
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, si gadis kecil yang menggemaskan kini mulai beranjak dewasa. Gadis kecil yang biasanya berlari ke sana kemari kini sudah tumbuh menjadi sosok gadis cantik nan elok. Tubuh ramping dan semampai dengan paras yang cantik sering kali menjadi bahan rebutan para kaum adam yang melihatnya. Namun tidak ada satu pun lelaki yang berhasil menarik perhatian gadis itu selain Arjuna, lelaki yang selalu setia menemani sang Daddy kemana pun. Kedekatan dirinya dengan sang Uncle membuat Queen tak dapat mengontrol perasaanya.
Queen terus bersenandung ria sambil melihat pantulan dirinya di cermin. Seragam sekolah yang ia kenakan begitu pas di tubuhnya yang ramping. Setelah puas memoles diri. Gadis cantik itu pun beranjak dari kamar menuju ruang makan.
"Hai, Mom, Dad." Sapa Queen memberikan kecupan hangat pada kedua orang tuanya. Lalu beralih pada sang adik yang tengah menyantap roti.
"Berhenti menciumku. Aku sudah besar." Kesal King tidak senang mendapat ciumaan dari sang Kakak.
"Jangan lupa kau itu adikku, bagiku kau akan selalu menjadi adik kecil." Ujar Queen duduk di sebelah adiknya itu. Lalu menyambar selembar roti tawar dan melahapnya.
King mendengus sebal. "Cepat sedikit, aku bisa terlambat karenamu."
"Terlambat sedikit tidak jadi masalah."
"Sudah, jangan ribut terus. Makan dengan tenang. Setiap pagi kalian selalu berdebat." Tegur Rea.
"Cepat sedikit, Queen. Pagi ini Daddy ada meeting." Ujar Zain seraya melirik arloji di tangannya.
"Hm. Salam rindu untuk Uncle." Sahut Queen tersenyum lebar.
Rea melirik putrinya. "Queen, berhubung hari kelulusanmu tinggal satu bulan. Mommy dan Daddy sudah memutuskan untuk mengirimmu ke Amerika. Lanjutkan studymu di sana."
Queen tersedak mendengarnya. Cepat-cepat ia meneguk susu. "Tapi...."
"Daddy sudah mengurus keperluanmu di sana, apartemen, mobil dan semua fasilitas lainnya. Setelah hari kelulusan Daddy akan mengantarmu langsung." Sela Zain.
Queen memasang wajah sedih. "Kalian belum mendengar pendapatku. Sebenarnya aku ingin tetap di sini." Protesnya.
"Semuanya sudah diputuskan. Lagipula Ella juga akan melanjutkan study di sana. Kau tidak akan kesepian."
Queen menghela napas kasar. "Terserah kalian saja." Terlihat jelas ketidak relaan dimata gadis itu. Ia tahu dengan adanya Ella ia tidak akan bisa bebas.
Rea dan Zain pun saling melempar pandangan. Bukan tanpa alasan mereka mengirim putrinya ke luar negeri. Mereka hanya ingin memisahkan gadis itu dari Juna. Bagaimana mungkin mereka tidak resah, dua bulan yang lalu Queen berhasil menggagalkan pernikahan Juna dengan mengancam mempelai wanita. Alhasil wanita itu membatalkan pernikahan sepihak dan pernikahan itu benar-benar gagal. Padahal sangat sulit mencari pasangan yang cocok untuk Juna sampai detik ini karena lelaki itu seolah menutup hati.
Sepanjang perjalanan, Queen tampak termenung dan tidak semangat. Sesekali terdengar helaan napas berat. Tentu saja Zain menyadari itu, hanya saja ia pura-pura tidak peka.
Queen menatap sang Daddy lekat. Ingin sekali rasanya ia protes sekali lagi. Namun semua itu ia simpan dalam hati. Tidak ingin membuat orang tuanya kecewa karena penolakan yang akan ia berikan.
"Daddy, di hari kelulusanku. Apa kalian akan hadir?" Hanya itu yang mampu Queen ucapkan.
Zain menoleh. "Tentu saja, kami akan selalu hadir di hari sepesialmu."
__ADS_1
Queen menarik ujung bibirnya dengan susah payah.
"Aku rasa aku tidak perlu hadir, teman-temanmu itu sangat menyebalkan." King menanggapi.
"Aku tidak memaksamu." Sahut Queen seolah tidak peduli akan kehadiran sang adik. Yang ia harapkan itu kehadiran sosok cinta pertamanya, Juna.
"Dad, apa aku boleh mengundang Uncle?" Tanya Queen sedikit ragu.
Zain tidak langsung menjawab. "Daddy yang akan bicara padanya."
"Hm." Lagi-lagi Queen terlihat kecewa. Padahal ingin sekali rasanya ia menemui lelaki itu secara pribadi. Sejak tragedi pernikahan itu, kedua orang tuanya seolah sengaja menjauhkan Queen dengan Juna. Biasanya Juna akan sering datang ke rumah, tetapi setelah itu lelaki itu seolah menghindarinya. Dan itu membuat Queen benar-benar sedih. Queen selalu berpikir Juna marah padanya karena ia menggagalkan pernikahan itu.
"Hey, ada apa denganmu?" Tanya salah satu teman Queen saat melihat wajah sedih gadis itu. Queen menggeleng seraya meletakkan tasnya di atas meja. Lalu ia pun duduk dengan malas.
