Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Pertunangan Sean dan Stella


__ADS_3

Queen tergesa-gesa menuruni taksi yang tadi dinaikinya. Lalu berlari memasuki bandara tanpa peduli tatapan orang lain atas penampilannya saat ini. Sampai langkahnya pun dihentikan oleh seorang security.


"Maaf, Anda tidak boleh masuk." Ujar lelaki paruh baya itu menatap penampilan Queen dari ujung kaki sampai kepala.


"Please, aku ingin bertemu kekasihku. Sean Cameron, dia kekasihku. Hari ini dia akan berangkat ke Madrid."


"Sean Cameron? Kau bercanda?"


"Ya Tuhan, aku tidak bercanda, aku benar-benar kekasihnya." Queen mulai kesal.


Lelaki itu tertawa remeh. "Banyak wanita yang mengaku pacar Sean Cameron. Apa tujuanmu?"


"Okay, aku punya bukti jika Sean adalah kekasihku." Queen menghela napas berat. Lalu ia pun merogoh ponselnya di saku. Namum sayang ia meninggalkan benda itu di mansion.


Sial!


"Dimana buktimu itu, Nona?" Tanya lelaki itu memandang Queen remeh.


"Lupakan." Dari pada dirinya di tangkap polisi. Queen pun memilih pergi sambil menangis. Sesampainya di pintu keluar, Queen pun berjongkok dan langsung menangis pilu. Sampai sentuhan tangan seseorang pun berhasil membuatnya terkejut dan langsung menoleh.


"Uncle. Apa dia sudah pergi?" Lirihnya.


"Kita pulang." Ajak Juna membantu Queen bangun.


Juna memang mendatangi mansion Sean lagi pagi tadi, dan saat ia tiba Queen pun keluar dan menyetop sebuah taksi. Karena tidak ingin terjadi sesuatu dengannya, Juna memutuskan untuk mengikuti taksi yang Queen naiki.


"Uncle, aku ingin bertemu dengannya sebelum dia pergi."


"Tidak ada satu pun penerbangan yang Sean naiki. Aku sudah mengecek semua daftar penumpang. Mungkin saja dia sudah pergi sejak malam tadi. Orang kaya seperti dia pasti punya jet pribadi. Dan tadi malam memang ada sebuah jet yang melakukan penerbangan ke Madrid, aku rasa itu dia."


Queen terdiam mendengarkan penjelasan Juna. "Jadi dia tidak mengabaikankan aku? Tapi ponselnya mati karena melakukan penerbangan. Ah... syukurlah."


"Sekarang kau sudah tenang bukan? Ayok kita pulang."


Queen mengangguk patuh. Setidaknya ia merasa senang karena Sean tidak benar-benar mengabaikan dirinya.


Sepanjang perjalanan Queen tidak banyak bicara, ia memilih diam sambil menatap ke luar jendela. Sesekali ia juga terlihat menghela napas berat.


Hah, bahkan aku sudah merindukannya. Aku sudah terbiasa diperhatikan olehnya. Sehari saja dia menghilang rasanya sangat hampa.


Menit berikutnya mereka pun tiba di basement apartemen.


"Thank you, Uncle. Tidak perlu menemaniku, aku baik-baik saja."


Juna yang tadinya berniat menemani Queen pun langsung mengurungkan niatnya. "Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."


"Ya, terima kasih." Queen pun bergegas turun dari mobil Juna. Lalu ia pun berlalu begitu saja. Dan itu membuat Juna merasa kecewa karena Queen tidak lagi membutuhkan dirinya.


Huh, apa lagi yang kau harapkan? Dia sudah besar, dan juga sudah menemukan pasangan yang cocok. Aku tidak akan mengganggumu lagi, princess. Selamat tinggal.


Juna kembali mengemudikan mobilnya, meninggalkan kawasan apartemen. Sedangkan Queen memasuki apartemennya dengan lemas. Ia kembali tak tenang saat tiba-tiba mengingat Stella.

__ADS_1


Kenapa hatiku selalu gelisah saat mengingat nama wanita itu? Apa ketakutanku akan kehilangan Sean begitu besar? Tapi kenapa? Bahkan aku belum merasakan perasaan apa pun padanya.


Queen mendaratkan bokongnya di atas sofa. Namun tatapannya terlihat kosong. "Kau membuatku seperti orang gila, Sean. Menyebalkan."


Setelah mengatakan itu, Queen pun beranjak menuju kamar untuk segera membersihkan diri.


****


Madrid, Soanyol.


Sean memasuki sebuah mansion mewah milik sang Daddy. Sejak tiba di kota itu, Sean sama sekali belum mengembangkan sedikit senyuman pun. Bahkan Ben yang menyadari ada yang tidak beres pada Tuannya itu pun sampai tidak berani hanya untuk menegur sapa.


"Ah... akhirnya kau datang, putraku." Sambut Tuan besar Cameron pada putranya.


Namun Sean tampak acuh dan langsung duduk di sofa dengan tatapan yang sulit di artikan. Kemudian ia pun melirik seorang wanita seksi yang saat ini duduk di sebelah sang Daddy.


"Kau menyewa p*l*c*r lagi?" Sean berdeicih sinis.


"Lalu apa bedanya wanitamu itu? Bukankah dia juga sama? Setelah bersenang-senang denganmu, dia lari pada laki-laki lain. Cih, apa namanya jika bukan j*l*ng kecil." Cibir Tuan Cameron yang jelas di tujukan untuk Queen.


