
"Tuan." Ben menyodorkan sebuah iPad pada Sean. Menunjukkan sebuah hot news tentang dirinya. Namun Sean sama sekali tidak kaget dan terlihat begitu santai.
"Cih, aku tidak pernah setuju bertunangan dengannya. Orang tua itu hanya akan mempermalukan diri sendiri." Sean pun mengembalikan benda itu pada Ben.
"Apa perlu saya menghapus berita ini, Tuan?"
Sean tersenyum miring. "Tidak perlu. Aku ingin lihat apa yang akan gadisku lakukan. Siapkan pakaian yang bagus untukku."
Ben mengangguk. "Baik, Tuan."
Lagi-lagi Sean tersenyum, ia masih membayangkan ekpresi wajah Queen saat tahu berita itu. "Ah... aku rasa saat ini dia sedang mengumpatiku."
Benar saja, Queen terus mengumpat kesal sepanjang penerbangan.
"Lelaki sialan, brengsek, tidak tahu diuntung. Saat bertemu aku akan langsung menendang batangmu." Gumamnya dengan gigi yang mengerat.
Ella yang masih bisa mendengar itu tersenyum geli. "Aku rasa kau sudah jatuh cinta padanya."
"Cih, aku tidak akan mencintai lelaki brengsek sepertinya. Dia bicara begitu manis, tapi mana buktinya? Dia sama sekali tidak menolak pertunangannya. Mana pake alasan pekerjaan lagi. Menyebalkan." Kesal Queen tidak sadar jika dirinya sedang cemburu saat ini.
"Hm... tapi saat ini kau lebih mirip seperti orang cemburu."
"Omong kosong."
"Terserah kau saja."
Beberapa jam berikutnya kedua wanita cantik itu pun tiba di Madrid. Karena sudah memesan sebuah kamar hotel. Keduanya pun bergegas untuk check ini.
"Cepat bersiap, acaranya satu jam lagi." Queen melempar tasnya di atas tempat tidur dan bergegas mengganti pakaian yang lebih pantas. Bahkan Queen memoles dirinya secantik mungkin.
"Ell, apa Sean akan terkejut saat melihat penampilanku seperti ini?"
Ella yang sedang sibuk merapikan rambut pun menoleh. "Tentu saja, kau sangat cantik."
Queen menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia sangat gugup karena akan berhadapan langsung dengan orang-orang penting. Terutama kekasihnya, ia takut Sean akan kecewa dengan penampilannya kali ini.
"Lihat aku." Queen memasang kaca mata hitam dan sedikit berpose. "Apa aku cantik?"
Ella memutar matanya malas. "Kau itu sudah sempurna, cantik, seksi dan menggoda. Cepat sedikit, jika kita terlambat semuanya akan kacau."
"Ah, baiklah. Huh... ayok kita berangkat."
Ella mengangguk. Lalu keduanya pun bergegas menuju tempat acara. Yaitu ballroom hotel.
"Ya Tuhan, aku rasa kita sudah terlambat. Pintunya sudah mau di tutup." Pekik Ella menarik Queen sampai sempoyongan karena memakai hills.
"Stop!" Seru Queen saat dua penjaga hendak menutup pintu. Namun sayang, sepertinya mereka tidak mendengar teriakan Queen dan pintu itu benar-benar sudah tertutup rapat. Rugi saja mereka berlari seperti orang gila tadi.
Tidak ingin kehabisan akal, Queen pun mengetuk pintu itu. Dan tidak lama lelaki yang tadi menutup pintu pun nongol.
"Ada apa?" Tanyanya cukup mengerikan.
__ADS_1
"Em... maaf aku terlambat. Bisakah kau membukakan pintu untuk kami?"
Lelaki itu menilai penampilan Queen dan Ella secara bergantian.
"Mana undangan kalian?"
Queen menyenggol Ella. Dan Ella pun langsung mencari undangan yang sudah susah payah ia dapatnya. Namun gerakkannya melemah saat mengingat ia lupa memasukkan benda itu ke dalam tasnya.
"Mana, Ell?" Queen menengadahkan tangannya dengan gaya sombong.
Ella menelan air ludah. Lalu sedikit mendekat ke arah Queen. Kemudian berbisik. "Aku lupa memasukkannya ke dalam tas."
Sontak Queen pun memelototi sepupunya yang sangat ceroboh itu.
"Jadi kalian sedang menipuku?"
Perhatian Queen pun tersita pada lelaki itu lagi. Ini seperti dejavu. "Tidak sama sekali, Tuan. Kami...."
"Security!" Teriak lelaki itu memanggil seorang security. "Bawa dua wanita ini pergi."
Tidak lama tiga orang security pun datang menghampiri Queen dan Sean.
"Tuan, aku mohon. Biarkan aku masuk, aku Queen Michaelson, semua orang tahu aku kekasih Sean Cameron."
"Maaf, yang saya tahu Tuan muda Cameron hanya memiliki satu kekasih, yaitu Stella Smith."
"Tidak, akulah kekasihnya."
"Hey! Jangan sentuh aku." Sentak Queen saat seorang security menyentuh tangannya. "Kalian akan menyesal karena tidak mempercayaiku. Aku ini kekasih Sean Cameron. Bukan penyusup." Kini amarah Queen pun sudah sampai ubun-ubun.
"Menjauhlah, atau Sean yang akan memecatmu." Kecamnya lagi. Dan kedua lelaki itu sedikit mundur.
