Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Bikin Meleleh


__ADS_3

"Musik." Teriak Megan mengintrupsi. Tidak perlu lama alunan musik pun mulai terdengar memenuhi seisi ruangan.


Seolah menantang, wanita bernama Megan itu mendekati Mercia, lalu tersenyum miring. Sedangkan teman-temannya melangkah mundur seolah memberikan ruang pada sang bos untuk menunjukkan aksinya.


Mercia sama sekali tak goyah, bahkan ikut tersenyum devil.


Drap!


Megan menghentakkan kakinya sebagai tanda jika dirinya akan memulai lebih awal. Lalu sedetik kemudian gadis itu langsung menunjukkan bakatnya. Sontak semua orang yang melihat itu pun bersorak riang.


Mercia akui jika semua pergerakan Megan cukup bagus dan menyatu dalam alunan musik. Namun tetap saja ia tidak akan pernah mau kalah. Apalagi gadis asing itu sudah menantangnya di depan banyak orang.


Megan mengakhiri gerakannya dengan menunjuk ke arah Mercia.


Mercia mengkikat kedua ujung bajunya, hingga memperlihatkan perutnya yang rata. Lalu berjalan perlahan ke arah tengah, dan mulai bergerak lincah.


Melihat gerakan Mercia yang lebih lincah dan keren, semua orang pun langsung berteriak dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Bahkan Jessy pun ikut bertepuk tangan dan meneriakinya. "Yuhu... kau keren, Cia."


Sedangkan Jef yang melihat itu cuma bisa tersenyum tipis.


Lumayan juga. Batinnya.


Mercia terus meliukkan seluruh tubuhnya layaknya dancer profesional. Mulai dari gerakan top rock, six step, three step, flare, dan gerakan lainnya yang berhasil membuat semua mata orang-orang terhipnotis.


Mungkin tak ada yang tahu jika gadis itu pernah memenangkan beberapa lomba dance dan menari, karena sejak kecil ia sudah mengikuti kelas tari. Dan sangat menyukai seni yang satu itu.


Bahkan Megan terperangah melihat gerakan Mercia yang tak bisa ia lakukan sebelumnya, dan gadis itu berhasil melakukannya dengan sempurna. Hingga musik pun berhenti tepat saat Mercia melakukan gerakan croise. Sontak Mercia pun kembali mendapat tepuk tangan semua orang.


Gadis itu tersenyum dengan napas ngos-ngosan. Sedangkan Megan terlihat kesal karena semua orang memuji Mercia. Karena malu, Megan and the geng pun meninggalkan tempat itu.


Mercia tersenyum penuh kemengan ke arah Jef, sayangnya lelaki itu malah pergi begitu saja.


"Eh?" Kaget Jessy menatap kepergian pemuda itu.


"Jef!" Panggil Mercia yang kemudian menyusulnya. Namun langkah lelaki itu terlalu cepat sampe Mercia tak bisa melihatnya lagi karena terhalang dinding kapal.


"Jef, tunggu dong." Dengan napas ngos-ngosan Mercia berusaha mengejarnya. Tetapi Jef entah hilang kemana. "Loh, kok cepet banget ilangnya? Terus gue ditinggalin sendiri dong?" Mercia meringis pelan. Padahal rasa capek tadi saja belum hilang, sekarang ia harus pusing karena mencari keberadaan Jef.


Mercia pun menyerah, ia menumpu kedua tagannya di lutut dengan napas tersengal. "Hah, capek banget."


Hingga sebuah botol air mineral pun terulur di depan wajahnya. Spontan Mercia pun mendongak, seketika matanya pun membulat sempurna. "Om!" Kagetnya yang langsung berdiri tegak. "Kok bisa di sini?"

__ADS_1


"Ambil ini." Titah King menyodorkan botol mineral tadi padanya.


"Ah, thank you." Dengan senang hati Mercia pun menerimanya karena memang haus. Lalu ia pun mencari tempat duduk untuk istirahat sejenak. King pun mengikutinya.


"Om mau ikutan liburan juga ya?" Tanya Mercia tersenyum senang.


King mengangguk sembari mengamati sekeliling. Kemudian berakhir mengamati wajah Mercia yang masih dibanjiri keringat. Dan itu sangat seksi menurutnya.


"Kenapa kamu malah nyari musuh?" Tanya King tiba-tiba.


Mercia pun menoleh. "Aku gak nyari musuh, Om. Merekanya aja yang nyari masalah duluan, aku mah pantang ditantang."


King terdiam sejenak. "Kamu suka dance?" Tanyanya lagi.


Mercia mengangguk. "Dari kecil aku suka nari. Dulu juga pernah jadi juara, tapi cuma sampe provinsi."


King mengangguk. "Pantes kamu jago."


Mercia tertawa kecil. "Mana ada jago, Om. Kalau aku jago gak mungkin kalah di tingkat provinsi."


King tersenyum. "Segitu juga udah bagus."


King tersenyum kagum, semua pergerakan yang Mercia lakukan terlihat indah dimatanya.


