
Dua hari setelahnya, Rea pun sudah kembali ke rumah karena kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak cepat pulih, hampir setiap hari Zain memanjakannya. Wanita mana pun akan sangat bahagia jika diperlakukan spesial oleh lelaki yang dicintainya.
Seperti hari-hari biasanya di rumah, pagi-pagi buta Rea sudah duduk manis di depan televisi. Menonton serial kesukaannya, yaitu doraemon. Rea terlihat serius dengan mulut yang tak henti-hentinya mengunyah.
Zain yang merasa tidurnya terusik pun mulai terbangun. Lelaki itu mengucek mata pelan. Lalu dipandangnya sang istri yang kini sudah duduk membelakanginya dan terlihat serius menonton.
"Sayang, kenapa cepat sekali bangun?" Tanya Zain dengan suara seraknya.
"Tadi aku mual, jadi terbangun. Karena tidak bisa tidur lagi, jadi aku memilih nonton." Jawab Rea tanpa menoleh. Wanita itu benar-benar fokus pada layar televisi.
"Apa yang kau makan?" Tanya Zain menggeser tubuhnya mendekati sang istri.
"Cemilan yang kau beli kemarin, mau?" Tawar Rea menyodorkan toples pada Zain.
"Tidak, kau saja yang makan." Zain memeluk Rea dari arah belakang. "Kau sudah mandi?"
Rea mengangguk pelan. "Kau juga harus mandi, hari ini kerja kan?"
"Hm." Zain menempelkan hidungnya di pundak sang istri. Menghirup aroma sabun yang keluar dari pori-pori Rea.
"Sayang, sudah lama sekali aku tidak pulang ke kampung halaman Mami. Kau tahu tidak? Di sana itu sangat indah. Kau akan senang tinggal di sana."
"Kau ingin ke sana?" Tanya Zain menatap layar televisi tanpa minat.
"Apa boleh?"
"Tentu saja. Kapan kau ingin pergi? Aku akan menyesuaikan jadwal."
"Em...." Rea tampak berpikir keras. "Bagaimana kalau akhir pekan ini?"
"Tidak jadi masalah."
Rea tersenyum bahagia. "Aku akan mengabari Nenek dan Kakek di sana. Pasti mereka sangat senang jika tahu kita akan datang."
"Apa kau juga bahagia?"
"Hm." Rea mengangguk antusias.
"Aku senang kau bahagia, karena tujuan hidupku sekarang yaitu kebahagiaanmu, Re." Zain mengecup pipi istrinya dengan mesra. Rea menoleh sedikit.
"Kenapa akhir-akhir ini kau pandai sekali gombal huh? Belajar dari siapa?"
"Itu bukan gombalan, tapi aku sungguh-sungguh, Re. Aku ingin terus membahagiakanmu." Perlahan Zain menempelkan bibirnya dengan bibir sang istri.
"Rasa strawberry." Ucap Zain menjilat bibirnya sendiri.
Rea pun tertawa renyah. "Cemilannya rasa strawberry, sayang. Apa enak?"
"Ya, rasanya tidak pernah berubah. Enak dan memabukkan."
"Huh dasar mesum."
Zain tersenyum tipis. "Olah raga pagi yuk?"
Rea melotot mendengar ajakan suaminya itu. "Jangan macam-macam, aku sudah mandi. Kau lupa dokter bilang apa? Kau harus puasa beberapa bulan ke depan. Tahan sedikit."
"Mana bisa. Aku tidak mungkin menahannya selama itu, pasti ada cara lain."
"Tidak ada cara lain. Sekarang kita nonton saja." Rea menyandarkan punggunya pada Zain dan kembali menyemil.
__ADS_1
"Apa tidak bisa satu jam saja?" Tanya Zain masih kekeh dengan keinginannya.
"Tidak." Sahut Rea dengan nada santai.
"Setengah jam." Tawar Zain.
"Tidak." Sahut Rea lagi.
"Kalau begitu morning kiss."
"Sudah tadi," jawab Rea masih setia pada layar televisi.
Zain menghela napas berat. "Kalau begitu aku mandi dulu."
"Hm... kau ingin memakai pakaian mana?" Tanya Rea mengalihkan perhatian pada suaminya.
"Apa saja yang kau siapkan." Zain pun bergegas menuju kamar mandi. Sedangkan Rea beranjak menuju closet.
****
Zain tampak menuruni anak tangga, ia sudah rapi dengan setelan kantornya. Lalu melangkah pasti menuju ruang makan.
"Rea di mana Bik?" Tanya Zain saat tak menemukan batang hidung istrinya. Kemudian ia pun menarik kursi dan duduk di sana.
"Katanya ke belakang sebentar, Tuan. Mau kasih makan blacky."
"Blacky?" Tanya Zain penasaran.
