa ragu lagi ia pun menyomot kue lezat itu dan melahapnya. "Oh... ini sangat lezat. Kenapa kau memesannya hanya satu sih?"
"Satu saja belum tentu kau habiskan."
Rea manatap Zain lekat . "Jadi kau sudah memaafkanku kan?"
"Tidak."
Seketika wajah Rea berubah sendu. "Maaf, maaf dan maaf. Aku tahu kau pasti memaafkanku."
"Sudah aku katakan kali ini aku tidak akan memaafkanmu semudah itu. Pikirkan bagaimana caranya menebus kesalahanmu."
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?" Lirih Rea. Zain menaikkan kedua bahunya.
Rea meletakkan kue di atas nakas. Kemudian merangkak naik ke atas pangkuan sang suami. Mencium bibir seksi suaminya itu. Zain dengan sengaja membiarkan Rea bermain sendiri. Dan itu membuat Rea bingung.
"Sorry." Rea menatap netra coklat sang suami begitu dalam. "Aku mengaku salah. Kau boleh menghukumku. Tampar aku jika itu bisa mengobati kemarahanmu."
"Aku tidak pernah kasar pada wanita."
Rea mengalungkan kedua tangannya. Dan kembali mencium bibir suaminya. Lagi-lagi Zain tidak merespon.
"Apa kau menikmati sentuhan lelaki itu?"
Rea langsung menggeleng. "Yang aku pikirkan saat itu hanya dirimu. Aku tidak bohong."
"Tapi kau membiarkan lelaki itu menyentuhmu."
"Aku terpksa, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membunuhnya."
"Ada cara lain."
Rea terdiam sejenak. "Aku hanya tidak ingin melihat anggotaku mati lagi. Masalah kali ini menyangkut masalah pribadi. Aku tak akan melibatkan orang lain."
"Dan kau melupakanku?"
"Tidak. Justru aku melakukan ini untuk dirimu. Kau tidak tahu sekejam apa Lapendos, dia punya banyak anak buah yang kapan saja bisa membunuhmu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Dengan menyerahkan tubuhmu? Apa kau pikir dia akan melepaskanku setelah kau menyerahkan dirimu padanya?"
Rea terdiam lagi.
"Kau sangat bodoh." Zain memukul paha Rea. Sontak Rea pun meringis kesakitan karena lukanya tersentuh. Zain pun kaget, dengan cepat ia menyibak bathrobe sang istri. Benar saja lukanya sudah membiru di sana.
"Kenapa tidak bilang?" Zain mengusap luka itu dengan lembut. Membuat sang empu meringis pelan.
"Hanya luka kecil."
"Jika kau biarkan ini bisa infeksi."
Rea menatap wajah Zain lamat-lamat. "Jika aku mati, apa kau akan kehilangan diriku?"
"Tidak."
Rea merengut kecewa. "Hm."
"Aku tidak akan hidup lagi jika kau mati, Re."
Seketika wajah Rea kembali ceria. "Kau bisa mencari wanita lain."
"Aku sudah memutuskan hanya mencintai dua wanita, Mommy dan dirimu." Zain memberikan kecupan di leher sang istri.
"Aku mencintaimu." Rea kembali menyambar bibir suaminya. Bahkan tangannya dengan gesit melepas bathrobe yang Zain kenakan. Menyentuh perut kotak-kotak Zain dengan gerakan sensual.
"Nakal sekali."
"Hanya cara ini yang akan membuatmu luluh." Sahut Rea seraya membenamkan batang limited edition milik sang suami ke dalam sangkarnya tanpa melakukan pemanasan lebih dulu. Keduanya pun m*nd*s*h bersamaan.
Rea m*r*m*s bahu suaminya untuk menyalurkan rasa perih bercampur nikmat.
"Milikmu sudah sangat licin, apa kau membayangkanku sejak tadi?" Zain tersenyum nakal.
"Hm...." Rea mengangguk dengan mata terpejam. Bahkan dengan nakalnya ia mulai bergerak liar. Zain ikut memejamkan mata, menikmati jepitan di bawah sana.
"Kita harus segera pergi dari sini." Bisik Rea sedikit m*nd*s*h. "Anak buah Lapendos tidak akan melepaskan kita."
"Kau takut?" Zain membenamkan wajahnya di dada sang istri. Lalu menarik tali bathrobe Rea dengan sekali tarikan. Lalu membalik tubuh sang istri menjadi dibawahnya. Kini ia yang memegang kendali.
"Aku tidak pernah takut." Rea menggigit ujung bibirnya karena tak kuasa menahan gelombang cinta yang hampir meledak. Menit berikutnya mereka pun meledak bersama.
Zain kembali memakai pakaiannya, begitu pun dengan Rea. Lalu keduanya bergegas pergi meninggalkan tempat itu sebelum anak buah Lapendos mencari keberadaan mereka.
__ADS_1