Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Uncle jangan senyum-senyum


__ADS_3

Sore hari Rea dan Zain pun berkunjung ke rumah sakit di mana Ibu dari Juna di rawat. Si kecil Queen yang tertidur di perjalanan pun masih dalam gendongan Zain. Tidak jauh dari sana tampak Juna tengah menunggu kehadiran mereka.


"Kalian membawa Queen?" Tanya Juna menatap gadis itu lekat.


"Dia terus merengek setelah tahu akan bertemu denganmu." Kesal Zain. Sebenarnya ia kurang senang karena Queen terlalu dekat dengan Juna dibanding dengan dirinya sang Ayah.


"Hm. Masuklah, tidurkan dia di sofa." Ajak Juna membukankan pintu untuk keduanya. Rea dan Zain pun masuk yang diikuti oleh Juna di belakangnya.


"Bagaimana kondisi beliau?" Tanya Zain setelah menidurkan putri kecilnya.


Juna duduk di sofa yang lain. "Lumayan membaik dari sebelumnya. Dokter menyarankan agar Mama menjalankan operasi secepatnya. Tapi Mama tidak mau. Aku tidak bisa memaksanya."


"Sebenarnya sakit apa?" Tanya Rea seraya memandangi Mamanya Juna yang terbaring di atas brankar.


"Satu ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi." Jawab Juna.


"Aku punya teman ahli penyakit dalam dari Jerman. Jika kau mau, aku akan menghubunginya. Dia sudah berhasil menyembuhkan banyak pasien, bahkan kini namanya melejit di beberapa negara maju. Ya, meski kita tahu Tuhanlah yang memberikan kesembuhan. Tapi apa salahnya kita mencoba."


Juna tampak berpikir.


"Jangan terlalu lama berpikir, kesehatan Ibumu lebih penting dari segalanya."


"Bukan itu yang aku pikirkan, jika aku mengirim Mama ke sana. Siapa yang akan menjaganya? Aku harus bekerja dan adikku masih sekolah. Jika beliau di rawat di sini aku masih bisa mengawasinya."


"Aku akan menyewa seorang suster khusus untuk Ibumu." Tawar Zain.


"Tidak perlu, kau sudah terlalu banyak membantuku."


"Jangan lupakan pertemanan kita. Mungkin di kantor kau bawahanku, tapi di luar kau sahabatku. Biarkan aku membantumu kali ini."


Juna terdiam.


"Hubungi temanmu itu, Re. Kita akan langsung menerbangkan Ibunya Juna secepat mungkin ke Jerman." Rea mengangguk patuh. Kemudian ia pun beranjak menjauh untuk menghubungi teman dokternya itu.


"Zain... aku tidak tahu harus mengucapkan apa lagi selain berterima kasih padamu." Ujar Juna menatap Zain tak enak.


"Lupakan itu, sudah kewajibanku membantu teman setia sepertimu. Percayalah, Ibumu akan sehat kembali seperti sebelumnya." Sahut Zain mengembangkan senyuman tulus.


"Ya, aku selalu mengharapkan itu."


Keduanya terdiam untuk beberapa saat, sampai Rea bergabung kembali bersama mereka.


"Dia setuju dan memintaku untuk segera mengirim Ibu Juna ke sana karena kondisi seperti ini harus segera di tangani. Jangan khawatir, bisanya dia bisa menyembuhkan tanpa harus operasi. Dia memiliki keahlian khusus." Jelas Rea.


"Thank you so much. Aku bingung harus bicara apa?"


"Kau hanya perlu berdoa." Ujar Rea. Juna pun mengangguk paham. Dan tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Sampai suara Queen mengalihkan perhatian ketiganya.


"Uncle!" Gadis kecil itu terbangun dari tidurnya dengan wajah berseri. Lalu bergegas bangun dan berlari kecil ke arah Juna. Memeluk lelaki itu dengan erat.


"Owh... sepertinya ada yang rindu berat?"


Queen menarik diri dari dekapan Juna. "Uncle jangan sedih ya?"


Juna mengangkat sebelah alisnya. "Sedih?"


Queen mengangguk. "Mamanya Uncle kan lagi sakit."


Juna yang mendengar itu langsung tersenyum. "Uncle tidak sedih kok, buktinya sekarang Uncle tersenyum."


Queen tersenyum lebar dan kembali memeluknya. "Uncle janji mau ajak aku main. Sekalang aja yuk mainnya."

__ADS_1


Belum sempat Juna menjawab, pintu lebih dulu terbuka. Seorang wanita cantik pun masuk membawa buah tangan.


"Hai... apa aku datang di waktu yang salah?" Tanya wanita itu menatap semuanya bingung.


"Tidak." Jawab ketiganya kompak.


"Kenapa tidak bilang kau akan datang?" Tanya Juna.


"Aku pikir kau sibuk." Wanita itu pun duduk di sebelah Juna. Kemudian memberikan sapaan hangat pada Rea dan Zain. Dan berakhir pada si kecil Queen.


Rea dan Zain yang tidak tahu siapa wanita itu menatap Juna seolah minta jawaban.


"Perkenalkan ini sepupuku, Gesya." Juna memperkenalkan wanita itu pada Rea dan Zain. Kemudian keduanya pun ikut memperkenalkan diri.


"Kenalkan dirimu, sayang." Pinta Rea pada putri kecilnya. Namun tanpa di duga Queen malah naik ke atas pangkuan Juna dan memeluknya erat. Bahkan anak itu memberikan tatapan tak suka pada Gesya.


"Sayang." Rea memperingatinya.