"Apa terjadi sesuatu dengan Uncle tampanmu itu?" Tanyanya lagi. Queen menatap dua temannya itu lekat.
"Apa menurutmu aku salah mencintainya?"
Kedua gadis itu mengerut bingung. "Apa maksudmu?"
"Aku rasa Uncle tidak ingin bertemu denganku lagi setelah kejadian itu. Bahkan Mommy dan Daddy akan mengirimku ke Amerika."
Queen tampak berpikir sejenak. "Apa harus?"
"Tidak ada salahnya kau coba kan?"
Queen tampak berpikir keras. "Akan aku pikirkan."
****
Malam hari, Rea terlihat bergelayut manja dalam dekapan sang suami. "Sayang, apa keputusan kita sudah benar? Sejak hari itu Queen terlihat murung dan pendiam. Aku rasa dia keberatan."
Zain menghela napas berat. "Hanya ini satu-satunya cara untuk memisahkan mereka. Kau tahu sendiri Queen itu mewarisi semua sifat keras kepalamu. Dengan memisahkan dia dari Juna, aku rasa dia akan menemukan hidup yang baru."
Rea mengangguk. "Aku tidak menyangka Queen akan memiliki perasaan lebih pada Juna. Ini kesalahan kita karena memberikan mereka ruang bebas. Apa kau yakin Juna tidak memiliki perasaan apa pun pada putri kita?"
"Jangan khawatir, Juna bilang padaku dia hanya menganggap Queen seperti anaknya sendiri. Queen masih sangat muda, dia akan menemukan cinta baru di sana. Dan melupakan Juna tentunya."
"Hm." Rea mengangguk pelan. Bohong jika ia tidak memikirkan putrinya yang keras kepala itu. Bagaimana bisa Queen mencintai Juna yang lebih cocok menjadi Ayahnya. Entahlah, tidak ada yang tahu cinta akan berlabuh pada siapa bukan?
"Sudahlah, kau harus istirahat. Ayok tidur."
__ADS_1
Rea mengangguk patuh. Ia mencium pipi suaminya sebelum memejamkan mata.
Sedangkan di kamar lain, Queen terus mondar-mandir tak jelas. Ia masih memikirkan perkataan temannya beberapa hari lalu.
Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan Uncle? Di sisinya selalu ada Daddy. Pikirnya.
"Ah, apa sekarang saja aku pergi? Sepertinya Daddy dan Mommy sudah tidur." Queen beranjak menuju walk in closet dan bergegas mengganti pakaian. Keputusannya sudah bulat, ia akan mengungkapkan perasaanya pada Juna. Tidak ada waktu lagi untuk bertemu lelaki itu. Beberapa pekan lagi ia sudah dikirim ke Amerika. Akan sulit menggubunginya lagi.
Setelah memastikan kedua orang tuanya tidur dan memanipulasi cctv. Queen pun bergegas pergi menggunakan mobil kesayangannya. Tanpa diketahui, King melihat kepergiannya dari balkon kamar.
"Kau sangat keras kepala, Kak. Aku harap Daddy tidak tahu perbuatanmu." King pun masuk kembali ke dalam kamar.
Queen menggigit ujung bibirnya. Saat mobil miliknya sudah terparkir di depan gerbang rumah Juna. Suasana di sana tampak sepi karena malam semakin larut. "Bagaimana ini?"
Queen mengeluarkan ponselnya. Kemudian mencari nomor ponsel Juna. Setelah berpikir panjang, ia pun memutuskan untuk menghubunginya secara langsung.
Tidak butuh waktu lama Juna keluar dari rumahnya, menghampiri mobil Queen. Lalu mengetuk kaca mobil gadis itu.
Queen menghela napas panjang. Kemudian dibukanya pintu perlahan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Juna dengan tatapan tajam. Queen mencengkram erat sweaternya.
"Uncle... aku... aku ingin bicara hal penting." Queen terlihat gugup.
"Ini sudah larut, Queen. Apa Daddymu tahu kau pergi kemari?"
Queen langsung menggeleng kuat. "Tolong jangan katakan apa pun pada Daddy. Please."
"Sebaiknya kau pulang." Juna membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Namun tanpa di duga Queen menutupnya kembali. Bahkan dengan berani ia mencium bibir Juna. Seketika tubuh Juna membeku.
"I love you, Uncle." Ucap Queen memberikan tatapan penuh harap. Juna yang masih kaget pun tampak mematung ditempatnya. Apa yang Queen lakukan benar-benar membuatnya kaget setengah mati.
Queen mulai bingung karena Juna masih terdiam mematung. "Uncle." Panggilnya yang berhasil membuat Juna kaget.
Lelaki itu membuka pintu mobil Queen lagi. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Setidaknya katanya sesuatu, Uncle." Pinta Queen. Namun Juna masih diam, mendorong gadis cantik itu masuk ke dalam mobil. Membuat Queen merasa sedih.
Juna meninggalkan Queen tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Queen mulai menitikan air mata. "Kenapa sangat sakit?"
Dengan perasaan yang tak menentu Queen melajukan mobilnya pelan. Keterdiaman Juna membuatnya berpikir jika lelaki itu sama sekali tak peduli dengan perasaanya. Sangat menyakitkan memang.
__ADS_1