Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Sebuah ancaman


__ADS_3

"Re, are you okay?" Tanya Regan saat lelaki itu masuk ke ruang make up Rea dan melihat wajah Rea yang pucat.


"Sepertinya aku masuk angin deh, aku juga agak demam." Jawab Rea menarik tangan Regan dan menempelkannya di kening. Regan terkejut saat merasakan suhu panas tubuh Rea.


"Kau demam, Re. Sebaiknya kau tidak perlu kerja hari ini. Aku akan meminta Zara menggantikanmu."


"Tidak usah, aku masih sanggup." Sanggah Rea. "Aku terbang jauh ke sini, mana bisa digantikan begitu saja."


"Re, kau sakit."


"Aku baik-baik saja, bisa kau belikan aku obat pereda demam? Setelah minum obat demamnya akan hilang."


"Aku ada obatnya, kebetulan aku selalu menyimpan stok." Ujar asisten Rea memberikan obat demam miliknya pada sang majikan.


"Ah, kau selalu bisa diandalkan, Lucy. Terima kasih." Rea pun menerima obat itu dan langsung meminumnya.


Regan menghela napas gusar. "Kau sangat keras kepala, aku harap kau baik-baik saja setelah ini. Kau sudah selesai bersiap?"


Rea melihat penampilannya sendiri di cermin, kemudian mengangguk. Lucy pun membantu Rea sedikit merapikan rambutnya.


"Perfect." Puji Lucy. Rea pun tersenyum senang.


"Ayok, semua orang sudah menunggu." Ajak Regan. Lalu mereka pun beranjak menuju tempat pemotretan yaitu di dekat menara eiffel. Di sana sudah ada Zee dan sang asisten. Juga beberapa model lainnya.


"Are you ready, guys?" Tanya Regan pada anak buahnya.


"Ready, boss."


"Okay, Rea, Zee. Kalian yang pertama."


Rea pun langsung melihat ke arah Zee. Zee tersenyum miring, kemudian mengambil posisi lebih dulu. Sedangkan Rea menyusulnya.


"Merapat. Angkat wajahmu sedikit, Re. Ya bagus, pertahankan seperti itu." Titah Regan. "Okay, one... two... three...."


Clak! Satu jepretan berhasil di dapatkan. Rea mengehela napas berat. Kemudian mencari posisi nyaman. Seorang styles menghampiri keduanya, merapikan pakaian Rea dan Zee bergantian.


"One more." Teriak Regan. Rea pun menegakkan tubuhnya. Lalu memasang wajah elegan.


"Good job. One shoot... one, two, three." Rea sedikit goyang karena kepalanya terasa pening. Dan itu merusak gayanya.


Clak!


Regan berdecak kesal. "Rea, pertahankan gayamu. Apa ada masalah?"


Rea menggeleng pelan. "Sekali lagi." Sahutnya.


"Okay, bersiap. One... two...." Teriak Regan.


Zee tersenyum licik, kakinya sedikit bergerak dan menginjak ujung gaun Rea. Rea yang menyadari itu pun langsung menarik gaunnya.


"Bisakah kau lebih hati-hati?" Kesal Rea. Regan yang melihat itu merasa kesal.


"Re, bisakah kau tidak membuang waktu? Waktu kita hanya sedikit."


"Sorry." Ucap Rea. Zee tersenyum senang.


"Okay, kita ulang sekali lagi. Bersiaplah. Atur posisi." Regan mengarahkan kamera andalannya pada dua model cantik itu. Lalu memotretnya dengan sempurna.


"Good job, kalian luar biasa." Regan mengacungkan dua jempol.


Satu jam, dua jam.... lima jam pun berlalu. Berbagai gaya dan posisi telah mereka lewati. Kini hanya tersisa lelahnya saja.

__ADS_1


"Kau langsung pulang?" Tanya Regan memasuki ruang make up Rea.


"Ya, aku harus istirahat sebentar. Nanti malam kau jemput aku kan?"


