
Dua hari Sean tidak sadarkah diri pasca operasi, tentu saja hal itu membuat Queen sedih. Namun, kesedihan itu terbayar sudah karena tadi pagi Sean sudah sadar kembali. Dan itu membuat Queen bahagia setengah mati.
Sejak Sean sadar, Queen tidak sedikit pun beranjak dari sana. Ia terus menemani sang suami. Sean mengusap pipi Queen dengan mesra. "Apa tidurmu nyenyak beberapa hari ini?"
Queen mengangguk. "Setelah bertemu dokter dan beliau menjelaskan kondisimu. Aku jauh lebih tenang, Sean."
Sean tersenyum. "Katamu Mommy dan Daddy ada di sini?"
"Ya, kemarin mereka tiba di sini. Sepertinya hari ini mereka bertemu dengan dokter David."
Sean mengangguk lemah. Queen mengecup tangan Sean yang masih menempel di pipinya. "Aku merindukanmu, Sean. Tiga hari tidak melihat senyumanmu rasanya seperti bertahun-tahun."'
"Aku juga merindukanmu, sayang. Lalu bagaimana kabarnya?" Tangan Sean berusaha meraih perut istrinya.
"Dia baik-baik saja, tapi morning sicknessku lebih parah dari sebelumnya. Aku belum sempat menemui dokter. Memikirkanmu saja kepalaku hampir pecah."
"Pantas wajahmu sangat pucat, apa masih pusing?"
Queen mengangguk. "Mulutku juga rasanya sangat pahit, Sean."
"Temui dokter, jangan diam saja."
"Tapi...."
"Aku aman di sini, lagian kita masih di gedung yang sama, sayang. Apa yang kau takutkan?"
Queen mendengus kecil. "Harus kau tahu, Sean. Beberapa suster memberikan tatapan memuja padamu. Bahkan memuji ketampananmu meski kau sedang sakit. Mereka seolah tidak peduli aku ada di sisimu sepanjang waktu. Mereka kira aku tidak mengerti bahasa Jerman apa?"
Sean tersenyum geli. "Kau ini, lagi pula apa yang bisa mereka lakukan pada orang sakit huh?"
"Hey, tentu saja aku takut. Baru-baru ini aku ada berita tentang kehamilan seorang suster. Dia melakukan itu dengan orang koma kau tahu?"
"Itu pasti hoax. Mungkin dia hamil anak orang lain."
"Tetap saja aku takut, aku tidak rela kau dipakai orang lain. Aku akan menunggu Mommy dulu, baru aku bisa tenang meninggalkanmu."
Sean teesenyum lagi. "Dasar pecemburu."
"Tentu saja. Kau kan suamiku." Queen tersenyum manis. "Oh iya, dokter bilang kita bisa pulang minggu depan. Pemulihanmu bisa dijalankan di rumah. Aku sudah menbayar dokter spesialis untukmu nanti."
Sean mengusap pipi istrinya. "Terima kasih."
Queen mengangguk. "Aku benar-benar merindukanmu, Sean." Dikecupnya tangan Sean yang masih menempel dipipinya. "Jangan pernah membuatku cemas lagi."
"Ya, tidak akan pernah lagi. Berbaringlah, sayang. Aku ingin pelukanmu." Pinta Sean. Dengan senang hati Queen berbaring di sisinya. Kemudian memeluk Sean dengan lembut karena tak ingin menyakitinya.
"Ah... lepas sudah rasa rinduku, Sean. Aku hampir gila saat melihatmu terbaring lemah di brankar. Hatiku sakit, Sean. Jangan ulangi lagi, kedepannya aku tidak akan membiarkanmu mendekati bahaya lagi. Tidak peduli kau memaksa sekali pun." Oceh Queen yang berhasil mengundang senyuman Sean.
"Kau semakin cerewet saja, Queen. Tapi aku suka itu." Sean mengecup kening istrinya itu dengan lembut.
Tidak lama dari itu pintu ruangan terbuka. Sean dan Queen pun refleks menoleh.
"Wah, kalian sangat mesra. Maaf aku datang diwaktu tidak tepat." Ucap Ella tersenyum geli.
Queen tersenyum dan bangun dari posisinya. "Masuklah, Ella, Bara."
Sepasang kekasih itu pun masuk dengan senyuman ramahnya. Ella meletakkan buah tangannya di atas nakas. "Sorry, aku dan suamiku baru menjenguk."
Ya, Ella dan Bara memang sudah menikah seminggu setelah urusan perceraian Bara selesai. Meski tidak ada pesta meriah, tetapi keduanya tampak bahagia sampai saat ini.
"Tidak apa, aku tahu kondisimu, Ell."
"Bagaimana kondisimu, Sean. Sepertinya kau jauh lebih baik huh?" Ella duduk di ujung brankar. Sedangkan Bara duduk di kursi.