Tanpa ada yang tahu, Jef berdiri tak jauh dari sana dengan sebuah botol air mineral di tangannya. Lelaki itu tersenyum kecut seraya menatap botol itu dengan nanar.


"Cih, buat apa aku susah payah bawa ini." Kesalnya dan langsung melempar benda itu ke tong sampah. Lalu bergegas pergi dari sana.


"Oh iya, kok tiba-tiba Om bisa ada di sini sih? Bukanya tadi pas aku sama Jef pergi, Om masih duduk santai sambil baca koran ya?" Heran Mercia.


King tersenyum mendengarnya. "Saya punya kekuatan teleportasi."


Mendengar itu Mercia pun tertawa lucu sampai matanya menyipit dan berair. "Bisa aja si Om becandanya." Katanya seraya menyapu sudut matanya yang basah.


King yang melihat itu pun tersenyum bahagia.


"Ah iya, sebenernya kita ini mau kemana sih?" Tanyanya lagi karena penasaran. Tadinya ia hendak bertanya hal itu pada Jef, tetapi belum ada kesempatan. Jadi tidak ada salahnya sekarang ia bertanya pada King, pasti lelaki itu tahu.


"Pulau terpencil, butuh waktu seharian baru bisa sampe ke sana. Tapi tempatnya cukup bagus, gak akan nyesel walau perjalannya jauh. Meski terpencil, tapi udah ada beberapa penduduk di sana." Jawab King apa adanya.


"Duh, kok Jef gak bilang kalau perjalannya jauh sih? Aku kan cuma bawa baju dikit." Kesalnya dengan bibir manyun. King yang melihat itu tersenyum tipis.

__ADS_1


Mercia pun menatap King. "Om bawa baju banyak gak?"


King menggeleng. "Cuma dua pasang."


"Lah, sama dong kita. Kok Om malah bawa baju dikit sih? Kan udah tahu perjalannya jauh." Tanya Mercia bingung.


"Di sana banyak yang jual baju, jadi kamu tenang aja." Kata King yang berhasil membuat Mercia bernapas lega.


"Om ada liat Jef gak? Kemana ya dia perginya? Tadi aku sempat mau ngejar dia, tapi cepet banget ilangnya." Ujarnya seraya melihat kesekeliling untuk mencari keberadan Jef. Mana tahu lelaki itu juga ada di sana.


"Mungkin dia gabung sama temen-temennya yang lain." Jawab King asal menebak.


Mercia menghela napas. "Tega banget dia ninggalin aku sendirian, padahal tahu aku gak punya temen di sini." Keluhnya yang kemudian kembali meneguk sisa air minumnya. Lalu melempar botol kosongnya ke dalam tong sampah.


"Kan saya ada di sini buat nemenin kamu." King memberikan senyuman tulusnya. Dan itu berhasil membuat jantung Mercia berdegub kencang.


Duh.... si Om kenapa selalu buat jantung aku deg degan sih? Mana pake senyum segala lagi, gak tau apa kalau dia senyum itu bikin hati meleleh. Batin Mercia. Gadis itu cuma bisa tersenyum kikuk dengan wajah memerah karena malu sendiri.


"Wajah kamu kenapa merah gitu? Kepanasan ya?" Tanya King pura-pura tak tahu apa yang dialami gadis itu. Hanya ingin menggodanya saja.


Secara spontan Mercia menutup wajah dengan kedua tangannya. Dan benar-benar merasa malu. King yang melihat itu tersenyum geli, kemudian bangkit. Sontak Mercia pun mendongak, bingung.


"Mau kemana?" Tanyanya.


King menghela napas pelan. "Saya lapar, mau cari makanan. Kamu mau ikut?"


Mercia berpikir sejenak. "Boleh, tapi dibalen kan?" Tanyanya malu-malu.


King mengacak rambut Mercia gemas. "Iya kali saya ngajak anak gadis makan gak dibayarin. Kamu bebas makan apa aja, gratis."


Mendengar itu wajah Mercia pun langsung berseri. "Beneran kan boleh makan apa aja? Jangan nyesel loh kalau aku habisin duit Om."


King mengangguk. Mercia pun tersenyum senang dan langsung bangun dari duduknya. "Ya udah, ayo."


King memberikan tangannya pada Mercia, membuat gadis itu bingung.


"Pegang tangan saya, jangan sampe hilang."


Mercia tertawa kecil mendengar itu, lalu tanpa ragu langsung merengkuh lengan King. Kemudian keduanya pun beranjak menuju tempat makan. Tanpa mereka sadari, Megan and the geng menyaksikan semua itu dengan tatapan tak senang.


"Cih, dasar j*l*ng. Dia mengakui jika dirinya tunangan Jef, tapi masih menggoda pria lain. Lihat saja, aku akan merebut Jef darimu." Sinis Megan dengan senyuman liciknya. Para pengikutnya pun ikut tersenyum licik karena paham apa yang akan bos mereka lakukan.

__ADS_1


__ADS_2