Sean mengeratkan rahangnya dan langsung berlalu pergi menuju sebuah kamar. Sepeninggalan Sean, Tuan Cameron tersenyum miring. Kemudian menghubungi seseorang. "Lakukan sesuai rencana, dia sudah tiba baru saja. Iya, aku tahu, akan aku pastikan pertuangan kali ini berjalan lancar."


Di kamar, Sean menghela napas berat. Kemudian ia merogoh ponselnya, lalu menghidupkannya kembali. Dan betapa kagetnya ia saat melihat ada hampir seratus panggilan tak terjawan dari sang kekasih. Bukan hanya panggilan, tapi pesan darinya begitu banyak. Mulai dari yang lembut sampai marah-marah.


Sean, kau di mana?


Angkat teleponku, Sean. Sepertinya kau salah paham.


Seulas senyuman manis terukir diwajahnya.


"Aku pikir kau melupakanku, sayang." Gumamnya dan segera menghubunginya kembali. Namun sayang, tidak ada jawaban dari gadisnya itu. Seketika rasa cemas pun menyelimuti hatinya.


Tidak ingin kehabisan akal, Sean pun menghubungi seseorang di mansion.


"Hallo, Tuan."


"Di mana kekasihku? Apa dia masih di sana?"


"Maaf, Tuan. Pagi-pagi sekali Nona sudah pergi tergesa-gesa. Bahkan ponsenya tertinggal di sini. Tuan, semalaman penuh Nona terus menangis dan bertanya-tanya kemana Tuan pergi."


Oh... aku tidak menyangka dia akan mencariku sampai tahap itu. Baiklah, aku akan melihat sejauh mana kau mencariku, gadis kecil. Senyuman miring pun terbit di bibirnya yang tipis.


"Ya sudah, jangan katakan padanya jika aku menelepon. Biarkan aku sendiri yang menghubunginya nanti."


"Baik, Tuan."


Tut. Sean pun menutup sambungan telepon dengan perasaan lega sekaligus bahagia. Ternyata kekecewaanya sama sekali tidak tepat.


"Ah... aku ingin memelukmu, sayang." Sean menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk. Sikap lelaki itu terlihat seperti anak abg yang sedang jatuh cinta. Menggemaskan memang.


Kembali ke aprtemen, Queen terlihat sibuk membenah diri. Ia tidak mau dikatai orang gila lagi. "Menyebalkan, lelaki itu membuatku seperti orang gila, awas saja, aku akan menghukummu saat pulang nanti."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Queen mengulas senyuman lebar. "Kita lihat, apa dia masih bisa mengabaikan kecantikanku sekarang?"


Queen melangkah menuju tas kuliah miliknya dan mencari keberadaan ponsel karena berniat untuk mengirim foto dirinya pada Sean. Namun ia tidak menemukannya. "Ah sial! Aku lupa ponselku tertinggal di mansion."


Tidak ingin mengambil pusing, Queen pun langsung menyambar tas kuliah dan kunci mobil. Lau bergegas meninggalkan apartemen.


****


"Apa? Lalu apa tanggapanmu? Kau menerimanya kembali?" Seru Ella setelah mendengar cerita dari Queen jika Juna mendatanginya kemarin. Bahkan sampai membuat Sean salah paham padanya.


"Tidaklah, aku sudah berjanji akan menerima Sean dalam kehidupanku."


"Huh... baguslah." Ella bernapas lega. "Lagi pula kau dan Sean sudah melewati malam bersama. Murahan sekali jika kau kembali pada pria tua itu." cetus Ella.


Queen mendengus sebal. "Aku tidak semurahan itu."


"Oh iya, aku belum sempat mengambil ponselku di mansionnya. Kau mau kan menemaniku nanti?"


"Em... boleh. Aku juga sangat penasaran seperti apa mansion orang kaya sepertinya."


"Mulutmu akan terbuka saat melihatnya nanti."


"Oh... aku tidak sabar melihatnya."


Hari ini Queen mengikuti jam pelajaran sampai petang. Setidaknya ia sedikit melupakan masalahnya saat ini dan akan kembali menyelesaikannya setelah itu.


Queen berjalan malas menuju parkiran bersama Ella disebelahnya.


"Wait!" Pekik Ella yang berhasil menahan langkah Queen.


"Apaan sih?" Queen menoleh karena penasaran.


"OMG! Kau harus lihat ini. Sean Cameron dan Stella Smith diberitakan akan bertunangan?"


Mendengar itu jantung Queen seakan melompat keluar. Lalu direbutnya ponsel Ella dengan kasar.


Mata Queen melotot saat dirinya membaca kolom berita yang tengah hot hari ini. Dan itu berita tentang kekasihnya. Sean akan bertungan dengan Stella? Yang benar saja?


"Tidak, ini berita palsu." Queen mengembalikan ponsel Ella.


"Babe, ini berita yang langsung diterbitkan oleh media ternama. Mana mungkin ini palsu."


Queen terdiam dan sesekali maraup wajahnya. "Dia tidak mungkin mengkhianatiku. Aku percaya padanya."


"Tapi mereka akan bertunangan besok."


"What?" Pekik Queen yang belum sempat melihat jadwal pertunangan kekasihnya itu. "Oh God! Kau harus membantuku kali ini. Pesankan tiket sekarang juga ke Madrid."


"Oh okay." Sahut Ella.


"Sean... aku benar-benar tidak akan mengampunimu setelah ini. Dasar ***k." Geram Queen dengan wajah merah padam menahan amarah.

__ADS_1


__ADS_2