Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Hadiah Misterius


__ADS_3

"Hah, lelah hayati." Keluh Faizah saat mereka sampai di kamar hotel. Bahkan bumil yang satu itu langsung menjatuhkan diri di kasur.


"Gak mau mandi dulu?" Tanya Juna melepas jasnya seraya menatap sang istri.


"Tar aja deh, masih capek, Mas. Mas aja duluan kalau mau mandi." Jawab Faizah dengan mata terpejam.


"Lepas dulu soflennya." Juna memperingati.


"Eh, iya hampir lupa." Faizah pun bergegas bangun. Lalu melepas soflen dengan hati-hati. "Mas, kok aku laper lagi ya?"


"Gembul."


Faizah tertawa kecil. "Makanan enak di Paris apa sih?"


"Gak tahu," jawab Juna sekenanya.


"Ish... kamu kan sering ke luar negeri."


"Bukan berati saya tahu makanan di sini kan?"


"Iya juga sih." Faizah cengengesan. "Mas, jadi malam ini kita mesra-mesraan dong? Kan malam pertama kita."


Juna mengangkat sebelah alisnya. "Yakin?"


"Yakin dong, aku kan udah persiapin diri." Jawab Faizah mantap.


"Saya gak mau gegabah."


"Ck, udah kangen dedek kamu loh, Mas." Rengek Faizah tanpa malu sedikit pun.


"Kamu harus istirahat, jangan terlalu capek." Kata Juna yang langsung melongos ke kamar mandi.


"Ish... padahal aku kan gak bohong kangen sama dedeknya. Udah lama juga gak main. Pasti gak papa kan kalau mainnya pelan? Duh... gimana ya cara bujuknya?" Faizah tampak berpikir keras.


"Aha! Aku punya ide." Faizah bangun dari duduknya. Lalu sedikit berlari ke arah koper. Dan mengobrak-abrik isinya. "Untung aku bawa pakaian seksi."


Beberapa menit berikutnya, Juna pun keluar dari kamar mandi. Dan hanya mengenakan bathrobe. Faizah yang melihat itu tersenyum penuh arti, membuat Juna bingung sendiri.


"Aku juga mau mandi." Faizah pun cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Namun, tidak lama dari itu ia keluar lagi. "Mas, tolong bukain dong."


Ia pun mendekati Juna, lalu membelakanginya karena minta dibukanan resleting gaunnya. Bahkan dengan sengaja ia membuka pakaiannya di depan Juna. Spontan Juna pun kaget, apa lagi punggung istrinya terekspos jelas.


"Tolong simpenin gaunna ya, Mas?" Kemudian ia pun langsung beranjak ke kamar mandi.


Di dalam, Faizah tertawa kecil. "Pasti tegang tuh dedeknya. Siapa suruh sok jual mahal." Faizah pun mulai mandi sambil bersenandung. Entah kenapa hari ini moodnya terasa baik banget.


Tiga puluh menit kemudian, Faizah pun keluar dari kamar mandi. Sama seperti Juna, ia pun mengenakan bathrobe. "Mas?" Panggilnya saat tak menemukan keberadaan Juna. "Lah, ke mana dia?"


Faizah duduk di tepi ranjang sambil celingak-celinguk. Lalu ia pun menguap beberapa kali. "Ck, Mas Juna kemana sih? Jangan bilang dia ninggalin aku lagi? Ck, tapi gak mungkin. Mas Juna ke luar kali ya? Biarin aja lah. Dari pada pusing, mending aku bobok cantik dulu ah."


Faizah menarik tali bathrobenya, lalu tersenyum geli saat melihat pakaian seksi yang saat ini melekat ditubuhnya. Kemudian ia kembali mengikat talinya. "Kira-kira dia bakal kegoda gak ya? Mudah-mudahan aja imannya luntur."


Faizah berbaring di ranjang, mencari posisi nyaman. Dielusnya perut rata itu dengan lembut. "Sayang, kamu kangen Papa juga kan? Semoga Papa mau jenguk kamu."


Tidak lama dari itu Juna pun kembali, dengan sebuah paper bag ditangannya. Faizah mengubah posisinya menjadi duduk. "Dari mana, Mas?"

__ADS_1


"Kamu bilang lapar, saya takut kamu bosan makan-makanan restoran hotel ini. Jadi tadi saya keluar. Lasagna, kamu suka kan?"


