Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Mau lari kemana gadis tengil?


__ADS_3

Faizah terus menandangi benda pipih di tangannya. Bibirnya berkedut dan perlahan membentuk lengkungan sabit. "Yes!" Pekiknya kegirangan.


"Ah... aku kira bakal gagal. Ternyata berhasil, garis dua. Itu artinya bibit unggul si pria tua udah tumbuh. Aaaa... senengnya." Faizah bangkit sambil mengangkat benda ditangannya ke udara.


"Thanks God. Sekarang saatnya aku beraksi lagi. Pasti si brengsek itu langsung batalin perjodohan ini dan aku bebas. Yuhu.... makasih Mr. Arogan." Faizah terus berteriak kegirangan. Ia benar-benar bahagia saat ini.


Dijatuhkannya tubuh mungil itu di atas pembaringan. Lalu tangannya menyelusup masuk ke dalam perutnya yang masih rata. Dan mulai mengelusnya dengan gerakan memutar. "Selamat datang, sayang. Mama harap kamu betah di dalam sini. Walaupun nantinya kamu lahir tanpa Papa, Mama janji bakal buat kamu lebih bahagia dari anak-anak lainnya. Kamu mau kemana? Apa kita tinggal di Prancis aja ya? Di sana Mama punya temen sih, bisa numpang sementara waktu di sana. Atau mau ke Jerman?"


Faizah tampak berpikir keras. "Ck, kita urus nenek sama kakek kamu dulu aja deh. Kalau udah beres baru kita go. Kalau di sini takutnya Papa kamu datang dan nyuruh Mama buat nyingkirin kamu. Dia itu kan jahat, nilai Mama aja gak dikasih sampe sekarang."


Berhubung masih pagi, Faizah pun terlihat besantai lebih dulu sebelum pulang ke rumahnya.


Menjelang siangnya, Faizah pun mengemudikan mobil kesayangannya menuju kediaman. Sepanjang jalan ia terus bersenandung riang sambil sesekali mengelus perutnya. Dan hanya butuh beberapa menit mobil Faizah pun memasuki parkiran rumah.


Faizah merapikan pakaiannya lebih dulu sebelum turun dari mobil. "Hah, gak sabar mau lihat ekspresi si playboy itu. Dia pikir aku gak tahu apa kalau dia cuma ngincar lubang sempit. Enak aja, mendingan aku kasih sama orang dari pada dia. Ganteng juga enggak, mending si pria tua seratus kali." Gerutunya. Setelah itu ia pun keluar dari mobil dengan gaya sensual. Kemudian agak berlari memasuki rumah mewah itu.


"Mammy, Daddy, i am coming. Yuhu...." teriaknya seperti biasanya ia pulang ke rumah. Ya, satu rumah sudah terbiasa dengan teriakan petir milik Faizah.


Bruk!


Sebuah bola mainan mendarat tepat di kepalanya. Sontak Faizah pun berteriak kencang. "Fino!"


Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu tertawa kencang. Bahkan tanpa dosa ia mengambil bola miliknya dan beralu pergi.


Fino adalah adik sepupu Faizah yang selalu membuatnya kesal. Fino sendiri merupakan anak pamannya yang sengaja di urus oleh orang tuanya karena sang Mammy sejak lama ingin punya anak laki-laki.


"Sini kamu, Fino es gak ada enak-enaknya." Teriak Faizah mengejar anak laki-laki itu dengan gesit.


"Mammy! Aaa... orang gila datang dan mau nyerang Fino." Teriak anak itu terus berlari dan menghindari tangkapan Faizah.


Karena tidak kunjung tertangkap, Faizah pun menyerah dan menjatuhkan diri di atas sofa mewah. Sedangkan Fino langsung berlari ke kamarnya.


"Duh... kok capek ya? Biasanya aku sanggup lari seratus meter, ini baru dua keliling udah capek." Gumamnya seraya mengelus perutnya yang agak nyeri.


"Aaa... aku lupa udah ada baby di sini." Pekiknya kaget sendiri. Bisa-bisanya ia lupa soal kehamilannya. "Duh... kamu baik-baik aja kan di dalam, sayang?"


Tidak lama dari itu munculah seorang laki-laki berkulit coklat dan dengan sengaja duduk dempet di sebelah Faizah. Sontak gadis tak perawan itu pun menjauh. "Jangan deket-deket."


Lelaki bernama Ferdi itu tersenyum geli. "Kamu kok lama banget sih, sayang?"


"Sayang-sayang pala lo peang. Jauh-jauh sana, geli gw." Faizah pun pindah ke sofa yang lain. Namun, lelaki itu terus mendekatinya.

__ADS_1


"Mammy!" Teriak Faizah yang berhasil mengundang kedua orang tuanya dan orang tua Ferdi tentunya.


"Fai, kamu kebiasaan deh teriak-teriak. Gak malu sama calon suami?" Celetuk sang Mammy.


"Dih... siapa juga yang mau nikah sama dia. Mammy harus tahu aja, dia itu cuma penasaran aja sama lubang Fai. Liat aja, kalau udah dapat dia pasti cari lubang yang lebih sempit." Ceplosnya ngasal.


"Fai... kamu mah kalau ngomong gak pake rem. Malu sama Mama Papanya Ferdi." Tegur sang Mammy.


Faizah menatap orang tua Ferdi dengan malas. "Bodo."


"Fai!" Kali ini sang Daddy ikut menimpali.


Faizah memutar bola matanya malas. "Bibik mana? Buatin Fai minum dong. Fai pengen jeruk peras dingin, tapi gak usah pake gula. Terus jeruknya harus asem." Pintanya.


