Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Gairah Pengantin Baru


__ADS_3

Faizah berhenti mengunyah saat mendengar itu.


"Kita jalani semuanya dulu, jika kedepannya kamu tidak bahagia bersamaku. Kamu bisa pergi." Imbuh Juna.


Faizah meletakkan rujak di atas meja, lalu menelan sisa rujak yang masih ada di mulutnya. "Tapi kamu bilang aku ini beban. Kamu yakin akan menampung beban ini sampai tua? Ck, kamu kan memang sudah tua, aku lupa."


Juna terdiam sejenak. "Kita jalani semuanya layaknya suami istri."


Faizah yang mengerti ke mana arah pembicaraan Juna pun menelan air liurnya.


Jadi kita bakal gituan lagi dong? Duh... kok aku jadi seneng gini ya?


"Hm." Sahut Faizah yang bingung harus ngomong apa lagi. Dan ia terkejut saat tangan Juna menempel di perutnya.


"Kita besarin dia dengan penuh kasih sayang, saya tidak ingin dia menjadi Halley kedua."


Faizah mendadak membeku. Apa lagi tangan kekar Juna menyelusup masuk ke dalam tanktopnya dan memberikan elusan lembut.


Duh... bisa gila aku kalau gini terus. Faizah menggigit ujung bibirnya karena mendadak otaknya jadi ngeres. Namun, cepat-cepat ia menggeleng dan membuang keinginannya itu.


"Kamu kenapa?" tanya Juna saat melihat keanehan istrinya.


"Eh! Enggak papa." Sahut Faizah cepat-cepat. Lalu gadis itu pun kembali fokus ke layar televisi dengan keringan bercucuran karena menahan rasa pedas.


Juna menatap wajah gadis itu lamat-lamat. Ia akui jika Faizah lumayan cantik, gadis itu memiliki mata bulat dengan bulu lentik, hidung kecil lancip yang begitu pas dengan wajahnya yang bulat. Dan yang sering membuatnya tak fokus yaitu bibir merona Faizah yang agak membengkak karena makan pedas. Ia masih mengingat bibir itu beberapa kali menyerangnya. Bisakah dia menyerangnya juga?


"Izah." Panggil Juna yang berhasil mencuri perhatian gadis itu.


"Fai aja manggilnya, jangan Izah ih. Gak enak di dengernya. Fai aja biar lebih simpel." Protes Faizah merasa jengan dengan panggilan suaminya itu.


"Saya maunya Izah."


Faizah berdecak kesal. "Terserah ah. Jangan ganggu, saya mau nonton." Ia menghapus keringatnya dengan tisue.


"Saya mau kamu, Izah."


Faizah terkejut dan langsung menoleh. Ia bukan orang bego yang tidak memahami perkataan suaminya.


Duh... kok bisa kebetulan gini sih? Aku juga mau, tapi gimana cara bilangnya ya?


"Mau apa?" Tanya Faizah pura-pura bodoh. Sambil terus menyapu wajahnya dari keringat.


Juna terdiam sejenak. Ia mulai bingung sekarang. Mana mungkin dia bilang terus terang kan jika dirinya sedang ingin bercinta. Juna sendiri bingung kenapa dirinya begitu menginginkan Faizah saat ini. Apa lagi penampilan istrinya itu benar-benar menggoda. Padahal saat menikah dengan Clarie dulu Juna tidak segairah ini. Bahkan ia tak pernah menyentuh mantan istrinya itu sampai mereka berpisah.


Ck, kok malah diem sih. Harusnya tanggung jawab dong udah buat aku berharap banyak. Gerutu Faizah dalam hati.


Sial! Kenapa di bawah sana terus berdenyut. Apa aku mulai tertarik dengan gadis tengil ini? Batin Juna.


"Mau apa sih, Pak suami? Kok malah diam?" Tanya Faizah lagi.

__ADS_1


"Enggak jadi." Jawab Juna sekenanya.


Lah, gagal dong. Ih... mana aku udah pengen lagi. Gimana dong?


Ck, bagaimana caranya aku meminta hakku padanya? Bisa-bisa dia besar kepala kalau aku minta duluan.