"Sepertinya aku tidak bisa, tidak apa kan kau pergi sendiri. Aku harus menjemput Aron."


"Ah, Aron kemari?" Tanya Rea begitu antusias.


"Ya." Regan tersenyum penuh arti.


"Okay, aku mengerti. Pergilah, titip rindu untuknya."


"Hey, kau sudah punya suami. Jangan merebut kekasih orang."


"Cih, aku hanya menitip rindu. Begitu saja cemburu. Pergilah. Aku bosan melihat wajahmu."


"Tapi kau baik-baik saja kan?"


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Apa lagi setelah melihat wajah my husband. Semuanya semakin baik-baik saja."


Regan mendengus sebal. "Dasar bucin."


Rea terkekeh geli. "Sana pergi, bosan juga melihat wajahmu terus. Aku akan menghubungi suamiku dulu sebelum pulang."


"Baiklah, jaga dirimu. Love you."


"Me to."


Regan pun bergegas pergi dari sana. Meninggalkan Rea sendiri. Tidak lama dari itu Zee pun masuk. Rea sempat kaget atas kehadiran mantan kekasih suaminya itu.


"Ada hal apa sampai kau menyempatkan diri mendatangiku?" Tanya Rea menarik kursi dan duduk di sana. Memandang Zee tak suka. Rea memang bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan ekspresinya. Ia akan langsung menunjukkan jika dirinya memang tidak suka.


Zee terus meneliti setiap inci ruangan Rea. Kemudian tersenyum penuh arti. Tanpa rasa malu wanita itu pun duduk di kursi lainnya.


"Hey, memangnya apa salahku padamu?" Tanya Rea dengan santai.


"Kau sudah merebut segalanya dariku." Ketus Zee.


"Segalanya? Memangnya apa yang aku rebut darimu huh? Jangan asal menuduh." Rea tertawa getir.


"Maling mana mau mengaku." Cibir Zee.


"Terserah kau saja." Sahut Rea seraya membuka aksesoris yang masih menempel di kepalanya.


"Aku akan merebut semuanya kembali. Akan aku pastikan kau menderita, Rea."


Rea menahan pergerakannya. Kemudian menoleh ke arah Zee. "Lakukan saja, dan lihat siapa yang akan menderita."


Zee mengeratkan rahangnya. "Zain akan meninggalkanmu."


"Oh ya? Memangnya apa alasannya dia meninggalkanku? Apa karena alasan dia masih mencintaimu? Ayolah, cinta kapan saja bisa berubah. Lebih-lebih aku istrinya, hampir setiap saat aku memberikan cinta padanya. Aku rasa hatinya mulai berubah. Kau tidak percaya? Buktikan saja." Ujar Rea panjang lebar.


"Kau menantangku?" Zee pun tersenyum miring.


"Anggap saja begitu."


"Kau akan menyesal."


"Lihat saja nanti."


Zee bangun dari duduknya. "Akan aku pastikan kau kehilangan segalanya, Rea. Zain hanya milikku, sejak awal dia milikku. Kau hanya pelariannya saja."

__ADS_1


"Wah, aku merasa senang menjadi pelariannya. Dengan begitu aku bisa merasakan setiap sentuhannya. Apa dia pernah menyentuhmu lebih jauh? Selain berciuman misalnya."


Zee menggeram kesal. "Jangan terlalu sombong, kau akan malu sendiri."


Rea bangun dari posisinya, mendekati Zee dengan senyuman lebar. Kemudian sedikit mendorong tubuhnya ke depan. "Akan aku pastikan kau yang malu nantinya. Jadi jangan coba-coba menggoda suamiku. Kau belum tahu siapa aku, Kak Zee."


Zee sedikit mundur ke belakang. Dan itu membuat Rea tersenyum penuh kemenangan.


"Sebaiknya kau kembali ke tempatmu, Kakak yang terhormat. Sebelum semua orang mengira kau dan aku memiliki hubungan dekat."


