
Sean tersentak karena Queen memutus panggilan begitu saja. Namun detik berikutnya ia tersenyum tipis.
"Ini cincin pesanan Anda, Tuan. Kami juga sudah mengukir nama sesuai yang Anda inginkan." Ujar salah seorang wanita memberikan sepasang cincin pernikahan yang begitu indah. Di salah satu cincin itu tersemat sebuah berlian dengan harga fantastis.
Ya, saat ini Sean memang berada di sebuah toko perhiasan ternama. Dan inilah masa depan yang dimaksudnya tadi. Masa depan yang akan menjadi sumber kebahagiaannya.
"Ya, terima kasih." Sean tersenyum seraya menyerahkan sebuah black card miliknya pada si wanita penjaga toko perhiasan.
Lelaki itu tersenyum lebar. "Aku harap kau tidak membenciku setelah ini."
Setelah selesai dengan urusan cincin, Sean pun bergegas pergi meninggalkan New York. Dan langsung melakukan penerbangan ke Indonesia.
Kembali ke kediaman Zain.
Zain tampak bahagia saat mendapat pesan bahwa Sean sudah melakukan penerbangan ke Indonesia.
"Dia sudah di mana?" Tanya Rea mendekati suaminya.
"Baru saja terbang dari New York. Lihat ini, dia sudah menyiapkan cincin terbaik untuk Queen." Zain menunjukkan foto cincin pernikahan yang Sean kirimkan padanya.
Seketika mata Rea terbelalak saat melihat cincin itu. Bahkan mulutnya sedikit terbuka.
"Oh God! Ini kan cincin limited edition keluaran terbaru, sayang. Harganya juga gak main-main. Ya ampun, sepertinya Sean beneran cinta mati sama anak kita."
"Ya iyalah, kalau gak cinta mana mungkin dia rela dihajar habis-habisan cuma buat nikahin Queen. Kerja sama yang baik bukan?"
"Ck, kasian juga dia harus babak belur. Habis anak kamu sih susah banget diajak nikah, mana udah tidur tiga kali lagi. Untung gak hamil. Kalau sempat anak kita hamil di luar nikah, siap-siap aja kamu kena skor sama Daddy." Omel Rea merebut ponsel Zain dan duduk di sofa. Ia senyum-senyum sendiri saat melihat cincin yang luar biasa bagusnya itu. Gak kebayang secantik apa saat Queen memakaianya.
Sebelumnya Sean memang meminta bantuan pada Zain dan Rea untuk membantunya membujuk Queen supaya menerima lamarannya. Dan semua rencana ini bukanlah ide Sean, melainkan Rea. Hanya saja untuk masalah babak belur yang Sean dapat itu idenya sendiri. Katanya sih supaya lebih meyakinkan.
Bukan hanya itu, sebelumnya Sean juga sudah berkata jujur jika dirinya meniduri Queen. Mungkin karena itu juga Zain mengambil kesempatan untuk menghajarnya sampai puas. Enak saja dia mencicipi putrinya sebelum menikah.
"Sayang, kamu yakin Queen tidak marah? Bagaimana jika dia tahu ini semua akal-akalan kita? Kamu tahu sendiri kan Queen tidak mau nikah muda." Zain terlihat cemas.
"Dia gak akan marah kalau gak tahu. Kecuali kamu yang ngomong. Salah dia sendiri kegatelan minta di belai terus, tapi gak mau nikah. Mau jadi apa dia nanti? Untung Sean tanggung jawab, lah kalau dia dapat cowok hidung belang gimana? Malah aku bersyukur kalau punya mantu kayak Sean. Udah baik, ganteng, kaya lagi. Kurang apa lagi cobak?"
Zain tersenyum, lalu duduk di samping istrinya. "Seperti mimpi, baru aja kemarin Queen lahir dan aku gendong-gendong. Sekarang udah mau nikah. Ada rasa gak rela sebenarnya ngelepas dia secepat ini."
Mendengar itu Rea langsung menoleh. "Jangan sampe kamu berubah pikiran loh. Kasian Sean udah sampe babak belur."
"Enggak mungkin aku berubah pikiran. Harus ada yang jagaian Queen di sana. Gak selamanya aku bisa ngawasin dia terus. Aku percayakan anak kita pada Sean."
Rea tersenyum. "Semoga anak-anak kita selalu diberi kebahagian. Gak sabar juga sih gendong cucu. Udah lama gak gendong bayi."
Wajah Zain seketika bersinar. "Gimana kalau kita cobak buat baby lagi? Mungkin aja masih bisa."
__ADS_1
"Kak! Aku udah tua, beresiko tahu kalau hamil lagi. Lagian udah ada Queen yang bisa kasih cucu buat kita. Apa lagi anak kamu yang satu itu semangat banget buat produksi bayi. Aku rasa gak lama lagi kita bakal punya cucu."
Mereka tidak pernah tahu jika Queen berusaha menghindari kehamilan, bahkan anak itu berani suntik progestin tanpa sepengetahuan Sean.
"Tetap saja beda, aku lagi pengen nih."
Rea melotot mendengarnya. "Emangnya kamu gak capek apa? Bolak balik Amerika indo kan nguras tenaga."