Faizah mengangguk antusias dan turun dari pembaringan.


"Makanlah dulu, setelah ini istirahat." Kata Juna memberikan paper bag itu pada sang istri.


"Kamu gak makan, Mas? Makan sama-sama yuk." Ajaknya.


"Saya belum lapar." Juna duduk di samping Faizah. Memandang istrinya itu lekat.


Faizah mengeluarkan makanan itu dan langsung membuka penutup cupnya. "Hm... harum banget, Mas. Enak nih masih panas. Beneran gak mau?"


Juna menggeleng. "Lanjut aja."


"Ya udah." Faizah pun melahapnya dengan pelan. Dan suasana pun mendadak senyap. Sesekali Juna melirik Faizah yang sedang asik makan.


"Enak?" Juna menyapu ujung bibir Faizah. Spontan bumil itu pun menoleh yang diiringi anggukan kecil. "Kamu seperti anak kecil, Izah."


Faizah tersenyum. "Kamu lupa ya aku kan masih bocah, Mas."


"Bocah? Bahkan dalam perut kamu sudah ada bocah, Izah." Kata Juna yang berhasil membuat Faizah tertawa lepas.


"Bisa aja kamu, Mas. Btw... makasih loh atas perhatiannya, aku merasa dihargai sekarang. Nih ya, walaupun aku ini masih bocah dan imut banget. Tapi aku pasti bisa jadi istri yang baik." Ocehnya sambil sesekali mengunyah.


"Apa stok kata-katamu itu tidak pernah habis, Izah?" Tanya Juna merasa heran dengan istrinya yang tiada hari tanpa mengoceh.


"Gak tahu, semuanya ngalir gitu aja sih. Mungkin udah bawaan dari orok kalau aku ini berbakat merangkai kata. Lagian wajar kan kalau cewek itu bawel? Orang bawel itu ngangenin loh, Mas."


"Hm." Juna tidak terlalu menggapinya.


Juna mendengus kecil. "Cepat habiskan."


Faizah mengangguk dan lanjut makan. "Oh iya, Mas...."


"Habisin dulu, Izah. Emang kamu gak capek ngomong terus?" Sela Juna.


"Enggak." Jawab Faizah tanpa dosa. "Malah aku capek kalau diam aja, Mas. Merasa jadi patung. Kadang aku tuh heran sama kamu, kok bisa ya kamu kaku gitu?"


Juna tidak tahu harus menjawab apa.


"Mas, Mbak Nesya itu cantik banget ya? Padahal anaknya udah gede. Anak yang cowoknya juga ganteng. Mirip Bapaknya, coba aja aku masih muda. Pasti aku naksir sama dia."


Ya, tadi Nesya datang bersama suami dan anaknya. Tentu saja Juna tidak melupakan mantan kekasihnya itu.


Mendengar itu Juna langsung memelototi Faizah. Sedangkan yang dipelototin malah santai dan sama sekali tak terintimidasi.


"Kenapa kamu gak jebak dia aja kemarin?" Ketus Juna. Faizah menoleh, lalu memutar bola matanya malas.


"Sayangnya aku gak suka berondong, aku lebih suka yang mateng kayak kamu. Yah... walau pun kamu itu agak dingin di awal, tapi aku tahu di dalam sini banyak banget api kehangatan." Faizah menekan dada Juna dengan telunjuk. "Aku tahu kamu itu lelaki penyayang. Buktinya kamu mampu membesarkan Halley sendirian, Mas. Kamu itu Papa yang hebat. Bahkan Halley saja bisa sesukses itu. Aku harap anak kita juga bisa sesukses Kakaknya. Walaupun aku sebagai Mamanya tidak sempat lulus kuliah, tapi anak kita harus mendapat pendidikan yang baik."


Juna terenyuh mendengar ungkapan istrinya itu. Ia tidak pernah menyangka Faizah yang tengil bisa berpikir sampai sejauh itu.


"Mas, aku selalu berdoa kita diberi waktu panjang buat bareng terus. Bisa melihat anak-anak dewasa dan meraih masa depan mereka masing-masing. Tolong terima segala kekurangan aku ya, Mas? Aku tahu... aku gak secantik dan sefamous mantan-mantan kamu sebelumnya. Tapi aku berharap akan menjadi cinta terakhir kamu, Mas." Imbuh Faizah tesenyum tulus.