Zee mendengus kesal dan langsung beranjak pergi. Rea pun tertawa geli. Ia tak pernah menyangka dirinya seberani itu. "Sepertinya aku sudah bisa menjadi aktris. Huh, lelah sekali."


"Ck, aku hampir lupa menghubungi pak suami. Sedang apa dia?" Rea pun menghidupkan ponselnya yang sengaja ia matikan. Kemudian langsung menghubungi suaminya.


Rea tersenyum lebar saat Zain menerima panggilan video darinya. Lelaki itu sepertinya sudah tertidur karena di sana sudah larut malam. Zain terlihat berada di atas kasur sambil memeluk guling. Rea tersenyum geli melihatnya.


"Maaf aku mengganggu tidurmu. Tapi aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu." Oceh Rea memasang wajah imutnya.


"Aku menunggumu sejak tadi."


"Aku baru selesai, apa kau juga merindukanku?"


"Tidak." Sahut Zain tersenyum jahil.


Rea menyebikkan bibirnya. "Jahat sekali."


"Aku merindukanmu." Ungkap Zain. Rea tertawa geli.


"Bagaimana rasanya tidur tanpaku huh? Apa kau merasa kehilangan sesuatu?"


"Ya, aku kehilangan boneka penghangatku." Lagi-lagi Rea tertawa mendengar jawaban suaminya. Zain ikut tersenyum saat melihat aura bahagia yang terpancar dalam diri istrinya.


"Kau bahagia di sana?" Tanya Zain.


"Sedikit, jika kau ada di sini mungkin kebahagianku sempurna." Rea menghela napas. "Dua hari jauh darimu rasanya seperti dua tahun. Aku rindu pelukanmu." Rengek Rea.


"Aku akan memelukmu dari jauh." Ujar Zain.


"Rasanya tidak sama. Jika kau ada waktu, datanglah ke sini. Tapi mana mungkin kau punya waktu kan? Kau itu selalu sibuk. Tidak apa-apa. Aku akan bersabar, dua belas hari lagi aku pulang."


Zain tersenyum geli mendengar ocehan istrinya. Seketika ia pun merindukan wanitanya itu. Ingin sekali rasanya ia mengecup bibir cerewet Rea.


"Sayang, tadi Zee menemuiku."


Zain langsung memasang wajah serius.


"Dia mengancamku, katanya dia akan merebutmu dariku."


"Lalu apa yang kau katakan?" Tanya Zain lebih ingin tahu jawaban istrinya dibanding apa yang Zee katakan.


"Aku bilang rebut saja."


Mendengar itu Zain langsung memasang wajah datar. Ia tidak senang mendengar jawaban istrinya. "Kau rela aku di rebut orang lain?"


Rea pun tertawa renyah. "Tentu saja tidak."


"Re, jangan terlalu menanggapinya. Mungkin dia sedang bercanda. Aku percaya Zee tidak akan melakukan hal bodoh itu. Dia mengatakan padaku jika dirinya sudah punya kekasih."


"Benarkah? Jadi kalian masih berkomunikasi? Kau tidak pernah mengatakan itu padaku." Rea memasang tatapan kecewa.


"Re... dengar...."

__ADS_1


"Aku selalu percaya padamu, Kak. Tapi rasanya kau tidak pernah mempercayaiku. Kau tidak pernah sekali pun bercerita masalahmu padaku. Apa lagi memahami perasaanku. Aku lelah, besok aku hubungi lagi. I love you." Rea memutus sambungan telepon sepihak. Ia teramat kecewa karena Zain masih berhubungan dengan Zee. Pantas saja wanita itu begitu besar kepala.


Rea memijat kepalanya yang terasa pening. Kemudian bergegas membereskan semua barang-barangnya dan beranjak pergi dari sana. Ia pergi dengan perasaan perih. Entahlah, sejak pagi tadi perasaanya seolah tak menentu. Mungkin karena efek perjalanan panjang kemarin.


__ADS_2