"Seperti yang kau lihat, aku jauh lebih baik." Jawab Sean tersenyum ramah.
"Syukurlah, setidaknya jangan buat sepupuku sedih lagi, Sean. Dia terus mengadu padaku setiap saat."
__ADS_1
"Ella." Queen memperingati. Spontan Sean pun menatapnya. "Tidak ada, Sean. Ella terlalu berlebihan."
Sean tertawa kecil. "Maafkan aku, sayang. Aku sudah membuatmu bersedih. Kedepannya tidak akan pernah lagi, aku janji."
"Ya." Queen tersenyum yang diiringi anggukkan kecil.
"Oh iya, sekarang Bara ada di sini. Pergi periksa dirimu, sayang. Biarkan Ella menemanimu." Titah Sean.
Ella menatap Queen. "Ada apa? Kau sakit?"
"Tidak, Ell. Tapi mualku semakin parah sekarang. Aku takut ini tidak baik untuk janin. Mungkin ada makanan yang tidak bisa aku makan."
Ella tertawa renyah mendengarnya. "Ya ampun, aku pikir kenapa tadi? Jangan khawatir soal mualmu itu. Aku juga seperti itu setiap pagi. Tapi dokter bilang itu wajar. Jika kau tidak percaya ayo kita periksa, paling dokter akan memberikan vitamin padamu untuk mengurangi rasa mual."
"Benarkah?"
"Iya, tapi tidak ada masalah juga kita periksa. Kebetulan aku juga belum cek up. Ayo, kita periksa sama-sama. Sayang, aku tinggal sebentar ya? Titip Sean."
Bara mengangguk patuh. "Dia aman bersamaku."
Queen tersenyum, kemudian ditatapnya sang suami. "Aku pergi sebentar. Kalau kau ingin sesuatu dan aku belum kembali. Minta bantuan Bara saja ya?"
"Iya, baby. Tapi sebelum kau pergi cium aku dulu."
"Sean, bahkan kau tidak punya malu saat Ella dan Bara ada di sini." Kesal Queen.
"Biarkan saja, mereka pasti paham. Cepat cium aku, sejak aku bangun kau belum menberikan hadiah itu." Pinta Sean tanpa rasa malu. Ella dan Bara cuma bisa tersenyum geli.
"Kau ini." Queen memukul lengan Sean pelan. Kemudian ia pun memberikan kecupan di bibir suaminya. "Aku pergi, jangan coba-coba menggoda suster. Jika aku tahu, aku akan menggigitmu." Bisiknya.
Sean tersenyum geli. "Seumur hidupku aku baru sekali menggoda wanita, yaitu dirimu."
Queen tersenyum dan kembali menghadiahi kecupan di bibir suaminya. "Aku mencintaimu."
"Aku juga. Sana pergi, aku sudah puas dengan hadiahmu." Usirnya yang berhasil membuat Queen melotot.
"Sayang." Sean memperingati.
"Istri juga bisa khilaf, sayang. Dah... aku mau cari cogan dulu. Love you." Queen pun langsung menarik Ella pergi dari sana. Sean dan Bara pun cuma bisa menggeleng.
"Queen, bagaimana jika dokter kali ini laki-laki tampan huh?" Ella tertawa renyah.
"Itu keberuntungan untuk kita." Dua bumil itu pun tertawa bersama menyusuri lorong rumah sakit.
****
"Bagaimana?" Tanya Sean saat Queen dan Ella kembali.
Queen tersenyum. "Seperti yang Ella bilang. Aku baik-baik saja. Lihat, tadi aku beli es krim." Ia menunjukkan kotak es krim pada Juna.
"Sayang, aku juga beli." Adu Ella pada Bara.
"Kenapa kalian kompak sekali?" Tanya Bara heran.
"Entah, tiba-tiba ingin saja." Jawab Queen dan Ella kompak pula.
Spontan Sean dan Bara pun saling memandang. "Aku rasa anak kita akan menjadi teman yang kompak." Ujar Sean.
Queen tertawa geli, lalu naik ke atas brankar. Dan segera membuka penutup es krimnya. "Emm... harum banget. Sebenarnya aku ingin disuapi. Tapi kau masih sakit. Aku tidak ingin menyusahkanmu."
"Aku rasa tanganku masih bisa menyuapimu."
"Tidak usah, kau tidak diperbolehkan bergerak banyak." Queen tersenyum tulus dan mulai menikmati es krimnya.
"Sayang, aku juga mau disuap." Ella tidak mau kalah. Bahkan bumil yang satu itu duduk di pangkuan suaminya.
Queen memutar bola matanya jengah. Kemudian memokuskan perhatiannya kembali pada sang suami. "Kenapa menatapku seperti itu?"
