
Jef menutup pintunya dengan kasar, perkataan King membuatnya kesal setengah mati. Pemuda itu berbaring di ranjang, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Namun, sudah sekian lama ia berusaha untuk tertidur, matanya tak kunjung terpejam. Sekuat apa pun ia berusaha untuk terpejam, tetapi otaknya seolah memerintahkannya untuk tetap terjaga.
"Haish! Sial!" Umpatnya sembari merubah posisinya menjadi duduk. Setelah itu ia bangun dan bergerak ke arah nakas. Membuka laci dan mengambil sebuah gelang klasik berwarna hitam. Ditatapnya benda itu dengan seksama, seulas senyuman pun terbit dibibirnya. Ia kembali mengingat bayangan beberapa tahun lalu.
"Kenapa kau terus mengikutiku? Apa kau tidak lelah?" Tanya Jef dingin pada Mercia. Saat itu mereka berada di Bandara karena Jef dan kedua orang tuanya akan kembali ke Amerika. Masa liburan mereka sudah habis.
Mercia tersenyum begitu manis. "Sudah aku katakan, aku tidak akan lelah jika menyangkut dirimu. Karena aku menyukaimu." Jawabnya.
Jef mendengus kecil. Namun, tiba-tiba Mercia menarik tangannya. Tentu saja Jef kaget, tetapi tak berniat menarik tangannya. Dan membiarkan Mercia memasangkan sebuah gelang. Dahi Jef mengernyit saat melihat benda itu sudah terpasang dipergelangan tangannya.
Mercia tersenyum lagi padanya. "Gelang ini untuk mengingatkanmu, Jef. Kalau kau itu milikku." Ujarnya seraya menunjukkan gelang yang sama ditangannya yang mungil.
Jef menatap gelang itu lekat. "Cih, kekanakan."
Mercia menghela napas berat. "Jef, jangan lupa untuk menghubungiku saat kau tiba di sana. Sebenarnya aku ingin ikut denganmu, tapi Mama dan Papa tidak memberiku izin."
Jef tidak menyahut.
"Tapi kau jangan cemas, Jef. Setelah dewasa nanti, aku pasti akan menemuimu. Aku akan selalu ada disampingmu." Imbuh gadis itu kembali memasang wajah ceria seperti biasanya.
"Kenapa kau tidak menyerah saja huh?" Tanya Jef melipat tangannya di dada.
Mercia menggeleng kecil. "Mungkin karena aku benar-benar menyukaimu. Kau kan tampan."
"Lalu? Aku harus membalas perasaanmu itu huh? Bermimpi saja." Sinis Jef.
Akan tetapi gadis itu masih saja tersenyum lebar. "Suatu hari nanti, kau pasti akan menyukaiku, Jef."
Jef menghela napas berat, lalu menaruh kembali benda itu ke dalam laci. Lalu berbaring kembali.
Di kamarnya, Mercia juga tidak dapat tidur. Bahkan ia sudah menghitung domba dan bintang pun matanya masih melek.
Gadis itu menghela napas panjang. "Ini mata kenapa gak mau merem sih?" Gerutunya sembari menatap langit-langit kamar. Dan untuk yang kesekian kalinya ia menghela napas berat. Tidak lama ponselnya berdering. Mercia meraih benda itu dan melihat si pemanggil. Seketika senyumannya melebar saat melihat nama Jihan di sana. Cepat-cepat ia menerima panggilan vidoe itu.
"Mercia! Bagus lo ya? Mentang-mentang udah ketemu crush, bestie lo lupain. Gak tahu diri emang lo." Sembur Jihan dengan wajah kesal.
Bukannya merasa bersalah, Mercia justru tertawa mendengarnya. "Apa kabar lo? Lagi di mana tuh?" Tanyanya seraya memperhatikan sekitar Jihan.
Bibir Jihan menyebik. "Kabar gue gak baik sejak lo pergi, Cia. Gak ada lagi bestie nongkrong gue. Cepetan balik napa?"
Mercia tertawa lagi. "Sabar dong, tunggu empat tahun lagi. Gue bakal balik kok."
"Ck, kelamaan. Gak liat gue lagi di mall sendirian, biasanya kan sama elo. Huhu... sedih banget nasib jomblo."
__ADS_1
Bukanya sedih, Mercia justru tertawa lucu. "Makanya cari cowok dong, Ji. Udah gede juga."
Jihan tersenyum. "Tar gue cari pas udah masuk kuliah. Mana tahu ada senior yang ganteng. Gue gas aja tar."
"Dasar lo. Btw, gue mau cerita nih sama lo." Mercia pun duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Cerita apa? Kok lo belum tidur? Kalau gak salah di sana udah melem kan?"
Mercia mengangguk. "Belum ngantuk gue. Lagian masih jam sepuluh. Jadi gini ceritanya, udah beberapa hari ini gue deket sama Om ganteng ketimbang Jef."
"Hah? Om ganteng mana nih? Jangan-jangan sekarang lo main sama Om-om lagi?" Kaget Jihan menatap Mercia tajam.
Mercia pun langsung menggeleng. "Om King, masak lo gak tahu pamannya si Jef?"
"What! Dia ada di sana? Seriusan?" Seru Jihan terkaget-kaget.
Mercia mengangguk kuat.
"Gila! Hebat banget lo ya? Bisa gaet dua cowok keren sekaligus. Bagi gue satu napa? Serakah amat lo embat dua-dua."
Mercia tertawa geli mendengarnya. "Tapi kan, Ji. Kok gue merasa aneh ya?"
"Aneh gimana?" Tanya Jihan memasang wajah serius.
"Sejak di sini, gue malah sering bareng sama si Om ganteng tahu gak sih? Bahkan dia selalu nongol pas gue butuh, seolah dia ngawasin gue. Menurut lo gimana?"