"Akh... sial! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Keluh Queen mulai kehabisan akal.
"Hubungi dia."
"Ck, kau lupa ponselku masih di mansionya." Kesal Queen mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya Tuhan." Ella pun ikut frustasi.
Queen berjongkok dan mulai menangis. "Ini salahku, tidak seharusnya aku membawa Uncle masuk saat itu. Mungkin hal ini tidak akan terjadi. Hiks... aku menyesal, Ell."
Ella merasa iba melihat itu. "Sabarlah, darling."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Queen." Panggil Sarah yang baru saja tiba. Sontak keduanya menoleh.
"Aunty?" Pekik Queen langsung bangun dari posisinya. Lalu menghampiri Sarah.
"Kau di sini? Syukurlah." Terlihat jelas kelegaan di wajah Sarah. "Bagus kau di sini, kita harus menghentikan pertunangan ini. Aunty yakin Sean dijebak."
Queen mengangguk. "Tapi bagaimana caranya masuk, Aunty? Udangan kami tertinggal di hotel. Dua penjaga itu sudah mengusir kami."
__ADS_1
"Kalain tunggu di sini." Sarah pun berjalan menuju pintu dan seperti tadi salah satu dari penjaga keluar, tetapi kali ini Sarah bisa langsung masuk karena punya kartu undangan.
"Apa kau yakin wanita itu akan membantumu?" Tanya Ella merapatkan diri pada Queen.
"Aku tidak tahu, sebelumnya kita cuma bertemu satu kali."
"Huft... aku harap dia benar-benar membantumu."
Di dalam ballroom, Sean terlihat menikmati pesta dan sesekali menyesap minuman. Bahkan lelaki itu terus tersenyum saat ada yang menyapa. Dan tidak lama dari itu tubuh Sean terhuyung kebelakang karena Sarah menariknya. Dan mereka pun berhenti di tempat yang agak sepi.
"Apa kau gila?" Sentak Sarah menatap Sean kesal.
"Ada apa?"
Sarah molotot mendengar itu. "Kau malah bertanya? Apa kau tidak tahu hari ini Ayahmu akan mengumumkan pertunanganmu dengan Stella."
"Tahu." Jawab Sean santai. Membuat Sarah ternganga.
"Kau sudah gila, Sean. Lalu bagaimana dengan kekasihmu huh? Kau mempermainkan perasaanya?"
Sean menatap Sarah lekat. "Tenanglah, aku tidak sepenuhnya menerima pertunangan ini. Hanya ingin melihat sejauh mana dia mencariku."
"Cih, kau masih saja bodoh. Apa kau tidak tahu saat ini Queen sudah ada di depan karena tidak bisa masuk?"
Sean tersentak kaget saat mendengar itu. Pasalnya ia belum mendengar kabar soal kedatangan Queen dari Ben. Tidak ingin membuang waktu, Sean pun langsung pergi dari sana. Sarah yang melihat itu cuma bisa menggeleng dan tersenyum lebar.
"Aku akan selalu memastikan kebahagiaanmu, Sean. Aku sudah berjanji pada mendiang Ibumu. Ah... aku merindukanmu, Kak. Andai saat ini kau ada di sini, kau pasti bangga karena Sean memilih gadis yang tepat." Setelah kepergian Sean, Sarah pun bergabung dengan beberapa temannya yang ada di sana.
Sedangkan di luar, hampir setengah jam Queen terus mondar-mandir di depan pintu ballroom. Menunggu kabar dari Sarah. Sampai langkah kakinya pun harus terhenti karena Sean keluar dari sana.
Sean tersenyum saat melihat wajah kusut kekasihnya itu. Namun berbeda dengan Queen, kini wajahnya memancarkan kemarahan yang besar.
"Brengsek!" umpat Queen memukul Sean sekuat tenaga.
"Sialan! Setelah membuatku seperti orang gila. Sekarang ingin bertunangan huh? Kenapa? Apa aku kurang cantik untukmu? Apa karena aku tidak memiliki apa-apa sedangka dia anak perdana menteri? Kau brengsek, Sean. Setelah bersenang-senang denganku kau lari dariku, aku membencimu."
Bukannya takut, justru Sean tersenyum geli saat melihat wajah memerah Queen. Gadisnya itu terlihat sangat menggemaskan. Karena tidak tahan, Sean pun langsung memeluk Queen.
"Kau semakin cantik saat marah." Pujinya, tetapi....
Bugh!
Sebuah tendangan keras mendarat di antara kedua kaki Sean. Sontak Sean pun langsung mundur dan meringis kesakitan sambil memegangi aset berharganya yang tersakiti oleh Queen.
"Bagaimana rasanya huh? Enak tidak?" Tanya Queen sambil mengacak pingang.
"Sakit, sayang."
"Sakit? Bahkan rasa sakit yang kau berikan tidak sebanding dengan ini. Semalaman penuh aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu, dan kau dengan tenang akan bertunangan dengan orang lain? Kau brengsek, Sean!" Geram Queen kembali menendang kaki Sean. Membuat sang sempu terus mengindar dan mencoba melerai kemarahan Queen.
Ella yang sejak tadi menonton kejadian itu pun cuma bisa menggeleng dan tersenyum. Apa yang Queen dan Sean lakukan cukup menggelitik hatinya.
"Aku harap kalian langgeng sampai nenek kakek."
__ADS_1