Faizah terlihat gelisah. Berulang kali ia menelan air liurnya apa lagi tangan Juna masih berada di perutnya. Membuat angan bumil yang satu semakin melanglang buana. Mungkin benar kata orang-orang, jika perempuan dan laki-laki berdua-duaan. Orang ketiganya pasti setan. Dan itu terjadi pada mereka yang notabennya pengantin baru.


Faizah tidak tahan lagi, ia pun menoleh. "Pak suami."


"Hm." Juna yang tadinya melamun terkesiap karena wajah mereka begitu dekat. Dan pandangan mereka pun bertemu dan saling mengunci satu sama lain.


Entah siapa yang memulai, kini keduanya sudah terlibat dalam ciumana panas. Faizah yang sejak tadi sudah dikuasi gairah pun mengalungkan kedua tangannya di leher Juna. Sepertinya kali ini Faizah akan mendapat sentuhan sungguhan.


"Ahh...." Faizah m*nd*s*h kecil saat Juna melepaskan ciuman mereka. Napasnya tak beraturan karena hampir kehabisan stok oksigen.


Juna mengusap bibir istrinya yang basah dan bengkak karena ciuman tadi. Lalu pandangan mereka pun kembali bertemu. "Bibir kamu pedes."


Faizah terkekeh lucu. "Kan abis makan rujak."


Juna melupakan itu. "Mau lanjut?" Tanyanya memastikan. Meski sebenarnya ia berhak untuk melanjutkannya apa lagi yang di bawah sana sudah merindukaan sarangnya. Tetapi Juna butuh izin istrinya.


"Terserah, kalau gak keberatan." Jawab Faizah berusaha sesantai mungkin. Padahal jantungnya sudah berdegup kencang.


Juna menarik Faizah ke atas pangkuannya. Dan kembali mencecap bibir manis bercampur pedas itu dengan lembut. Bahkan tangannya mulai bergerak nakal.


"Uhhh...." Faizah melenguh saat tangan kekar Juna menyelusup masuk ke dalam celananya. Bahkan dengan nakal Juna menusukkan jari besarnya ke lubang sempit itu. Dan bermain liar di bawah sana.


Faizah menggigit ujung bibirnya. "Malu."


Juna kembali melahap bibir ranum istrinya. Lalu menggigitnya pelan. Tentu saja Faizah mengeluarkan suara indahnya.


"Masukin, gak tahan." Pintanya.


Juna tersenyum miring. "Terlalu cepat."


Faizah menatap Juna penuh kecewa, apa lagi Juna mencabut jarinya saat Faizah hampir meledak.


"Sssttt...." Faizah mendesis saat tangan Juna memijat dua daging kenyalnya dari luar. Rasanya agak sakit, mungkin karena hormon kehamilannya saat ini. "Pelan-pelan, sakit banget."


Juna membaringkan Faizah di sofa, lalu mengecup leher Faizah dengan lembut, kecupan itu pun perlahan berganti dengan gigitan kecil. Tidak puas di sana, Juna melepas semua pakaian istri kecilnya itu dan membuangnya asal. Juna terkesiap melihat keindahan tubuh istrinya untuk yang pertama kali tanpa pengaruh obat. Semuanya terlihat begitu menantang. Tidak ingin membuang waktu, Juna pun ikut melepas pakaiannya dan langsung menyerang Faizah.


"Ouhhh...." Faizah menjerit tak karuan saat Juna mengecup pucuk gunung kembarnya dengan lembut. Dadanya membusung seolah memberikan ruang pada Juna untuk melahapnya sampai habis. Bibir hangat Juna membuat Faizah semakin menggila. Di rematnya rambut lelaki itu untuk menyalurkan rasa nikmat yang tak bisa diungkan dengan kata-kata. Selain dengan suara erangan dan d*s*h*n penuh kenikmatan.


Lucu memang, baru saja tadi mereka berdebat dan saling beradu mulut. Dan sekarang mulut keduanya justru saling memberikan kenikmatan yang tiada tara.


"Akkhh sakit." Faizah memekik kencang saat benda keras dan besar milik Juna masuk ke dalam liang miliknya yang hangat dan masih sempit. Air matanya menetes karena rasanya masih sangat perih. Padahal mereka sudah melakukan pemansan lebih dulu tadi. Wajar saja, karena Faizah hanya melakukan itu sekali dengan Juna. Dan itu sudah satu bulan yang lalu.


