Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Tidak bisa dipercaya


__ADS_3

Setelah perut kenyang, sepasang kekasih itu pun memutuskan untuk pulang.


"Sean, bolehkah aku berkunjung ke mansionmu lagi? Aku ingin bicara pada Ibumu."


Sean terkejut mendengarnya. "Apa yang akan kau bicarakan dengannya huh?"


Queen tersenyum. "Kau akan tahu nanti."


Sean melirik Queen sekilas. Kemudian fokus kembali melajukan mobilnya.


Namun ada yang aneh, mobil Sean berhenti tepat di depan pintu utama sebuah gedung pencakar langit. Yang tak lain adalah perusahaannya.


"Kenapa membawaku ke sini?" Tanya Queen merasa heran.


"Ikut saja." Sean pun turun dari mobilnya yang langsung diikuti oleh Queen.


"Ayok." Sean memgamit tangan Queen dan keduanya pun masuk ke perusahaan. Sontak kehadiran mereka pun menjadi pusat perhatian para karyawan. Karena ini kali pertamanya Sean membawa seorang gadis ke perusahaan. Bahkan wajah lelaki itu tampak berseri, tidak seperti biasanya yang terkesan datar.


Sean pun membawa Queen masuk ke dalam lift khusus untuknya sendiri. Lalu tanpa aba-aba ia mengukung gadisnya itu. Sontak Queen pun terkejut dan memelototi Sean.


"Apa yang...." belum selesai Queen bicara, Sean sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan bibir. Awalnya Queen terkejut karena Sean melakukannya dengan kasar. Namun perlahan tapi pasti ciuman itu melembut, Queen pun terbuai.


Napas keduanya pun memburu karena terbakar gairah. Bahkan tangan Sean terus meraba setiap inci tubuh indah kekasihnya.


"Ah... Sean." Queen mengeluarkan d*s*h*n lembut kala Sean mengecupi leher jenjangnya.


Ting!


Pintu lift pun terbuka, membuat mereka terpaksa menghentikan kegiatan panas itu.


Queen tersenyum geli saat melihat wajah kusut Sean. Ia tahu kekasihnya sedang diselimuti gairah. "Lain kali lihat kondisi dulu, Tuan."


Setelah mengatakannya Queen pun beranjak keluar. Sedangkan Sean menggeram kesal seraya menyusul kekasihnya.


"Jadi ini ruanganmu?" Tanya Queen membuka pintu tanpa persetujuan sang pemilik. Dan hebatnya Sean tidak marah. Padahal ruangan itu cukup privasi baginya. Bahkan tidak pernah ada yang berani memasukinya termasuk Ben, asisten pribadinya. Namun Queen tidak termasuk dalam daftar privasinya.


Sean hanya bisa mengekori kekasihnya dari belakang.


Mata Queen semakin membulat saat melihat kondisi ruangan yang sangat luas dan megah itu. Hampir semua sudut ruangan di dominasi warna gold dan hitam. Bahkan barang-barang yang ada di sana bukan brand sembarangan.


"Kenapa kau menggabungkan dua warna ini, Sean?" Tanya Queen meletakkan tas kuliahnya di atas meja kerja Sean.


Sean tersenyum kecil, lalu memeluk Queen dari belakang. "Hitam warna kesukaanku, dan gold warna favorit Mommy."


Queen mengangguk paham. "Sepertinya kau benar-benar mencintai Ibumu. Aku salut padamu, di zaman sekarang ini sangat langka laki-laki yang tulus mencintai Ibu kandungnya. Bahkan ada yang melupakan jasanya saat mereka sukses."


"Itu bukan sifatku." Sean menghirup aroma strawberi yang menyeruak dari kulit kekasihnya itu.

__ADS_1


"Lalu... apa alasanmu membawaku kemari huh?"


"Aku ingin bercinta di sini."


Queen berdecak sebal. "Pagi tadi kau bilang menyesal karena sudah menodaiku. Dan sekarang kau ingin menodaiku lagi huh?"


"Kau juga tidak keberatan bukan? Bahkan kau sangat menikmati setiap sentuhanku. Dan terus berteriak nikmat saat kita melakukan penyatuan."


"Sean!" Wajah Queen merah padam mendengar godaan mesum lelaki itu. Walaupun itu benar adanya, tapi sangat memalukan jika Sean mengutarakannya secara gamblang.


Sean tertawa kecil. "Aku hanya bercanda, sayang. Ikut denganku."


Queen terkejut karena tiba-tiba Sean menariknya mendekati sebuah lemari buku. Lalu Sean pun menarik sebuah buku yang warnanya berbeda dari yang lain. Dan detik berikutnya lemari itu terbelah dua.


"OMG!" Pekik Queen kaget saat melihat ada ruangan lain di balik sana. Yang taik lain adalah ruang istirahat Sean. Ruangan itu sangat mirip dengan kamar Sean di mansion.


"Ayok masuk." Sean kembali menarik Queen ke dalam. Dan lemari itu pun tertutup kembali.