"Kalau buat kamu aku gak akan capek. Ayok sekarang aja, takutnya nanti malam gak sempat."
"Ck, gak sabaran banget sih. Ya udah, aku ganti baju dulu biar lebih gampang." Rea pun bangun dari posisinya dan melangkah pasti menuju walk in closet.
"Pake yang aku beliin kemarin ya sayang. Cepat, aku tunggu."
"Ih... iya bawel, dasar tua-tua keladi."
Zain yang mendengar itu tertawa geli. Dan dengan penuh kesabaran ia menuggu sang istri keluar.
****
Queen sama sekali tidak bicara sejak sarapan pagi tadi sampai sore ini. Dan itu membuat Rea dan Zain cemas.
Saat ini Queen duduk termenung di bibir kolam renang. Tatapannya kosong dan begitu jauh menerawang.
Rea yang melihat itu merasa bersalah karena terlalu berlebihan memarahi putrinya. Padahal ia tahu Queen sangat sensitif. Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada anak tersayangnya itu. Rea pun menghampirinya.
"Hm." Rea menarik Queen dalam dekapannya. Seketika tangisan Queen pun pecah.
"I am so sorry, Mom. I am sorry."
Rea menghela napas berat. "It's okay sayang. Mommy sudah memaafkan kamu kok. Mommy juga minta maaf karena belum bisa menjadi Mommy yang baik buat kamu."
Queen memeluk erat pinggang Rea. "Mom, aku sungguh belum ingin menikah. Katakan pada Daddy untuk tidak memaksa Sean untuk menikahiku."
Hati Rea terenyuh mendengarnya. "Mommy tidak bisa menahannya, Queen. Kamu tahu sendiri bukan sekeras apa Daddymu. Apa lagi dia sudah sangat kecewa padamu. Lagi pula apa salahnya menikah muda. Kamu juga masih bisa menjalankan aktivitas seperti biasa."
"Rasanya sudah pasti berbeda, Mom. Aku tidak bisa lagi bebas ke sana kemari, sudah pasti dia akan selalu membayangiku."
"Jangan bodoh. Kau sudah menyerahkan harga dirimu padanya. Apa aku yakin akan melepaskan Sean begitu saja?"
Queen tidak menjawab.
"Dengarkan Mommy, Sean pasti tidak akan melarangmu pergi ke mana pun. Mommy percaya itu."
"Tapi aku belum mau menikah, Mom. Aku masih ingin bebas seperti yang lainnya."
__ADS_1
"Kalau begitu pergilah, jangan menyesal jika Sean memilih wanita lain yang siap untuk dinikahi. Mommy rasa kamu akan menyesal seumur hidup."
"Mom, kenapa Mommy terus membelanya? Di sini aku atau dia sih yang anak Mommy?" Kesal Queen.
"Bukan seperti itu, sayang. Mommy cuma mengkhawatirkan masa depan kamu."
"Aku pasti baik-baik saja, Mom."
"Jadi kau tidak ingin menikah dengan Sean?"
"Bukan tidak ingin menikah dengannya, tapi aku belum siap untuk menikah, Mom. Aku belum paham soal tugas seorang istri."
"Kamu bisa belajar seiring dengan waktu, Queen." Sambar Zain yang berhasil mencuri perhatian dua wanita berharganya itu.
"Sean sudah ada di sini, temui dia." Imbuh Zain. Sontak Queen pun terkejut.
"Jadi dia benar-benar datang?" Seru Queen tanpa sadar bibirnya melengkung kecil.
"Ya, dia ada di ruang tamu."
Sangking bahagianya, Queen langsung bangun dan berlari ke dalam. Mengabaikan orang taunya yang terperangah.
"Apa kau lihat tadi? Baru saja dia bilang tidak mau menikah, sekarang dia berlari saat mendengar Sean ada di sini." Ujar Zain menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Huh... aku juga tidak mengerti dengan isi kepala putrimu." Rea menghela napas berat.
"Lupakan itu, sebaiknya kita susul anak itu."
Rea pun mengangguk. Lalu keduanya pun bergegas masuk.
Di ruang tamu, Queen melempar Sean dengan bantal sofa. "Dari mana saja kau huh?" Semprotnya.
"Sejak tadi aku di sini, sayang."
"Dasar pembohong." Queen mendekati Sean dan memukul lelaki itu sampai puas. "Buat apa kau ke sini huh? Pergi saja urus pekerjaanmu itu. Bukankah itu lebih penting dariku? Bahkan kau mengatakan itu masa depanmu. Lalu buat apa kau datang kemari?"
Sean tersenyum geli mendengarnya. "Sayang, aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
"Kau memang sialan, brengsek. Aku akan membunuhmu."
"Apa kau marah karena ucapanku malam tadi huh?"
"Jangan bertanya hal yang sudah kau tahu jawabannya, Sean. Kau membuatku muak."
Sean tersenyum, meraih tangan Queen dan mengecupnya dengan lembut. Kemudian ia langsung berjongkok, dan mengeluarkan sebuah kotak bludru.
__ADS_1
"Queen, will you marry me?"