"Iya, Tuan. Nyonya pelihara anak kelinci di belakang."
"Sejak kapan, Bik?" Tanya Zain seraya menyesap kopi.
Zain terdiam sejenak. "Tolong panggilkan dia ya Bik. Aku akan berangkat sebentar lagi." Titah Zain.
"Baik, Tuan." Bik Ade pun bergegas pergi untuk memanggil Rea.
Tidak butuh waktu lama Rea pun muncul bersama Bik Ade.
"Ada apa, sayang. Mau berangkat sekarang?" Tanya Rea ikut duduk di sebelah sang suami. Kemudian menuangkan nasi goreng ke dalam piring suaminya.
"Sebentar lagi. Kau sudah minum susu?"
Rea mengangguk pelan. "Tapi aku tidak suka rasa vanilla. Nanti belikan rasa strawberry ya?"
"Iya, sayang."
Rea memandangi Zain yang tengah makan. "Kak, apa aku boleh memelihara blacky di kamar? Aku sudah menyewa pelatih untuknya. Kau harus segera berkenalan dengannya. Dia itu sangat lucu." Cerocos Rea.
Zain menatap istrinya lekat. "Aku tidak mengizinkan jika di kamar. Kita akan buat rumah khusus untuknya nanti."
"Benarkah?"
Zain pun mengangguk sebagai jawaban.
"Yey, thank you, sayang. Aku mencintaimu."
"Hm. Kau harus makan, jadi cepat makan dan minum obat."
"Tidak mau, aku tidak suka aroma obat. Lagian aku sudah sembuh." Jawab Rea dengan nada santai. "Apa aku boleh ke belakang lagi? Aku merindukan blacky."
__ADS_1
Alis Zain terangkat sebelah. "Blacky lagi?"
"Ya. Kau belum melihatnya, dia itu sangat menggemaskan."
"Bagiku hanya dirimu yang menggemaskan." Sahut Zain.
Rea tersenyum seraya menopang dagu. Sedangkan Zain memilih untuk menghabiskan makanan secepat mungkin.
"Aku harus pergi cepat. Sepertinya siang nanti aku pulang. Makan siang di rumah rasanya jauh lebih enak."
Rea mengangguk pelan. "Apa kau sudah selesai?"
"Memangnya kenapa kalau belum?" Zain balik bertanya.
"Aku sudah tidak sabar mau bermain dengan blacky lagi."
Zain mendengus sebal. "Aku rasa blackymu sebentar lagi akan menjadi sate."
Rea melotot mendengarnya. "Awas saja jika kau berani melakukannya, aku tidak akan bicara lagi padamu."
"Jadi sekarang blacky lebih penting ketimbang aku suamimu?"
"Tentu saja."
Zain mendengus sebal. "Sudahlah, aku sudah terlambat. Jaga dirimu baik-baik." Zain mengecup kening Rea sebelum pergi. Rea pun tersnyum dan langsung berlari kecil menuju halamam belakang di mana blacky berada. "Mommy datang, sayang,"
****
Zain menghela napas kasar saat melihat Rea masih bercengrama dengan seekor kelinci kecil saat dirinya pulang. Bahkan bayi kelinci itu sudah dalam dekapan Rea.
"Re." Panggilnya. Rea pun menoleh.
"Hai, sayang. Kau sudah pulang? Maaf aku memebawa blacky masuk. Habis dia kedinginan."
"Aku juga kedingingan, sayang." Guman Zain sangat kecil.
"Apa kau bicara sesuatu?" Tanya Rea dengan senyuman mengembang.
"Tidak." Zain menarik ujung bibirnya sebisa mungkin. Meski dalam hatinya ia menggerutu karena Rea lebih peduli pada seekor binatang.
"Apa kau membeli susu yang aku maksud?" Tanya Rea lagi.
Zain mengangguk. "Kau tidak ingin jalan-jalan?"
"Tidak, aku sedang menidurkan blacky. Lain kali saja kita jalan-jalan."
"Bagaimana dengan shopping?" Tawar Zain lagi. Rea tampak berpikir keras. Dan detik berikutnya wanita itu mengangguk antusias. Tentu saja hal itu berhasil mengembangkan senyuman di bibir Zain karena ia berhasil membujuk istrinya.
Hah, ternyata sangat mudah membujuknya. Pikir Zain.
"Tapi bawa blacky ya? Kasihan dia kesepian."
What? Pekik Zain dalam hati. Apa ia tidak salah dengar? Kenapa ia mendadak kesal sekarang, bagaimana bisa ia dikalahkan oleh seekor kelinci? Menyebalkan memang!
"Terserah kau saja, sayang."
"Yey, love you my hubby."
"Me to." Dengan wajah yang kusut Zain pun beranjak menuju kamarnya. Sedangkan Rea terlihat asik dengan mainan barunya.
__ADS_1