"Kamu kayak orang ngidam aja, Fai." Ujar Mammy.


"Emang." Jawab Faizah sekenanya. Sontak semua orang tertawa mendengarnya karena mereka pikir Faizah bercanda.


"Lah, kok ketawa sih? Saya emang lagi ngidam. Nih, di sini udah ada dedek bayinya." Faizah menunjuk perutnya. Sontak kedua orang tuanya saling memandang.


"Fai, Daddy tahu kamu gak mau dijodohin. Tapi kamu gak perlu ngarang cerita. Daddy gak akan terpengaruh. Kita udah sepakat buat nikahin kalian bulan depan."


Semua orang terkejut melihat reaksi Faizah yang terlihat antusias.


"Fai, tadi kamu nolak sekarang kok seneng gitu?" Tanya sang Mammy heran.


"Wah, kayaknya Fai emang udah gak sabar ya mau nikah sama Ferdi? Secara kan Ferdi itu ganteng." Ujar Mamanya Ferdi yang berhasil membuat perut Faizah mual.


Faizah memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Sebenarnya... sebenarnya Fai memang hamil, Dad." Ia merogoh tasnya dan menunjukkan test peck miliknya. Sontak semua orang terkejut.


"Apa-apaan kamu, Fai?" Bentak sang Daddy. "Jangan bercanda yang bukan-bukan."


"Fai gak bercanda, Dad. Fai hamil. Makanya Fai seneng pas Ferdi mau nikahin Fai. Soalnya ayah anak ini gak mau tanggung jawab." Faizah menatap Ferdi dengan senyuman penuh arti.


Kita lihat jawaban si brengsek ini. Pasti di bakal nolak. Cowok beginian mana cocok jadi ayah dari anakku.


"Apaan? Aku gak mau nikahin wanita hamil. Enak aja, orang yang dapat nangkanya masak aku yang kena getahnya. Perjodohan ini batal." Tegas Ferdi bangkit dari posisinya. Lalu menatap Faizah remeh. "Aku pikir kamu itu gadis terhormat, rupanya sama aja kayak j*l*ng."


"Ferdi!" Bentak Daddy Faizah tidak terima putrinya dihina.


"Dad, sekarang Daddy tahu kan siapa laki-laki terhormat yang Daddy pilih?" Faizah menatap kedua orang tuanya bergantian.

__ADS_1


"Ini memalukan Tuan Sandoro." Seru Ayah dari Ferdi.


Tuan Sandoro, Ayah Faizah bangkit dari posisinya. "Ya, ini akan lebih memalukan jika anakmu menikahi putriku. Aku pikir semua gosip itu bohong, ternyata semua itu benar. Putramu bukanlah laki-laki baik."


"Lancang, sudah jelas putrimu yang salah. Bisa-bisanya dia hamil di luar nikah. Wanita apa namanya kalau bukan wanita murahan." Mamanya Ferdi ikut menimpali.


Faizah tertawa renyah, dan itu berhasil menarik perhatian semua mata. "Tante, wanita murahan sejenis saya ini bisa hadir juga karena laki-laki brengsek seperti putra Anda. Nabur benih di mana-mana tapi gak mau tanggung jawab. Habis manis sepah di buang."


"Keterlaluan. Ferdi, ayo kita pergi dari sini. Tidak sepantasnya kita dapat penghinaan seperti ini. Lihat saja, berita mamalukan ini akan membuat hidup kalian berubah."


"Berita apa yang kalian maksud?" Seru seseorang. Sontak semua penghuni rumah itu pun menoleh ke asal suara.


"Kamu?" Pekik Faizah dengan mata membulat sempurna.


Ya, orang itu adalah Juna. Lelaki itu sengaja datang untuk menjemput gadis tengil yang sudah mencuri benihnya. Dan ia tidak sendirian, melainkan bersama empat anak buahnya.


"Tu... tuan Arjuna." Gugup Ayah Ferdi.


"Ya, ini aku Tuan Hilman." Sahut Juna dengan tatapan masih tertuju pada Faizah. Sedangkan yang ditatap justru mundur perlahan.


"Siapa Anda?" Tanya Tuan Sandoro pada Juna.


Juna pun menatap Faizah, seolah meminta gadis itu bicara.


"Dia ini konsulen Fai, Dad." Jawab Faizah cepat-cepat.


"Oh, salam kenal, Tuan. Tapi ada apa ya Anda datang kemari? Apa putri saya membuat ulah?"


"Ya, dia membuat kekacauan besar. Dan harus mendapat hukuman."


Kyaa... aku harus cepat kabur. Faizah pun langsung berbalik dan berniat kabur.


"Tangkap dia dan bawa kebadapanku." Titah Juna pada anak buahnya. Sontak Faizah pun berlari kencang. Dan terjadilah aksi kejar-kejaran lagi sekarang. Semua orang yang melihat itu tampak diam dan tak berkutik.


"Aaaa... jangan kejar aku. Dasar pria tua gila. Lepasin, ini penghinaan." Teriak Faizah dari arah belakang. Sepertinya anak buah Juna berhasil menangkapnya. Benar saja, tidak lama dari itu dua anak buah Juna berhasil menggeret Faizah kembali dan membawanya ke hadapan Juna.


Juna tersenyum tipis, ditariknya dagu gadis itu dengan kasar. "Mau lari kemana gadis tengil?"


Bersambung....


Hahaha... hukuman apa kira-kira yang bakal Juna kasih nih? Jadi penasaran ya? Tungguin kelanjutannya ya guys....

__ADS_1


__ADS_2