"Ya ampun." Queen pun menahan langkahnya saat melihat foto berukuran hampir setengah dinding. Ya, itu adalah foto mendiang Ibu Sean.


"Kau bisa bicara padanya sampai puas. Dia menunggumu setiap hari."


Queen tersenyum yang disusul anggukan kecil. Kemudian sedikit mendekati foto itu. "Hai, Mom. Senang bisa bertemu denganmu lagi. Kau sangat cantik di sini."


Sean hanya menyimak dan kembali memeluk Queen dari belakang.


Sean terkejut mendengar pujian itu.


"Dia sangat manis dan romantis. Meski aku belum bisa membalas cintanya, tapi aku akan berusaha mencintainya. Melihat sikapnya yang seperti ini, aku rasa hatiku akan mudah luluh." Lanjut Queen.


Kali ini Sean tersenyum sambil menatap wajah sang Mommy.


Bagaimana menurutmu, Mom? Dia cantik dan manis bukan? Aku sangat mencintainya, Mom. Tolong restui hubungan kami. Bantu aku agar bisa membuatnya jatuh cinta secepat mungkin. Batin Sean.


"Mom, besok anakmu akan pergi dariku. Tolong jaga dia supaya tidak gatal pada wanita lain. Aku yakin di sana pasti akan banyak gadis cantik yang akan membuatnya terpana. Tolong tegur dia saat matanya mulai jelalatan."


Sean tertawa kecil mendengarnya. Permintaan Queen berhasil menggelitik hatinya. "Aku tidak mungkin melirik wanita lain, sayang."


"Mungkin saja, tidak ada yang tahu hati seseorang. Benarkan, Mom? Apa lagi darah ayahmu mengalir deras dalam tubuhmu."


Sean tertawa lagi. "Tapi darah kental Mommy lebih banyak dalam nadiku."


"Tidak bisa dipercaya."


"Aku senang kau posesif seperti ini. Aku merasa dibutuhkan."


Queen pun membalik tubuhnya. Ditatapnya netra biru sang kekasih begitu dalam. "Kau berjanji akan kembali kan?"

__ADS_1


"Tentu, karena hatiku ada di sini."


Queen tersenyum geli. "Jangan membuatku kecewa."


"Tidak akan pernah." Dan keduanya pun kembali terhanyut dalam ciuman panas. Bahkan kali ini lebih panas dari sebelumnya.


Entah siapa yang memulai, kini keduanya sudah bergulat di bawah selimut tebal. Suara erangan dan d*s*h*n mereka pun memenuhi seisi ruangan.


"Emm... Sean. Jangan keras-keras, kau menyakitiku."


"Seperti ini, huh?" Sean melembutkan gerakkannya. Namun menit berikutnya gerakkan itu semakin cepat.


"Yahh... ohhh... aku mulai gila." Rancau Queen. Sedangkan Sean terus bergerak liar di atasnya.


"Sean." Panggil Queen saat matanya tak sengaja menatap foto mendiang. Ia melupakannya.


"Apa, sayang?"


"Aku lupa Mommymu ada di sini."


"Lalu?"


"Apa kau tidak malu kita melakukann... ahhh... di depan beliau?" Queen menggigit bibirnya saat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sean benar-benar hebat dan selalu membuatnya lupa diri.


"Dia akan mengerti. Ahh... kau sangat nikmat, baby."


"Sean... aku...."


"Sama-sama, baby."


Tubuh Sean pun ambruk di sisi Queen setelah keduanya melakukan pelepasan bersama. Napas mereka pun memburu karena sisa percintaan.


Queen memeluk Sean dengan penuh kehangatan. "Aku mengantuk."


"Tidurlah." Sean mengecup kening Queen dengan lembut.


"Aku lelah." Keluh Queen semakin merapatkan tubuhnya.


"Aku tahu. Tidurlah, nanti aku akan membangunkanmu."


Queen mengangguk dan mulai memejamkan mata. Sedangkan Sean masih terjaga sambil terus memandangi wajah cantik gadisnya itu. Ah, masih pantaskah ia memanggilnya gadis? Kegadisan gadisnya itu sudah ia renggut. Sean tersenyum sendiri mengingat itu. Ada sedikit rasa bangga karena dirinya yang pertama untuk Queen. Juga rasa bersalah karena terus menyentuh wanita itu tanpa sebuah ikatan resmi.


"Aku berjanji akan menikahimu secepat mungkin. Aku mencintaimu, gadis kecil." Sean kembali memberikan kecupan di kening Queen. Lalu ia pun ikut terpejam tanpa melepaskan pelukan.


Malam harinya, Sean mengantarkan Queen ke apartemen. Dan tautan tangan mereka pun tak pernah lepas sampai tiba di lantai tujuan. Bahkan keduanya pun terus mengembangkan senyuman malu-malu.


Namun, langkah kaki keduanya terhenti saat melihat seorang laki-laki paruh baya berdiri di depan pintu apartemen. Dan senyuman di wajah Sean pun mendadak pudar.

__ADS_1


"Uncle?"


__ADS_2