Juna menatap mata indah istrinya begitu dalam. Sampai pandangan keduanya pun saling terkunci satu sama lain. Perlahan tapi pasti, bibir mereka bersatu. Faizah memejam saat bibir lembut Juna menyapu bibirnya.

__ADS_1


Juna menarik bibirnya, lalu tangannya bergerak mengambil cup makanan di tangan Faizah. Lalu menaruhnya di nakas. Ia mengambil air mineral. "Minum."


Faizah menerimanya dan langsung meneguk air itu hingga tersisa setengah. Setelah itu ia taruh lagi di atas nakas.


Juna membawa Faizah dalam pangkuannya. Ditatapnya lagi wajah cantik itu dengan seksama. "Kamu cantik, Izah."


Faizah tersenyum geli dengan kedua telapak tangan menempel di pipi Juna. "Kamu juga ganteng. Tapi aku gak suka ada bulu-bulu di sini, kamu keliatan tua. Boleh gak kalau dibuang aja?" pintanya seraya mengusap bulu-bulu halus dirahang suaminya.


"Hm." Juna mengangguk. "Kamu bisa buang sendiri kalau mau."


"Boleh." Faizah tersenyum begitu manis. "Mas, kangen."


Juna terdiam sejenak. "Saya gak bisa sebentar kalau udah main, Izah."


Faizah terkekeh lucu. "Gak masalah, kita main pelan aja."


Juna menatap wajah Faizah yang penuh harap. "Saya rasa kamu yang mesum, Izah."


"Gak masalah mesum sama suami sendiri kan?" Faizah kembali mendaratkan bibirnya di bibir Juna. Lalu memberikan sapuan lembut seperti yang Juna lakukan sebelumnya. "Aku pengen banget, Mas. Udah sebulan kita gak mesra kayak gini."


Faizah menyatukan dahi mereka. "Aku pengen tahu gimana rasanya malam pertama, Mas."


Juna tersenyum tipis. "Ini masih sore."


"Anggap aja udah malam." Faizah terkekeh lucu. Lalu keduanya kembali berciuman panas. Juna membaringkan istrinya. Dan ciuman panas itu terus berlanjut sampai keduanya sama-sama kehabisan stok oksigen.


Faizah tersenyum dengan dada yang naik turun.


"Kenapa senyum?" Tanya Juna penasaran.


Faizah menggeleng, lalu kedua tangannya ia lingkarkan di leher Juna. "Cepetan, baby pengen dijenguk Papanya." Bisik Faizah.


"Baby atau kamu huh?"


"Dua-duanya, Mas."


Juna tersenyum samar. "Hm. Kamu yang minta, jadi jangan salahkan saya jika kamu tidak bisa bangun besok."


"Aku gak takut, Mas. Itu yang aku tunggu."


Dan beberapa saat kemudian kamar itu pun dipenuhi suara erangan dan d*s*h kenikmatan. Keduanya benar-benar terhanyut dalam kerinduan yang tengah membuncah. Saling mengobati dan memberikan kepuasan satu sama lain. Bahkan mereka sampai lupa waktu dan lupa diri.


Keesokan pagi, Juna terbangun karena mendengar bel pintu yang terus berbunyi. Karena tergganggu, ia pun bangun dari tudurnya. Ditatapnya sang istri yang masih tertidur pulas. Seulas senyuman terbit dibibirnya. Sebelum turun, Juna memberikan kecupan di kening istrinya. Lalu memakai bathrobenya kembali.


Dibukanya pintu kamar pelahan.


"Pagi, Tuan. Ada paket untuk Anda." Kata seorang bellboy.


"Paket? Siapa yang mengirim?" Tanya Juna seraya menerima kotak kado berukuran besar.


"Saya kurang tahu, Tuan. Tadi seseorang memerintah saya untuk mengirim ini ke kamar Anda."


Juna terdiam sejenak sambil menatap hadiah misterius itu. "Hm, baiklah. Terima kasih."


"Sama-sama, Tuan."

__ADS_1


Juna pun menutup pintu dengan kaki. Lalu membawa barang itu ke atas meja. Ditatapnya benda itu dengan seksama. "Ck, biarkan istriku yang membukanya."


__ADS_2