"Itu juga yang jadi beban pikiran gue, Ji. Gimana kalau si Om beneran suka sama gue?"
Jihan menghela napas panjang. "Ya tinggal lo terima aja. Kok susah sih? Lagian menurut gue ni ya, mau elo sama si Jef maupun Pamannya. Gak ada bedanya, paling bedanya cuma umur doang. Kata orang sih yang tua itu lebih hot. Apa lagi dia cukup famous dikalangan pengusaha ternama."
Mercia sedikit memajukan bibirnya. "Au ah, jadi pusing gue."
"Yang pasti-pasti aja kali, Cia. Lagian si Jef itu kan sok jual mahal. Ini saatnya buat elo tunjukin ke dia, kalau elo itu bisa dapet yang lebih baik dari dia. Paham kan maksud gue?" Mercia pun mengangguk paham.
"Ya udah, gue mau balik. Tar gue telepon lagi. By, Cia. Love you." Pamit Jihan.
"Love you too." Balas Mercia, kemudian panggilan pun berakhir.
Mercia menaruh kembali ponselnya di tempat semula. Kemdian ia tampak termenung. Memikirkan perkataan sahabatnya beberapa detik yang lalu.
"Ck, bodo ah. Pusing kepala gue mikirinnya." Pungkasnya yang kemudian kembali berbaring. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Tengah malam, Mercia terbangun karena merasa haus. Sayangnya stok air minum dikamarnya habis. Alhasil ia pun terpaksa mengambilnya ke dapur meski malas karena sangat mengantuk. Dengan mata yang masih berat, Mercia pun turun ke bawah. Namun, setibanya di sana Mercia memekik kaget karena Jef berdiri di dekat kulkas dengan lampu yang masih padam.
__ADS_1
"Jef! Bikin jatungan tahu gak?" Kesal Mercia seraya menghidupkan lampu. Ditatapnya lelaki itu heran karena ada di dapur tengah malam seperti ini.
Jef pun membalas tatapannya. "Kenapa belum tidur?" Tanyanya dengan nada datar seperti biasanya.
Mercia mengangkat gelasnya. "Air di kamar habis, jadi aku terpaksa turun." Kemudian bergegas mengisi gelasnya. Dan itu semua tak lepas dari pandangan Jef tentunya.
"Kau sendiri sedang apa tengah malam di dapur?" Tanya Mercia berbalik.
"Aku juga haus." Jawabnya. Mercia pun mengangguk seraya duduk di kursi, lalu minum sedikit.
"Kau marah padaku?" Tanya Jef lagi seraya ikut duduk.
Mercia menoleh, lalu tersenyum. "Aku tidak marah, hanya kesal saja. Tapi sekarang tidak lagi."
"Why?" Jef mengernyit bingung.
Mercia menghela napas. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Rasanya aku tidak bisa marah padamu."
Jef menatapnya lekat. "Kau menyukai Uncle?"
Mendengar itu Mercia terkejut, ditatapnya Jef lamat-lamat. "Apa aku terlihat menyukainya?" Tanyanya balik.
Jef mendengus sebal. "Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, Cia."
Mercia tertawa lucu. "Pertanyaanmu itu aneh, Jef. Tapi... jika kau sangat ingin tahu, memang benar sih aku menyukainya."
Wajah Jef langsung berubah masam mendengar pengakuan Mercia. Namun Mercia sama sekali tak menyadarinya.
Gadis itu kembali meneguk air minumnya. Kemudian melanjutkan ucapannya. "Tapi masih sebatas menyukainya, tidak berani lebih. Dia itu terlalu sempurna, rasanya akan sulit mendapatkan hatinya. Kau saja sulit, apa lagi dia kan?" Ditatapnya Jef dengan senyuman.
Jef mengangkat sebelah alisnya. "Jadi kau tidak benar-benar menyukainya?"
Mercia menatap Jef penuh selidik. "Kau ini kenapa sih? Ah... apa jangan-jangan kau cemburu huh?"
Jef pun mendengus. "Cemburu? Aku rasa tidak ada alasan untuk itu."
Mercia semakin tergelak. "Ayolah, akui saja jika kau cemburu." Ditoelnya tangan lelaki itu untuk menggodanya. "Kau cemburu kan? Ngaku aja deh."
Jef mendengus lagi. "Tidak sama sekali." Ucapnya seraya memalingkan wajah. Ia tak ingin Mercia melihat pipinya yang memerah karena malu.
Melihat reaksi itu Mercia pun tersenyum geli. "Okay, jadi tidak ada masalah dong aku menyukai Unclemu yang tampan itu. Kau kan tidak menyukaiku. Lagian Uncle itu sosok perfect husband yang aku impikan. Selain tampan dan mapan, dia juga lelaki yang sangat pengertian. Mungkin sekarang aku belum menyukainya, tapi tidak tahu kedepannya."
Mendengar itu Jef langsung bungkam dengan wajah datar. Melihat itu Mercia pun tersenyum geli. "Tidak apa kan jika aku bersama Unclemu?"
__ADS_1
"Bukan urusanku." Ketus Jef yang langsung beranjak dari sana. Meninggalkan Mercia begitu saja.
"Jef! Kau tidak marah kan aku menikah dengan Unclemu? Jangan sampai menyesal, Jef." Teriak Mercia menggoda lelaki itu. Sayangnya Jef tak menggubrisnya dan benar-benar meninggalkan dirinya sendiri. Sontak ia pun tertawa sendiri. "Dasar Mr. Ice. Bilang aja cemburu, sok jual mahala konon. Kebakaran jenggot baru tahu rasa." Dengan perasaan bahagia, Mercia pun kembali ke kamarnya.