Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Baby girl


__ADS_3

Tengah malam, Rea terbangun dari tidurnya karena mendengar suara deringan ponsel. Dengan berat hati Rea membuka matanya. Lalu meraih ponsel miliknya di nakas.


Mata Rea yang awalnya berat pun terbuka lebar saat melihat nama Jannie yang muncul di layar ponselnya. Dengan cepat Rea menerima panggilan.


"Hallo, Mom." Rea menyapanya dengan suara serak.


"Re, Letta akan melahirkan."


Rea langsung terduduk tegak. "Melahirkan?"


"Ya, dia terjatuh dari tangga. Mommy takut terjadi sesuatu padanya, Re."


Rea menutup mulutnya tak percaya. "Mom, jangan panik, okay? Aku yakin Letta baik-baik saja. Dia wanita kuat. Bagaimana dengan Daddy?"


"Setelah mendengar kabar dari Cris, Daddy langsung terbang ke Milan. Bahkan dia melupakanku. Sekarang dia terlihat sangat cemas, sejak tadi tidak ingin beranjak dari pintu operasi."


Rea menghela napas gusar. "Maafkan aku tidak bisa menemanimu, Mom. Kau tahu perutku sudah besar, aku tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Aku doakan Letta baik-baik saja, dia wanita kuat, percayalah."


Mendengar suara ribut sang istri, Zain pun terbangun dari tidurnya. Rea pun memberi isyarat agar Zain diam. Kemudian Zain pun merapatkan diri pada istrinya karena penasaran.


"Iya, sayang. Mommy paham kondisimu. Mommy hanya ingin memberi kabar padamu. Tolong kabari yang lain, Mommy tidak sanggup bicara lagi."


Rea menghidupkan lampu dan langsung mengalihkan ke panggilan video.


"Aku ingin bicara pada Daddy, Mom."


Jannie mengangguk, kemudian memberikan ponselnya pada Adam. "Rea." Katanya.


Tidak lama wajah pucat Adam pun memenuhi layar ponsel.


"Dad, tenangkan dirimu. Letta akan baik-baik saja okay?" Rea mencoba menenangkan ayah angkatnya.


"Bagaimana aku bisa tenang huh? Dia putriku satu-satunya. Ini yang aku takutkan jika dia jauh dariku." Keluh Adam memberikan tatapan sedih. Rea tersenyum tipis. Ia tahu Adam sangat mencintai Aletta.


"Jika terjadi sesuatu, aku tidak akan memaafkan lelaki itu." Imbuhnya.


"Dad, Cristian tidak salah dalam hal ini. Letta baik-baik saja, aku percaya itu."


Adam mengusap wajahnya kasar. "Dia tidak bisa melindungi putriku."


"Itu hanya kecelakaan, Dad. Tenangkan dirimu."


Jannie mengambil kembali ponselnya. "Daddymu terus menyalahkan Cristian, bahkan dia menghajarnya lagi."


Rea terkejut mendengarnya. "Mom, Letta akan sedih jika tahu suaminya kembali babak belur. Selama ini dia terlihat bahagia dengan keluarga kecilnya."


"Mommy tahu, tapi Daddymu sangat keras kepala."


Rea menghela napas berat. "Aku paham kecemasannya, Mom. Meski Daddy tidak pernah menunjukkan cintanya pada Letta. Tetap saja dia mencintainya lebih dari siapa pun."


"Ya, kau benar, Re. Hanya saja lelaki itu tidak pandai menyampaikannya. Dasar lelaki tua tidak berguna."


Rea tersenyum geli. Tidak lama dari itu terdengar suara tangisan bayi begitu nyaring.


"Bukankah itu bayinya?" Seru Rea.


"Ya." Jannie kembali mendekati pintu ruang operasi. Tidak lama seorang suster keluar bersama seorang bayi dalam gendongannya.


"Selamat, bayinya perempuan." Ujar sang suster. Rea tersenyum senang mendengarnya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan pitriku?" Tanya Adam terlihat serius.


"Putri Anda baik-baik saja, sebentar lagi kami akan memindahkannya ke ruang rawat. Aku pamit dulu, bayinya harus segera di bersihkan."


Terlihat di layar, Cristian mendekati sang suster. Di tatapnya bayi itu lamat-lamat. "Bisakah aku menggendongnya sebentar?" Pintanya.


"Tidak." Sambar Adam. Lelaki itu mendekat dan langsung merebut bayi itu dari gendongan sang suster. "Dia cucu pertamaku, tentu saja aku yang pertama kali menggendongnya."


Semua orang mengulum senyuman lebar mendengar itu. Cristian juga ikut tersenyum lega, ia sempat mengira Adam tidak akan mengakui putrinya saat lahir. Namun semua ketakutan itu lenyap sudah.


Rea yang merasa haru pun memeluk suaminya erat.


"Kenapa wajahmu mirip si brengsek ini huh? Seharunya kau mirip Ibumu." Protes Adam dengan senyuman harunya. Jujur ia bahagia karena bisa menjadi orang pertama yang menggendong cucunya itu. Bayi merah itu menggeliat lucu.


Lagi-lagi semua orang tersenyum bahagia.


"Cepat bersihkan cucuku, buat dia secantik mungkin." Adam memberikan bayi itu pada sang suster. Wanita cantik itu pun langsung membawa sang bayi ke ruang khusus.


"Bersihkan dirimu sebelum menyentuh cucuku. Aku tidak ingin dia sakit. Kau terlihat seperti gembel." Adam menatap Cristian remeh.


Rea yang mendengar itu tersenyum geli.


Bukannya tersinggung, Cristian malah mengangguk patuh. "Terima kasih sudah mau menerima putriku."