__ADS_1
"Kau sangat cantik." Bisik Sean.
"Aku memang cantik dari lahir." Queen tertawa renyah.
Kemudian Rea dan Zain pun masuk.
"Wah, sedang pesta kemesraan ya? Kenapa tidak ajak-ajak?" Sapa Rea tertawa kecil saat melihat kemesraan dua pasang suami istri itu.
"Mesra bagaimana, Mom. Aku sedang makan es krim. Mau?" Tawar Queen.
"Apa boleh?" Tanya Rea dengan mata berbinar. "Sudah lama Mommy tidak makan es krim." Cepat-cepat ia menghampiri Queen dan ikut menyantapnya dengan gembira.
"Lihat, sudah mau punya cucu saja Mommymu masih bertingkah seperti anak kecil." Cibir Zain.
Rea mendengus kecil. "Meski begini kau juga tergila-gila padaku kan?"
"Tidak juga, kau juga yang lebih dulu tergila-gila padaku." Zain duduk di sofa dengan kaki tersilang. Sedangkan pandangannya terus tertuju pada dua wanita tercintanya.
"Ya, itu benar. Dan setelahnya kau yang tergila-gila padaku. Tidak perlu gengsi, bahkan kau menangis saat aku melahirkan Queen dan King."
Queen, Sean, Ella dan Bara cuma bisa menyimak perdebatan mereka.
"Itu karena aku tarharu, karena benihku menjadi bayi cantik dan tampan." Elak Zain masih tidak mau mengalah.
"Cih, terus saja mengelak. Jangan minta jatah lagi mulai sekarang." Rea tersenyum penuh arti sambil melahap es krim. Queen yang melihat itu tersenyum geli. Sikap Mommy dan Daddynya itu memang tidak pernah berubah sejak dulu.
"Kenapa jadi lari ke sana? Mana bisa aku meninggalkan jatahku."
"Kalau begitu katakan di depan anak-anak jika kau memang tergila-gila padaku."
"Ya ya... aku akui aku sangat mecintaimu, istriku. Meski kau kadang menyebalkan," sahut Zain tidak ingin ancaman istrinya terjadi. Karena Rea tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Rea memainkan alisnya di depan Queen. "Kau bisa menggunakan cara ini jika Sean berulah." Bisiknya.
"Sayangnya Sean tidak seperti Daddy yang gengsian, dia selalu jujur padaku. Menantumu ini sangat manis, Mom."
Zain yang mendengar itu melirik ke arah Queen. Sontak Queen pun tersenyum sambil mengangkat tangan dan membentuk huruf v.
"Daddymu juga sebenarnya manis, tapi kalau gengsinya sedang datang suka nyebelin." Bisik Rea tidak ingin didengar oleh suaminya.
"Jangan membicarakanku di belakang, aku mendengarnya." Ketus Zain.
"Lihat itu, jika seperti itu dia sedang kumat. Kau jangan seperti itu ya, Sean. Tetap bersikap romantis di mana pun berada."
Sean cuma tersenyum. Jika menyahut takutnya ia malah jadi bumerang antara Rea dan Zain.
"Contoh saja suamiku, dia selalu bersikap manis di mana pun berada. Benarkan, sayang?" Ujar Ella. Bara pun cuma bisa mengangguk pasrah.
"Ell, suamimu terlihat sekali tertekan. Apa kau membebaninya selama ini?" Tanya Queen.
Ella menghela napas berat, kemudian tersenyum lebar. "Tidak juga, paling aku ngidam yang agak aneh."
"Ya, dan pagi tadi dia membuat kehebohan di hotel karena mengetuk semua pintu kamar tamu. Dan aku harus membayar denda atas ketidaknyamanan itu. Bagiamana kepalaku tidak pecah?" Keluh Bara.
"Sayang, itu kan bukan keinginanku. Baby yang menginginkannya." Rengek Ella dengan bibir manyunnya.
Queen dan Rea tertawa geli mendengarnya. "Lucu sekali. Tapi keinginan sejak hamil itu tidak bisa diprediksi loh. Jadi kalian sebagai suami harus siaga dong. Bagaimana pun anak itu hadir juga karena ulah kalian."
"Hm, aku setuju." Sahut Queen. "Dengar itu, Sean. Kau harus menuruti semua keinginanku jika aku ngidam nanti. Untuk sekarang sepertinya belum ada sih." Queen tampak berpikir. "Oh ada, aku ingin healing ke Eropa dan Asia."
Rea tertawa renyah. "Itu namanya bukan ngidam, tapi kebutuhan Queen. Kamu ini ada-ada saja."
Queen tertawa geli. "Kan sekalian, Mom."
"Anak dan Ibu sama saja." Cibir Zain.
"Jelas dong." Sahut Rea dan Queen kompak.
__ADS_1