"Jangan lihat-lihat." Kesal Queen pada wanita itu. Sontak Rea dan Zain kaget melihat repson Queen yang tidak seperti biasanya.


"Queen, tidak boleh seperti itu." Tegur Zain.


Queen menempelkan kepalanya di dada Juna. Namun pandangannya masih tertuju pada wanita itu.


"Dia sangat menggemaskan." Ujar Gesya tersenyum ramah dan hendak menyentuh Queen. Namun gadis itu langsung menolak.


"Jangan sentuh!"


Rea dan Zain pun kembali dibuat kaget oleh sikap Queen.


"Maafkan atas sikapnya, ini pertama kalinya Queen bersikap aneh." Ucap Rea dengan tulus.


"Tidak jadi masalah, aku memahami anak-anak. Kebetulan aku berkerja di salah satu taman kanak-kanak."


"Sama-sama." Gesya pun menatap Queen dengan senyuman ramah. Kemudian bergantian menatap Juna. "Malam ini aku akan menjaga Tante, istirahatlah. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh."


"Terima kasih." Ucap Juna tersenyum tulus. Namun tiba-tiba Queen menutup mulutnya.


"Uncle jangan senyum-senyum," kesal Queen. Sontak semua orang kaget mendengarnya.


"Memangnya kenapa huh?" Juna mencubit pelan kedua pipi Queen karena gemas.


"Pokoknya jangan senyum-senyum, aku gak suka." Queen pun kembali memeluknya dengan erat. Dan apa yang Queen lakukan berhasil mengundang senyuman mereka.


"Dasar gadis kecil posesif." Juna pun memeluk Queen dengan erat. Sedangkan Zain dan Rea hanya bisa menggeleng dengan tingkah lucu putrinya itu.


****


"Sayang, kenapa tadi bersikap tidak sopan?" Tanya Rea saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Habis Auntynya mau lebut Uncle." Jawab Queen dengan santai.


Rea mengerut bingung. "Dari mana kamu tahu Aunty akan merebut Uncle?"


"Tadi Auntynya dekat-dekat telus sama Uncle."


Rea tersenyum geli. "Jangan ulangi lagi okay? Tidak baik bersikap seperti tadi."


Queen menyebikkan bibirnya.


"Sayang."

__ADS_1


Queen menggeleng kuat. "Tante jelek itu jahat. Aku gak suka."


Rea menatap Zain lekat. "Kamu yang ngomong deh."


Zain menghela napas pendek. "Queen sayang Daddy dengan Mommy tidak?"


Queen mengangguk pelan.


"Kalau begitu jangan membuat Mommy dan Daddy malu okay? Mommy dan Daddy tidak pernah mengajarkan kamu bersikap tidak sopan. Bagaimana jika tidak ada yang mau jadi teman kamu?"


"Aku kan punya Uncle." Sahut Queen dengan santainya.


Zain dan Rea menghela napas panjang.


"Tidak selamanya Uncle bisa menemani kamu, sayang."


"Pokoknya aku mau Uncle. Tidak ada yang boleh ambil Uncle." Teriak Queen.


Zain melirik istrinya sekilas. Lalu berbisik. "Dia persis sepertimu. Kita harus memikirkan cara supaya Queen tidak terlalu dekat dengan Juna. Aku tidak mau mada depan Juna terhambat karena anak kita, begitu pun sebaliknya. Dia sama keras kepalanya denganmu."


Rea memijat kepalanya. "Huh... aku tidak pernah menyangka Queen akan separah ini."


"Aku tidak ingin dia mengikuti jejakmu."


"Aku tidak akan membiarkan itu." Sahut Rea.


"Mommy, Daddy... aku ingin ke lumah Mima." Teriak Queen dengan wajah kesalnya. "Aku akan melapolkan pada Mima kalau Mommy dan Daddy memalahiku."


"Sayang... Mommy dan Daddy tidak pernah memarahimu." Sahut Rea.


"Tadi Mommy dan Daddy memalahiku. Pokoknya aku mau ke lumah Mima." Kekehnya.


"Okay, kita ke rumah Mima. Tapi jangan marah lagi okay?"


"Tidak. Kalian jahat. Mima halus menghukum Mommy dan Daddy."


Rea dan Zain saling memandang. Lalu keduanya tersenyum geli.


"Terserah kamu aja lah. Daddy pasrah."


"Mommy juga tidak mau membantah."


"Bagus... Mommy dan Daddy tidak aku izinkan bicala lagi. Kalian dihukum." Seru gadis kecil itu seraya melipat kedua tangannya di dada.


"Aku rasa dia akan tumbuh menjadi anak gangster sepertimu. Mungkin ini efek karena kau membunuh orang saat hamil Queen." Bisik Zain.


"Hey, mana mungkin. Jangan percaya dengan tahayul seperti itu. Lagi pula wajar saja dia ikut sifatku, aku yang mengandungnya."


"Kau sama saja dengannya."


"Ya, karena aku Mommynya."


"Terserah kau saja."


"Cih, dasar suami aneh."


"Kau yang aneh."


"Mommy, Daddy! Kalian tidak boleh bicala." Seru Queen yang berhasil membuat keduanya terdiam. "Jangan bicala lagi. Kalian belisik tahu."


Rea mendengus sebal, kemudian menghidupkan musik dengan suara keras.

__ADS_1


"Mommy!" Seru Queen yang disambut tawa oleh orang tuanya. Rea memang sengaja ingin mengerjai putri cerewetnya. Sedangkan Queen tampak kesal sambil menutup kedua telinganya. Meski begitu ia terlihat menggemaskan.


__ADS_2