"Hey... dia cucuku."


"Aku titip Aletta padamu, Dad. Aku akan kembali secepatnya."


Adam memalingkan wajahnya. Kemudian duduk di kursi tunggu karena merasakan pegal di kedua kakinya. Bagaimana tidak, hampir satu jam lebih ia berdiri di depan pintu.


"Pergilah, Cris. Kami akan menjaganya. Bawa perlengkapan Letta dan bayi. Kau belum sempat membawanya bukan?"


Jannie menatap Rea dari layar ponsel. "Letta baik-baik saja."


"Sudah aku katakan dia wanita kuat. Sekarang kalian bisa tenang. Selamat atas kelahiran cucu pertama kalian, aku ikut bahagia."


"Ya, aku menunggu cucu keduaku lahir."


"Baby girl akan segera hadir, Grandma." Rea menirukan suara anak kecil. Jannie pun tersenyum senang. "Lanjutkan tidurmu. Maaf Mommy menggangu kalian."


"Tidak apa-apa, Mom. Hubungi aku lagi jika Letta sudah bangun."


Jannie mengangguk pelan. Lalu mereka pun mengakhiri panggilan.


Rea memandang suaminya penuh cinta. "Letta berhasil melahirkan bayi cantik. Aku jadi berdebar menunggu kelahiran bayi kita."


"Kau pasti bisa. Aku percaya padamu." Zain mengecup bibir istrinya dengan lembut. Kemudian kecupan itu ia hadiahi juga untuk bayi kecilnya yang masih bersarang di perut sang istri. "Kami menunggumu."


Rea tersenyum haru. "Apa dia akan secantik aku?"


"Ya, dia pasti secantik dirimu."


"Bagaimana jika dia juga nakal sepertiku?"


"Aku akan menghukumnya." Keduanya pun tertawa bersama.


****


"Bagaimana ceritanya kau putus dengan Nesya?" Tanya Zain pada Juna. Sontak Daniel dan Mike pun menatap Juna. Ya, saat ini mereka tengah makan siang di sebuah restoran.

__ADS_1


"Dia yang memutuskan hubungan, aku tidak tahu alasannya." Jawab Juna dengan santainya.


"Aku rasa dia sudah tidak tahan untuk mendapat sentuhan panas. Kau tidak pernah memberikan itu padanya bukan?" Sindir Mike. Juna yang mendengar itu hanya tersenyum masam.


"Dan kau menerimanya begitu saja?" Zain menatap Juna serius.


"Ya, aku tidak bisa memaksanya untuk terus di sisiku. Aku sadar tidak bisa memberikan apa yang diinginkannya."


"Aku sendiri tidak tahu alasan apa sampai kau enggan untuk menikah secepatnya."


"Sudah aku katakan wanita itu butuh perhatian lebih. Apa salahnya kau mencicipinya sedikit, aku rasa selama ini Nesya sudah mencari batang lain." Timpal Daniel.


Juna tersenyum simpul. "Biar aku sendiri yang tahu alasannya." Lelaki itu benar-benar mengabaikan ucapan Daniel dan Mike. Seolah menghindari hal yang berbau dewasa.


"Cih, aku rasa kau akan menjadi bujangan lapuk." Ledek Mike.


"Tidak jadi masalah."


Zain hanya bisa menggeleng dengan sikap acuh Juna.


"Aku dengar sepupumu sudah melahirkan?" Tanya Juna mencoba mengalihkan perhatian semuanya.


"Ya, baby girl."


"Wah, sepertinya populasi wanita semakin banyak. Apa mungkin kau menunggu baby girl Zain dewasa?"


Zain mendengus sebal. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."


"Aku juga sadar diri, tidak mungkin aku memakan tanaman muda."


Daniel dan Mike tertawa kencang.


"Bagaimana dengan Maria? Aku dengar dia juga sedang hamil? Kapan kau akan menikahinya? Jangan sampai kau lari dari tanggung jawab." Kali ini Daniel yang mendapat sindiran maut dari Juna.


Daniel mendengus pelan. "Tentu saja aku akan bertanggung jawab."


"Tapi malam kemarin aku melihatmu memakai wanita baru." Ujar Mike tersenyum penuh arti.


"Sejak hamil Maria terus menolakku untuk berdekatan dengannya. Dia selalu mengeluh mual saat mencium aroma tubuhku. Jadi aku mencari wanita lain, hanya untuk pelampiasan tentunya."


"Brengsek memang." Umpat Zain.


"Aku rasa bayimu juga tahu jika ayahnya seorang b*j*ng*n. Karena itu dia menolak berdekatan denganmu." Ledek Mike lagi. Daniel mendengus sebal.


"Apa kau tidak memikirkan perasaan Maria? Bagaimana jika dia tahu kau bermain api di belakangnya?" Tanya Juna.


"Justru dia yang memintaku untuk mencari wanita lain selama dia hamil."


"What?" Ketiganya pun memekik kaget.


"Kau bercanda?"


"Aku tidak bercanda. Awalnya aku juga marah, tapi lama kelamaan aku juga butuh pelampiasan. Tidak ada salahnya aku memakai wanita lain, lagi pula aku membayar mereka. Mereka juga dengan senang hati menyerahkan tubuhnya padaku."


"Tetap saja kau brengsek. Bisa saja kau menolaknya." Sinis Zain.


"Hanya orang bodoh yang menolak santapan lezat." Sahut Daniel seraya menyesap kopinya.


"Kali ini aku setuju padamu, Niel." Tanggap Mike.

__ADS_1


Zain dan Juna hanya bisa menggelengkan kepala dengan sikap brengsek kedua sahabatnya itu. Beruntung mereka masih waras.


__ADS_2