"Jangan bergerak dulu, sakit." Pinta Faizah mencengkram erat pundak suaminya. Ia tidak berbohong, rasanya sangat ngilu dan sesak.

__ADS_1


Tidak ingin menyakiti istrinya, Juna pun mencium bibir Faizah dengan lembut agar iatrinya itu lebih rilex.


Faizah menyelusupkan jemarinya di rambut halus Juna dan kembali terhanyut dalam ciuman memabukkan suaminya itu. Juna pun mulai bergerak perlahan.


"Sssttt, punya kamu masih sempit, Izah. Saya gak bisa gerak."


Faizah yang sudah dikuasi gairah pun tidak peduli lagi dengan panggilan suaminya. Ia mulai menikmatinya. Dan permainan itu pun semakin panas dan gila. Bahkan mereka melakukannnya tanpa keterpaksaan dan pengaruh obat. Itu murni keinginan keduanya. Berbagai gaya dan posisi telah mereka coba. Bahkan kamar itu mendadak panas meski ac hidup sekali pun.


Juna benar-benar menggempur Faizah sampai lemas tak berdaya. Dan permaian itu tentu saja berlangsung cukup lama. Sampai Juna pun ikut ambruk di sisi istrinya. Lalu keduanya pun terlelap karena kelelahan.


****


Karena percintaan itu, keduanya pun terpaksa mengundur pindahan menjadi besok karena keduanya terbangun saat hari sudah gelap.


Namun, keduanya terlihat seolah tidak terjadi apa-apa dan kembali bersikap acuh tak acuh. Seperti sekarang ini, Faizah terlihat sibuk merawat wajahnya sedangkan Juna asik dengan gawai.


"Pak suami, besok mampir ke apart bentar ya? Mau ambil barang di sana." Pinta Faizah.


"Besok pagi aku sibuk, ambil saja sendiri." Jawab Juna yang berhasil membuat Faizah manyun.


"Ih, baiknya pas lagi gituan aja. Udah dapat enaknya balik lagi deh tu balok es." Dumelnya.


Juna melirik istrinya sekilas. Lalu fokus kembali dengan ponselnya.


Faizah menghela napas berat. "Huh, sabar ya Baby. Besok kita jalan-jalan sendiri aja sekalian cari mangga muda. Kayaknya Papa kamu udah lupa."


Juna menarik perhatiannya pada sang istri. "Gak habis-habis masalah mangga muda?"


"Namanya juga orang ngidam."


"Kalau ada waktu kosong aku cari."


"Huh, keburu berojol kali. Gak usah, aku bisa cari sendiri. Tar aku panjat aja pohon mangga punya tetangga." Ancamnya.


Juna melotot mendengarnya. "Jangan macam-macam, Izah."


"Mau gimana lagi, punya suami gak tanggung jawab."


"Terus saya nikahin kamu itu apa, Izah? Harusnya kamu bersyukur saya nikahin, di sini kamu yang salah karena berani perkosa saya. Kalau gak mikir anak dalam perut kamu saya gak mungkin ada di sini."


Faizah mengerucutkan bibirnya. "Terus aja ungkit-ungkit. Kan aku udah bilang, kalau kamu gak ikhlas kita pisah aja. Aku bisa kok hidup sendiri. Kamu pikir aku lemah apa? Kamu aja yang perkasa bisa aku perkosa, apa lagi sugar daddy di luar sana yang butuh belaian. Saya bakal cari Ayah baby yang lebih muda, tampan dan kaya raya. Rencananya juga gitu, aku akan pergi ke Paris dan menjadi sugar Daddy. Hah, pasti seru bisa naklukin banyak sugar daddy."


Juna terkejut mendengarnya. Namun, detik berikutnya Juna tersenyum miring. "Cari aja, paling sebulan dua bulan juga udah di buang. Apa lagi kamu hamil, mana ada yang mau. Yang ada nyusahin."


Faizah mendengus sebal. "Oke, aku bakal cari sugar daddy beneran." Ancamnya. Berharap Juna memarahinya.


"Hm." Juna tidak peduli dan kembali fokus pada ponselnya. Sontak Faizah pun ternganga.


Jadi dia beneran gak keberatan aku cari sugar daddy? Oke, dia pikir aku bercanda apa. Aku pasti dapat sugar daddy yang tampan, kaya dan masih muda tentunya. Dasar suami tua mesum.

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2